
Resepsi pernikahan Gabe dan Widya digelar. Sebuah ballroom hotel kelas internasional menjadi tempat perhelatan pesta besar tersebut.
Ballroom disulap sedemikian rupa. Serba putih dengan kain menjuntai. Sedangkan dekorasi pelaminan.
Di dekorasi begitu romantis. Para tamu undangan juga memakai baju mahal mereka. Gabe mengundang beberapa kolega penting, begitu juga Terra. Belum lagi Virgou, Herman juga Haidar.
Bram dan Kanya juga datang, Terra hadir bersama sembilan anaknya. Begitu juga, Khasya bersama lima anak dan Puspita lima anak. Kini semua berada di ruang VVIP yang memang khusus dibuat untuk keluarga inti pria dan wanita.
"Astaga. Ternyata suami dari Widya bule kaya raya!" desis salah satu paman Widya.
"Itu bukannya, Terra ya?" bisik istrinya ketika melihat sosok yang ia kenali ketika kemarin membaca satu majalah bisnis milik suaminya.
"Aku rasa itu benar, Terra, pengusaha terbaik versi majalah bisnis dan suaminya juga!" bisik sang suami menjawab.
"Lihat makanan ini dibuat dari bahan yang berkualitas," lanjutnya.
Virgou yang tak jauh dari sepasang suami istri itu hanya tersenyum miring. Sungguh, ia ingin berlaku pamer pada keluarga dari istri adiknya ini.
"Huh, tau gitu dulu aku juga memaksa Berliana bekerja di perusahaan Widya sekarang! Putrimu itu, memang tidak bisa diandalkan!" protesnya pada sang istri.
"Loh kok jadi putriku sih. Bukankah kemarin Papa ya yang mendukung Berliana tidak bekerja di perusahaan Hudoyo Group sebagai arsiper?!" sela sang istri memprotes.
"Hanya gadis yang memiliki kualitas terbaik yang bisa bersanding dengan keluarga Dougher Young!" sahut Virgou mengeraskan suaranya. "Bukan gadis sembarangan!"
Pria tampan dengan sejuta pesona luar biasa itu pun berkumpul dengan keluarganya. Sepasang suami-istri itu terkejut ketika Virgou menyela percakapan mereka. Kini keduanya hanya bisa gigit jari. Anak gadisnya memilih menjadi sekretaris pribadi, di perusahaan yang tidak begitu besar. Bahkan gajinya tak mencukupi kebutuhan Berliana, walau statusnya menjadi kekasih simpanan Bossnya itu.
Gaun pengantin Widya begitu sederhana tetapi terkesan mewah dan elegan. Ia juga sangat cantik dengan binaran bahagia. Gabe juga tak kalah tampan.
"Jadi bagaimana, apa kau sudah menciumnya?" tanya Haidar menggoda.
Semua terbahak mendengar godaan suami dari Terra. Bahkan wanita yang baru saja melahirkan tiga hari lalu itu malu luar biasa mendengar pertanyaan suaminya.
"Bukan hanya mencium. Mungkin sudah mencetak bibit unggul di rahim Widya," celetuk Bram tak kalah frontal.
Widya menunduk mendengar godaan dari para pria kerabat suaminya itu. Pipinya merona karena malu.
"Belum sampai mencetak, ia sedang didatangi tamu bulanannya," keluh Gabe sambil mengerucutkan bibirnya.
Semua terbahak mendengar keluhan pria itu. Herman menepuk-nepuk bahu menyabarkan pengantin baru itu.
Sedang Widya memilih memeluk Khasya menyembunyikan wajahnya yang merona. Sriani hanya sebentar berada di hiruk pikuk pesta. Kini dia sudah tertidur di salah satu kamar presiden suite.
"Tapi, aku sudah menciumnya berkali-kali tanpa gangguan kucing atau pun Aden untuk meminta tanda tangan," sahutnya lega.
Aden sampai tersedak ketika namanya di sebut. Pria ini juga baru saja menjadi seorang ayah satu tahun lalu. Jhenna memberinya satu putri cantik yang ia beri nama Ayunda Deasara. Kini putrinya tengah bermain dengan anak-anak atasannya. Bayi itu mengikuti kemana pun Rion berada. Rommy tertawa terpingkal-pingkal mendengar kisah lucu atasannya itu. Ia juga membawa Deasy dan dua anaknya.
"Sepertinya pasukan Rion bertambah banyak," sahut Herman ketika melihat anak-anak bermain dengan tenang.
Semua menoleh pada anak-anak yang mengikuti instruksi dari putra Terra itu. Darren dan Lidya bahkan mengikuti semua keinginan adiknya itu.
Terra hanya bisa pasrah. Bukan hanya Terra. Tapi semua orang tua pun akan menantikan tingkah ajaib anak-anak setelah bergabung dengan Rion.
Pesta makin ramai. Gabe dan Widya kembali ke pelaminan. Di sana ia ditemani Bart, Bram dan Kanya. Sesekali Terra mendampingi kakeknya menyambut para tamu.
Tiba-tiba.
"Halo para tamu undangan semuanya!' sebuah suara menyahut dari sebuah mikrofon.
"Rion!" Terra langsung menyebut nama putranya itu.
Benar saja. Panggung pertunjukan kini dipenuhi anak-anak balita yang begitu menggemaskan. Semua mata memandang panggung dengan binaran mata memuja.
"Ya, ampun anak-anak siapa itu, cantik dan ganteng-ganteng!"
"Halo perkenalkan nama saya Rion Permana Hugrid Dougher Young. Dan ini adik-adik saya semuanya" jelasnya memperkenalkan diri.
"Hai!" ujar anak-anak menyapa para tamu dengan melambaikan tangan.
"Saya tidak akan memperkenalkan mereka karena banyak sekali. Bisa-bisa hingga satu tahun tidak akan selesai-selesai!' selorohnya yang dibarengi tawa para tamu undangan.
"Kami akan menyanyikan sebuah lagu untuk anda semuanya," lanjutnya lagi.
Musik pun bermain. Anak-anak mulai bergoyang. Nai duluan menyanyi.
"Bada hali mindu tululut Mama te pesta, mait mobil bistimewa tududut di muta. Tududut pangku Baba Pudi yan syedan betelja ... menendalai pobil putaya bait jajana ... hey ... blum ... blum ... blum!"
Lagu naik delman berubah liriknya. Semua tamu tertawa dan bertepuk tangan meriah. Semua berdiri ikut bergoyang. Anak-anak mendapat giliran bernyanyi satu persatu. Semua lagu anak-anak berubah liriknya. Semua tamu memegang perut dan pipi mereka karena kram.
"Lagu terakhir dibawakan oleh Dimas!" balita itu membungkuk hormat..
"Ladhu imi puat Punda ... ba bowu Punda!"
Khasya terharu. Rion memang mengajarkan anak-anak lebih menyayangi bundanya walau ayah juga sama disayangnya.
"Patu ... Patu ... atu tayan Punda ... buwa ... buwa judha sayan Bayah ... pida ... pida ... sayan adit Tata ... Patu puwa pida sayan semuana ...!"
Khasya langsung terbahak mendengar lagu yang dinyanyikan putranya itu. Ia mengira lagu khusus untuknya. Tetapi memang hanya lagu itu yang Dimas hapal karena Herman selalu menyanyikan lagu itu ketika Dimas rewel.
Lagu sudah selesai, anak-anak sudah turun. Rion tak bernyanyi. Tenggorokannya sedikit sakit. Hal itu membuat Bram jadi khawatir.
"Minum air hangat, ya!" Rion mengangguk.
Seorang pelayan membawakan air hangat. Rion sedikit batuk. Haidar meraba kening putranya. Hangat.
"Papa," rengeknya.
Sepertinya, Rion mulai kelelahan. Anak-anak juga, kini semuanya memilih beristirahat lebih dulu. Gabe dan Widya mengijinkan mereka naik ke kamar masing-masing. Bram sudah mengosongkan tiga blok khusus kamar untuk semua keluarga inti.
Terra juga membawa semua anak-anaknya ke kamarnya. Bayinya bersama Romlah dan Ani di kamar khusus untuk anak-anak. Terra sudah mempersiapkan semuanya. Ia memeras banyak air susu yang di masukan dalam kantung dan didinginkan. Romlah tinggal menghangatkannya dengan alat khusus.
Ketika masuk, Romlah baru saja meletakan salah satu bayi Terra. Ani baru membersihkan botol susu. Anak-anak langsung naik ke tempat tidurnya. Rion dipeluk oleh Lidya. Terra akan tidur bersama anak-anak, begitu juga Haidar.
"Sayang, tadi minum air es ya?" Rion mengangguk.
"Besok ke dokter ya," ajak Terra.
"Iya, Ma," sahut Rion lesu.
Wanita itu menciumi semua anaknya satu persatu. Tak lama, semuanya terlelap dalam tidur. Romlah dan Ani juga sudah tidur di kasur mereka. Terra sudah mengganti semua baju anak-anak dengan baju tidur. Bahkan Darren juga diganti bajunya oleh Terra. Remaja itu sudah tak kuat lagi menahan kantuk.
Haidar masuk kamar ketika Terra mengusap peluh Rion. Bocah itu sedikit demam. Walau tadi sudah diberi obat penurun panas.
"Besok kita bawa dia langsung ke rumah sakit untuk diperiksa," ujar Haidar ketika meraba kening putranya itu.
Terra mengangguk setuju. Pintu diketuk. Virgou datang dengan wajah khawatir.
"Apa benar Baby kini demam?" Terra mengangguk.
Virgou langsung masuk dan memeriksa suhu Rion. Ia sedikit lega. Panasnya sudah turun. Ia pun mencium Rion juga lainnya. Baru kemudian ia keluar kamar untuk pergi ke kamarnya sendiri.
bersambung.
hmmm...
next?