
Kelahiran Sky menjadi buah bibir para bocah. Mereka sangat ingin bertemu dengan bayi kecil itu.
'"Payina milip Bommy ya!" celetuk Kaila sambil memandang foto yang dikirim Virgou ke ponsel ibunya.
"Batana milip Baba!" sahut Rasya.
Kedua anak Budiman baru diantarkan Bik Dana, assisten rumah tangga Budiman. Pria itu memang meminta pembantu itu menjaga dua anaknya.
Benua kini ada di gendongan Haidar. Bayi berusia satu setengah tahun itu memang sangat dekat dengan suami Terra. Sedang Samudera tengah dipangku oleh Dav.
David dan Seruni juga datang bersama Juno. Juno benar-benar menolak untuk tinggal di rumah Seruni, walau beda tempat. Melihat tetangga racun di sana, bisa-bisa ia membantai semua tetangga kisruh itu.
"Jadi namanya, Muhammad Sky?" tanya Seruni ketika melihat foto bayi tampan di layar.
"Tampan sekali," pujinya.
"Hei, Kau memuji pria lain!" tegur Dav cemberut.
"Astaghfirullah!' Seruni memutar mata malas.
"Mas cemburu dengan bayi baru lahir beberapa jam yang lalu?" tanyanya sambil memandang suaminya tak percaya.
"Hiraukan apa yang ia katakan sayang. Para pria di sini memang rada lebay!" sahut Khasya sengit.
"Bunda!" rengek Dav.
Seruni terkekeh melihat suaminya merengek seperti itu. Bahkan ua begitu terkejutnya melihat betapa akrabnya para anak-anak dengan pengawal-pengawal mereka.
"Om Buno, penata pepiat padhi Pacha eundat pihat Om Puno?' tanya Rasya.
"Namanya diganti juga?" Seruni baru sadar.
Juno mengangguk.
"Bukan hanya dia. Aku juga. Kau ingatkan?"
Seruni mengangguk, bahkan namanya juga diganti sesuka anak-anak itu.
"Sayang, kita pindah dekat rumah Kak Te yuk," ajak Dav lagi.
"Kau tau. Aku bisa mati berdiri berada di sana!" lanjutnya kesal.
"Iya, sayang. Aku juga berpikiran untuk meluaskan toko hingga ke area rumah. Mungkin, Mas ada ide bisnis?" tanya Seruni.
"Bagaimana jika semi kafe dan resto!" celetuk Rion.
"Tapi,.kita terkendala lapangan parkir," sahut Seruni.
"Kita beli saja beberapa rumah samping Mama Seruni, untuk dijadikan lahan parkir!" usul Rion lagi.
"Kemarin, Ion lihat beberapa rumah itu kosong," lanjutnya sambil mengingat.
"Nanti, Mama lihat deh," ujar Seruni.
"Kita buat konsepnya dulu, sayang," Seruni mengangguk.
Puspita yang tengah duduk menyimak tiba-tiba mual. Semua menoleh padanya.
"Sayang?" panggil Khasya.
"No ... Bunda ... please don't say anything!" pinta Puspita memohon.
"Tapi, kalo iya gimana?" tanya Herman.
"Ayah ... anakku sudah lima," jawab Puspita pasrah.
"Kamu nggak KB?" tanya Khasya yang ditanggapi gelengan oleh Puspita.
"Virgou melarang, Bun!"
Melihat itu. Seruni tiba-tiba mengusap perutnya. Dav melihatnya. Lalu berbisik.
"Jangan khawatir, kita baru nambung satu minggu. Jadi tunggu aja ya."
"Papa Bep ... penata pisit-pisit?" tanya Kaila kepo.
"Kepo deh kamu," sahut Dav menjawab.
"Mama ... tepo pa'a?" tanya Kaila langsung.
Terra memandang Dav dengan pandangan horor. Pria itu hanya tersenyum geli. Tiba-tiba Rasya ikutan bertanya.
"Om Pav .. Om Pav, setelan ada Mama Beluni, basih dulin-dulin di tasul eundat?"
Terra langsung memandang horor David, agar tak menjawab dengan asal. Sedang Khasya langsung mengernyit, begitu juga Puspita. Sedang anak-anak lain tengah mengganggu para pengawal.
"Ya, masih dong,' jawab Dav serba salah.
"Emang kapan Rasya lihat Papa Dav guling-guling?" tanya Haidar.
Juno yang masih berada di sana langsung menyahut.
"Sebelum dia patah hati Tuan!"
"Tapi langsung mendapatkan tambatan hatinya!" lanjut Juno memperbaiki perkataannya.
Dav memberengut kesal pada pengawal satu itu. Tapi, memang ia tak bisa menampik perkataan Juno soal patah hati itu.
"Besok, Gisel sudah boleh pulang," ujar Herman ketika melihat ponselnya.
Semua pun mengangguk. Berarti, tak lama mereka akan malaksanakan aqiqah Sky.
"Aku tanya Budi, apa dia langsung mengaqiqahkan Sky," Haidar yang masih menggendong Benua itu pun menelepon adik iparnya.
"Assalamualaikum Bud. Apa kau ingin langsung aqiqahkan Sky?"
"........!"
"Baik jika begitu, aku dan lainnya siapkan. Rumah mu terlalu kecil, apa kau mau meminjam mansion Kak Virgou atau di rumahku?" tanya Haidar lagi.
"........!"
"Baik lah. Kita adakan di mansion Kak Virgou kalau begitu," sahut Haidar.
". ....!"
"Iya sama-sama, kita kan satu keluarga, jadi harus saling membantu," ujar Haidar menyudahi percakapannya setelah mengucap salam. Ia pun memutuskan sambungan teleponnya.
"Kita bisa siapkan semua lusa. Jadi sehari setelah kepulangan Gisel dan Sky, kita adakan aqiqah," sahut Haidar memberitahu.
Semua mengangguk. Herman sudah memesan dua ekor kambing, berikut makanannya. Seruni juga ingin ikut bergabung.
"Euum ... maaf, apa aku boleh memberikan makanan ringannya?" tanyanya malu-malu.
"Tentu sayang!" sahut Khasya senang.
"Alhamdulillah," ujar Seruni lega.
Ia sangat bahagia mendapatkan keluarga yang saling mendukung satu sama lain. Bahkan tak ada perbedaan di sini. Semua saling menyayangi.
Hari yang ditunggu datang. Seruni sudah membawa dua ratus porsi makanan ringan. Budiman mengundang seratus anak yatim. Kini mereka semua sudah berada di mansion Virgou.
Seruni ternganga lebar melihat bangunan mewah dan elegan itu. Ia sampai pusing dengan deretan mobil mewah yang terparkir di garasi yang besarnya sama dengan rumahnya.
"Ini luas banget. Aku bisa guling-guling di si ...." kalimatnya terhenti ketika melihat motor trail yang tidak ada bannya.
"Ini bannya kemana?" tanyanya heran.
"Sengaja Kakak lepas;" jawab Virgou sengit sambil melirik Terra adik sepupunya,
Sedang wanita yang dilirik hanya manyun saja. Seruni belum tahu cerita petualangan Terra ketika ingin mengetahui info tentang sekretaris Alya.
"Emang kenapa sih?" tanya Seruni pada suaminya.
Dav mengendikkan bahu. Ia juga tidak tahu tentang itu.
"Kita tanya sama Kak Ita aja," ajak Dav lalu menggiring istrinya ke ruang keluarga.
Di sana anak-anak sudah duduk rapi. Lagi-lagi Seruni kaget melihat anak-anak yang berbaur dengan yatim piatu.
"Sebagian mereka adalah anak-anak angkat Ayah," jelas Puspita lalu menatap pria yang tengah duduk dan memangku Benua bangga.
Sky dibawa keluar dan ditidurkan di sebuah bantal khusus. Bayi tampan itu tampak menggeliat sambil memancungkan bibirnya. Seruni gemas melihatnya.
Acara dimulai. Semua memuji kebesaran Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya pertengahan, Leon, Bart dan Fery berdiri. Mereka akan menggunting rambut Sky. Kemudian di susul Haidar dan Herman.
Para wanita menyiapkan bingkisan untuk diberikan pada anak-anak yatim. Yang membuat Seruni tertawa lepas adalah anak-anak kakak iparnya juga ikut berbaris dan langsung disingkirkan Terra karena ikut salim. Bahkan Herman mengelus kepala anak-anaknya.
"Ayah, mereka bukan Yatim!" Herman terkejut.
"Hais .... kalian ini!"
Kean, Cal, Arimbi, Satrio, Nai, Sean, Al, Daud, Affhan, Maisya, Dewa, Dewi, Dimas, Kaila, Rasya, Rasyid, Samudera dan Benua, digiring Terra dan menyuruhnya duduk di ruang tengah bersama kakak-kakaknya, Darren, Lidya dan Rion.
" Ah ... Mama eundat asyit!" protes Samudera sambil memanyunkan bibirnya.
"Tan pita mawu judha pi tasyih totat matanan," lanjutnya kesal.
Lidya tersenyum lebar mendengarnya.
"Ini ada banyak di sini, Baby," sahutnya kemudian memperlihatkan makanan sama yang ada di kotak berada di atas meja.
"Kita maunya di kotak Kak, pasti ada uangnya," celetuk Maisya.
"Astaga ... kalian ini!" Rion menggelengkan kepalanya.
Akhirnya anak-anak pun memakan makanan di meja. Samudera dan Benua disuapi Darren karena belum bisa membuka bungkus plastiknya. Sedang Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid juga Kaila disuapi Rion dan Lidya.
bersambung.
okeh deh ...
bersambung.