
Hari berganti, tak terasa sudah satu minggu, kejadian sabotase beberapa hari lalu seakan-akan dilupakan. Semua bekerja dengan normal. Bahkan produksifitas meningkat.
Permintaan baja di seluruh dunia makin naik secara drastis. Berbagai pembangunan yang membutuhkan baja semakin bertambah di kalangan negara maju dan berkembang.
Beberapa pegawai tampak memeriksa berbagai suku cadang dan pasokan. Apakah masih tersedia dan cukup. Suplai listrik juga tidak dilewatkan. Dua sosok pria tampak mengamati beberapa panel.
"Dayanya masih stabil, pasokan listrik juga tidak ada masalah kilometer per jamnya. Semua stabil. Coba cek gardu empat sampai tujuh, apakah grafiknya stabil?" tanya kepala teknisi penyuplai listrik.
"Jika dilihat dari pergerakan panel utama semuanya baik, Pak!" jawab asisten kepala supplai listrik.
Pergerakan dua orang itu diamati beberapa pasang mata. Mereka menunggu momen kapan dua kepala dan wakil itu pergi dari tempat. Dua orang pria berseragam khusus itu memegang catatan masing-masing. Mereka mencatat beberapa titik grafik dengan kapasitas trafo tinggi.
"Japri, Samsul. Coba kamu cek panel di atas sana!' titah kepala tekhnisi ketika melihat keduanya.
"Baik, Pak!"
Salah satu dari mereka naik tangga dari kayu menuju panel paling atas. Tidak ada masalah signifikan. Semua berjalan normal. Pria itu pun turun.
"Semua baik, Pak!" lapornya.
Kepala kelistrikan itu mengangguk puas. Tidak ada kendala berarti pasokan listrik bisa dipakai hingga jutaan volt. Japri nampak gelisah. Ia melihat jam, jika saja lewat dari jam yang ditentukan, apa yang akan ia lakukan nanti percuma. Tidak akan berimbas apa pun.
Tinggal tiga puluh menit lagi tugas itu harus diselesaikan. Kepala divisi suplai listrik menatap aneh pada dua pria staf penanganan listrik itu.
"Kenapa kalian pucat begitu?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Kami memang sedikit tegang," jawab Samsul.
Keduanya tak bisa menunggu dengan terpaksa melakukan rencana B. Yakni, melumpuhkan kepala divisi dan wakilnya. Japri mengawasi situasi. Lalu ia pun segera memberi kode.
"Pak!"
Sret!
"Hei, apa-apaan ini!' bentak kepala divisi.
Sayang, Samsul salah. Mengira kepala divisi tak akan bisa berkutik di bawah kunciannya, ternyata Kepala divisi bernama Subroto itu mampu membalik serangannya. Japri pun menolong rekannya.
"Tolong!" teriak wakil kepala divisi membuat Japri kalang kabut.
Pria itu mencabut senjata dan terdengar bunyi "Dor!". Wakil kepala divisi roboh dengan tangan terluka karena tembakan.
Mendengar bunyi suara tembakannya, banyak orang meringsek masuk dan hendak menangkap Japri. Pria itu menakuti dengan todongan senjata.
"Aku tembak jika kalian macam-macam!' ancamnya.
Subroto yang melihat rekannya tertembak langsung melepas Samsul. Ia segera menghentikan laju darah yang terkena tembakan. Japri menarik tangan Samsul yang sudah terlepas sendinya karena kuncian dari Broto.
"Aarrgh!' teriak Samsul.
"Sul, kalo lu ketangkep, mending lu gue matiin sekarang!" ancam Jupri.
Samsul mau tak mau mengikuti rekannya itu. Semua mundur ketika senjata ditodong ke arah mereka. Samsul dan Japri pun bisa melarikan diri dengan meletuskan senjata ke arah mana pun. Semuanya tiarap takut terkena peluru nyasar.
Mereka berdua lari ke arah parkiran mobil. Beberapa sekuriti mencoba mengejar, namun lagi-lagi mereka harus mundur karena takut terkena tembakan senjata.
"Jika kalian masih mengejar, kami tak segan menembak kalian!" teriak Samsul.
Sebuah mobil Jeep terbuka menyambangi mereka. Virgou yang tak sabaran, mengenakan mantel anti pelurunya. mengokang senjata, lalu ia pun pergi ke arah parkiran perusahaan.
Samsul melihat Virgou mengejar. Ia pun menembakkan senjata.
Dor! Dor! cklek! peluru habis. Virgou menyeringai. Ia mulai membidik, tangan memicu pelatuk senjata.
Dor!'
Dor! bunyi senjata kembali terdengar. Portal berhasil dibuka. Virgou kesal. Pablo yang sudah siap dengan mobil Jeep tuannya, langsung menyambangi Virgou. Pria itu langsung naik dan mengejar Jeep yang kabur.
Aksi kejar-kejaran terjadi dan diliput berbagai stasiun televisi. Bahkan helikopter kepolisian juga ikut memperingati para pengguna jalan raya untuk menepi agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan.
"Semua pengguna jalan raya harap anda tidak keluar dari toko di mana Anda berada sekarang. Terjadi baku tembak antar pengendara Jeep berlangsung di jalan raya. Bagi para pengendara lain, segera menepikan kendaraan jangan coba-coba untuk melakukan tindakan yang bisa merugikan nyawa anda!"
Semua kendaraan nampak menepikan kendaraan mereka. Kepolisian mendapat laporan jika Jeep putih mengejar pelaku yang melakukan penembakan di perusahaannya.
Terra melihat tayangan itu, langsung tegang, begitu juga Bart. Anak-anak yang melihat ibu dan kakeknya berwajah tegang, bingung.
"Pacha, ipu Benpa tama Mama penata?" tanya Rasyid pada saudara kembarnya.
Semua anak belum ada yang pulang dari sekolah. Hari baru pukul 09.45.. Tadi pagi, baik Herman dan Virgou hanya mengantarkan anak-anak yang bersekolah. Kean, Cal, Maisya, Affhan, Arimbi, Satrio dan Dimas. Mereka akan dijemput kembali ketika sore hari.
"Eundat pahu, itu muta tatu beditu," jawab Rasya.
Keduanya menoleh, sebuah tayangan televisi memperlihatkan aksi kejar-kejaran dua mobil dengan saling tembak. Kini, keduanya baru mengerti.
"Oh ... ladhi monton bilem etsen," sahut Rasya sambil mengangguk sok tahu.
Rasyid mendekati ibunya yang tampak komat-kamit. Ia mendekatkan telinganya.
"Ya Allah ... ya Allah ... ya Allah!"
"Bonton bilem tot Mama beuldoa ya?" tanya Rasyid kepo.
"Tan bilemna pedan ... padhi Mama peuldoa!' sahut Rasya menerangkan.
"Oh ... beditu. Pita beulboa judha yut!" ajak Rasyid.
"Yut!" Rasya mengangguk setuju.
Keduanya pun duduk sambil menengadahkan kedua tangan mereka. Entah mengapa mulut mereka mendoakan Daddynya.
"Yaa Allah ... peulamatan Daddy ya Allah!' sebut Rasya.
"Pinduni Daddy pali seudala mala pahaya ....!"
"Aamiin!" keduanya pun mengamini doa mereka.
Sedang di tempat kejadian. Pablo masih menekan pedal gas dalam-dalam mengejar musuh yang berhasil melumpuhkan karyawannya. Beberapa kepolisian ikut membantu, mereka masuk dari arah berlawanan dan menghadang Jeep dengan todongan senjata.
Supir melihat jalur sebelah kosongkan. Dengan kecepatan yang terukur, supir itu membelok tajam dan pindah jalur. Para polisi berlari dan menembakkan senjata. suara letusan senjata api terdengar pecahan kaca berserakan bahkan jejak ban mengeluarkan asap.
Supir musuh terkena peluru. Japri sudah mengerang kesakitan karena juga terkena peluru. Sedang Samsul sekarat. Napasnya satu-satu.
Polisi kembali ke mobil dan bergerak ke arah Jeep yang melarikan diri. Virgou juga menyuruh supirnya berputar arah. Pablo melakukannya. Dengan gerakan manuver, mobil itu memotong menuju jalur sebelahnya.
Mobil saling kejar-kejaran. Pablo menabrakkan bamper belakang mobil itu. Terdengar peringatan dari kepolisian.
"Mobil Jeep putih harap anda menahan diri. Keselamatan anda paling penting! Serahkan pada pihak kepolisian. Silahkan mobil anda mundur jika tidak, kami menyatakan anda melawan hukum!"
.
"Aarrghh ... brengsek!" maki Virgou.
bersambung.
huwowww ....
next?