
Pagi hari. Sekarang hari sabtu, Senin depan mereka akan kembali menempuh pendidikan. Terra dengan kuliahnya dan Darren dengan sekolahnya.
Pagi-pagi sekali Terra sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk semuanya. Sebuah roti sandwich menjadi pilihannya.
Terra sedikit malas hari ini untuk membuat nasi goreng. Bik Romlah yang tau nona mudanya malas berinisiatif untuk membuat nasi goreng sisa nasi semalam yang cukup banyak. Nasi goreng itu diberikan pada tim yang Budiman pimpin.
Terra dan anak-anak makan di luar bersama keluarga Pratama. Jadi tidak ada yang makan lagi di rumah.
"Pagi Ma," sapa Darren.
"Pagi, sayang. Apa adik-adikmu sudah bangun?" tanya Terra.
"Sudah, Ma," jawab Darren.
Setiap pagi, ketika libur tugas Darren membantu ibunya membangunkan Lidya dan Rion. Dua balita lucu itu bangun dengan mata satu terpejam. Mereka masih ngantuk.
Terra tertawa melihat wajah kucel kedua anaknya. Lidya merentangkan tangannya begitu juga Rion. Terra menyamakan tingginya dengan kedua anaknya. Kemudian mengangkat mereka berdua bersamaan.
Menciumi dua pipi gembul yang masih bau iler khas anak-anak. Terra suka akan bau khas tersebut. Ia meyakini jika ia benar dalam merawat anak-anaknya.
Setelah sarapan. Terra dan anak-anak berada di halaman depan. Gadis itu menggelar matras berukuran 200x150cm di atas rumput.
Melakukan pemanasan. Ketika pemanasan. Haidar datang bersama Raka dan Karina. Bram dan Kanya menyusul di belakang mobil Haidar.
Melihat sedang pemanasan, Raka, Haidar dan Bram langsung bergabung. Sedang Karina dan Kanya pergi ke dapur menyiapkan minuman dan camilan untuk semuanya.
Rion menjadi hiburan karena gerakannya yang lucu. Sedang Lidya memilih hanya melihat-lihat saja dan duduk di kursi teras. Siapa sangka gadis kecil itu malah tidur lagi.
Kanya menggendongnya dan memangku gadis kecil yang tertidur itu.
"Uluh-uluh ... Iya masih ngantuk ya, bobo lagi ... hmmm ... muuuaah!" Kanya mencium gemas pipi gembul Lidya.
Lidya pun merengek karena terganggu. Kanya pun kembali menepuk-nepuk bokong gadis kecil menggemaskan itu hingga tertidur lagi.
Sedari tadi Karina memperhatikan seseorang yang sedang melakukan pemanasan. Kanya curiga akan tatapan putrinya. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya.
Kanya senang jika Karina kembali membuka hati untuk pria lain. Ia tak peduli siapa pun pria itu yang penting pria itu orang baik-baik.
Kanya menatap sosok yang kini menjadi perhatian sang putri. Bodyguard tampan itu memang sangat menarik. Haidar saja langsung cemburu dengan pria itu.
"Budiman tampan juga ya," ucap Kanya.
"Iya, tampan," saut Karina tanpa sadar.
Kemudian wajahnya memerah karena malu setelah menyadari jawabannya. Kanya hanya terkekeh melihat perubahan wajah putrinya.
"Eh ... iya lah tampan, kan cowo. Masa cantik," sela Karina gugup.
"Nggak usah ngeles ah. Mama ngerti kok," kekeh Kanya menggoda sang putri.
"Ih ... apa sih Ma," rengek Karina menahan malu.
"Lagian usia kita juga pasti jauh banget, dan yakin dia udah punya kekasih atau calon tunangan," lagi-lagi ia mematahkan hatinya sendiri.
Kanya hanya bisa mengelus kepala putrinya dengan sayang. Ia tahu betapa beratnya hidup sang putri setelah ditinggalkan oleh suami ketika mengetahui keadaan putranya yang autism.
"Ayo, Dar lawan Mama sekarang!"
Sebuah teriakan dari Terra membuyarkan fokus Kanya dan Karina. Mereka berdua menyaksikan, bagaimana Terra sedang melatih putranya.
Darren memasang kuda-kuda. Terra melihat kuda-kuda putranya masih lemah. Gadis itu menendang kaki Darren cukup kuat.
Perbuatannya itu membuat Kanya marah bukan main dan langsung mengancam Terra.
"Jika terjadi apa-apa pada cucuku. Awas kau!"
Terra menelan saliva kasar. Darren tertawa melihat ibunya mati kutu. Tapi, pria kecil itu segera memperbaiki kuda-kudanya. Terra senang aksi tanggap cepat putranya.
"Hup!"
Satu gerakan tendangan Darren lancarkan pada sang ibu. Dengan sigap Terra menepis.
Plak!
Tangan Terra cukup perih ketika menepis kaki kecil yang hendak menendangnya itu. Terra menyuruh Darren kembali menyerangnya.
Sebuah tendangan berputar dan gerak tipu Darren arahkan pada sang ibu. Terra kena satu pukulan di pangkal pahanya.
Bug!
Tiba-tiba satu batu kecil melayang hendak mengenai kepala Darren. Dengan sigap Darren menangkap batu kecil itu.
"Aduh!" pekiknya tertahan ketika menangkap batu kecil itu.
"Sayang, kau tak apa-apa?" tanya Terra khawatir.
"Telapak tangan Darren perih, Ma," adunya.
Terra memeriksa. Benar saja, batu kecil itu berhasil menembus kulit halus putranya. Gadis itu melihat siapa pelaku pelemparan.
Rion berdiri berkacak pinggang. Si pelaku pelempar batu itu tidak terima ibunya kena pukul. Bayi montok itu maju ke tengah area. Tiba-tiba melakukan tendangan terarah pada tungkai kaki kakak laki-lakinya.
Bug!
"Aduh!" lagi-lagi Darren mengaduh.
Memang tidak sakit. Tapi Terra sangat terkejut akibat ulah putra bungsunya itu.
Tendangan terarah. Lemparan batu yang kuat untuk ukuran bayi berusia empat belas bulan. Terra dan lainnya terhenyak atas perbuatan Rion.
"Banan putul-putul Mama!" sentaknya galak pada kakaknya.
Darren hanya mengatup dua tangannya meminta ampun pada adik bungsunya itu.
"Mama bitak pa'a-pa'a?" tanya Rion khawatir.
"Baby ...," Terra begitu terharu mendapat perhatian dari Rion.
bersambung.
wadidaw ... Rion!
geumeus ih...
mamang Budiman diliatin Karina tuh ... othor jadi jeleus deh 😔