TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BUAH KEBAIKAN



Semua pulang ke rumah masing-masing. Tadinya Bram menyuruh Terra dan anak-anak untuk menginap. Tapi, langsung ditolak oleh Terra.


"Lah Kakek Te, gimana kalo ditinggal nginep?" Bram sedikit menggaruk kepalanya.


Haidar ikut bersama sang istri. Tadinya Kanya menyuruh putranya membeli sebuah rumah lebih besar dan anak-anak bisa memiliki kamar sendiri-sendiri. Pria itu langsung menolak.


"Pas malam pengantin aja, aku harus tunjep poin ke inti langsung. Karena takut anak-anak bangun dan nyariin Mamanya. Beneran Ma, Terra dicariin, untung udah nembus pagar ...."


Plak! Kanya memukul lengan Haidar gemas.


"Ngomong apa sih kamu!" umpatnya kesal.


"Anak-anak belum bisa tidur di kamarnya masing-masing, Ma. Mereka masih membutuhkan Terra. Makanya, aku hadir ingin ikut merasakan dan memberikan kasih sayang penuh untuk mereka, agar hilang traumanya," jelas Haidar panjang lebar.


Rion kini berada dalam pelukan Haidar. Padahal baru saja bayi montok itu asik mengganggu papanya, karena membawa mamanya. Bayi itu sedang melihat interaksi antara Haidar dan Kanya.


"Papa, pupet toin ipu pa'a?" tanya Rion ingin tahu.


Haidar harus memutar otak, mengartikan bahasa bayinya. Terra yang sedang bercengkrama dengan kakeknya dan mengantarkan sang kakek ke mobil Virgou.


Mereka semua berencana ke mansion milik Virgou lagi. Sedangkan keluarga Hovert Pratama telah berpamitan sejak tadi ketika Haidar menyekap mesum istrinya selama tiga jam di kamar.


"Grandpa tidak pulang ke rumah?" tanya Darren.


"Tidak sayang. Grandpa sedikit ada perlu dengan Daddymu," jawab Bart lalu mencium kening Darren.


"Mana Rion?" tanyanya kemudian.


Haidar yang tak berada jauh dari mereka menyambangi Bart. Ia melupakan pertanyaan bayinya tadi.


"Benpa!" panggil Rion.


"Hi, Baby ... i will miss you so much!" ujar Bart lalu mengambil Rion dari gendongan Haidar.


Pria renta itu menciumi bayi gembul itu hingga tergelak. Frans, Leon dan lainnya pun tak mau ketinggalan menggelitiki Rion. Hingga bayi itu tertawa sampai menangis.


Lidya juga ingin digendong oleh sang kakek. Pria itu menyerahkan Rion pada Leon, kemudian mengambil Lidya dari gendongan Terra. Melakukan hal sama pada gadis kecil itu, hingga Lidya tergelak.


Terra begitu terharu. Ia sangat bahagia. Ada banyak keluarga yang menyayangi anak-anaknya. Ia merasa mudah untuk melepaskan trauma tiga anaknya nanti.


"Sayang," panggil Haidar langsung merengkuh bahu istrinya.


Mendaratkan ciuman di pelipis Terra. Rion yang melihat ibunya dicium. Langsung meminta ingin dicium juga.


"Papa ... Ion mium dudha!"


Momen romantis pun hilang. Ada saja tingkah bayi itu merusak kedekatan antara ayah dan ibunya itu. Tapi, justru itu yang dinantikan oleh Haidar.


Haidar langsung mengambil Rion dari gendongan Leon. Walau ada drama antara mau memberikan bayi itu atau tidak. Bahkan nyaris membuat Rion terjatuh.


"Hei becare full!" teriak Virgou memperingati dengan wajah garang.


Terra saja nyaris copot jantungnya ketika melihat Rion nyaris terlepas dari pegangan Leon. Beruntung Haidar sigap yang langsung menangkap bayi itu sebelum benar-benar terjatuh.


Melihat dirinya nyaris celaka tidak membuat Rion menangis atau mengamuk. Bayi montok itu malah tertawa lepas. Malah minta benar-benar dijatuhkan. Kini ia berusaha melepas pelukan kencang Haidar.


"Baby, no!' larang Terra sambil menggelengkan kepala.


Rion mencebik. Ia langsung menyembunyikan kepalanya ke ceruk leher Haidar. Terra hanya bisa menghela napas panjang.


Setelah menaiki mobil masing-masing. Mereka pun pulang. Budiman masih menjadi supir setia kliennya. Dengan mobil Pajero sport hitam milik Terra. Mereka melaju ke kediaman wanita itu.


Sampai rumah. Lidya tertidur dipangkuan Terra sedang Rion tertidur dalam pelukan Haidar. Sedang Darren menyender pada ibunya. Haidar turun setelah Budiman membukakan pintu mobil dan membantu Darren turun juga. Setelah membuka salah satu bangku agar Romlah dan Ani juga turun. Terra sudah turun sendiri dengan Lidya dalam pelukannya.


Ia langsung menuju kamarnya bersama suami juga putranya. Merebahkan Lidya sedang Haidar merebahkan Rion. Darren ikutan merebahkan diri.


Haidar mengangguk. Terra mengusap pipi sang suami. Ia masih tak percaya jika dirinya kini telah menikah. Sosok pria yang selalu ada untuknya ketika ia ditimpa musibah.


Haidar menggenggam tangan istrinya dan mencium lembut tangan itu. Terra merona. Ia pun langsung meninggalkan Haidar agar lebih akrab dengan tiga anaknya.


"Non ... eh, Nyonya, selamat menempuh hidup baru ya. Semoga sakinah mawadah warahmah hingga jannah," ujar Gina memberikan ucapan selamat dan doa untuknya.


"Aamiin. Terima kasih, Bik," saut Terra mengucap terima kasih.


"Oh ya, Non ... eh Nya, tadi pagi-pagi sekali pihak catering mengirimkan makanan katanya ini makanan lebih dari pesta semalam," ucap Gina memberi tahu.


"Masih bagus nggak Bik?" tanya Terra.


"Masih, Non eh .. Nya ...," Gina masih kikuk dengan sebutan untuk majikannya.


"Panggil saya apa saja, Bik. Tak usah pake Non atau Nyonya. Panggil Mbak juga nggak apa-apa," ujar Terra sambil terkekeh.


"Ah ... nggak enak, Nya. Nyonya sekarang bukan Nona lagi, trus kalo Mbak. Nyonya kan bukan orang Jawa," tukas Gina memberi alasan.


Terra terkekeh mendengar alasan salah satu asisten rumah tangganya itu.


"Tapi, Darren Bibik panggil Den, padahal bukan orang Jawa juga," sela Terra.


"Saya seneng aja manggil Den Darren. Kek gimana gitu, Nya," jawab Gina terkekeh.


Terra ikut terkekeh. Ia sangat salut akan dedikasi para pekerja rumah. Ia sangat ingat ketika diteror dulu.


"Bik, Gina, Bik Romlah, Bik Ani dan Pak Deno, mending pulang aja dulu ya ke kampung. Di sini bahaya. Te takut terjadi apa-apa dengan kalian," ujar Terra waktu itu dengan nada khawatir.


"Maaf, Non. Kami ingin di sini. Di kampung sudah tidak ada yang peduli kami hidup atau mati," saut Romlah menolak usulan majikannya.


"Saya juga, Non. Memang ada anak. Tapi, mereka nggak mau saya repotin. Makannya membiarkan saya kerja jadi pembantu di sini. Padahal harta saya mereka nikmati di sana," ujar Ani juga menolak usul Terra.


"Saya dan istri ikut, Non Terra. Maaf, Non. Kami malah lebih mengkhawatirkan kondisi Den Darren, Non Lidya sama Den Rion. Jadi biarkan saya dan istri tinggal di sini, ya," pintanya memohon.


"Tapi ini berbahaya, Pak, Bik! Nyawa kalian taruhannya!" sela Terra memberi tahu bahaya yang akan mengincar mereka.


"Maaf, Non. Saya sudah meneguhkan hati saya, jika hidup mati saya harus bersama Non, Terra!" saut Deno tegas.


"Saya ikut suami saya, Non," ucap Gina menguatkan perkataan suaminya.


"Saya juga," Ani dan Romlah mengucapkan hal yang sama bersamaan.


Terra memeluk ketiganya dengan linangan air mata. Kesetiaan para pekerjanya sangat membuatnya terharu.


"Maafkan saya, Non. Semenjak saya bekerja dengan Non. Saya sudah menganggap Non, anak sendiri," ujar Romlah memeluk Terra hangat.


"Makasih Bik," ucap Terra tulus.


"Semua sepertinya makanan baru, Nya," ujar Gina membuyarkan lamunan Terra.


"Ya, sudah siapkan itu semua dan bagi juga untuk tim pengawal, ya," pinta Terra.


"Baik, Nya," saut Guna langsung menyiapkan semua makanan dan membaginya.


Terra ikut membantu Gina. Wanita yang baru saja menyandang status istri satu hari ini menyiapkan minuman.


bersambung.


Jika kita baik maka baik pula kita dapatkan. setuju?


next?