TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AIR MATA SEORANG IBU



Bram keluar ruang rawat dengan tubuh lemas dan mata sembab. Pria itu tak percaya, dibalik keceriaan Lidya tersembunyi luka yang begitu dalam.


Menatap Darren yang memeluk Terra, Rion yang terlelap dalam gendongan Haidar. Kanya sibuk menenangkan gadis yang menjadi pilar bagi ketiga anaknya.


Terra menatap Bram.


"Pa ... hiks ... hiks ...!' Bram mendatangi Terra.


Pria itu merengkuh calon mantunya. Memberinya infus kekuatan, agar gadis itu tegar dan kuat.


"Kamu harus kuat, Nak. Harus kuat demi anak-anak," Terra mengangguk dalam pelukan Bram.


"Ini salah Darren hiks ... hiks ... andai Darren lahir lebih kuat .... hiks!"


Terra mengurai pelukannya. Ia beralih memeluk putranya. Mata Terra sudah bengkak karena kebanyakan menangis. Nafasnya pun mulai sesak. Ia yang hanya mendengarkan kisahnya sudah begitu sakit. Bagaimana ketiga anaknya bisa melewati ini semua sampai selama ini, terlebih Darren. Pria kecil itu bertahan dalam siksaan ibunya sendiri.


"Tidak, Nak. Kau justru sangat kuat, kau mampu bertahan selama ini untuk melindungi kedua adikmu," ujar Bram memberi penenangan pada Darren.


"Jika kau menyerah lebih awal. Baik Lidya juga Rion, tidak ada di sini. Mereka pasti tidak mampu bertahan. Karena kamu lah pelindung mereka. Kamu kuat Nak, sangat kuat!' ujar Bram lagi dengan suara serak menahan isak.


Kanya berdiri dan pindah duduknya ke sebelah Darren. Dipeluknya pria kecil yang kini tubuhnya mulai bergetar hebat. Darren mulai mengingat fase-fase kelam masa lalu.


"Selain kamu dan Lidya, apa Rion juga mengalami kekerasan fisik?" tanya Kanya hati-hati.


Darren pun mengangguk. Kanya memejamkan matanya. Bayi kecil itu juga kena sasaran kekejaman ibunya. Terra hanya menangis dan menangis.


Sedang dalam ruangan, Budiman menatap sosok kecil yang terbaring lemah dengan mata terbuka dan kosong. Gadis kecil itu masih tersesat dalam ruangan hitam.


"Nona ... bangun, Non," ucapnya dengan suara tercekat.


Tetes demi tetes air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Ditelinga ya terdengar helaan nafas kekalutan. Semua rekan yang ikut mengawasi keluarga kliennya terpukul dengan kejadian ini.


Mereka sudah menyelidiki dan menyisiri rumah Terra. Tidak ada ular ataupun hewan melata yang bersarang di sana. Jika dilihat dari cuaca juga lokasi. Mustahil ada ular datang tiba-tiba jika bukan disengaja.


Budiman mengepal tangannya kuat. Pikirannya langsung ke satu tujuan. Ia membisikkan sesuatu. Semua rekan langsung melacak kebenaran itu.


Budiman mengambil BraveSmart ponsel. Ia telah membeli ponsel itu langsung dari Terra dengan harga fantastis. Menyetel jam dan melihat sosok yang sudah terkunci.


Beberapa saat kemudian, pria itu kembali mengeraskan rahangnya. Sebuah seringai tercipta di wajah tampannya.


*******


Terra menatap Lidya yang masih memandang kosong. Darren dan Rion sudah terlelap. Dokter memberi obat turun panas pada dua anak itu.


Terra menatap mata kosong Lidya. Mencari cahaya. Gadis itu tahu, jika putrinya sedang tersesat dalam ruang hampa.


"Nak ... ini Mama, Nak," panggil Terra masih setia memandangi netra hampa putrinya.


"Lidya ...."


Tes


Satu buliran air bening jatuh ke wajah pucat Lidya.


Tes


Buliran air bening itu jatuh ke netra kosong Lidya. Samar Lidya kembali. Gadis kecil itu menemukan cahaya ia pun berlari mengejar cahaya itu.


Matanya mengerjap. Lidya menemukan ibunya memandanginya penuh cinta dan berurai air mata. Cahaya cintanya telah menemukannya.


"Mama dangan menayis," ucapnya lirih kemudian menghapus air mata Terra.


Terra terkisap. Ia masih tidak percaya.


"Lidya, sayang ...," panggilnya lagi.


"Iya di sini Mama," ucapnya dengan senyum indahnya.


"Nak ... hiks .. hiks ... sayang ... hiks ... kamu bangun ... hiks ... hiks!" Terra langsung memeluk Lidya, gadis itu menangis tersedu.


Lidya membalas pelukan Terra. mengusap dua lengan Terra dengan lembut. Keadaan membalik. Lidya menenangkan Terra yang begitu terluka melihat putrinya menderita.


"Mama, danan nayis ladhi. Ada Iya di syini!" ujarnya dengan nada lembut dan menggemaskan.


Terra makin menangis. Bukan menangis sedih, tapi ia begitu bahagia. Putrinya dapat keluar dari ruang gelap dan kembali padanya.


"Ma ... danan tensyeng-tensyeng nayisna. Nti Tata Dallen syama Baby Lion Banun," bisiknya pelan.


Terra menghentikan isakannya. Menatap wajah pucat yang kini perlahan memerah. Netra bening itu berbinar dan menyiratkan kehangatan.


Terra menciumi wajah Lidya. Lidya membalas mencium kening ibunya.


"Bobo yuk, Ma. Iya nantut," ajaknya sambil menguap lebar.


Terra mengangguk. Wajahnya kembali tak lepas dari senyum. Gadis itu merebahkan tubuhnya di sisi Lidya setelah menyingkirkan selang infus yang masih menempel di pergelangan tangan kanan gadis kecil itu.


Mencium lagi wajah Lidya yang kini menenggelamkan mukanya ke dada Terra.


"Matasyih Ma, syudah dadhi cahaya cinta Iya. Iay bisa keluan dali luang gelap tadi," bisiknya lirih.


"Untukmu, nyawa Mama juga akan Mama beri sayang," ucap Terra mencium pucuk kepala Lidya.


Mereka pun tertidur dengan mimpi indah, menyongsong esok hari.


bersambung.


okeh ... setelah othor menghilangkan pusing ini karena kebanyakan nangis.


Besok kita akan lajut lagi.


Lidya sembuh ... yey!


next?