
"Bud!" panggil Haidar.
"Saya Tuan!" sahut Budiman langsung menyambangi suami dari kliennya itu.
"Kamu nanti ngawal istriku ke reunian kan?" Budiman mengangguk.
Pria itu sedikit mengernyit. Bukankah tugasnya memang mengawal Terra kemana pun? pikirnya.
"Aku ingin kau mengawasi, siapa saja pria yang mendekati istriku!" titahnya.
"Untuk apa? Bukankah Tuan akan ikut juga?" Haidar menepuk keningnya. Ia lupa
Pria itu pun nyengir. Budiman memutar matanya malas. Lalu ia pun pergi meninggalkan tuannya itu.
Jam sepuluh pagi. Reuni akan diadakan pukul 19.30 malam. Masih banyak waktu untuk bersiap. Terra memeras susunya banyak-banyak. beruntung air susunya melimpah jadi ia tak khawatir. Keempat bayinya kini pun sudah mengkonsumsi MIPA. Jadi ia lebih tidak khawatir lagi.
"Apa perlu bantuan untuk menyedotnya, sayang?" tanya Haidar vulgar.
"Astaghfirullah!" Terra sedikit kaget. Haidar muncul tiba-tiba.
"Maaf, maaf," sahut Haidar meminta maaf karena mengagetkan istrinya.
Susu dalam plastik khusus itu nyaris tumpah. Terra mendelik kesal. Rion mendatangi kedua orang tuanya dengan kepala miring. Ia seperti ingin bertanya.
"Ada apa sayang?" tanya Terra.
"Mama, itu mimiknya Baby ya?" tanya Rion.
"Iya, sayang," jawab Terra lalu memasukkan kantung susu itu ke dalam storage khusus.
"Sayang, nanti kalian di rumah jagain Baby ya," pinta Terra.
"Oteh, Mama," sahut Rion menyanggupi permintaan Terra.
Haidar mencium gemas pipi gembul itu. Rion tertawa. Balita lucu itu pun meminta ayahnya memanggulnya di bahu. Haidar menyanggupinya.
Sedang di teras Budiman duduk. Pikirannya jauh menerawang. Mengingat ketika masa kecilnya yang suram. Harus bekerja keras untuk makan. Bahkan ia harus secara sembunyi-sembunyi pergi ke sekolah. Pria itu mengingat hari di mana sang ayah membakar tas yang berisi peralatan sekolahnya.
"Ngapain sekolah! Anak nggak tau diri. Kita ini miskin, nggak bisa makan dari buku. Cari uang sana!" bentakan ayahnya tak membuatnya takut.
Matanya nyalang menantang sang ayah. Ferry murka ditantang segitu rupa oleh putranya. Pria itu menarik tubuh kecil kurus itu. Kemudian mencambuknya. Tak ada jerit tangisan di sana. Budiman hanya menatap nanar sang ibu yang memandanginya. Acuh.
Tadinya. Mereka adalah keluarga yang harmonis. Ayah dan ibunya saling mencintai. Makanya ia lahir diberi nama Budiman Samudera. Agar kelak menjadi orang berbudi yang memiliki hati seluas samudera.
Hingga satu waktu ketika Budiman baru menginjak kelas satu sekolah dasar. Ibunya tergoda. Mantan kekasihnya datang merayu. Hingga ketahuan oleh ayah ketika hendak berciuman.
Ferry sangat terpukul. Ia pun menjadi kasar setelah itu. Permohonan maaf dari istrinya pun ia abaikan. Bahkan ia makin kasar ketika sang istri meminta talak.
Budiman kecil yang tidak tahu apa-apa, jadi korban. Tak ada hari tanpa pukulan. Ferry dipecat hingga mereka pun harus tinggal di gubuk reyot yang menumpang dinding tetangga.
Ferry mulai mabuk-mabukan. Mia, sang istri akhirnya membiarkannya. Ia juga tak peduli akan tumbuh kembang putranya. Hingga suatu hari Ferry menarik sang istri dan dijual pada pria hidung belang.
"Dari pada kau selingkuh, tak menghasilkan apapun. Lebih baik kau melacur!" ujar Ferry menghina sang istri.
Semenjak itu. Keluarga Budiman makin hancur. Ibunya benar-benar melacur. Wanita itu seperti sudah hilang akal. Bahkan membiarkan suaminya menyiksa putra mereka di depan matanya. Hingga ketika pisau tajam menoreh tangannya.
"Huufftt!" Budiman membuang napas kasar.
Memejamkan matanya yang mulai perih. Mengusap bekas luka di tangannya. Satu buliran bening menetes.
"Itu pasti, sakit ya?" sebuah suara halus menentramkan membuyarkan lamunan pria itu.
Budiman menoleh. Satu mata bulat jernih penuh kekhawatiran memandangnya. Budiman memangku gadis kecil itu. Lidya memeluknya.
Sungguh tangisan pria itu nyaris jebol ketika mendapatkan pelukan itu. Tapi, bahunya bergetar hebat.
"Eunda apa-apa. Ada Iya di sini. Om Budi nangis aja. Eunda apa-apa," bisik Lidya meminta pria itu mengeluarkan semua emosinya.
Pecahlah tangisan Budiman. Jantungnya seakan memompa cepat hingga napasnya tersengal. Sungguh ia ingin berteriak sekuat mungkin.
Haidar keluar mendengar Budiman menangis begitu juga Terra. Melihat pemandangan mengharukan itu membuat Terra ikut bersedih.
Budiman belum pernah mengatakan apa yang ia alami dulu. Terra begitu menghargai privasi pengawalnya itu. Haidar menepuk pundak Budiman.
Budiman menetralkan diri. Ia berusaha menahan semua emosi. Semua rekannya terdiam. Mereka juga memahami kondisi Budiman.
Rion turun. Darren belum pulang dari sekolah agamanya. Pria kecil itu sedang giat berlatih karena mengikuti lomba hafidz dua minggu lagi.
"Om Pudi ... menata penanis?" tanya Rion dengan muka sedih.
Budiman menepuk paha satunya. Rion pun langsung naik di sana. Kedua balita itu dicium.
"Terima kasih ya. Entah apa jadinya hidup Om tanpa ada kalian," ujar Budiman.
"Syama-syama, Om," sahut kedua balita itu kemudian memeluk Budiman erat.
"Oh iya. Iya mau tulun bental!"
Gadis kecil itu turun dari pangkuan Budiman yang masih sesengukan. Haidar tertawa meledek.
"Ciee ... CEO cengeng!"
"Mas!" peringat Terra.
Budiman cuek dengan ledekan suami kliennya itu. Sedang Rion asik melompat dipangkuan Budiman.
"Om Pudi, nait tuda!" pintanya.
Budiman pun menghentakkan kaki seperti acuan kuda. Lalu berhenti ketika tiba-tiba Lidya datang membawa kue kecil dengan lilin satu yang menyala.
"Selamat ulang tahun. Selamat panjang umul. Selamat ulang tahun Om Budiman ... selamat ulang tahun!" Lidya menyanyikan lagu happy birthday versi bahasa Indonesia.
Terra dan Haidar terkejut. Mereka berdua lupa hari ini adalah hari lahir pengawalnya itu. Lidya ternyata ingat dan sudah mempersiapkan semuanya. Gadis kecil itu membeli kue ulang tahun mini dari uang jajan yang ia tabung selama ini.
"Make a wish, Om!"
Budiman menutup matanya. Rion berkali-kali hendak meniup lilin itu. Tapi Lidya sengaja menjauhkan jaraknya.
"Ih ... banan lama-lama beuldoana Om Pudi!" sentak Rion tak sabaran.
Terra, Haidar dan Budiman terkekeh geli. Budiman pun meminta Rion meniup lilin itu.
"Hufh!" Rion meniup sekaligus memuncratkan liurnya. Lilin padam.
"Barakallah fii umrik, Kak!" ungkap Terra mendoakan yang terbaik untuk pengawal tampannya itu.
Ucapan selamat pun datang dari sesama rekan tim. Budiman mengucap terima kasih. Ia sangat bersyukur bekerja di sebuah keluarga yang menghargai jerih payah orang lain.
"Terima kasih, Nona, Tuan, Nona kecil dan Tuan Baby," ungkap Budiman tulus.
"Sama-sama," sahut Lidya.
"Sekarang matan tuenya!" pekik Rion senang.
"Mama, Papa eunda nasih tado ke Om Pudi?" tanya Rion setelah menyadari sesuatu.
"Nggak!" sahut Haidar malas. Terra melotot.
"Penata?" tanya Rion yang asik memakan kue yang disuapi Budiman.
"Om Pudi itu orang kaya, Baby. Uangnya banyak!" jawab Haidar enteng.
"Belnel?" tanyanya lagi sambil menoleh ke arah Budiman.
"Iya, ada banyak," sahut Budiman kini.
"Beliin Ion payangan dong!" pinta Rion.
Budiman dan Haidar pun berpikir sejenak apa kata balita itu.
bersambung.
barakallah fii umrik om Pudi..
next?