TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERSIAPAN PERNIKAHAN



Hari berlalu, waktu terus bergulir. Pernikahan kini tinggal menghitung hari. Undangan sudah disebar.


Ada dua undangan yang akan disebar, mereka bisa mendatangi salah satunya atau kedua-duanya.



Undangan akad nikah.


Akad nikah akan dilaksanakan di sebuah masjid yang dekat dengan lokasi resepsi. Area lokasi kini disisiri keamanannya juga kelayakannya.


Sedangkan untuk resepsi. Tim WO sudah menyebar undangan.



Kini tim keamanan juga sedang melakukan penyisiran.


Keluarga Bram Hovert Pratama sedang melakukan sesi foto. Begitu juga keluarga Dougher Young, di rumah mereka masing-masing.


Untuk sesi foto ini Terra mengenakan gaun pengantin



Sangat cantik dan pas di tubuh gadis itu. Bahkan para pria mengenakan taxedo rancangan designer ternama warna hitam.



Baby Rion dengan balutan taxedonya. sangat menggemaskan. Begitu juga Darren yang tampan dan Lidya yang manis dengan dress rok mengembang dan sepatu warna putihnya.


Bart dan Terra berpose dengan tangan saling menggenggam dan melempar senyum manis. Sedangkan yang lain juga tengah memandangi Terra sambil tersenyum.


Pancaran kebahagiaan terlihat dari raut wajah gadis itu. Bart jadi begitu terharu. Pria itu mengingat kemarin ketika menyambangi makam putranya.


Terra menceritakan bagaimana gadis itu bisa meletakkan makam ayah di sebelah makam ibunya. Bart begitu terharu akan perjuangan gadis itu. Bagaimana Terra melewati hari-harinya, hingga gadis itu jatuh sakit, karena terlalu berat menerima beban hidup.


Bart berkali-kali memuji ketangguhan gadis itu, ketika mengetahui jika ia memakamkan ibu dari ketiga anak yang diasuh cucu perempuannya kini.


"Kau memang luar biasa, Nak. Kaulah seorang Dougher Young sejati," puji Bart sambil memeluk gadis itu kemarin.


Sedangkan di rumah Pratama. Haidar sangat gelisah. Jantungnya berdebar begitu cepat. Hanya tinggal dua minggu lagi. Terra akan menjadi istrinya.


"Apa kau gugup?" suara berat menambah kegugupannya.


Haidar hanya bisa tersenyum kaku. Telapak tangannya sudah berkeringat. Bram tertawa melihat kegugupan putranya. Ia pun dulu juga sama.


"Dulu Papa juga sama seperti mu. Malah lebih parah," ujar Bram menceritakan pengalamannya.


"Oh ya, emang Papa kenapa?"


"Papa diare hingga hari H!" Haidar tertawa mendengar itu.


"Mendiang kakek dan nenek sampai berulang kali mengatakan jika Papa bolak-balik kamar mandi," lanjutnya sambil mengenang masa lalu.


"Mama mu sampai nyaris membatalkan pernikahan gara-gara Papa masuk rumah sakit," Ia pun terkekeh mengingat kejadian yang tidak mengenakkan itu.


"Akhirnya, Kamu tahu Om Tomo?" Haidar mengangguk.


"Om Tomo yang menyuntikkan ayah obat anti diare. Akhirnya pernikahan itu terjadi walau molor nyaris setengah hari," kekehnya.


Haidar tersenyum. Pria itu memang gugup, tapi berharap tidak seperti ayahnya yang diare hingga menjelang hari H.


"Jangan sampai aku diare kaya Papa dulu. Malu aku sama Terra," saut Haidar dengan nada sedikit kesal.


Bram mengeratkan rangkulannya pada bahu putranya. Pria itu menyalurkan kekuatan.


"Kau pasti bisa melewatinya. Papa percaya," ucapnya kemudian berlalu menuju ruang tamu.


Semua keluarga Hovert hadir. Mereka berdatangan dari berbagai negara di dunia. Kakek dan nenek Haidar sudah lama meninggal dunia.


Sisa nenek dari ibunya, yang masih hidup itu pun ia tak bisa datang karena faktor usia. Haidar berencana akan ke Prancis di mana sang nenek tinggal nanti bersama Terra sekalian bulan madu.


Mengingat bulan madu, pria itu menggelengkan kepalanya. Ia membuang jauh-jauh kesan romantis. Karena pastinya mereka akan membawa tiga anak Terra.


"Jujur sayang. Aku mencintaimu memang karena dirimu, tapi jauh lebih cinta karena anak-anak itu," akunya bermonolog.


Pria itu menghela napas panjang. Sekelebat wajah gadis yang ia cintai, menyeruak dalam pikiran. Sudah hampir satu minggu, ia tak berkomunikasi dengan kekasihnya. Ada rasa rindu menjalar.


Segera ia mengambil ponselnya. Mengetik sebuah pesan di aplikasi hijau.


Terra mengetik ....


^^^(I miss you more)^^^


Pria itu tersenyum mendapat balasan langsung dari kekasihnya. Terlihat gadis itu juga tengah merindukannya.


Haidar berinisiatif untuk melakukan video call. Sambungan itu langsung terhubung.


Terlihat di sana bagaimana ricuhnya suasana. Para pendekor ruangan sedang menghias ruangan. Besok Terra akan mengundang anak yatim-piatu dan mengadakan pengajian.


Terra seperti berjalan menjauhi suasana ricuh itu. Haidar tertawa. Pria itu juga melakukan hal yang sama, mencari tempat aman.


"Sayang ... aku merin ...."


"Mama ipu spasa?!" teriak Rion.


Haidar tertawa. Inilah hal yang paling ia rindukan. Tak ada momen romantis untuk mereka berdua.


"Ini Papa Idal, Baby," jawab Terra.


Terlihat gadis itu tengah menunduk memandang bayi montok yang berada di bawah kamera. Gadis itu pun mengangkat Rion dan menghadap wajah bayi itu ke kamera.


"Papa ... padi Om Pudi natal ma Ion!" adunya.


Haidar tertawa. Drama bayi ini sangat ditunggu olehnya.


"Emang Om Budi ngapain, Baby?" tanya Haidar dengan senyuman lebar.


Melihat calon papanya tidak memasang wajah garang. Rion malah mengamuk pada Haidar.


"Papa beustina balah-balah ama Om Pudi!" protesnya.


"Oke nanti Papa marahin Om Budi ya," ujar Haidar memasang wajah galaknya.


Rion mengangguk. Terra hanya bisa menggeleng. Tiba-tiba, suara Lidya masuk.


"Mama, Iya mo pihat Papa dudha!' teriaknya.


Terra terpaksa berjongkok menyamakan tingginya dengan Lidya. Wajah gadis kecil itu memenuhi kamera.


"Papa ... Iya sayang Papa!"


Haidar terharu mendengar ungkapan tulus itu. Ia memang sangat menyayangi gadis kecil itu.


"Papa juga sayang Iya. Iya adalah princess-nya Papa."


"Atak Iya picices Papa?" tanya Rion.


Bayi montok itu mendorong kepala kakaknya.


"Ion mo pihat Papa!" teriaknya.


Maka menangislah Lidya dibuat bayi galak itu. Terra pun harus menyudahi panggilan video dari kekasihnya.


"I love you," ungkap Haidar.


"I love you too, assalamualaikum," balas Terra.


"Wa'alaikum salam," balas Haidar.


Panggilan pun berakhir. Haidar membayangkan Terra yang kini sibuk menenangkan Lidya dan menasehati Rion. Pria itu tersenyum.


"Aku ingin cepat-cepat menikahimu dan menjadi seseorang yang hadir di setiap kesusahan mu menenangkan anak-anak kita, sayang," ujarnya bermonolog.


"Maaf Tuan muda. Anda harus menandatangani beberapa berkas ini."


Tiba-tiba Bobby, asisten pribadinya datang membawa beberapa berkas penting. Pria itu membacanya sebelum ditandatangani.


bersambung.


CEO mana ada libur ... kerja terus.


next?