TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERCANDA DENGAN MAUT



Saf yang hari ini mengendarai motor CBR miliknya. Gadis, itu menaiki motornya.


"Bu," panggil Lidya khawatir.


"Sudah, nggak apa-apa. Kalian pulang aja ya. Jangan ikut-ikutan!" tekan gadis itu.


"Tapi, Bu," elak Gio.


Pria itu enggan melepas bidan cantik itu berjalan sendiri.


"Jaga saja istri dan dua adikmu. Oke!" titah Saf tegas.


Saf lalu, menjalankan motornya meninggalkan lapangan parkir. Demian, Gio, Lidya, Putri, Aini, Jac Hendra dan Felix saling pandang.


"Kita ikuti dia?" tanya Demian .


"Ayo cepat!" ujar Jac langsung m ngambil alih motor istrinya.


Demian naik mobilnya begitu juga Lidya dan Gio. Mereka mengejar Saf.


"Apa ada yang lihat?" tanya Demian melalui ponselnya.


"Kita sepertinya kehilangan Nona Safitri Tuan!" sahut Putri dari sambungan telepon.


Semua kehilangan bidan cantik itu. Lidya begitu khawatir tentang keselamatan calon kakak iparnya. Ia memutuskan untuk menelepon kakaknya.


"Assalamualaikum, Kak!" sahutnya ketika sambungan telepon terangkat.


" ......!"


"Kak, Ibu dalam bahaya, kami kehilangan jejak!" ujar Lidya cemas.


"......!"


"Naik motor CBR dengan nomor polisi B 5412 LL!"


"......!"


"Ah ... iya, pake BraveSmart ponsel!" pekik Lidya teringat akan benda canggih itu.


".....!"


"Tapi, Kak ... Mas Demian dan lainnya juga ikut cari!" sahut Lidya.


"......!"


"Iya, Kak. Aku akan pulang," ujar gadis itu lesu.


"......!"


"Wa'alaikumussalam!"


Lidya menutup sambungan teleponnya. Ia mengirim pesan pada semuanya untuk pulang atas perintah kakaknya, tanpa kecuali. Semua, pun menurut jika tak ingin berurusan dengan pria itu. Darren jika marah sangat menyeramkan..


Sementara itu. Saf yang tengah menaiki motornya diikuti oleh dua motor bebek. Gadis itu seperti bermain-main dengan dua pemotor itu. Saf, bukan gadis yang begitu mudah takut, ia sengaja melewati jalan ramai dan beriringan dengan pengendara lain, sehingga menyulitkan yang penguntitnya.


"Ck, cape juga main, kucing-kucingan," gumam gadis itu.


"Mau lihat, pasti dia berlaga jadi begal nih," ujar gadis itu sengaja memelankan motornya di jalan sepi.


Dua pemotor mengejarnya. Salah satu mengeluarkan celurit. Saf, menggas motonya, hingga terjadilah kejar-kejaran.


Adu cepat terjadi. Saf, adalah anak mantan mafia. Ayahnya mengajarinya berbagai teknik perang dan ilmu bela diri mumpuni. Ia melirik adanya kantor polisi, ia mengencangkan laju motornya. Dua pengendara itu juga mengejarnya. Tentu saja kecepatan motor matik tidak sama dengan kecepatan motor gadis itu.


"Woi ... berhenti Lo!" teriak pria itu sambil mengacungkan celurit.


Gadis itu berbelok dan di ikuti dua pemotor itu. Saf berhenti dan langsung berteriak minta tolong pada para petugas di sana. Tentu hal itu membuat semua petugas kaget. Terlebih dua orang yang mengejarnya bahkan salah satunya mengacungkan celurit.


"Berhenti!" teriak polisi.


Dua pemotor tadi hendak memutar balik dan melarikan diri. Sayang, satu timah panas bersarang di kakinya, hingga ia terjatuh bersama motornya.


"Kalian ditangkap!" seru polisi itu sambil menodongkan senjata.


Saf memberikan pernyataan jika ia diikuti oleh dua pria itu dari pulang kerja. Keduanya mengaku ingin memiliki motor gadis itu. Saf pun pulang setelah melakukan laporan dan memberikan keterangan.


Ketika sampai rumah. Gadis itu pun langsung memasukkan motor ke garasi dan menggemboknya.


"Aku yakin, bukan itu tujuannya mendekatiku," gumam Saf penasaran.


Sementara di tempat lain. Sosok wanita cantik tampak murka misinya gagal. Ia mendapat laporan jika dua pria suruhannya untuk menghabisi bidan itu malah tertangkap polisi dan salah satunya kena tembak.


"Awas saja, mereka jika menyebut namaku!" ancam wanita itu.


"Aku pastikan mereka tewas dulu di penjara," lanjutnya.


Uang yang paling berkuasa di antara semuanya. Hanya dalam hitungan jam. Dua penjahat yang mengaku begal itu tewas ditikam oleh sesama penghuni lapas.


"......!"


"Dengan begini. Tak ada satu pun yang tau. Siapa perencana sesungguhnya!" ujarnya tersenyum licik.


Darren menelepon gadisnya. Ia menanyakan kabar.


"Kau tidak apa-apa kan, Sayang?"


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Mas. Tenang saja," jawab gadis itu melalui sambungan telepon.


"Apa perlu pengawal pribadi?" tawar Darren.


"Tidak ... tidak perlu!" tolak Safitri langsung.


"Sayang, ayo lah ... aku akan merasa khawatir jika kau sendirian," pinta pria itu.


"Nggak mau. Mending kamu aja langsung lindungi aku, Mas!" sahut Safitri.


"Kau yakin? Terima dong pinanganku. Mau nggak jadi istriku?" lamar pria itu langsung.


"Mau!" jawab Saf cepat.


"Benar ya. Besok aku akan bawa kamu ke KUA. Kita akad aja dulu, soal resepsi belakangan. Kau mau?"


"Nggak!"


"Sayang!"


"Udah, ah ... nggak usah banyak becanda. Yang penting aku baik-baik saja. Oke! Assalamualaikum!"


Darren tak bisa berkata apapun. Gadis itu sudah memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu hanya menghela napas panjang. Saf, memang gadis yang penuh kejutan.


"Aku pastikan apa yang kukatakan tadi jadi kenyataan," tekadnya yakin.


Sementara di tempat lain. Sosok cantik mendatangi sebuah markas besar di dunia hitam. Gadis itu yakin, jika semua masalahnya akan selesai cepat.


"Aku ingin bertemu dengan ketua Klan kalian!" ujarnya penuh keangkuhan.


Sosok pria bermata sipit datang. Separuh wajahnya ia tato dengan gambar naga. Ia duduk dengan dua dayang-dayang cantik dengan pakaian minim yang memijat kakinya. Tania, tersenyum penuh godaan pada pria itu.


"Tuan, aku butuh bantuanmu," ujarnya dengan suara serak d an seksi.


"Bantuan seperti apa?" tanya pria itu.


"Aku ingin menghabisi gadis ini," ujarnya lalu memberinya foto.


Pria itu meminta salah satu dayangnya mengambil foto yang diletakkan Tania.


"Ini?" pria itu mengernyit, ketika melihat foto itu.


"Dia hendak mengambil kekasihku. Kau dulu mengatakan akan mengabulkan satu permintaan dari ku, untuk ucapan terima kasih karena telah menolongmu, bukan?" ujar Tania.


Pria itu mengangguk. Walau ia sedikit ragu. Tapi, gadis di depannya itu dulu pernah menolongnya lepas dari polisi yang mengejarnya.


"Akan kulakukan dengan cepat," ujar pria itu.


"Baik, terima kasih," ujar Tania pun pergi.


"Jhonny, Joki dan Duman!" teriaknya memanggil.


Tiga pria datang sambil membungkuk hormat. Pria dengan wajah bertato melempar foto itu.


"Terserah mau kalian apakan. Yang penting, dia tak mengganggu Tania lagi!" titah pria itu malas.


"Baik, Tuan!" ujar ketiga pria itu menatap penuh napsu foto yang dilempar pada mereka.


"Kita bersenang-senang," ujar salah satunya sambil menyeringai.


"Pergi kalian!" titah pria bertato itu.


Ketiganya pun pergi. Sementara di tempat lain. Saf baru mengetahui jika pembegal dia kemarin telah tewas ditikam para penghuni lapas. Gadis itu sangat yakin jika semua ini ada yang mengendalikan semua.


"Siapa ...apa urusannya denganku?" tanyanya mulai penasaran.


"Sepertinya, aku masih harus berurusan dengan para kecoa itu!" lanjutnya kesal.


"Ah ... kuhajar saja nanti, jika memang ada yang muncul lagi!" lanjutnya mulai tersulut emosi.


bersambung.


ah ... ada yang mau cari perkara.


next?