TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TA'ARUF



"Saya tidak punya pacar, Dik," sahut Dav yang membuat Seruni merona.


Haidar dan Virgou mencebikkan bibir mereka. Keduanya yakin David menemukan jodohnya kali ini.


"Baik lah, jika kalian merasa cocok dan tidak keberatan satu dengan lainnya. Ya'i harap kalian tidak lama-lama ta'arufnya," jawab Gustaf terkekeh melihat muridnya itu selalu menunduk malu.


"Eemm ... kalau saya sih ingin dua atau tiga bulan ini, sudah menikah, Ya'i. Entah bagaimana dengan Dik Seruni sendiri," jawab Dav penuh keyakinan. "Usia saya sudah tiga puluh tahun."


Ya'i Gustaf mengangguk. Seruni juga sudah cukup umur untuk menikah, yakini dua puluh tujuh tahun. Sudah cukup matang bagi seorang wanita.


"Seruni juga sudah dua puluh tujuh tahun, jadi memang sebaiknya dipercepat saja. Seruni hanya cacat kaki saja. Tapi, soal yang lainnya. Inshaallah semua baik-baik saja. Saya jamin itu," ujar Ya'i Gustaf menjelaskan.


Kini semuanya pulang masing-masing membawa satu dus kue kesukaan mereka. Para karyawan langsung menanyakan ada apa gerangan.


"Minta doanya saja ya, biar dilancarkan," jelas Seruni menjawab pertanyaan para karyawannya.


"Semoga lancar hingga akad. Aamiin!"


Semua mengamini doa baik itu. Kecuali satu orang. Gadis manis itu begitu antusias melihat kedatangan pria-pria tampan tadi. Terlebih wajah bule mereka begitu kelihatan.


"Ih, gue mau lah satu dapat bule," gumamnya lirih.


Sedang di jalan. Bart yang duduk bersama David, begitu bahagia. Juno pun menyerah kalah dari tuannya itu.


"Yah, emang serasi sih. Yang satu ganteng, yang satunya cantik," gumamnya dalam hati.


"Grandpa akan mati bahagia jika pernikahan ini berhasil!"


"Grandpa!" tegur David tak suka. "Jangan bicara seperti itu!"


"Maaf, Grandpa begitu bahagia Kau akan menikah sebentar lagi," ujar Bart meminta maaf.


"Doakan semuanya lancar, Grandpa," pinta David tulus.


"Aku akan mendoakan semua kebaikan untukmu, Cu," sahut Bart juga tulus.


"Jadi, setelah ini. Jika kau mendatangi Seruni, kau akan membawa Kaila atau Nai atau semuanya?" tanya Bart terkekeh.


"Kau tau Grandpa. Aku akan membawa semua anak-anaknya. Aku ingin lihat bagaimana dia mengatasi semuanya," ujar Dav sambil tersenyum usil.


"Ah, kau ini!" sungut Bart sebal.


Namun sejurus kemudian ia pun terkekeh, membayangkan keramaian rumah Seruni jika dipenuhi anak-anak yang super berisik itu.


Bemar saja. Keesok sorenya. David membawa semua anak-anak Terra, kecuali Rion, Lidya dan Darren. Ketiga anak itu sibuk dengan kuliah dan kantor.


"Pita mawu temana Om Bef?" tanya Rasya.


"Mau ke rumah Tante Seruni," jawab Dav.


Lagi-lagi Juno yang mengantarkan mereka. Banyak pengawal patah gati setelah Juno mengatakan jika Seruni sudah diambil oleh David. Mereka kalah gerak. Karena semuanya bingung ketika ingin mendekati gadis manis berhijab itu.


"Bante Peluni?" sahut Rasyid.


"Bukan Peluni, sayang. Tapi, Se-ru-ni!" jawab Dav membetulkan ejaan kemenakannya.


"Iya, Be-lu-ni!" sahut Rasyid membenarkan sebutannya.


"Ssss ... es, es ... coba bilang es!"


"Ets ... ets ... ets ...!" Rasyid mengulang ucapan Dav.


"Se ... ru ... ni!"


"Ze ... bu ... ni!"


"Baby!"


"Iya, Om!"


"Sudahlah, Om. Biarkan. Toh panggilan itu cuma sementara, jika sudah besar seperti Nai, mereka bisa kok nyebut Seruni," sahut Nai menenangkan perdebatan.


Dav hanya mendengkus. Rasyid manyun. Ia merasa sudah benar menyebut namanya.


"Pemana .. spasa ipu Bante Beluni, Om?" tanya Rasya.


"Calon istri Om," jawab Dav datar. Pria itu kesal dengan sebutan salah nama calon istrinya itu.


"Balon bistli?"


Dav menganga.


"Kenapa jadi balon?" tanyanya putus asa.


Juno hanya menahan tawanya ketika melihat wajah putus asa pria yang kini tengah menjalani ta'arufnya.


"Assalamualaikum!" sapa Dav.


"Wa'alaikumussalam salam warahmatullahi wabarakatuh. Mari masuk-masuk!"


Nyai Hadijah begitu antusias melihat enam anak yang begitu rupawan. Mereka semua mencium punggung tangan Hadijah dan Seruni. Gadis itu sengaja masak banyak karena Dav mengatakan akan datang sore ini bersama enam anak.


"Ini, Naisya, Ini Sean, Al, Daud, Rasya dan Rasyid," ujar Dav memperkenalkan semua kemenakannya.


"Wah, mereka semua lembar identik ya?" tanya Seruni antusias.


Semua anak langsung menempel pada Seruni. Bahkan Rasya dengan berani minta pangku gadis itu.


"Assalamualaikum!" sebuah suara serak masuk.


"Ayo, anak-anak, salim sama Ya'i," semua anak langsung berebutan mencium punggung tangan pria sepuh itu.


Semuanya pun menyebut nama mereka satu persatu, ketika Gustaf bertanya siapa nama mereka.


"Ini baru sebagian, Ya'i. Belum semuanya," sahut Dav ketika Gustaf antusias melihat begitu banyak anak-anak.


"Jadi kalian benar-benar keluarga besar?"


"Benar Nyai. Kami keluarga besar. Kakak saya Virgou anaknya lima. Ada lagi yang di Eropa anaknya sekarang sudah mau empat, adik saya yang sudah menikah anaknya sudah tiga sekarang," jawab Dav penuh kebanggan.


"Mashaallah ... Tabarakallah ... segala puji syukur kehadirat Allah kalian memenuhi bumi dengan semua keturunan kalian, semoga semuanya juga memenuhi syurga-Nya Allah ya," ujar Ya'i terharu.


"Aamiin!"


Kini anak-anak malah dekat dengan pria sepuh itu. Ada saja pertanyaan keenam bocah itu. Terlebih Rasya dan Rasyid. Bahasa bayi mereka terkadang sulit untuk diartikan.


"Ya'i ... tenapa olan-olan Syuta peulpuat bosa, badalal Allah belalanna?"


Di pikiran Gustaf malah beda artinya.


"Allah memang suka semua makhluk hidup seperti belalang, Nak."


Rasya garuk-garuk kepala. Ia tak mengerti apakah jawaban kakek itu benar.


"Tenapa Allah syuta belalan? Eman belalan ipu pidat beulbosa?'tanyanya bingung.


Sedang Nai, Sean, Al dan Daud seperti sengaja tidak ingin menterjemahkan bahasa adik-adiknya.


"Baby, tolong Om dong. Artikan perkataan Baby Rasta dan Baby Rasyid," pinta Dav memelas.


Sedangkan Seruni mencium gemas kedua balita kembar tersebut. Bahkan, gadis itu tertawa terbahak-bahak ketika dua anak itu memanggil namanya salah.


"Bante Peluni eh ... Zeluni!"


"Baby!" tegur Dav.


"Manana Bayi spasa?" tanya Rasya pada Gustaf.


"Dia tanya apa?" tanya Gustaf sambil terkekeh.


"Rasya tanya, nama Ya'i siapa?" jawab Sean akhirnya.


Anak-anak hanya melayani pertanyaan pria sepuh itu bersama istrinya, dibanding paman mereka.


"Oh ... nama Ya'i, Gustaf," sahut pria itu.


"Susaf!" sahut Rasya.


"Butan Susaf!' sahut Rasyid menyalahkan sebutan saudaranya.


"Manana Pustap!" lanjutnya sambil mengangguk.


"Butan Pustap, Pati Busaf!" sahut Rasya menyalahkan sebutan saudaranya.


"Ih ... butan ipu!" pekik Rasyid marah pada Rasya.


Pria itu tertawa melihat pertengkaran lucu dua bersaudara itu. Keduanya salah menyebut namanya tetapi bersikeras jika sebutan mereka benar.


"Sudah ... astaghfirullah .. Ya'i jadi kram perutnya," ujar Gustaf menyudahi pertengkaran tersebut.


Keduanya saling membuang muka satu sama lain. Sedang empat kakak mereka asik menggelayut manja pada Hadijah dan Seruni.


Bersambung.


Itu belum Seruni ... belum Kaila, Bomesh, Pomesh, Samudera, Benua ... dan bayi-bayi lainnya ...


next?