
Setelah mengetahui Lidya hamil kembar. Darren juga memberitahukan jika istrinya mengandung bayi kembar juga.
"Apa itu benar?" tanya Terra penuh haru.
Darren dan Saf mengangguk. Lalu keduanya memeluk wanita yang penuh kasih sayang itu. Haidar juga diberi pelukan begitu juga Virgou dan Herman serta Dav.
"Mashaallah ... keturunan kita benar-benar memenuhi satu negara!" ujar Bart menangis haru.
Lidya memeluk kakeknya. Kemudian di susul yang lainnya.
"Iya, nggak mau semua khawatir soal kehamilan ini," ujar Lidya meminta pengertian.
"Baik lah. Aku percaya jika Demian bisa menjagamu dan menyayangimu serta melindungimu," ujar Haidar mengusap wajah bulat putrinya itu.
Rion merentangkan tangannya. Lidya lalu memeluk adiknya. Keduanya menangis. Darren ikut memeluk kedua adiknya.
"Kakak akan terus sayang Ion kan?" cicit remaja itu.
"Baby, kenapa kau tanya kan itu. Tentu, kau tetap kesayangan kami!" sahut Lidya tak suka perkataan adiknya.
"Kak Iya! Kami juga mau terus disayang!" sahut semuanya.
Lidya tertawa. Ia menghapus air matanya. Lalu semua berpelukan seperti teletabis.
"Kalian semua adalah kesayangan Kakak," terang Lidya.
Saf menghapus air mata haru melihat kedekatan seluruh keluarga.
"Alun tayan!" pekik bayi yang baru satu tahun itu.
"Pita judha!" teriak empat perusuh.
Semua tertawa lirih. Gomesh dan Budiman juga terharu dan memeluk nona muda mereka.
"Selamat Nona. Tolong jaga kesehatan dan nurut apa kata Bu bidan ya!" ujar Budiman.
"Ah, aku lupa kalau adikku yang menangani adalah istriku sendiri," sahut Darren.
Tak lama mansion Herman kembali sepi. Kini sepasang suami istri itu tengah berpelukan di ranjang mereka.
"Ah ... gadis kecilku sebentar lagi akan menjadi ibu," ujar Herman terharu.
Khasya memeluk erat tubuh suaminya. Herman memang sudah mau delapan puluh tahun. Pria itu sudah terlalu tua untuk bermesraan pada istri yang usianya separuh lebih muda dari dirinya.
"Sayang ...," panggil Herman.
"Ya."
"Ketika aku kembali nanti. Tolong titip anak-anak dan keluarga. Jaga mereka dan sayangi mereka seperti sekarang," pinta pria itu dengan suara tercekat.
Khasya membenamkan kepalanya di dada sang suami. Sungguh ia juga tak akan sanggup jika harus ditinggalkan.
"Jangan bicara yang bukan-bukan, mas ... aku mohon," ujarnya lirih.
"Sayang, usiaku sudah mau delapan puluh. Aku ingin sekali melihat putri bungsu kita menikah. Tapi itu tak mungkin sayang," sahut Herman lagi.
"Tolong jangan katakan itu lagi. Aku mohon!" pinta Khasya dengan suara makin bergetar.
"Kau tau. Ibuku sering datang ke mimpiku, bertanya kapan aku siap," ujar Herman.
"Tapi aku menjawabnya. Tunggu bu, tunggu Arimbi menikah. Karena aku yang ingin menjadi walinya," lanjut pria itu.
Titik bening mengalir di sudut matanya. Sudah tiga hari yang lalu, ia bermimpi mendiang ibunya datang dengan baju serba putih. Ia merasa hidupnya tak lama lagi.
"Sayang ... dengarkan aku!"
Herman menarik dagu sang istri agar wajah mereka saling berhadapan. Kedua netra pekat saling menatap dan mengunci. Ada genangan air di sana.
"Berjanji lah sayang. Mas mohon," pinta pria itu dengan suara tercekat.
Khasya terdiam. Ia menatap mata lamur yang dulu ia puja sampai sekarang. Wanita itu mencium lembut bibir suaminya sebagai jawaban. Keduanya saling memagut. Herman memuja sang istri malam ini dalam penyatuan cinta.
Usia Herman boleh lanjut. Tapi masalah ranjang. Pria itu pandai membuat Khasya mengerang kenikmatan hingga ia berteriak ketika pelepasan hingga ketiga kalinya baru lah Herman puas dan melepas semuanya.
Pagi menjelang. Virgou yang penasaran dengan suasana lokasi anak buahnya mendatangi kampung di mana Maria tinggal.
Kedatangan pria dengan sejuta pesona tentu menjadi buah bibir semua warga kampung itu.
"Padat sekali," gumamnya.
Rumah Maria berada di seberang kali irigasi. Ada jalan masuk mobil, halaman rumahnya juga lumayan luas.
Gomesh tengah menyiapkan koper-koper keluar dari rumah. Ada beberapa anak buah Virgou membantunya.
"Apa sudah bawa mobil pickup nya?" tanya Virgou.
"Sudah Tuan!" jawab salah satu anak buah.
Gomesh yang mendengar suara tuannya keluar. Domesh dan Bomesh sudah siap.
"Iya, nih Pak Oman!" jawab Gomesh basa-basi.
"Itu tetangga yang suka ribut?" tanya Virgou berbisik, ia penasaran.
"Bukan itu tapi sebelahnya lagi," jawab Gomesh juga berbisik.
Pria raksasa itu melihat jamnya. Sudah dua hari ini tenang. Pria itu berharap tidak ada suatu kejadian yang memalukan.
"Tapi, gue mau lihat ribut-ributnya," bisik Virgou tak sabaran.
"Udah dua hari tenang. Kemarin saya tegur mereka sampai ketakutan," bisik Gomesh lagi.
"Yah ... padahal ...."
"Dasar ya Lo laki berengsek, bajingan!"
Sebuah teriakan perempuan, penuh emosi terdengar. Virgou terbelalak. Ia meminta Maria membawa dua anaknya ke mobilnya di depan jalan sana.
Kendaraan Virgou memang sedikit jauh. Pria sejuta pesona itu memberi kunci pada salah satu anak buah.
"Jaga ketiganya!" titah pria itu.
Maria mengikuti pria yang disuruh Virgou ke mobil milik pria beriris biru itu. Sedang pertengkaran makin berlanjut dengan kata-kata lebih frontal lagi.
"Lo udah zinah kan, udah begituan!" teriak wanita itu lagi.
"Aku nggak selingkuh!" teriak pria itu mengelak.
"Kerjaanku kan emang di tempat asusila. Jadi wajar kalau ada perempuan yang menggelendot sama aku. Perempuan itu mabuk, jadi aku yang mesti bawa di keluar pub!" jelas pria itu berteriak.
"Bohong Lo ... emang Lo doyan lon**!"
Virgou mengelus dadanya mendengar pertengkaran itu. Istri yang terlalu curiga pada suami, sedang suami yang tak bisa memberi kepercayaan pada istrinya.
Virgou mengingat masa lalunya yang buruk. Walau ia hanya bercinta dengan tiga wanita dalam hidupnya. Firsha, Selena dan Puspita.
Virgou sesak. Hal itu membuat ia sedikit terhuyung. Gomesh langsung menahan laju pria atasannya itu.
"Tuan!" sahutnya khawatir.
"Beri aku air!" pinta Virgou sesak.
Pria itu duduk di sebuah kursi yang dibawa oleh salah satu anak buahnya. Gomesh membuka satu botol air mineral kemasan, lalu memberinya pada Virgou.
Pria sejuta pesona itu menenggak air kemasan. Buah penasarannya menjadi flashback buruk pada pria tampan itu.
"Aku membawa istri dan anak-anak mu!" ujar Virgou lalu ia berdiri dan berlaku dari sana.
Gomesh dan lainnya membungkuk hormat. Sepeninggalan atasannya, mereka kembali menyusun perabotan di atas mobil pickup.
Dengan kecepatan sedang. Virgou sampai di mansionnya dua puluh menit.
"Nunik, bawa Maria dan anak-anak ke ruangan kemarin yang baru dibersihkan!" titah pria itu.
Nunik membungkuk hormat lalu ia membawa Maria yang menggendong Bariana, Bomesh dan Domesh.
Virgou mencari istrinya. Pria itu langsung masuk kamar. Ia melihat Puspita baru saja menyusui putra bungsunya, Harun.
"Sayang," panggilnya.
Puspita menoleh. Menatap wajah sang suami yang begitu kacau, tanda ia tidak baik-baik saja. Wanita itu langsung khawatir.
"Sayang, ada apa?"
Virgou langsung berhambur dan bersujud pada wanita yang sangat ia cintai.
"Sayang," panggil Puspita sedih.
"Bangkitlah sayang," pinta wanita itu lalu merengkuh bahu suaminya.
Keduanya kini duduk di pinggir ranjang. Puspita menghapus jejak basah di wajah suaminya.
"Sayang aku ingin mengakui dosa ... aku ... mmmpppffhh!"
Virgou tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sang istri membekap mulutnya dengan bibir manis wanita yang menikahinya.
"Jangan padaku, kau mengakui dosa-dosamu. Tapi pada Allah!" ujar Puspita setelah melepas ciumannya.
"Salah satu sahabat nabi Abu bakar Ash-Shiddiq r.a pernah berkata. Seorang pendosa yang sering mengingat dosa dan meminta ampun akan dosanya, lebih baik kedudukannya di banding seorang yang sombong dengan keimanannya," lanjut wanita itu.
Virgou tersenyum. Ia begitu bangga dengan istrinya. Wanita kedua setelah Lidya. Pria itu kembali memeluk dan memagut bibir sang istri mesra.
bersambung.
Ah ... benar ... lebih baik merenung akan dosa sendiri dan meminta ampun di banding memamerkan kesalihan yang tak ada seujung kuku.
next?