TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CEMAS



"Hiks ... hiks ...!" keduanya menangis.


"Bapak sama Emak ... pergi kemana Kak?" tanya Radit sambil menangis.


Ditya yang mengetahui jika mereka ditinggal begitu saja oleh kedua orang tuanya hanya diam dan memeluk erat adiknya. Menatap jam di dinding. Sungguh ia belum bisa membaca apa lagi mengetahui angka berapa di benda yang menggantung itu.


"Kita tunggu, Mba pulang ya," ujarnya menenangkan adiknya.


"Kak ... Adit lapel," sahut Radit lagi.


Ditya juga perutnya merasa perih. Tadi setelah makan siang, keduanya belum makan lagi.


"Tahan sebentar lagi ya. Kan kita biasa nggak makan seharian," ujar Ditya menenangkan..


Usianya masih balita, tapi keadaan membuat Ditya menjadi dewasa sebelum waktunya. Bocah itu yang selalu mengalah tentang makanan ketika dulu bersama dua orang tuanya.


Ayahnya tak bekerja tetap. Terkadang mereka makan kadang tidak. Pernah selama satu tahun saja ia dan adiknya merasa enak. Tetapi, selanjutnya mereka harus pindah entah alasan apa.


Tidur di kasur yang tipis tanpa selimut. Membuat tubuhnya mampu menahan dinginnya lantai.


Jika sang ibu memasak, hanya telur satu yang dibagi dua oleh Marni. Sedangkan untuk wanita itu dan suaminya memakan masing-masing satu telur.


Ibunya jarang memasak untuk mereka. Sang ibu lebih sering meninggalkan mereka begitu saja bermain seharian dengan bersama anak-anak yang lain. Terkadang, mereka pulang dalam keadaan lapar karena seharian bermain tetapi, mereka berdua juga harus menahannya karena ibunya tak memasak.


"Kita lihat, apa masih ada makanan tadi siang," ujarnya.


"Pintunya Kak?" tanya Radit.


Ditya mengintip. Tak ada siapa pun di luar. Ternyata orang itu sudah pergi.


"Sudah tidak ada orang," ujarnya.


Lalu keduanya menuju meja makan. Ditya harus menaiki bangku dan membuka tudung saji. Kosong, semua sayur dan lauk habis tak tersisa. Bahkan kuahnya pun tidak ada.


"Habis, Dik," ujar Ditya kembali turun ke bawah.


"Kita tunggu Mba aja ya?" ujarnya lagi.


Radit mengangguk. Mereka berdua duduk di ruang tamu menatap pintu rumah yang tertutup rapat.


"Kak, Bapak sama Emak nggak akan kembali ya?" tanya Radit sedih.


Ditya memeluk adiknya. Lalu keduanya pun menangis memanggil kedua orang tuanya.


Sedang di klinik perusahaan, Aini yang cemas dari tadi sudah kembali lega setelah bertemu dengan Darren dan mengungkap kegundahannya. Gadis itu harus ke rumah sakit. Ia akan berdinas malam ini sebagai dokter jaga.


Dengan menggunakan motor maticnya ia pun melaju menuju rumah sakit. Sedang Darren sudah pulang dari tadi.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di rumah sakit. Ia langsung menuju absensi. Dengan meletakkan ibu jarinya ia memindai diri sebagai dokter jaga.


"Selamat malam Dok," sapa salah seorang suster.


"Malam Sus!" balasnya sambil tersenyum.


Lalu ia pun menuju setiap ruangan dan mengecek beberapa pasien yang sedang rawat inap.


Sedangkan di rumah Terra. Darren sudah menyiapkan diri mengatakan keinginannya untuk menikah.


Adik-adiknya sudah masuk kamar dan tidur. Begitu juga Rion. Ia kelelahan karena tadi ikut Haidar ke luar kota. Sedang Lidya juga sudah masuk kamarnya.


"Ma, Pa ... Darren mau bicara," ujar pemuda itu.


Sepasang suami istri itu saling pandang. Mereka sudah diberitahu oleh Budiman tentang kejadian lamaran mendadak itu.


"Tentu saja," sahut Terra.


"Kita ke taman aja ya, atau mau di ruang kerja Mama?"


"Ruang kerjamu saja, sayang. Di taman banyak nyamuk," jawab Haidar.


Darren duduk di hadapan kedua orang yang merawatnya. Berkali-kali ia menetralkan degup jantungnya.


"Ma, Pa. Darren sedang melakukan ta'aruf dengan Aini Citra," sahut pemuda itu.


Deg! keduanya terdiam. Terra menggenggam erat tangan suaminya. Hal yang paling ia takuti adalah hari ini. Hari di mana ketika Darren telah menemukan tambatan hatinya.


"Apa kau sudah yakin dengan pilihanmu?" tanya Haidar dengan suara gelisah.


Pria itu menatap pemuda dihadapannya. Sosok yang dulu ia lindungi dan sayangi kini berubah menjadi dewasa dan mandiri. Pemuda itu sudah mampu mengemban tanggung jawab. Kini, Darren ingin melangkah lebih jauh, yakni menikah.


"Kita harus siap akan hari ini sayang," ujar Haidar menenangkan istrinya.


Terra mengangguk. Walau ia ikhlas akan semua perputaran waktu yang begitu cepat, tetapi ia masih menganggap Darren adalah putra kecilnya.


"Mama percaya dengan semua pilihanmu, sayang. Asalkan kau bertanggung jawab dan tidak mengecewakan. Jangan memberi harapan lebih pada seorang gadis, jika kau ragu nantinya," jelas Terra memberi nasihat.


"Papa juga, sayang. Kau sudah dewasa, segala sesuatu sekarang menjadi tanggung jawabmu. Ingat, ketika kau sudah mulai ragu atau tiba-tiba ada gadis lain ...."


"Tak ada gadis lain, Pa. Seperti Papa yang tak melirik wanita lain selain Mama;" potong Darren cepat.


Haidar tersenyum. Terra menghapus air mata haru. Putranya sudah besar sekarang. Ia merentangkan tangannya. Darren berdiri dan langsung merengkuh tubuh kakak yang menjadi ibunya.


"Terima kasih, Ma ... terima kasih ... telah mengambil kami dulu. Mama tetap tak akan tergantikan, kau lah ratu hatiku, Ma," ujar Darren.


"Sayang, Mama minta, jangan pernah menyakiti Aini. Dia gadis yang sangat baik," peringat Terra dengan suara serak.


Darren mengangguk. Restu dari kedua orang tuanya sudah ia kantongi. Kini tinggal dua orang tua lagi yang belum ia beritahu.


"Ma, nanti pas menghadap Ayah, temenin, ya," rajuk pemuda itu.


"Ih ... menghadapi Mama dan Papa aja kamu berani, masa sama Ayah nggak?" tanya Haidar.


"Iya, apa lagi kalau berhadapan sama Daddymu," sahut Terra menakuti.


"Ma ...," rengek Darren.


"Uh ... uh ... masih manja tapi pengen kawin?" ledek Haidar.


"Nikah bukan kawin!" tegur Terra meralat.


"Ya, nikah dulu, baru kawin," seloroh pria itu.


"Issh!" sungut Terra.


Darren menatap dua orang di depannya. Ia juga ingin seperti keduanya yang masih mesra. Terlebih kini, ibunya tengah mengandung. Terra menghentikan perselisihannya dengan sang suami. Lalu menatap adik yang menjadi putranya itu. Ia pun mengecup sayang kening Darren. Begitu juga Haidar.


"Berdoalah dan berharaplah pada Allah. Jangan mengumbar kemesraan, takut setan hadir di dalam hubungan kalian," saran wanita itu.


Darren mengangguk.


"Papa belum berkenalan dengan gadismu," sahut Haidar.


Terra pun menjelaskan siapa gadis yang menjadi incaran putra mereka itu.


Sedang di rumah Aini. Dua bocah lelaki saling berpelukan erat. Aini belum pulang. Keduanya sudah kelaparan. mereka kembali tidur di depan pintu untuk menahan pintu, itu. Tangan mereka tak sampai untuk menguncinya. Untuk menarik benda lain pun tenaga mereka tak kuat.


"Kak, Bapak sama Emak benelan ninggalin kita ya?" tanya Radit polos.


Ditya lagi-lagi tak menjawab. Ia hanya mengusap kepala adiknya. Kini keduanya duduk sambil menyandar di pintu. Mata keduanya tertutup, lalu mereka pun tertidur dalam keadaan lapar dan di atas lantai yang dingin.


Bersambung.


uh ... 😥


next?