TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEBERSAMAAN DALAM CINTA



Di dapur. Saf menenangkan hatinya yang berdebar kencang. Mukanya memerah, gadis itu membasuh wajahnya dengan air di keran cuci piring. Setelah tenang. Gadis itu memilih memasak untuk makan siang. Budiman dan Darren turun. Semua adiknya tertidur di kamar. Mereka masih mengantuk karena pagi-pagi sekali sudah bangun untuk mendatangi Safitri meminta maaf.


Gadis itu memilih masakan praktis. Bihun goreng, capcay, dan ayam goreng. Tadinya, ia ingin menambah udang, ia ragu, takut ada yang alergi.


"Maaf apa ada yang alergi udang?" tanyanya.


"Tidak ada, sayang. Semua pemakan segala," jawab Darren.


"Aku bantu, ya," tawarnya.


"Tidak perlu, terima kasih. Saf bisa kok," sahut gadis itu.


Darren memandangi tubuh bongsor gadis yang membelakangi dirinya itu. Sungguh, ia ingin merengkuhnya dalam pelukan hangat. Darren benar-benar dibuat mabuk. Pria itu akhirnya duduk bersama para pengawal dan Budiman di teras.


Saf membuat satu teko kopi. Gadis itu memberikannya di meja tamu dan meletakkan di sana dengan banyak cangkir.


"Silahkan diminum," pintanya.


"Terima kasih, Saf," sahut Budiman.


Gadis itu mengangguk dan kembali menyiapkan makanan. Sementara di rumah Terra. Wanita itu melihat jam di dinding. Ia menatap pintu.


"Kok belum pada pulang?" tanyanya bergumam.


Haidar turun dari lantai atas. Pria itu tampak segar setelah tadi malam kerja lembur.


"Anak-anak belum pulang?" tanyanya.


"Belum," jawab Terra sambil menggeleng.


"Tumben," sahut suami wanita itu.


"Kita susul yuk," ajak Haidar.


Terra tersenyum lalu mengangguk. Belum ia membereskan dua bayi kembarnya. Ponsel wanita itu berdering. Haidar mengangkatnya.


"Assalamualaikum," sapanya.


".......!"


"Belum, mereka belum pulang juga, Kak Virgou," jawab suami Terra.


Ternyata Virgou meneleponnya.


"Kami berencana untuk menyusul mereka ke sana," lanjut Haidar.


"......!"


"Iya, ajak ayah dan Dav juga ... kita hancurkan rumah gadis itu!" seloroh Haidar sambil terkekeh.


" .....!"


"Iya, aku tunggu di sana. Assalamualaikum!"


"......!"


Ponsel pun ditutup. Terra sudah membawa satu tas sedang berisi popok dan baju bayi. Gisel datang bersama tiga putranya.


"Assalamualaikum!" salam wanita itu.


"Wa'alaikumussalam!" sahut keduanya.


"Loh Kakak mau ke mana?" tanya Gisel bingung.


"Biya Mama Papa bawu penana?" tanya Sky.


"Mau menyusul ke rumah Safitri," jawab Terra.


"Aku ikut!" pinta Gisel.


"Ayo!" ajak Haidar.


Gisel kesal sekali karena suaminya main pergi begitu saja tadi pagi. Padahal ia mau ikut. Setelah kemarin Budiman begitu menyesal karena lupa menyuruh Saf naik mobilnya.


"Astaghfirullah ... kenapa aku lupa, jika Saf menumpang mobil kita tadi untuk datang ke tempat resepsi?" keluhnya kemarin.


Gisel juga merasa bersalah. Wanita itu terlalu lelah hingga tak memperhatikan lagi. Padahal Safitri menaruh Sky dalam sit car-nya.


"Sekalian aku mau minta maaf," ujarnya pada Terra.


Mereka pun berangkat. Samudera, Benua dan Sky duduk di car sitnya begitu juga Arion dan Arraya. Gisel duduk di belakang Terra. Haidar yang menyetir. Mobil Pajero itu pun melaju menuju rumah sang gadis.


Lima belas menit mereka sudah sampai. Terra turun begitu juga Gisel. Para bodyguard yang menyetir membantu atasannya menurunkan Samudera, Benua, Sky, Arion dan Arraya.


"Assalamualaikum ... Ata'Babitli!" pekik Sky kegirangan.


"Wa'alaikumussalam!"


Kagetlah Saf melihat kedatangan Terra. Darren dan Budiman berdiri menyambut yang datang.


"Pa, Ma."


"Sayang, kok nggak langsung pulang?" tanya Terra.


"Duduk, Ma, Pa, Bommy," pinta Saf.


Gisel dan Terra ikut membantu Safitri. Walau gadis itu menolak.


Akhirnya makanan pun siap. Bau harum dan lezat tercium. Semua pasti akan tergugah laparnya.


"Ata' ... Spy bawu yan banat mi butihna!' pinta Sky tak mau mengalah.


"Penua judha!"


"Samudera juga!"


"Duduk, yang rapi ya, nanti Kakak langsung kasih. Oteh?!"


"Oteh!" sahut ketiganya kompak.


Nai dan lainnya bangun. Mereka kaget melihat ibu mereka sudah ada di sini.


"Ma," panggilnya.


Terra tersenyum tak mempermasalahkan.


"Cuci muka dulu sayang," pinta wanita itu.


Semua mengangguk. Yang dari kamar atas juga sudah bangun dengan wajah puas tidur. Mereka kelaparan. Terra meminta semuanya untuk cuci muka.


"Aku pake nasi ya sayang," pinta Darren berbisik pada Saf.


Lagi-lagi rona merah menyeruak di pipi gadis itu. Ia mengangguk kecil. Darren tersenyum, ia pun duduk di kursi makan. Begitu juga Haidar, sedang anak-anak di sofa.


"Gelar karpet ya," ujar Saf.


Gadis itu ke balik lemari. Sebuah gulungan besar, hanya ia angkat santai dengan dua tangan dan melebarkan nya.


"Kuat sekali calon mantu Papa," celetuk Haidar.


Lagi dan lagi, wajah Saf sudah seperti kepiting rebus. Ia malu luar biasa. Tak lama, Virgou datang bersama istri dan putranya yang paling bungsu. Disusul Herman dan istrinya lalu Dav bersama istri dan anaknya. Khasya membawa satu peti buah jeruk. Gomesh menurunkannya. Ternyata pria itu ikut merasa bersalah. Istrinya juga ikut dan membawa dua putra dan satu putri.


"Ata' Babitli!" sebut Domesh dan Bomesh bersamaan.


"Patana ... teumalin Ata' ditindal ya?" tanya Bomesh penasaran.


Saf hanya mengangguk. Sky yang baru tahu kakak kesayangannya kemarin tertinggal langsung menatap ayahnya.


"Baba?"


"Tidak apa-apa, Baby. Semua lupa. Kakak juga lupa kalau ke sana tidak bawa kendaraan," jawab gadis itu menenangkan Sky.


Semua makan makanan yang Saf buat habis tak tersisa.


"Nggak pangsit, nggak bihun, nggak capcay ... enak semua," puji Virgou puas.


"Aku berasa makan di rumah mu, Te!" lanjutnya.


Terra tersenyum. Wanita itu merangkul Safitri lalu memberi kecupan sayang pada calon mantunya itu.


Gio yang baru tahu jika atasannya kini berada di rumah gadis yang berprofesi sebagai bidan itu. Datang bersama istri dan dua adik iparnya.


Makin penuhlah rumah Safitri. Gadis itu hanya melihat banyaknya manusia di rumahnya. Terutama ocehan empat biang keributan. Benua, Sky, Domesh dan Bomesh.


Para tetangga saling memanjangkan leher untuk melihat tamu-tamu yang datang. Mereka kasak-kusuk bagaimana rumah gadis baik dan ramah yang selama ini sepi jadi penuh sesak dengan manusia.


"Yang datang ... bule-bule loh," gumam salah satu tetangga.


Saf berpikiran untuk membeli rumah di sebelahnya untuk memperlebar lagi luas rumahnya.


"Sepertinya seru kalau berkhayal punya mansion," celetuk gadis itu lirih.


"Aku akan siapkan itu untukmu," sahut Darren berbisik.


Saf menatap pria yang berdiri begitu dekat dengannya. Netra coklat terang itu menatapnya penuh keyakinan. Saf tersenyum indah untuk pria itu.


"Hei, pengantin baru ... bagaimana rasanya tadi malam." tanya Herman berseloroh.


"Ayah!" tegur Terra.


"Bemana Om Pio syama Pante Aini napain padi balam, Tate?" tanya Sky.


"Tadi malam, mereka bobo sayang," jawab Terra menatap sebal pada kakak dari mendiang ibunya ini.


Herman hanya tersenyum jahil.


"Tan syemua wowan talo palam bobo?" sahut Bomesh polos.


"Pati Tate petep panya Om Dio syama Bante Aini napain," lanjutnya mengeluh. "Aba-aba syaja!"


Semuanya nyaris tersedak. Lalu semua pun akhirnya tertawa.


bersambung


hehehehe ...


next?