
Pengajuan ijin usaha telah diserahkan pada pihak berwenang. Selanjutnya akan dibentuk tim evaluasi dan survey.
Dengan bantuan Rommy, Terra belajar menyusun organigram jabatan perusahan baru yang direncakannya. Gadis itu memiliki ide dan telah mengembangkan survey jika usahanya ini tergolong baru dan mulai banyak diminati tapi sedikit pengusaha yang mampu membuat terobosan baru dalam dunia cyber.
Terra menyusun apa saja yang dibutuhkan. Perusahaannya akan memancing para IT terkemuka untuk menaklukan tantangan yang ia beri agar bisa masuk ke perusahaan miliknya.
'Pengacau itu pasti akan datang secara cuma-cuma dengan sendirinya,' gumam Terra sambil tersenyum.
Rommy cukup terkejut ketika Terra membuka lowongan kerja tidak seperti biasanya. Gadis itu membuka sebuah situs game dengan tajuk "Melumpuhkan Monster Imut.".
Di setiap level permainan yang dapat di lalui. Maka pelamar akan mendapat porsi jabatan sesuai dengan level yang ia bisa kuasai.
Level satu.
Pelamar akan mendapat pekerjaan sebagai staf biasa sebagai pengumpul data.
Level dua.
Pelamar akan ditempatkan sebagai tim pengawas dan harus banyak membantu level satu.
Level tiga.
Pelamar akan ditunjuk sebagai pengevaluasi hasil level satu dan dua.
Level empat.
Pelamar akan ditempatkan sebagai pengolah atau penguji kelayakan level satu, dua dan tiga.
Level empat.
Pelamar akan ditempatkan sebagai pelaksana pengembangan.
Level Lima.
Pelamar akan ditempatkan sebagai management produksi.
Level enam.
Pelamar akan ditempatkan sebagai penguji produksi.
Level tujuh.
Pelamar akan menjadi pelaksana proyek produksi.
Level delapan.
Pelamar akan ditempatkan sebagai kepala proyek produksi.
Hingga level terakhir di angka sembilan. Pelamar akan ditunjuk sebagai kepala bidang pengoperasian produk.
Untuk masalah pemasaran dan lain sebagainya. Terra membuat lowongan kerja sendiri. Sedang untuk bagian ekslusif harus melewati tes melewati game yang ia beri di awal tadi.
Bagai para IT lulusan pas-pasan jangan harap bisa melewati game ini dengan baik. Karena game yang dibuat oleh Terra lain dari yang lain.
Pertaruhan mereka adalah identitas samaran atau akun yang mereka gunakan dalam dunia cyber. Jadi, bagi yang tidak pernah berurusan dengan segala macam teknologi cyber. Lebih baik mengundurkan diri.
Sedang para hacker yang tidak ingin datanya hangus. Lebih baik menyerah sebelum kalah. Tapi, apa benar ada permainan seperti itu?
Terbukti para hacker kelas awam banyak yang gulung kuming kehilangan akun mereka.
Sosok gadis berpenampilan cupu datang. Banyak yang menatapnya sinis. Kemeja putih dipadu rok hitam panjang di bawah lutut. Bingkai kacamata besar dan tebal membantu penglihatannya. Rambut hanya dikepang satu. Wajah tanpa make up. Terra tersenyum miring.
'Ah ... umpan terpancing,' gumamnya senang.
Terra sangat menanti gadis itu. Ia sangat yakin dengan terkaannya terhadap antusias para IT sejati. Mereka akan berbondong-bondong mengalahkan game yang unik ini.
Walau dari sebagian mereka hanya lulus di level lima. Tapi, mereka senang bukan main. Karena di level ini akun mereka aman, walau harus diperbaiki total.
Gadis culun itu duduk. Sesekali ia memindai sekelilingnya. Sejurus kemudian ia mulai hanyut dengan aksinya.
Terra menghitung mundur. Raut gelisah dan keringat dingin keluar dari gadi culun itu. Sekilas bibirnya mengumpat dan wajahnya geram.
Gadis itu pamit pada. Rommy dan Gunawan. Gunawan adalah IT yang sama cerdas dan gilanya dengan Terra. Makanya dia senang ketika Terra membuat usaha baru yang bergerak di bidang cyber.
Terra bergegas naik ojek online yang sudah ia pesan. Tidak ada kesan gengsi pada gadis itu ketika harus menaiki tranportasi umum.
Empat puluh lima menit ia sudah sampai. Selesai membayar. Gadis itu berlari ke perpustakaan terlebih dahulu. Mencari buku yang harus dia berikan ulasan.
Bukan tidak punya uang untuk membeli, tapi waktunya yang tidak ada. Terlebih dengan banyaknya masalah silih berganti.
Hari ini adalah mata kuliah yang dibimbing oleh dosen paling killer. Siapa lagi kalau bukan Haidar.
Dengan tenang, gadis itu memberi ulasan pada sebuah buku. Setelah selesai menulis, ia meminjam buku itu untuk dibawa ke kelasnya. Tentu saja dengan kartu keanggotaan Terra baru bisa membawa buku itu dengan tenang..
"Untung ini kartu selalu nyelip di dompet," ujarnya lega ketika kecarian kartu sakti itu.
Gadis itu berjalan santai menuju kelas. Masih ada waktu sepuluh menit lagi. Pas ia mendudukkan bokong ke kursi. Haidar datang dengan wajah datar dan dingin.
Semua mahasiswa ataupun mahasiswi terdiam. Mereka menunggu absensi. Selesai absen. Haidar langsung menyuruh semua mahasiswa menaruh tugas di atas mejanya.
Ketika semua terkumpul. Haidar mengacak tumpukan kertas. Lalu memanggil nama yang kertasnya ia pilih.
Sudah empat mahasiswa maju menjelaskan review mereka. Haidar tampak tidak puas hasil review mereka.
"Jika yang terakhir ini belum ada yang sesuai dengan apa yang saya kehendaki. Maka, semuanya akan saya beri nilai E dan selamat mengulang tahun depan!" ancam Haidar dengan muka merah.
Semua mata melirik Terra. Si empunya wajah yang merasa dilirik hanya terdiam.
'Kenapa. Ada apa denganku?' keluh gadis itu sambil menelan saliva dengan susah payah.
Semua berdoa jika nama yang terakhir dipanggil adalah Terra. Entah mengapa, mereka menginginkan kecerdasan gadis itu menyelamatkan mereka dari nilai E dan mengulang kembali tahun depan. Itu tandanya mereka tidak naik tingkat.
"Terra Arimbi Hudoyo!"
Mendengar nama yang mereka harapkan dipanggil membuat semuanya bernapas lega.
Terra menetralkan degup jantungnya dan menghela napas besar.
"Bismillahirrahmanirrahim!' doanya pelan.
Gadis itu maju membawa buku yang menjadi referensi review nya. Dengan percaya diri Terra menjelaskan dengan gamblang dan jelas.
Ada sedikit interupsi dari Haidar untuk memojokkan review gadis itu. Tapi, dengan sikap elegan, Terra mampu memberi jawaban yang sangat bagus dan mudah dimengerti oleh semuanya.
Haidar langsung bertepuk tangan ketika Terra selesai memberikan arahan. Pria itu puas dan mengagumi kecerdasan mahasiswi sekaligus kekasihnya itu.
"Berterima kasihlah dengan Terra. Berkat dia, kalian semua saya beri nilai B. Khusus untuk Terra, saya beri nilai A plus," ujar Haidar bangga.
Semua bernapas lega. Mereka langsung mengucap terima kasih pada teman kelasnya yang kini hanya tersenyum dengan wajah malu.
Haidar sudah pergi ke ruangannya. Terra masih dikerumuni teman-teman.
"Makasih ya Te, berkat Lu, gue lulus mata kuliah dosen killer itu," ungkap Tiro salah satu teman kelas Terra.
"Ck ... sama-sama. Biasa aja kali. Tadi gue sama gugupnya kek kalian," ujar Terra merendah.
"Sebenarnya, review gue juga sama kek Elu punya Te. Tapi, ya karena duluan Lu yang dipanggil namanya. Jadi Lu deh pahlawannya," sela Brenda salah satu mahasiswi.
"Wuuuu ... sok Lu. Otak lu aja di bawah gue. Mana bisa Lu nyaingi otak Terra!" sungut Tiro kesal.
Brenda hanya merengut. Ia mencebik kesal. Sungguh ia memang tak tahu malu mengakui jika hasil review nya sama dengan Terra. Padahal ia tidak mengerjakan sama sekali.
Namun berkat Terra. Perbuatannya itu tidak diketahui sama sekali.
Bersambung.
waaah ... oke
Jan lupa kasih vote and like komen... heheh makasih.