
Terra sedang berada di rumah sakit. Lidya menempel pada ibunya layaknya koala. Gadis kecil itu memeluk erat Terra seakan takut terlepas.
Sedari ditinggalkan Terra ke kampus. Lidya mengalami demam. Kanya dan Bram sampai ketakutan. Bahkan dokter sudah menyuntikkan obat turun panas pada kantung infusnya. Tapi, gadis kecil itu terus mengigau memanggil mamanya.
"Mama, tadi Iya demam sambil panggil-panggil, Mama," lapor Darren dengan wajah sendu.
Rion ikut mengangguk. Bayi montok itu juga ingin dipeluk ibunya. Terra memindahkan Lidya ke sisi kirinya. Lalu mengambil Rion dalam dekapannya. Darren hanya bisa mengalah jika dua adiknya sudah berada dalam pelukan ibunya.
Haidar berinisiatif memeluk Darren hangat. Pria kecil itu tersenyum mendapat pelukan dari calon papanya itu.
"Ayo kita pulang," ajak Bram.
Terra agak kesulitan menggendong dua anak. Rion makin bertambah bobotnya. Bram mengambil alih Rion tapi bayi itu malah menangis.
Terra menggeleng. Gadis itu membenahi letak kedua anak yang menempel padanya. Akhirnya, ia pun bisa mengangkat keduanya. Walau tubuhnya masih gemetaran.
Berkata pelukan dua anak itu perlahan ia bisa menanggulangi gemetarnya.
"Mau ke administrasi dulu, Pa," ujar Terra.
"Kau pikir aku tidak bisa membayar perawatan cucuku apa?" sela Bram.
Terra hanya menghela napas. Jika saja ia berutang dengan keluarga ini. Sudah pasti ia akan menggadaikan dirinya seperti kisah di novel-novel.
"Makasih, Pa, Ma. Tanpa kalian, entah apa jadinya Te dan anak-anak," ungkap Terra tulus.
"Sudah jangan seperti itu, kamu adalah putriku. Selamanya juga begitu, ok!' saut Bram dianggap anggukan Kanya dan Haidar.
Sedang Budiman berjalan di belakang mereka bersama bik Romlah dan Bik Ani yang membawa perlengkapan anak-anak juga ransel Terra.
Terra memilih pulang, padahal Bram dan Kanya memaksa untuk tinggal dulu dengan mereka. Tapi, Terra tolak.
"Sebentar lagi, Darren akan ujian catur wulan. Lalu, belum lagi sekolah TPA nya. Kasihan jika harus ke mansion," Terra memberi alasan.
Akhirnya Bram dan Kanya tak bisa memaksa. Haidar tetap memaksa ikut Terra. Alasannya, Bram mengenakan mobil sport yang isinya dua penumpang saja.
Terra tidak masalah sama sekali. Dua asisten rumah tangga berada di kursi belakang sedang anak-anak bersama Terra dan Haidar. Budiman pun jadi supir.
Para rekan Budiman sering memperingatkan tugasnya bukanlah seorang supir. Tapi, entah mengapa ia tidak keberatan sama sekali.
"Mama ... Iya nanti mau matan tue boyu soslat don," pinta Lidya dengan nada memohon.
"As you wish my princess," saut Terra sigap.
"As wu wis picices!" ulang Rion..
"As apa Ma?" tanya Lidya ingin mengulang perkataan ibunya.
"As ...," Lidya mengikuti perkataan Terra.
"You."
"You," ulang Lidya.
"Wish."
"Wish," ucap Lidya mengulang perkataan Terra.
"As you wish!"
"Awuwis!' sela Rion.
"Baby Lion! Tata Iya tan mau bisya balasa ngigris!"
"Bahasa Inggris, sayang," ralat Haidar sambil tersenyum.
"Iya, matsutna betitu!" sela Lidya protes.
"No ... no ... abuwis!' ujar Rion meledek kakaknya.
Darren hanya menghela napas panjang. Perdebatan Lidya dan Rion akan panjang dan lama. Sampai salah satunya menangis dan mengadu pada ibunya.
Benar saja dugaan Darren. Lidya menangis karena berhasil diganggu oleh adiknya Rion. Baik Terra dan Haidar tidak membela gadis kecil itu. Mereka malah tertawa mendapat hiburan kecil itu.
"Mama ... hiks ... nanti Baby Lion eundak boyeh matan tue boyu ya Ma ... hiks."
"Memang Iya tega liat Baby Rion nggak makan bolu?' pancing Terra.
Lidya menggeleng. "Boyeh .. tapi syeditit ajha ya. Euntal yan banat buat Om Budi."
Mendengar namanya disebut oleh gadis kecil. Pria itu melirik kaca spion di mana netra Haidar memandangnya sinis. Budiman tersenyum penuh kemenangan.
"Talo Papa Idal nti tue nya syepesyial dali Iya," ujar Lidya yang kini membuat Haidar tersenyum penuh kemenangan.
Budiman hanya menghela napas panjang. Pandangannya fokus pada jalan kembali.
"Bait-bait pepuntat tunun ...," Rion mulai menyanyi mengikuti musik yang terpasang melalui audio mobil.
Baik Terra, Haidar, Budiman juga dua maid yang mendengar harus siap-siap tenaga dan tahan tawa. Karena jika mereka tertawa. Rion tak segan-segan memarahi mereka dengan bahasanya sendiri.
bersambung.
next?