TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
OKNUM



"Ada apa ini, kenapa Pak Dion babak belur begini?" tanya salah satu guru sambil menolong guru olahraga tersebut.


Sedang guru-guru yang lain melihat anak-anak menangis dan mengucap terima kasih pada Haidar, makin bingung. Sedang Darren tampak gemetar melihat ayahnya memukuli orang begitu brutalnya.


Haidar yang melihat putranya gemetar langsung mendatangi Darren dan meminta maaf. Darren memeluk ayahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya guru-guru itu.


"Saya, tidak tahu apa-apa, dia main hakim sendiri. Saya akan laporkan ini pada kepolisian!" bentak guru olahraga tersebut tak terima.


"Silahkan saya tidak takut. Saya akan membawa bukti kongkrit jika anda melakukan perundungan pada murid-murid di sini!" sentak Haidar jauh lebih keras.


"Saya juga akan tuntut sekolah ini. Karena membiarkan anak di bawah usia sepuluh tahun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berlebihan!' ancam Haidar.


"Loh, kok kami diikutkan juga, Pak. Kami tidak tahu menahu, persoalan ini. Mereka mengajukan diri!" pihak sekolah lepas tangan.


"Jelas saya akan menuntut sekolah ini. Karena kegiatan olahraga bukan termasuk kegiatan ekstrakurikuler!" sentak Haidar lagi-lagi membungkam pihak sekolah.


"I-itu ada Pak. Kami baru ...."


"Baik. Saya akan tanyakan ke diknas langsung. Apakah ada ekstrakulikuler olahraga. Yang saya, tahu itu seperti, PMR atau Pramuka. Lagi pula, Darren masih kelas tiga, ia belum wajib kan ikut ekskul seperti ini!"


Perkataan Haidar tak bisa membuat pihak sekolah bicara atau membela diri. Mereka tetap tidak mau dilibatkan dengan kelakuan guru tersebut.


"Tolong Pak, jangan libatkan sekolah. Karena hal ini diluar kewenangan kami."


"Loh, harusnya pihak sekolah terlibat dong. Kejadian ini di dalam lingkungan sekolah. Bahkan guru ini gurunya sekolah ini kan?!" cecaran demi cecaran dilontarkan Haidar.


"Pak Dion, hanya sebagai guru panggilan. Bukan guru kami," jawab salah satu guru.


"Justru karena dia bukan tercatat guru tetap di sini. Mestinya pihak sekolah mengawasi dong! Bagaimana jika anak-anak kami terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan?"


"Tidak kok, tidak terjadi apa-apa kan, ya!" sela guru itu masih mencari pembelaan.


"Nggak Pak. Mereka bohong. Kami sudah mengeluh bahkan kami sudah melapor. Mereka malah bilang kami yang nakal!" adu salah seorang murid.


"Darren?" tanya Haidar.


"Iya, Pa. Darren juga sudah lapor pada pihak pendisiplinan. Katanya, sedang dirapatkan. Tapi, sudah nyaris satu bulan. Tidak ada tindakan apa-apa. Makanya Darren belum lapor Papa," jelasnya.


"Ah, mereka anak-anak, Pak. Kan kita tahu mereka suka bohong," ujar salah satu guru masih membela diri.


"Saya percaya anak saya tidak berbohong. Saya akan adukan ini ke diknas setempat. Saya sungguh kecewa dengan semua ini!'


Haidar sudah bulat keputusannya. ia pun membawa anak-anak untuk melaporkan semua kejahatan oknum guru-guru tersebut. Bahkan salah satunya mengaku telah disundut rokok oleh oknum tersebut.


"Apa ada yang dilecehkan?'' tanya Kompol Yudistira.


"Pelecehan itu apa Pak?" tanya salah satu murid.


"Seperti memegang ******** kalian," jawab Kompol Yudistira.


"Ah, Vino, kamu tadi dipegang bokongnya kan?"


Anak yang bernama Vino mengangguk, dengan mata berkaca-kaca.


"Pegang gimana? Apa sampai meremas?" tanya Kompol Yudistira lagi.


Vino menangis. Sepertinya mungkin jauh lebih itu para polisi geram. Pihak kepolisian langsung melakukan visum, Darren juga ditanya apakah juga mendapat pelecehan seperti teman-temannya.


"Tidak, Pak. Saya hanya disuruh-suruh seperti kacungnya saja. Ancamannya nilai saya akan dikurangi jika tidak menurut, Pak," adunya.


Setelah mendapat laporan. Polisi langsung melakukan penangkapan pada oknum guru tersebut. Pihak sekolah juga langsung diberikan rentetan pertanyaan.


Surat protes pun dilayangkan ke pihak Pendidikan Nasional. Sekolah langsung disorot dan memeriksa semua guru yang terlibat, termasuk kepala sekolah.


Terra yang mengetahui putranya diperlakukan tidak baik lagi di sekolah, membuat ia bersedih. Lagi-lagi ada oknum yang terlibat.


Kasus bergulir. Anak-anak masih terus bersekolah di sana. Semua guru juga diganti. Sekarang semua sedang dalam pengawasan dinas pendidikan. Darren diminta Terra untuk home schooling lagi. Tapi, pria kecil itu menolak.


"Darren senang sekolah di sana, Ma. Udah banyak temen.Trus Darren suka sama tugas upacara tiap seninnya."


Itulah alasan putranya. Ia pun hanya bisa menuruti keinginan Darren.


"Nak, lain kali jika ada kekerasan seperti itu, kamu bilang ya, sama Papa," ujar Haidar mengingatkan putranya.


"Darren takut, terjadi apa-apa sama Mama juga Papa. Darren tak mau Papa Mama terluka," jawab Darren dengan mata penuh kekhawatiran.


"Sayang. Kami, malah nggak mau kamu kenapa-napa. Kamu adalah putra kami. Sudah sepantasnya, kami melindungi kamu, sayang," ujar Haidar penuh haru.


Siapa sangka pemikiran Darren untuk melindungi kedua orang tuanya, justru bisa membuat dirinya juga ayah ibunya celaka. Namun, itulah pemikiran anak seusia Darren yang selama ini mendapat kekerasan. Ia rela disiksa agar bisa menyelamatkan kedua adiknya dulu.


"Sayang, kami sangat bangga sama keberanian kamu, tapi tolong, jangan diam lagi. Papa akan gila jika kamu kenapa-napa," jelas Haidar lagi kini dengan suara tercekat.


"Iya, Pa. Maaf buat Papa khawatir. Maaf buat Papa terluka," pinta Darren memohon maaf.


Haidar memeluk putranya. Ia begitu sangat mengkhawatirkan anak-anaknya. Makanya begitu langsung menjadi ayah. Ia sangat protektif terhadap mereka.


"Lalu, nasib para oknum itu gimana, Mas?" tanya Terra sambil mengusap punggung putranya.


Lidya dan Rion masih tidur siang. Mereka berdua habis mewarnai kolam renang dengan bedak bayi milik Rion.


"Mau pelenang towam tutu!' jawab Rion ketika ditanya kenapa menuang bedaknya ke kolam.


Deno terpaksa memanggil tukang bersih kolam untuk mengurasnya. Terra hanya bisa menghela napas panjang mendengar kelakuan putranya satu itu.


"Oknum itu langsung dicoret dari diknas. Mereka tidak akan bisa mengajar di mana pun," jawab Haidar.


"Ya, sudah sekarang Darren shalat dhuhur, udah mau habis. Atau mau dijamak sekalian ashar?" titah Terra sambil bertanya.


"Iya, Mama, mau dijamak aja. Tanggung," jawab Darren langsung memenuhi perintah Ibunya.


Haidar pun ke kamar diikuti istrinya. ia juga baru saja pulang dan langsung mendengar kabar Darren diperundung oleh salah satu oknum gurunya.


"Aduh, dua anak ini. Kenapa tambah cantik dan ganteng sih," ucap Haidar gemas dengan Lidya dan Rion yang sedang tertidur.


Pria itu pun menciumi mereka. Memang sudah waktu bangun, karena hari sudah sore.


"Bangun sayang," titah Haidar sambil menciumi mereka.


"Papa ...!' rengek mereka.


"Bangun sayang," ucap Terra, "udah sore."


Rion terbangun.


"Papa endog!" pintanya sambil mengangkat kedua tangannya.


Haidar mengangkatnya. Menciumi hingga bayi itu tergelak.


"Ini dia oknum bayi yang membedaki air kolam," ujar Haidar.


Rion langsung menatap ayahnya. Ia mendengar kosa kata baru lagi.


"Papa potnum ipu pa'a?"


bersambung ...


hayooo ada yang bisa jawab???


next?