TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CERITA PARA PRIA



Makan siang sudah selesai, bahkan kini anak-anak kembali tidur siang. Puspita yang kram perutnya karena mendengar nyanyian absurd anak-anak juga telah beristirahat. Terra sedang ingin tidur bersama para bocil. Sedangkan Khasya tentu sudah di kamarnya menyusui.


Herman, Virgou, Bart dan Gabe kini tengah mengobrol. Masih mendiskusikan bisnis baru.


"Gabe, bagaimana hubunganmu dengan Widya?" tanya Virgou serius.


"Ah, ya. Aku juga ingin tahu, bagaimana?" tanya Bart.


"Aku ingin melamarnya," jawab Gabe.


"Lalu?"


"Daddy tidak bisa datang karena kesibukannya. Ia memintamu, Kak untuk menemaniku meminang kekasihku," jawab Gabe lagi.


"Bisa, kapan itu, apa kau sudah membicarakannya terlebih dahulu?" tanya Virgou sambil menyender.


"Aku sih inginnya dalam waktu dekat ini," jawab Gabe lagi.


"Jangan buru-buru. Pikirkan dahulu, kau seperti terkesan memaksakan kehendak," sahut Herman.


"Oh, emang Ayah dulu tidak?' sahut Gabe memutar mata malas.


"Ais ... kau ini!" dengkus Herman kesal.


Yang lainnya terkekeh. Semuanya juga sama dengan Gabe dulu. Buru-buru mempersunting pujaan hati, terlebih sang kekasih banyak yang mengincar. Terutama Haidar waktu itu, ia takut Terrs jatuh cinta dengan Budiman.


"Lagi pula usia ku sudah tiga puluh, apa lagi yang aku tunggu?" celetuk Gabe lagi.


"Ada aku di sini, Gabe. Aku akan tinggal satu tahun di sini," sahut Bart tenang.


"Benarkah Dad?" tanya Herman antusias.


Bart mengangguk. Gabe langsung semringah. Haidar dan Virgou juga senang jika Bart tinggal lama di sini.


"Grandpa tinggal denganku ya, sekarang," ajak Gabe langsung bersimpuh di hadapan Bart.


"Enak saja, Grandpa ikut aku!" sahut Virgou tak terima.


"Yang pasti, ikut aku. Karena Terra adalah cucu perempuannya. Grandpa tak mungkin tinggal bersama Gisel karena ada orang tua Budiman di sana," sahut Haidar.


"Memangnya kenapa jika Grandpa tinggal bersamaku?" tiba-tiba Budiman datang bersama anak dan istrinya. Ia tak membawa ayah ibunya.


"Mereka bisa mengobrol sesama orang tua dan bersantai," lanjutnya.


"Cis ... kalian ini," Bart berdecih sebal.


"Kemarin saja. Kalian lupa aku ada. Sekarang sok perhatian," lanjutnya menyindir.


"Kenapa main masuk tanpa mengucap salam?" tegur Herman..


"Ah, assalamualaikum," kini sepasang suami istri itu pun menunduk.


"Wa'alaikum salam," balas semuanya.


"Gisel, bawa anakmu ke kamar itu, anak-anak dan Terra sedang tidur," titah Herman sambil menunjuk kamar anak-anak. Kamar paling besar


Gisel mengangguk. Putranya sudah tidur dalam gendongan. Ia juga sudah lelah karena habis jalan-jalan bersama kedua mertuanya. Setelah mengantar mertuanya pulang, Budiman mengajaknya ke rumah Herman. Ia pun menurut saja.


Enam kasur di tumpuk sedemikian rupa, menempel di dinding. sedang di sebelahnya ada box berukuran besar. Terra terbangun karena mendengar pintu terbuka. Lalu tersenyum melihat siapa yang masuk. Ia pun bangkit perlahan. Gisel pun mendekati kasur bertumpuk itu


Gisel merebahkan putranya di sebelah Kean. Balita itu sedikit membuka mata dan menggeser tubuhnya untuk Samudera yang akan berusia satu tahun itu. Gisel mencium Kean lembut. Ia pun merebahkan dirinya bersama Terra.


"Kak, aku mau peluk Kaka boleh?" pintanya.


Terra tak menjawab. ia langsung memeluk Gisel dengan sayang. Gisel pun merapatkan tubuhnya ke pelukan sang kakak.


Sedang di ruang keluarga, nampak para pria kembali membicarakan soal rencana lamaran Gabriel.


"Kau harus pastikan dulu dengan calonmu. Aku pasti akan menemanimu, jika perlu seluruh keluarga akan bersamamu," jelas Herman lagi memulai pembicaraan.


"Benar, kita harus merencanakan semuanya. Kita juga ingin pihak wanita merasa aman dan nyaman melihat keluarga besar kita," sahut Virgou.


Haidar dan Budiman mengangguk membenarkan. Semua mesti dipersiapkan. Tidak cepat tapi tidak juga lama.


"Ck ... pertama aku ingin menciumnya gagal, gara-gara kucing loncat. Yang kedua gagal gara-gara Aden datang. Sejak itu aku tak berusaha untuk menciumnya lagi," keluh Gabe.


Semuanya terbahak mendengar keluhan pria malang itu. Tiba-tiba, Gabe berbalik bertanya pada Haidar hal yang sama.


"Berapa kali kau mencium Terra sebelum menikah?"


Haidar menjawab dengan jarinya. Gabe tak percaya, jika Haidar bisa mencium Terra.


"Yang pertama aku ditampar, kedua juga sama bahkan ia menyatakan putus. Ketiga bibirnya berubah jadi dingin dan keempat berubah jadi kaku," jelas Haidar.


Kini Virgou yang tertawa paling keras mendengar penderitaan Haidar ketika berpacaran dengan Terra.


"Eh, tapi dia pernah loh sekali mencium bibirku ketika pacaran. Walau hanya sekilas sih," tiba-tiba Haidar mengingat kejadian waktu ia memangku Terra.


Virgou langsung terdiam. Kini Haidar yang bertanya pada pria mantan Casanova itu.


"Aku tidak mencium Puspita sebelum menikahinya," jawaban Virgou diberi tepuk tangan oleh Gabe.


Virgou berdecih dan mendorong bahu adiknya itu, sebal. Budiman pun tak luput dari pertanyaan yang sama.


"Bagaimana aku ingin mencium Gisel? Delapan kali berkencan semuanya gagal karena kalian datang!" dengkusnya kesal.


Virgou, Gabe dan Haidar tertawa terbahak-bahak. Memang Rion dan Lidya hanyalah alasan mereka untuk mengganggu pria pengawal Terra itu. Bart sampai mengusap perutnya yang kram akibat tertawa mendengar penderitaan Budiman ketika berkencan.


Lalu kini semua mata memandang Herman. Pria berusia nyaris tujuh puluh tahun itu mulai kikuk. Haidar menuntut jawaban Herman tentang pertanyaan tadi.


"Ayah, berapa kali kau mencium Bunda sebelum menikah. Aku tak percaya jika Ayah langsung mengajaknya menikah!" ujar Gabe dengan penuh rasa curiga.


"Hais ... kalian ini. Aku mencium Bunda kalian itu tepat di hari pernikahan kami, setelah sah menjadi suami istri!" tekan Herman..


"Jangan bohong, Man!' tegur Bart juga tak percaya perkataan Herman.


"Kalau tak percaya kalian tanya pada Khasya," sahut Herman santai.


"Bunda pasti akan berkata sama. Ia kan malu jika berkata jujur Ayo lah, Yah, kami sudah jujur loh," paksa Virgou.


"Ck ... kalian ini!" Herman memandang pintu kamarnya. Ia memajukan tubuhnya.


"Kalian tahu, aku mencium bibir Bunda lima kali sebelum menikah," bisiknya.


"Ah ... masa?" tanya Haidar dan Virgou bersamaan. Lagi-lagi mereka tak percaya.


"Tuh kan. Kalian gak percaya," sahut Herman malas..


"Ish ... gitu aja ngambek. Terus ... terus?' tanya Gabe penasaran.


"Ya, gitu. Pas pertama, dia kaget. Kedua dia diem, ketiga dan seterusnya. Dia balas dong," jawab Herman santai.


"Wah, Ayah mahir menaklukan wanita," sahut Virgou bertepuk tangan.


"Memang kau tidak?" sindir Bart.


"Oh, ayolah Grandpa, dulu aku tak perlu menaklukkan mereka. Wanita itu sendiri yang melempar tubuh bugilnya di ranjang," jawab Virgou berbisik.


"Hanya pada istriku ini lah, aku sedikit menaklukkan nya," lanjutnya.


Bart pun mengangguk. Haidar hanya menggeleng. Budiman dan Gabe hanya membayangkan saja, mereka sudah takut. Herman yang memang baru memasuki pubernya setelah usia lanjut hanya bisa menghela napas.


"Maka itu, hanya wanita berkualitas yang patut ditaklukkan," sahut Budiman tiba-tiba. "Bukan wanita sembarangan menyerahkan dirinya."


Semua mengangguk setuju. Para pria kembali melanjutkan perbincangan tentang rencana. lamaran Gabe pada Widya.


"Jadi, minggu depan atau paling lambat dua minggu lagi, kita harus bersiap untuk melamar gadis itu untuk pria yang sudah tak sabaran ini," ujar Herman mengacak rambut Gabe.


Gabe hanya mengerucutkan bibirnya. Semua terkekeh melihatnya.


bersambung.


ah ... para pria ...


next?