TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
APA YANG KAU TABUR ITU YANG KAU TUAI 3



melihat Lidya menangis sambil memeluk seorang pria yang baru dikenalnya. Darren pun mendatangi adiknya.


pria kecil itu mengusap lembut punggung adik yang ikut menangis.


"Maafkan Aku," ungkap Virgou tulus.


"Syemua olan pelnah belbuat syalah. Iya maafin Dedi, syesyama manusyia, halus syalin memaaftan!" ucap Lidya bijak.


"Maafin Mama sama Baby Lion, ya Dedi!" pinta Lidya penuh ketulusan.


Virgou mengurai pelukannya. Pria dengan sejuta pesona itu menatap gadis cilik yang sangat cantik. Seumur hidupnya pria itu tidak pernah merasakan kasih sayang.


Ayah ibunya sibuk menyudutkannya dan berusaha menjadikannya seperti mendiang Ayah gadis kecil itu. pukulan dan bentakan selalu mewarnai hari-harinya ketika masa kecil.


Tidak ada yang peduli ketika ia menangis sendirian di pojok. Namun ketika Ben datang menghampiri. Virgou akan marah dan membentak pamannya itu.


Iya selalu mengira jika Ben akan merundung nya. Maka dari itu sebelumnya ia membenci Ben.


Namun setelah mendapatkan pelukan dari Lidya. pria itu merasakan betapa besar kasih sayang dicurahkan oleh gadis kecil itu. secara perlahan lukanya pun sembuh.


Sekarang ia yakin, hari-harinya akan dilalui dengan mudah. Karena kebencian itu telah sirna.


"Terima kasih, sayang, " ungkap Virgou.


"Syama-syama," saut Lidya sambil mengulas senyum paling manis.


"Baby, kenapa, tadi Baby bohong?" tanya Terra menyamakan tingginya dengan sang putra.


"Embak ... Ion embak bolon," elaknya dengan wajah tak berdosa.


"Tanan Ion syatit, Mama," rengeknya kemudian.


Ah ... siapa yang tahan dengan wajah polos itu. Walau, Terra sedikit takut karena terlalu memanjakan bayi montoknya.


"Sekarang minta maaf sama,.Daddy," pinta Terra lembut.


Rion masih bergeming. Ia melirik Virgou yang basah dengan air mata. Bayi gembul itu mendatangi pria itu.


Jantung Virgou serasa mau meledak. Entah mengapa desiran-desiran aneh itu merayap di setiap pori-porinya, ketika berhadapan dengan Rion.


"Mamapin Ion, ya," ucapnya pelan.


"Panggil, Daddy sayang," ajar Terra.


Rion menggeleng. "Imi wowang, Mama!" protesnya.


"Daddy, sayang!" pinta Terra lagi.


"Wowang, Ma!' Rion bersikukuh sambil menggeleng tegas.


"Baby sayang Mama kan? Anak saleh Mama kan pinter jadi harus nurut," nasehat Terra.


"Panggil, Daddy!' sebuah perintah yang tidak bisa ditolak Rion.


"Daddy!" panggilnya.


Virgou menangis. Ia merengkuh tubuh gembul bayi itu dan memeluknya. Rion sedikit protes.


"Atit!"


"Maaf ... maaf!" cicit Virgou.


"Basal wowang!' sentaknya.


"Baby!' peringat Terra.


"Oteh ... Daddy," ucapnya malas.


Acara pun berlanjut. Semua kembali tersenyum setelah mendapat satu pelajaran berharga dari seorang anak perempuan berusia tiga tahun.


"Ma mo oke-oke!" pinta Rion.


Semua yang mengetahui apa itu oke-oke menepuk kening mereka. Namun, Terra mengabulkan permintaan putranya itu.


Sebuah panggung disiapkan bersama organ tunggal. Rion mengambil mik. Sebuah lagu yang katanya ciptaannya sendiri.


"Labhu imi buyat Mama," ucapnya penuh percaya diri.


"Mama ... ba wowu ...!"


"Mama ba lop pu!"


"I - love - you," ralat Darren lagi mengajarkan Rion.


"Ai lop pu!'


"You!"


"Pyu!" sentak Rion.


Darren menyerah. Lagu berubah menjadi ''Naik-naik ke puncak gunung."


"Mait-pait petumpat tunun. pindi-pindi petali ... pili nanan, pu pihat waja. Banat polon pemalaaa. piti panan pu lipat waja ... babat lopon pemala ...!"


Kanya tertawa terbahak-bahak, Bram sampai memerah mukanya menahan tawa. Karina apa lagi. Terra terduduk lemas di lantai.


Virgou asik bergoyang bersama, musik. Hanya ia yang bertepuk tangan untuk Rion. Banyak kolega asing yang tak mengerti apa yang Rion katakan, begitu juga Bart.


Haidar menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Tentang apa yang dinyanyikan oleh bayi menggemaskan itu.


Ketika mereka tahu, mereka pun sadar, lalu tersenyum lebar. Mereka pun bertepuk mengikuti Rion bernyanyi.


Merasa dia mendapat sambutan luar biasa, usai lagu tadi, ia pun menyanyikan lagu Happy birthday untuk Terra.


"Bepi bepay pu yu ... lepi bepay pu yu ... pepi beday ... pepi bepay ... bepi bedey pu yu!"


Sontak Bart tertawa terbahak-bahak. Frans apa lagi. Leon sudah sama dengan Terra, terduduk lemas di lantai.


Virgou bertepuk tangan. Begitu juga semua kolega asing yang menjadi tamu undangan Terra.


Sedang di tempat lain, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sosok gadis nampak kesal bukan main.


Gadis yang selama ini ia cari, tak dapat ia temukan. Bahkan seluruh anak buahnya tak bisa mendapatkan sosok yang ia cari di tempat yang ia rekomendasikan.


"Di klub, tak ada. Di pesta perayaan hari jadian salah satu anak konglomerat tadi juga tidak ada. Bahkan even perhiasaan yang aku buka dari tiga hari lalu, tak bisa mendatangkan sosoknya!"


"Kamu di mana Terra!" pekiknya sambil memukul-mukul stir mobil. Karena saking kesalnya, ia menginjak pedal gas terlalu dalam, hingga tak melihat dahan kayu sedikit besar di tengah jalan.


Wanita itu terkejut. Ia mencoba menghindar kayu yang melintang. Tiba-tiba bannya slip. Ia tak dapat mengendalikan laju kendaraannya.


Mobil Audi keluaran terbaru itu melompat seperti terbang. menyerempet pohon besar.


Brak!


Selena merasakan hantaman pohon itu mengenai keras mobilnya. Kaca pecah, serpihannya mengenai wajah cantik dan nyaris ke mata indahnya.


Mobilnya terbalik berguling berkali-kali. Selena merasakan tubuhnya terpental ke sana kemari. Merasakan sakit luar biasa karena mobilnya kini ringsek.


Selena teringat suatu kejadian. Di mana hari ia meminjam mobil Firsha dan merusak perseneling juga kemudinya berkat bantuan seorang montir yang ia bayar dengan mahal.


"Aku jamin kau akan mati, Firsha!" gumamnya licik dalam hati.


Kini, ia merasakan kematiannya sebentar lagi. Darah mengucur membasahi kepala dan juga tubuhnya. Mencoba sebisa mungkin membuka sabuk pengaman.


Klik. Sabuk terbuka. ia mencoba keluar, sayang kakinya terjepit. Tiba-tiba ia merasakan panas dan bau asap.


Air matanya mengalir. Kematian benar-benar segera mendatanginya. Api mulai muncul. Ia kemudian terbatuk. Matanya perih karena asap mulai tebal.


Beberapa orang pria melihat kejadian langsung menolong. Ruang kemudi sudah tersulut api. Sebagian melalap baju mahal Selena yang seharga dua puluh lima juta itu.


Bahkan muka wanita itu sudah merasakan panasnya api. Seseorang memandamkannya dengan menyiram pasir.


Mukjizat Tuhan, Selena bisa diselamatkan berikut tas berisi semua identitas juga ponselnya.


Wanita itu sudah tak sadarkan diri ketika dibawa keluar dari dalam mobil yang mulai terbakar. Setelah menjauh dua meter dari benda terbakar itu.


Buum!


Mobil meledak!


bersambung!


alam mulai bereaksi ...


next?