
Hari ini Bart kembali datang. Terra dan anak-anak sudah menunggunya di bandara khusus milik calon papa mertuanya, Bram.
Satu jam setelah pendaratan, Bart muncul kini membawa serta tiga cucunya, selain membawa dua putranya.
Gabriel Fransiskus Dougher Young adalah anak dari Frans. Wajahnya mirip Terra versi pria. Pria berusia lebih tua tiga tahun dari Terra itu mengulas senyum dan langsung memeluk Terra dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hei, stop it!" pekik Terra sambil terkikik geli.
"Hahaha!" Gabe hanya tertawa.
Kemudian disusul oleh dua adik Gabe lainnya, anak dari Leon. Yakni David Leodas Dougher Young, delapan belas tahun dan Gisela Elizabeth Dougher Young enam belas tahun. Mereka pun memeluk Terra dengan erat.
Ketika awal mereka mengetahui memiliki anak dari paman yang tak pernah mereka temui. Namun ayah dan kakek mereka selalu menceritakan betapa hebatnya pamannya itu.
Terlebih kemarin ketika mereka juga mengetahui bahwa paman mereka memiliki empat anak, namun tiga anak dihasilkan dari pernikahan lainnya dan segala macam kisah haru biru yang menyertai tiga anak itu. Membuat Gabe, David dan Gisel ingin sekali bertemu dengan sosok Terra.
Ketika melihat saudara perempuan mereka hari ini. Mereka langsung jatuh hati.
Perawakan Terra yang lembut dan "ngayomi" langsung mereka rasakan. Tiba-tiba Mereka menatap tiga anak kecil yang juga memandangi mereka.
"Oh my God, they're so cute!" pekik Gisel yang memang suka dengan anak kecil.
Menghampiri Rion dan hendak menciumnya, namun wajah bagi montok itu langsung berpaling dan menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Mama, spasa wowang imi?!" tanyanya galak.
Terra tertawa melihat wajah Rion yang galak. Gisel yang tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh Rion hanya tersenyum.
"Dia kakakmu, Baby," jawab Terra.
"Atakna Ion?" tanya Rion dengan wajah polosnya.
Gisela beralih pada Lidya dan Darren. Gadis itu langsung mencium gemas Lidya dan Darren. Keduanya pun senang dengan kedatangan anggota keluarga baru mereka.
"Hi, I'm Gisella, who are you?" tanyanya pada Darren dan Lidya.
"Hi, i'm Darren and this is my little sister Lidya," jawab Darren lembut.
Mendengar suara lembut Darren membuat hati semuanya meleleh. Terlebih Gabriel, pria itu langsung menghampiri Darren dan memeluknya begitu juga David. Mereka mencium pipi Lidya.
"Know can we kiss you?" tanya Gabe pada Rion.
Rion hanya memandang wajah mereka bergantian.
"Oh ... oteh," ucapnya sok tahu.
Semua menatap Terra karena tidak mengerti bahasa Rion. Terra mengangguk menandakan semuanya boleh mencium Rion.
Mereka dengan gemas menciumi bayi montok itu. Tentu saja membuat Rion mengamuk. Hingga dia menangis.
Mendengar bayi itu menangis. Membuat semuanya merasa bersalah dan meminta maaf.
"Sorry we're so sorry," ucap mereka.
"Mama, wowang ipu mium-mium Ion tetas-tetas ... huuuwwaaaa!" adunya.
Terra hanya tersenyum. Gadis itu mengangkat Rion dari strollernya. Bayi itu langsung menyerukan kepalanya ke leher ibunya.
Semuanya pun hanya bisa terkekeh melihat kelakuan bayi menggemaskan itu. Mereka pun meninggalkan bandara menuju rumah Terra.
Budiman membawa Pajer* sport membawa Frans, Leon dan anak-anaknya. Sedangkan Terra membawa Mercedes bersama kakek dan tiga anaknya.
Rion dan Lidya menggunakan kursi khususnya sedang Darren diapit oleh dua adiknya. Sepanjang jalan tidak ada percakapan. Bart memang membiasakan diri untuk tidak banyak berbicara ketika sedang berada di jalan raya.
"Grandpa, why aren't Aunt Meita and Patricia coming?" tanya Terra.
"Hmmm ... they are in the process of divorcing," jawab Bart.
Terra mendesah sedikit menyesal karena bertanya. Ingin lebih tahu, kenapa mereka bercerai. Namun karena sedang berada di jalan dan. ada anak-anak, terlebih Darren mengerti bahasa Inggris. Terra tidak jadi bertanya lebih lanjut.
Butuh waktu satu setengah jam mereka baru sampai rumah. Bart lebih suka kembali ke rumah Terra dari pada ke hotel.
Ketika sampai rumah mereka langsung masuk ke dalam. Asisten rumah tangga menyediakan minuman dingin juga kudapan untuk keluarga majikannya yang datang.
Terra menggendong Rion yang tertidur, sedang Bart menggendong Lidya. Membawanya ke kamar, diikuti Darren dan Gisel.
"May I sleep here?" pinta Gisel dengan mata sayu.
"of course dear," jawab Terra sambil mengelus pucuk kepala adiknya itu.
"Change your clothes first, Gis!" titah Bart.
Gisel tidak tahan, ia sudah tertidur. Bart hanya bisa menggeleng. Para asisten rumah tangga menaruh koper mereka di ruang tengah.
"Non Terra, ini disusun seperti biasanya ya?" tanya Romlah ketika Terra sudah keluar kamar.
Terra mengangguk. Ani dan Gina mulai membantu Romlah, menyusun pakaian keluarga majikannya. Serta membersihkan kamar tidur mereka.
Frans memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu, begitu juga Leon. Sedangkan Gabe dan David menunggu.
Bart menggunakan kamar mandi Terra untuk membersihkan dirinya. Sedang Terra mengambil baju untuk mengganti pakaian yang dikenakan Gisel.
Setelah semuanya bersih. Ternyata David dan Gabe memilih untuk beristirahat, mereka kelelahan karena perjalanan jauh. Sedang Bart, Leon dan Frans berada di ruang tengah bersama Terra.
Mereka berbicara tentang rencana pernikahan gadis itu.
(Othor gunakan bahasa Indonesia saja ya, anggap aja mereka menggunakan bahasa Inggris.).
"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Te?" tanya Frans mendahului percakapan.
"Sejauh ini sudah enam puluh persen, Paman," jawab Terra menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Bart merengkuh tubuh cucunya dalam dekapan. Terra menyandarkan kepala ke dada bidang kakeknya.
"Besok kita akan fitting baju keluarga, Kek," ucap Terra.
"Baiklah sayang," saut Bart.
Frans menenggak minuman dingin di depannya. Ia merasa segar.
"Minuman apa ini, segar sekali?" tanya Frans.
"Itu timun, Paman. Bagus untuk tenggorokan dan cuaca panas seperti ini," jawab Terra sambil tersenyum.
Frans mengangguk. Leon juga sedang memegang ponsel dan tengah mengetikkan sesuatu.
"Oh ya, setelah ini, kami akan lama tinggal di sini, sayang," ucap Bart memecah kesunyian.
"Kami sudah mengurus perjalanan ini menjadi bisnis, jadi kami bisa stay lama di sini," Terra mengangguk.
Rommy sudah mengatakan jika perusahaan kakeknya sudah mengajukan proposal kerjasama. Dan tentu perusahaan Terra menerima kerjasama itu.
"Kami akan meninggalkan Gabe untuk tinggal di sini, dia akan menjadi salah satu karyawan yang belajar di perusahaanmu. Perlakukan dia sama dengan yang lain," jelas Bart lagi.
Lagi-lagi Terra mengangguk, Gadis itu sudah mengetahui semuanya. Gabe akan menjadi tenaga asing yang bekerja sebagai tenaga ahli. Pria itu berhasil menyelesaikan game Terra hingga level tujuh sama dengan Viska, gadis cupu yang dulu bisa merusak sedikit gerbang data Terra.
Lagi-lagi semua hening. Terra merasa kecanggungan di antara semuanya terlebih dua pamannya.
"Apakah ada yang lain mesti Te tahu?" tanya Terra memancing.
Semuanya hanya bisa mendengkus. Frans dan Leon menatap kemenakannya dengan rasa bersalah.
"Kami minta maaf atas kelakuan mantan istri kami yang kasar terhadap Lidya," ujar Frans menyesal.
"Iya, tapi kenapa harus bercerai gara-gara itu?" tanya Terra.
"Tidak. Bukan karena itu. Tapi memang sudah lama kami tidak tahan dengan istri kami," jelas Leon kini.
Terra hanya mengangguk, ia tak ingin semuanya bersedih. Sebentar lagi menjelang hari bahagianya.
"Sudahlah Paman. Besok kita jalan-jalan ke pantai ya. Haidar sudah menyewa tiga villa untuk kita bermalam," ajak Terra.
Mereka pun mengulas senyum. Percakapan pun merambat ke bisnis yang mereka geluti.
bersambung.
Rion bikin ulah.
next?