
Hari ini, halaman rumah Gio penuh dengan pria-pria tampan dengan tubuh proporsional. Banyak ibu-ibu dan anak gadis histeris dan tahan napas ketika mereka membalas tatapan dan senyuman pada para wanita yang menyapa mereka.
Keluarga Terra, Virgou dan Triatmodjo ada di dalam. Anak-anak sudah berkumpul di ruang tengah. Ruangan yang paling lebar.
Gio menyewa tenda dan memesan katering untuk menjamu semua tamunya. Ia juga mengundang ustad yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk mendoakan rumah sekaligus empat bulanan istrinya.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar. Surah ar-rahman menjadi bacaan utama. Ustad begitu terkejut ketika melihat para bule begitu fasih membaca al-qur'an. Tatapannya mengendar melihat Virgou, Bart, Gabe dan Dav yang begitu bule. Lalu tatapannya berhenti pada tiga sosok bermata biru. Kean, Calvin dan Kaila.
"Papa Pio!"
Harun melangkah kemana pun yang ia mau. Ustad sangat terkejut lagi karena bayi itu juga bermata biru. Harun mendatangi Gio dan meminta pangku.
Bayi itu malah terlelap dalam pangkuan pria itu. Sedangkan Sky dan Benua belum bisa membaca al-quran, Samudera baru iqro 5. Ia sedikit bisa membaca quran besar itu.
Pembacaan ayat suci selesai. Pak ustadz pun memulai ceramahnya. Semua mendengarkan dengan seksama. Hingga ustadz pulang ke rumah dengan membawa bingkisan dari Haidar. Pria itu yang menangani semuanya. Terlebih Harun berada dalam gendongan Gio.
"Terima kasih ya, Pak Ustadz," ujar Haidar sambil menyelipkan amplop berisi uang pada pria itu.
"Ah, terima kasih kembali, Pak. Alhamdulillah!" ujar pria itu dengan nada syukur.
Pria itu meraba amplop yang lebih tebal dari biasanya. Ia sangat bersyukur dengan rejeki yang datang saat ini. Terlebih Gio juga menyiapkan satu kotak besar berisi sembako untuknya. Ia benar-benar bersyukur. Dengan menggunakan motor, pria itu pun pulang dengan wajah ceria.
"Ustadz Handi punya sekolah yang diperuntukan untuk mengajar mengaji bagi anak-anak kampung yang kurang beruntung," ujar Gio ketika ia menjelaskan kenapa membeli bahan sembako untuk pria itu.
"Setidaknya pemberian kecil ini berguna untuk keluarganya," lanjutnya.
Terra tersenyum bangga. Ia sangat bahagia semua keluarganya tak lupa dengan berbagi pada sesama.
"Itu tempatnya di mana?" tanya Herman setelah kepergian Ustadz Hardi.
"Di kampung belakang kompleks. Anaknya juga banyak, ada enam," jawab Gio.
Herman mengangguk. Otaknya pun berpikir untuk melakukan sesuatu untuk pria baik itu.
Acara berlangsung seru. Anak-anak makan dengan lahap.
"Mama Papitli, bumahna tan ada pi syini!" seru Sky ketika melihat jalan yang sama.
"Biya, pumah Mama Papitli ata pi podok beubelah pana!" seru Bomesh mengingat.
Bomesh dan Domesh tentu ikut ayahnya. Mereka tidak duduk di dalam tapi di luar. Hal itu membuat dua batita berotak cerdas ini bertanya pada ibunya kenapa mereka tak boleh masuk.
"Penuh di dalam, Nak!" jawab Maria.
Hal itu lah yang terpikirkan oleh wanita itu. Ia takut jika menjelaskan secara benar, anaknya makin penasaran dan membuatnya tak bisa bicara.
"Bomesh dan Ata' Domesh tot padhi pidat pasut pi talam?" tanya Sky tiba-tiba mengingat.
"Tata Mommy, benuh, pita tat Pisa masut!" jawab Domesh.
Sky mengingat suasana di dalam rumah memang sedikit penuh dan nyaris tak ada jarak. Ia pun mengangguk tanda mengerti.
Tetot ... tetot ... tetot!
Bunyi suara balon yang dipencet-pencet oleh Mamang tukang penjual balon. Sky yang baru pertama kali melihat tukang jualan balon sangat antusias.
"Wah ... pada Palon!" teriaknya.
"Man ... punyitan ladhi don!" pintanya.
Pria penjual balon itu tampaknya mengerti bahasa yang digunakan oleh anak bayi. Ia pun membunyikan lagi. Sky bertepuk tangan bahagia.
"Daddy, mau balon," pinta Bomesh penuh harap.
Gomesh mengambil uang dalam dompetnya. Ia pun menyerahkan uang seratus ribu pada bayinya.
Pria bernama Hendra mengangguk. Pria itu pun menggandeng bayi tampan itu untuk membeli balon.
Sky begitu bahagia mendapat balon yang bisa bunyi itu. Ruangan menjadi mendadak berisik gara-gara Sky membunyikan terus balon itu hingga Harun terbangun dan menangis.
"Baby, stop dulu ya bunyiin balonnya," tegur Rion.
Sky pun menurut. Ia menghapus air matanya. Demian langsung mendekati bayi cerdas itu khawatir.
"Baby, kenapa kamu menangis?" tanyanya.
Semua menoleh. Ada genangan air di sudut kelopak matanya yang jernih.
"Baby," panggil Rion merasa bersalah.
"Pidat pa'a-pa'a. Spy senan ... imi Palon Spy yan Pisa punyi ... hiks ... Spy beulhalu," ujarnya sendu.
Demian gemas bukan main dengan jawaban bayi cerdas itu. Ia menciumi Sky sampai protes.
"Syatit!"
"Kamu pinter banget sih!" ujar pria tampan itu gemas.
Lidya tengah menikmati rujaknya. Terra memperingati anak perempuannya agar tak terlalu banyak.
"Sayang, ingat, kau sedang hamil muda," peringat wanita itu khawatir.
"Iya, Mama. Cuma dikit kok," ujarnya.
Safitri dan Aini juga sangat menikmati buah masam itu. Memang tak begitu banyak. Mereka hanya memuaskan dan menghilangkan mual yang melanda.
"Papi Pio ... eundat ada palotean tah?" tanya Sky.
Ella, Septian, Billy dan Martha kini sudah mahir bahasa Indonesia. Terlebih Martha yang seusia Domesh. Gadis kecil cantik itu sudah lancar berbahasa sama dengan gurunya, Domesh.
"Iya Papi ... pita mau balotean!" ujar balita cantik itu.
Ditya memasang apa yang diinginkan Martha dan Domesh. Semua anak antusias. Gio memang menyiapkan semua karena ia juga suka bernyanyi karaoke untuk menghibur istri dan dua adik iparnya.
"Baby Martha mau nyanyi apa?" tanya Ditya.
Gadis kecil itu tampak berpikir keras. Ia tak begitu hapal lagu anak-anak Indonesia. Domesh berinisiatif memilih lagu burung kakaktua.
Martha yang sudah belajar pada masternya, langsung memegang mik kuat-kuat.
"Pulun patat pua ... benclot pi beundela ... nenet pudah bua ... pidina pindal pua ... bet pun ... bet pun ... bet pun palala ... bet pun ... bet pun ... bet pun balala ... bet pun ... bet bun ... bet bun ... talala .... pulun papat bua!"
Semua bertepuk tangan meriah. Muka semuanya memerah menahan tawa. Demian begitu gemas melihat Domesh menatap bangga Martha. Bayi itu merasa bangga ajarannya tak sia-sia.
"Astaga ... aku ingin menciumi bayimu, Gomesh. Dia cerdas sekali!"
Gomesh hanya tersenyum. Ia yang dulu paling kesal jika tuan babynya mengajari bayinya bicara. Kini, ia menatap remaja itu yang ikut bernyanyi bersama Saf dan Lidya.
"Berterima kasihlah dengan Tuan Baby, Tuan. Karena berkat Tuan Baby lah, putraku jadi secerdas itu," ujar Bomesh yang disertai anggukan setuju dari Maria.
"Ella mau nyanyi!" pekik Gabriela yang berusia enam tahun.
Mik berpindah, bocah perempuan itu ingin menyanyikan satu buah lagu milik Demi Lovato, Heart attack.
Nai dan Arimbi ikut bernyanyi lagu tersebut. Suara indah dan merdu keluar dari bibir mungil milik tiga remaja beda usia itu.
bersambung.
next?