TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GALAKNYA RION DAN KELEMBUTAN LIDYA



part ini sebagian memakai bahasa Inggris. berhubung othor males translate. jadi kita pake bahasa Indonesia yaa... happy reading.


*******************


"Hi ... apu Ion danteng. Belcom pu ba haus," saut Rion dengan percaya diri.


Bart sedikit mengernyit sambil menyunggingkan senyum. Lama ia mencerna apa perkataan bayi montok yang berdiri di depannya ini.


Setelah ia berhasil mengetahui apa yang di maksud oleh Rion. Maka tertawalah Bart dengan terbahak-bahak.


"Oh my goodness, dia lucu sekali," ujar Bart geli.


Rion yang tak mengerti bahasa yang digunakan oleh buyutnya ini sedikit heran. Ia merasa jika orang tua ini tengah meledeknya.


"Pa'a balah-balah! Ma, imi wowang pua balah-balah ma Ion!" adunya.


"Kakek, tidak marah-marah sama Baby, kok," ucap Terra menjelaskan.


"Pabi petapa pebawa-pawa? Ion embak suta!" sungutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Frans yang melihat kelucuan bayi menggemaskan itu, segera menghampiri dan mencium gemas Rion, tanpa bisa Terra cegah.


'Duh ... gawat!' Terra panik.


Mendapat dirinya dicium mendadak oleh orang yang tak dikenal. Membuat bayi itu murka. Mukanya memerah karena amarah yang luar biasa.


Bug!


"Aww!"


Satu pukulan telak bersarang di pipi Frans. Pria itu cukup terkejut dengan kekuatan bayi montok itu. Pipinya perih dan memerah.


Melihat bayi itu marah, bukan membuat semuanya jadi takut. Malah makin gemas bukan main.


"Jauhkan dirimu, Frans. Dia tidak suka dicium mendadak oleh orang yang dia tidak kenal," saut Bart setengah terkekeh.


Lidya mengusap pipi Frans secara tiba-tiba. Mata bening Lidya menggenang, ia merasa sakit melihat pipi yang memerah.


"Tate eunda apa-apa?" tanyanya khawatir.


Frans yang tidak mengerti bahasa balita itu hanya diam. Tapi, melihat kekhawatiran gadis kecil yang mengusap pipinya, membuat ia tahu apa maksud perkataan gadis kecil itu.


"Aku baik-baik saja, sayang," jawab Frans yang tentu tidak dimengerti Lidya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di pipi yang tadi diberi hadiah bogem mentah oleh Rion. Hati Frans yang beku mendadak cair. Pria itu merasakan betapa sentuhan Lidya berbeda dengan anak-anak lain. Sepertinya, sentuhan gadis kecil ini mampu mengobati luka sebesar apa pun.


"Atak Iya!" pekik Rion dan menarik tubuh kakaknya menjauhi Frans.


"Bianin ajha, wowang ipu mium-mium Ion!" serunya tak suka.


"Baby, Tate itu syium Baby, karena syayang sama Baby, belnel tan Ma?" Lidya bertanya pendapat ibunya.


Frans tak tahan mendengar suara lembut Lidya. Pria itu menarik tubuh gempal gadis kecil itu dan memeluknya erat. Meita yang melihat itu hanya memutar mata malas, wanita itu tak suka anak kecil.


"Most drama!" (kebanyakan drama!) sengitnya pelan sangat pelan.


"Jadi orang tua ini kakeknya Darren dan adik-adik?" tanya Darren mengalihkan kemarahan Rion.


"Patet ipu pa'a?" tanya Rion dengan mata bulatnya ingin tahu pada Terra.


"Bukan patet sayang, Kakek. Ka- kek!" ralat Terra.


"Pa- tet!"


"Grandpa!" saut Darren akhirnya.


"Benpa!" ucap Rion.


"Dlanpa?" kini Lidya yang bertanya.


Mendengar kalimat-kalimat lucu Leon yang dari tadi menahan tawa, tidak tahan untuk akhirnya terbahak-bahak. Pria itu sedikit mengerti bahasa Indonesia yang digunakan oleh ketiga anak itu.


Baik, Meita, Patricia dan Bart heran kenapa Leon tertawa.


'Apa yang kau tertawakan Leon?" tanya Bart.


"Aku sedikit mengerti bahasa mereka, Pa. Kan dulu aku pernah belajar di sini selama empat tahun. Sebelum Ben memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku tak tahu, ternyata negara ini yang menjadi tujuan Ben," jelas Leon panjang lebar.


Bart mengangguk. Terra menyuruh semua anak-anak untuk salim pada, Kakek dan paman juga Tante mereka.


"Grandpa," panggil Darren mencium punggung tangan Bart.


Pria tua itu sedikit tahu dengan budaya dari negara yang ia datangi ini. Anak-anak biasa mencium punggung tangan orang tua sebagai bentuk penghormatan mereka.


Bart mencium sayang kening Darren. Kemudian disusul Lidya. Sebuah tangan mungil yang mengamit tangan besar.


Semua bentuk kebencian dan luka, yang ia tahan dari dulu, perlahan surut akan sentuhan lembut tangan gadis kecil itu. Sebuah ulasan senyum paling manis dipersembahkan Lidya.


Cup.


Lidya mengecup punggung tangan, Bart.


Tes.


Satu bulir air bening jatuh tiba-tiba dari sudut matanya. Lidya yang melihat itu langsung mengusap dengan tangan mungilnya.


"Oh, Tuhan kau memberikan anugrah besar-Mu lewat tangan anak ini," cicitnya serak.


"Tate tidat apa-apa?' tanya Lidya dengan wajah khawatir.


Lidya menarik leher Bart dan menenggelamkan wajah besar lelaki itu dalam pelukan hangat Lidya. Bart menangis sesenggukan.


Pria itu membalas pelukan gadis kecil yang begitu hangat dan menggetarkan jiwanya. Terra terharu. Ia tahu apa yang kakeknya rasakan ketika dipeluk Lidya.


Gadis itu juga merasakan hal yang sama, ketika Lidya pertama kali memeluknya ketika melihat interaksi Lidya pada teman-teman spesialnya terutama Raka.


Rion yang merasa dirinya diabaikan pun mengamuk lagi. Ia merasa mentang-mentang paling kecil, selalu dijadikan paling akhir.


"Bama mamat!" sengitnya sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Mama, pesot-pesot, Ion mou buluan!" sengitnya lagi.


Terra terkekeh. Gadis itu paling suka jika bayi montok itu marah-marah. Rion memilih duduk dipangkuan Frans. Pria yang baru saja dia hadiahi pukulan.


Terra sedikit terkejut. Sadar jika Rion salah orang, bayi berusia satu tahun lebih ini ngedumel dengan bahasa tak jelas lalu merengek pada Terra.


"Mama ... Atak Iya, pama amet!" adunya.


"Grandpa lagi nangis, sayang," saut Terra.


Darren sudah menyalim semuanya. Hanya dua wanita yang memandangnya dengan pandangan entah. Darren tak perduli.


Pria kecil itu, sudah sembuh dari rasa traumanya. Ia yakin, ibunya akan selalu ada untuknya. Dan ia pun akan selalu ada untuk Terra, ibunya.


"Terra, bagaimana jika mereka semua kamu sembunyikan terlebih dahulu sampai mereka dewasa?" ucap Bart tiba-tiba setelah reda menangis.


"Maksudnya?" Terra tak mengerti.


"Mereka adalah aib, kau kan ...."


"Mereka bukan aib. Mereka adalah anugerah. Jika anda berpikiran untuk menjauhkan mereka dari media. Anda terlambat. Mereka adalah anak-anakku, selamanya akan begitu!"


Sebuah jawaban tegas dan tak bisa dibantah. Bart terdiam. Pria itu tak bisa menggugat keputusan cucunya.


"Kau tak malu mengakui anak haram ini?" tanya Meita sinis.


Semua mata memandang Meita sinis, kecuali Patricia, wanita itu setuju pendapat dari iparnya itu.


"Kau lupa siapa dirimu, Meita!" sergah Frans tiba-tiba mengingatkan istrinya.


Meita diam, begitu juga Patricia. Terra yang tadinya marah pada ucapan Meita jadi bingung. Tapi, ia memilih untuk bungkam.


"Baiklah, Kakek menyerahkan semua keputusan padamu, Te," potong Bart.


Terra akhirnya bernapas lega. Darren menatap ibunya. Terra mencium lembut kening putranya itu, meyakinkan semua baik-baik saja.


"Mama, Ion papal!" rengek Rion tiba-tiba.


"Hei kau belum salim sama Grandpa," Darren mengingatkan adiknya.


Dengan malas, Rion menghampiri Bart. Hendak mencium punggung tangan kakeknya.


"Benpa," panggilnya.


Bart mencium gemas pipi gembul bayi itu. Lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di pipi pria tua itu. Bart tertawa terbahak-bahak. Tak menyangka jika pukulan itu benar-benar kuat.


"Bayimu galak, Terra. "


"Baby, itu tan satit!' pekik Lidya langsung menghampiri Bart.


"Dan gadis ini malaikat," ucap Bart lagi.


bersambung.


hadeh ... Lidya dan Rion emang sesuatu.


next?


kurang banyak kah? Othor kasih lebih loh ...