TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEMARAHAN HAIDAR



Meninggalnya Anwiyah membuat tiga anak Terra sedikit demam, pada malam harinya. Bahkan Darren ingin tidur bersama Terra dan Haidar.


Sepasang suami istri itu terjaga, semalaman karena ketiganya mengigau. Terra segera memberi anak-anak obat penurun panas. Mereka baru bisa tenang setelah jam menunjukkan waktu 03.14.


Terra masih pusing begitu juga Haidar. Namun, tugas masih menumpuk. Terra ada kuis pagi ini. Jadi ia harus datang pagi-pagi.


Budiman sudah memanaskan mobilnya. Bik Romlah memintanya untuk sarapan. Ia pun mematikan mobil. Lalu bergabung untuk sarapan.


Melihat mata panda di kedua majikannya. Ia sempat menatap khawatir.


"Anda berdua tidak apa-apa?" tanyanya.


"Tadi malam begadang. Anak-anak demam karena kejadian kemarin," jawab Haidar lalu menguap lebar.


"Pagi Ma, Pa, Om Budi," sapa Darren sudah gagah dengan seragam sekolahnya.


"Pagi, sayang."


"Selamat pagi Tuan muda."


Jawab Terra, Haidar dan Budiman bersama. Terra mengecup kepala putranya sambil meraba apakah masih hangat atau tidak.


"Sayang, badanmu masih hangat. Kamu istirahat dulu, ya," pinta Terra.


"Nggak apa-apa, Ma. Hari ini Darren ada ujian, jadi harus masuk," ucapnya.


memang wajah Darren sedikit pucat. Namun, hanya berlangsung sebentar. Perlahan wajahnya kembali memerah.


"Sayang, kamu kan bisa nyusul, ujiannya," Darren menggeleng.


"Gurunya killer. Beliau nggak ngasih toleransi apapun," sahutnya kemudian.


"Duh kek siapa ya, Dosen Mama juga ada yang seperti itu di kampus," cibir Terra pada suaminya.


Haidar hanya cuek. Toh, dia begitu untuk kebaikan mahasiswanya. Jadi tak masalah jika sedikit lebih keras.


"Ya, sudah. Begitu selesai sekolah, kamu langsung pulang, ya. Jangan ikut ekskul dulu," saran pria itu.


"Iya, Pa," sahut Darren.


Haidar menatap putranya. Entah kenapa, instingnya bekerja. Ia merasa jika Darren menyembunyikan sesuatu.


"Darren," panggilnya.


"Iya, Pa," sahut Darren.


"Kamu tidak menyembunyikan apa pun kan?" tanya Haidar penuh selidik.


Darren terdiam. Terra mengamati putranya. Ia juga yakin, jika Darren menyembunyikan sesuatu. Tapi, pria kecil itu menggeleng dengan yakin.


"Tidak ada apa-apa, Pa."


Haidar masih menatap lekat wajah putranya. Ia paling bisa melihat kebohongan siapa pun. Makanya pria itu dijuluki "Manusia serba tau" oleh kalangan anak-anak kampus.


"Darren berangkat, dulu ya Pa, Ma, Om Budi. Assalamualaikum!"


Darren buru-buru minum. Ia tak mau lebih lama duduk dipandangi oleh ayahnya. Ia mencium punggung tangan ketiganya. Terra memberikan bekal untuknya.


Pria kecil itu hanya diberi uang sepuluh ribu, itu pun bukan untuk jajan. Terra tak membiasakan anak-anak untuk makan sembarangan di luar. Termasuk jajan.


Darren langsung memasukkan kotak bekal itu. Dahlan dan dua orang lainnya sudah bersiap di atas mobil golf hadiah dari Virgou, untuk mengantar tuan muda mereka sekolah.


Haidar dan Terra juga Budiman telah selesai sarapan. Sepasang suami istri itu mencium Rion dan Lidya. Budiman juga melakukan hal yang sama. Gina langsung memandikan mereka berdua.


Ketiga orang dewasa tersebut pun pergi ke kampus. Di mana Terra menimba ilmu dan Haidar yang memberi ilmu.


Entah mengapa, siang ini Haidar tak mau melanjutkan meeting yang sudah membuatnya bosan. Keterangan yang berputar-putar dan berbelit. Membuatnya makin emosi. Pria itu sampai menggebrak meja.


"Apa kalian tidak bisa bekerja!" bentaknya dengan suara menggelegar.


Matanya nyalang menatap semua kepala divisi juga para marketing mereka. Tidak ada satu pun pekerjaan yang hasilnya memuaskannya.


"Sudah tiga bulan saya menerima laporan seperti ini terus!" ucapnya penuh penekanan.


"Saya tidak mau tahu. Jika tiga hari kalian, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Bersiaplah kalian untuk keluar dari perusahaan ini!"


"Bobby!" panggilannya.


"Saya, Tuan."


Seorang pria tampan datang dengan raut wajah sama dengan atasannya. Sangat kecewa dengan divisi ini. Padahal mereka sudah mengambil dana proyek cukup besar sebagai fasilitas mereka.


"Catat nama-nama mereka. Selidiki semua, kenapa pekerjaan mereka mengecewakan seperti ini. Jika ada hal yang mencurigakan. Langsung blacklist mereka!" titah Haidar tegas.


Ancaman Haidar itu tak main-main. Mereka yang bermain pucat pasi. Pengunduran diri sesegera mungkin adalah jalan satu-satunya untuk terbebas dari blacklist.


"Baik, Tuan!"


Bobby langsung menatap semuanya dengan seringai yang mengerikan. Para staf dan kepala divisi pun hanya bisa pasrah. Kemiskinan menyapa mereka di depan mata.


Haidar langsung pulang lebih cepat. Pria itu dari tadi merasa tak enak. Melihat jam merek Christian Dior. Darren mestinya sudah pulang, jika tidak mengikuti ekskul.


Ia menelepon Dahlan, pengawal yang selalu bersama putranya itu.


"Halo, Lan. Apa Darren sudah pulang?" tanyanya langsung tanpa memberi salam.


"Belum, Tuan. Mestinya anak kelas tiga sudah keluar. Tapi, tadi katanya ada tambahan pelajaran untuk seluruh siswanya. Kemudian sekarang, Tuan muda Darren tengah mengikuti ekskul," jawab Dahlan di seberang telepon.


"Kenapa kau tidak minta ijin. Darren belum pulih benar!" bentaknya.


"Saya sudah minta ijin, tapi mereka beralasan saya bukan wali dari Tuan muda, Tuan," sahut Dahlan lagi.


"Brengsek!' makinya.


Haidar menutup teleponnya, begitu saja. Ia melajukan kencang mobil itu hingga sampai sekolah putranya. Terra belum pulang. Ia sedang ada pertemuan dengan investor dari negara C. Keberadaan Terra sangat dibutuhkan ketika ada pertemuan-pertemuan seperti itu.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, Haidar sampai sekolah. Pintu gerbang sengaja ditutup. Itu dimaksudkan agar para murid tidak ada yang keluar selama jam sekolah dimulai.


"Buka gerbang!" teriak Haidar emosi.


Penjaga sekolah yang sudah uzur melihat ada salah satu wali murid mengetuk-ngetuk gembok gerbang dengan kasar. Ia pun berlari mendatangi pintu gerbang.


Melihat pria yang mestinya sudah tidak diperbolehkan lagi bekerja, berlari. Makin menambah emosi dirinya.


"Pak Haidar. Mau jemput Den Darren?" tanyanya dengan suara gemetar khas orang tua.


"Iya, Kek Rahmat. Saya mau jemput putra saya," jawab Haidar sekenanya.


Pria itu tak enak hati memarahi orang tua yang membuka gerbang. Pak Rahmat sudah mengabdi selama tiga puluh tahun di sekolah ini.


Padahal putra-putrinya adalah karyawan yang mapan. Entah mengapa membiarkan ayah mereka masih bekerja di tempat ini.


"Pak, saya sarankan, jika Den Darren berhenti dari ekskul olahraga. Saya kasian lihatnya," ujar Pak Rahmat memberi saran.


"Kenapa, Kek?"


"Bapak lihat saja sendiri. Tuh," ujarnya sambil menunjuk putranya tengah dibully.


Bukan dibully secara verbal, tapi non verbal. Darren seperti dipermainkan guru olahraganya. Menjadi pesuruh. Mengambil bola kesana-kemari. Lalu mengelap bola dengan bajunya.


"Nih, kamu lap bola. Tadi saya lihat masuk ke comberan!" perintahnya.


"Tidak Pak, Saya tadi ...."


"Kamu mau membantah saya!" bentak guru itu.


Ketika Darren mengambil lap untuk mengeringkan bola. Guru itu menoyor kepala Darren. Melihat itu Haidar geram bukan main.


"Kau pakai bajumu buat keringin itu bola!"


Bug! Bug! Bug!


Tiga bogem mentah langsung bersarang di wajah guru itu. Ia tak sempat melawan karena Haidar memukulinya bertubi-tubi. SD Semua anak yang memang tidak menyukai cara guru itu mengajar mereka langsung bersorak menyemangati Haidar untuk terus memukuli guru itu.


"Hajar terus Om. Orang itu kemarin meludahi saya!" pekik salah satu murid.


"Hajar terus, Om! kemarin dia mengatai ibu saya!" pekik salah seorang anak lagi sambil menangis.


Mendengar hal itu. Haidar makin kalap. Rahmat yang melihatnya langsung berteriak minta tolong.


"Tolong!"


"Pak, sudah Pak. Nanti Bapak bisa bunuh orang itu!' pekik Rahmat dengan suara gemetar.


Para bodyguard berlarian menuju lapangan di mana atasan mereka memukuli orang. Mereka tadi melihat Haidar masuk. Berpikir jika ada wali dari Darren yang masuk. Mereka memilih menunggu.


Ternyata, ia melihat Haidar memukuli orang dan langsung mereka berlari. Dahlan memegangi tubuh tuannya yang terengah-engah. Keringat membanjiri. Tangannya tampak lecet.


Anak-anak menangis dan memeluk Haidar. Mereka bukannya takut, malahan berterima kasih. Para guru yang piket berdatangan.


"Ada apa ini. Kenapa Pak Dion babak belur begini?' tanya salah seorang guru.


Bersambung.


ah ... oknum guru lagi?


next?