TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MEETING



Mereka kini tengah berada di ruangan meeting. Rommy menyalakan proyektor. Tim pengaju kerjasama menyerahkan proposal.


Terra membaca proposal itu secara seksama. Sedangkan Samhadi memandangi Terra lekat.


Terra santai saja, dipandangi seperti itu. Gadis itu merasa jika Samhadi tengah menilai dirinya.


Pembawaan tenang gadis itu membuat Samhadi cukup salut. Biasanya para CEO wanita akan salah tingkah jika dipandangi lekat seperti yang ia lakukan.


"Menarik," gumamnya sangat pelan.


Tiba-tiba terdengar ketukan. Aden pun keluar sebentar. Kemudian ia masuk lagi dan mendatangi Terra.


"Nona, Tuan Baby mendadak hangat, dan dia terus merengek memanggil, Nona," jelas Aden pelan.


"Bawa masuk," pinta Terra langsung khawatir.


Budiman datang sambil membawa bayi montok yang merengek, memanggil mamanya.


"Mama ... hiks ... hiks!" Terra menyambut lalu mendekap erat tubuh gempal bayi itu.


Benar saja. Tubuh Rion hangat. Terra sedikit cemas. Gadis itu berpikir apa karena bayi itu melihat riasan tebal resepsionis tadi.


"Sayang, kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.


Brak!


Tiba-tiba meja digebrak oleh Samhadi. Semua memandangnya tajam terutama Budiman.


"Apa-apaan ini. Kita sedang meeting. Ini perusahaan bukan tempat penitipan bayi!" teriaknya.


Mendengar suara teriakan. Rion menangis kencang ketakutan. Terra menenangkan bayinya tak peduli dengan Samhadi yang tengah murka.


"Saya kecewa dengan anda. Mestinya ada memisahkan persoalan pribadi dan pekerjaan. Ini kantor, bayi anda semestinya berada di tangan pengasuhnya!" ujarnya lagi dengan nada kecewa.


"Jaga bicara anda Tuan. Bukankah kesepakatan sudah didapat dari tadi. Saya yakin, anda tidak menyimak jalannya meeting hari ini," ucap Terra tenang.


Rion masih menangis sesengukan. Bayi itu gemetar ketakutan. Terra jadi sedih merasakan ketakutan Rion. Bayi itu juga mengalami fase penyiksaan ibunya. Pasti batita itu mengingat sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya.


"Maaf, saya harus menenangkan putra saya, dulu. Jika masih ada yang dibicarakan silahkan dilanjutkan oleh Pak Rommy," ucap Terra mengundurkan diri.


Samhadi berang. Ia berteriak lantang akan berhenti bekerja sama dengan perusahaan Terra dan menyebar fakta ketidak profesionalan gadis itu dalam bekerja.


"Saya yakin, anda belum memiliki kekuatan apa pun. Sekarang anda harus memilih, bisnis anda atau anak anda!"


Ancaman Samhadi membuat Terra mematung sejenak. Beratnya seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang harus mendapat penanganan khusus oleh ibunya sendiri.


"Jangan mengancam saya Tuan Samhadi!" ucap Terra dingin.


Terra menyerahkan Rion pada Aden yang berada di dekat gadis itu. Terra tidak ingin putranya merasakan aura dingin dan kelam dari dirinya.


Rion yang seakan tahu, langsung memeluk Aden erat. Pria itu pun langsung keluar dengan mendekap bayi montok yang masih gemetaran itu.


Budiman masih di sisi kliennya. Menatap nyalang CEO yang mengancam Terra. Samhadi merasakan perubahan suasana.


Terra berdiri dihadapannya. Gadis itu menatapnya dengan pandangan membunuh. Baru kali ini pria yang sudah malang-melintang dalam dunia bisnis menghadapi tekanan begitu kuat dari seorang gadis remaja.


"Kak Rom!"


Pria yang disebut namanya langsung bertindak. Menarik meja, dan meletakkan laptopnya.


Sedangkan asisten Samhadi bersiap-siap mengatasi sesuatu. Ia mengeluarkan tabletnya.


Entah kapan gadis itu menyentuh papan keyboard. Asisten Samhadi tak melihat pergerakan dari gadis itu.


Sederet informasi pria di hadapannya muncul. Rommy membacanya kuat-kuat. Samhadi mendadak pias mendengar semua info rahasia yang dibaca Rommy.


Budiman tersenyum sinis pada pria berwajah arogan itu. Sedang sang asisten berusaha memblok data atasanya yang terus dibongkar Terra.


Tiba-tiba.


Prak!


Tablet asisten Samhadi pecah dan mengeluarkan asap. Sepertinya pria itu juga seorang IT yang handal. Sayang, ia tak lebih handal dari Terra tentunya.


Samhadi terkejut melihat tablet yang berisi seluruh laporannya hancur. Matanya membelalak sempurna. Menatap tajam asistennya.


Selama ini asisten bernama Stefan itu, begitu handal dan cekatan. Bahkan pria itu juga seorang IT ternama. Walau dari tadi ia meminta data pemilik dari perusahaan Hudoyo Cyber Tech. ini belum mendapat info yang berarti. Stefan bisa diandalkan dalam situasi apa pun.


Sayang, pria andalannya kini mati kutu. Senjata satu-satunya hancur. Bahkan sudah pasti data dalam tablet tersebut hilang.


"Apa anda masih ingin mengancam saya, Tuan Bimo Putra Samhadi?" tanya Terra menantang.


"Saya akan bawa ini ke forum atas dasar memasuki ranah data tanpa ijin!" sentak Samhadi masih menggunakan senjata terakhir.


"Silahkan. Saya akan senang sekali, jika itu terjadi. Maka saya akan membawa kasus pelecehan seorang ibu pada dewan forum nanti," jawab Terra tenang.


Samhadi mengepalkan tangannya. Pria itu langsung keluar ruangan meeting dengan wajah memerah karena amarah. Sedang Stefan menatap Terra tak percaya.


Asisten itu berlari mengejar atasannya setelah mendengar teriakan pria arogan itu memanggil namanya.


Terra menghela napas panjang, setelah kepergian dua pria itu.


"Siapkan ruang IT. Sebentar lagi. Kita akan berpesta otak," titah Terra dengan kilatan mata tajam.


bersambung ...


next?