TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PATAH HATI? 2



"Masa aku tadi kek gitu?" tanya Dav masih tak percaya.


"Astaghfirullah ... Tuan. Andai saya rekam bagaimana putus asanya anda tadi ketika keluar dari kafe!" seru Juno kesal.


percakapan mereka.berhenti. Mereka sudah sampai rumah Terra. Setelah pintu gerbang dibuka oleh Deno. Juno mengklakson pria itu, yang hanya ditanggapi lambaian tangan saja.


Setelah memarkirkan kendaraannya. Dua pria itu menurunkan semua kue pesanan yang diambil tadi. Deno dan beberapa pengawal ikut membantu Mambawa kardus isi kue tersebut. Dav membawa cendramata yang tadi diberikan oleh Seruni.


"Apa ini?" tanya Terra.


"Dari Seruni," jawab Dav langsung.


Terra langsung berbinar. Memang ia sengaja memesan banyak di toko.kue itu. Ia mendapat rekomendasi dari salah satu wali murid anak-anak yang mendapat cendramata cantik jika berlangganan di toko kue Seruni.


Terra ingat sekali. Waktu itu ia diundang oleh pihak sekolah untuk menghadiri tatap muka orang tua dan guru. Terra membawa makanan berupa pastel dari toko langganan ibu mertuanya. Sedang yang lain membawa makanan juga sebagian sumbangan untuk acara tatap temu itu.


Ketika ia mencoba kue almond yang dibawa oleh salah satu wali murid, Terra langsung suka. Ia pun menanyakan dari mana kue itu dipesan.


"Oh, ini dari toko langganan ibu saya. Yang punya anak gadis berhijab, cantik banget. Namanya Seruni, seperti nama tokonya," jawab wali murid itu.


"Nih, kemarin saya dapat cendramata cantik banget dari tokonya, karena telah berlangganan lama," jelasnya lagi mempromosikan.


Terra mendapat kartu namanya. Kemarin, ketika empat puluh harian Romlah. Ia memesan kue basah dan kering di tempat itu. Rasanya sama enak dengan toko langganan ibu mertuanya, tetapi harganya sedikit lebih murah dan gadis itu tak takut menambah bonus kuenya.


Terra menarik kotak dalam paper bag, lalu membukanya. Satu hiasan dari kaca berbentuk angsa. Seperti inisial huruf "S". Angsa itu seperti tengah berenang di bawahnya ada kotak kayu sebagai penopang angsa dengan tulisan di kedua sisinya. ada tulisan ucapan terima kasih.


"Terima kasih telah menjadi langganan kami, Nona Terra."


"Aih ... manisnya," ujar wanita itu gemas.


Ia pun meletakan benda itu di almari kaca khusus pajangan. Wanita itu berkali-kali tersenyum dan mengelus benda cantik itu.


"Akhirnya, setelah tiga tahun langganan. Dapat juga, hadiahnya, pantas lama. Ternyata cinderamatanya juga bukan kaleng-kaleng!" sahut Terra bermonolog.


Dav hanya diam saja. Tiba-tiba Juno mengatakan sesuatu yang membuat Dav mati kutu.


"Nona, tadi ada.orang patah hati loh!" adunya.


"Hah, siapa yang patah hati?' tanya Haidar tiba-tiba, pria itu tadi sedang di belakang rumahnya tengah menyaksikan para pengawal.


"Tuan ....'


"Diam.kau Juno!" sela Dav kesal dan malu setengah mati.


"Tuan ... lihatlah. Dia galak sekali, saya merasa terdzolimi!" seru Juno.


Terra memutar matanya malas. Beginilah hidupnya di kelilingi pria-pria lebay.


"Kalian terkena Rion's syndrom!" sahut Terra kesal.


Ketiga pria yang tengah adu argument itu pun terdiam. Rion yang mendengar namanya disebut langsung menyahut.


"Kenapa Ma? Ada apa?!"


"Tidak apa-apa Baby. Kau tetaplah bermain dengan adik-adik mu!" sahut Dav langsung.


Pria itu menatap horor Juno. Sedangkan yang ditatap hanya mengendikkan bahu, acuh. Ia pun menceritakan apa yang barusan terjadi.


"Hah. Adikku patah hati?" tanya Terra tak percaya. "Seorang Dougher Young?"


"Hei ... ada apa kau menyebut nama belakangku?!' seru Bart turun dari tangga.


Makin paniklah David. Ia akan mati kutu kali ini. Sedangkan tersangka utama di pengadu, sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya. Juno memilih melarikan diri secara diam-diam.


Malam telah larut. Dav sudah berada di kamarnya. Ia melipat kain tebal yang tadi menjadi alasnya beribadah. Setelah mengenakan piyamanya. Ia pun langsung merebahkan dirinya.


Satu wajah cantik melintas di pikirannya. Sosok berhijab dengan sejuta keahlian. Dav bisa langsung menilai karakter seseorang ketika melihatnya. Begitu juga ketika ia melihat Jevana pertama kali. Walau dugaan yang ia takuti benar adanya, jika wanita itu telah bersuami.


Perkenalan singkat itu menjelaskan sekali, betapa tinggi kepercayaan pria itu terhadap istrinya untuk menemui laki-laki lain. Tentu saja dengan ijin pria itu tentunya.


"Rasa cemburu itu ada. Tetapi , saya memilih untuk mempercayai istri saya karena cintanya pasti lebih besar dan condong terhadap saya. Lagi pula, seorang yang mengaku memiliki harga diri pasti tak mau merendahkan dirinya sendiri dengan berselingkuh."


Jawaban Farendra Ahmad, itu membuat Dav terbuka. Benar apa yang dikatakan pria itu. Seseorang yang mengaku memiliki harga diri, tentu akan menjaga nama baiknya.


"Seruni."


Sebuah nama, ia sebut. Sosok yang menggantikan Jevana. Seketika seleranya tentang wanita berubah. Gadis kalem dan murah senyum seperti Seruni lah yang menjadi idamannya sekarang.


"Gimana deketinnya ya?' tanyanya bermonolog.


Sedangkan di tempat lain seorang gadis berhijab tampak bersin berkali-kali. Ia menggosok hidungnya yang gatal.


"Apa aku mau flu ya?" tanyanya bergumam.


Memang ia sedikit tak enak badan. Gadis itu memilih menyudahi bacaan al-qur'an nya. Ia pun merebahkan dirinya dengan nyaman di tempat tidurnya. Setelah berdoa tak lama ia pun terlelap.


Pagi menjelang. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Anak-anak mulai sarapan, Virgou mengantar, Kean, Cal, Maisya dan Affhan juga Kaila. Semuanya sekolah di tempat yang sama. Tak lama berselang, Herman juga datang membawa Satrio, Arimbi, Dimas, Dewa dan Dewi.


Terra telah memasukan bekal untuk Rion, Lidya Nai, Sean, Al, Daud, Rasya dan Rasyid. Tak lupa Darren juga membawa bekal makan siangnya.


"Ma, kue almond kemarin enak banget. Darren boleh minta pesen nggak? Minta seribu porsi makanan ringan tapi ada kue almondnya di situ, untuk acara ulang tahun perusahaan," ujar Darren.


"Ah, iya. Itu tiga bulan lagi ya?' tanya Terra langsung teringat.


"Iya, Ma," jawab Darren.


"Nanti, Mama tanyakan ya. Soalnya dia itu hanya toko kecil, takut nggak bisa jika terlalu banyak pesanan," jelas Terra.


"Ya, udah sebisanya aja. Kue-kue itu khusus untuk hidangan tamu-tamu penting," ujar Darren mengubah pesanannya.


"Oke, nanti Mama hubungi ya, jika Seruni sanggup," sahut Terra tak berjanji.


Mendengar hal itu, Dav langsung berdoa dalam hati, agar Seruni bisa mengambil pekerjaan itu.


"Ya Allah, mengapa sesulit ini mendapatkan jodoh?" keluhnya dalam hati.


Walau sedetik kemudian ia pun beristighfar. Ia tak boleh berburuk sangka pada pencipta-Nya. Melihat wajah galau Dav. Beberapa anak mulai mengosipinya.


"Eh, itu mukanya Uncle Dav kok bisa berubah-ubah gitu ya?' tanya Sean bingung.


"Peulubah bedhimana Ata' Sean?" tanya Kaila bingung.


"Tuh berubah kek warna pelangi. Kadang merah, kadang kuning, kadang hijau," jawab Sean.


"Tot padhi taya bampu palupintas?" sahut Rasya menyela.


Darren nyaris tertawa mendengar itu. Sedangkan Dav langsung mencium gemas semua anak-anak.


bersambung.


wadidaw ... digosipin lagi.


next?