
Demian dan Jac datang, mereka langsung menanyakan di mana dokter Aini dan tentang golongan darah yang diperlukan..
"Dokter Aini sedang ada di ruangan UGD tengah menangani suster Putri yang terluka, Tuan. Anda bisa lewat jalur ini, lurus saja, anda bisa mendapatkan ruang UGD nya," jawab petugas resepsionis rumah sakit.
"Terima kasih, Sus," ujar Demian.
Keduanya pun melangkah lebar menuju Unit Gawat Darurat. Jac sedikit menenangkan diri, sudah lama ia tak mendonorkan darahnya. Karena darahnya memang tergolong sangat langka di dunia. Ia hanya melakukan donor darah dua atau tiga bulan sekali, karena memang jarang permintaan donor dari darah tersebut.
"Assalamualaikum!" sahut Demian menyapa semuanya yang masih menunggu kabar.
"Wa'alaikumussalam, Tuan Starlight, anda di sini?" tanya Darren bingung.
"Begini, saya melihat postingan Dokter Aini perihal butuh golongan darah O negatif. Jac memiliki darah sama," jawab Demian.
Jac langsung mengangguk. Darren terharu dan langsung memeluk Jacob. Ia mengucap banyak terima kasih. Sedangkan kedua orang tua Putri tampak bingung karena tak mengerti bahasanya.
Terra juga bersyukur, begitu juga Rion dan Haidar. Rion dari tadi sudah sibuk menghapus air matanya.
Aini keluar ruangan. Ia menatap dua pria bule nan tampan di depannya. Darren sedikit cemburu dengan tatapan Aini pada dua pria itu.
"Ah, maaf Dok. Saya ingin mendonorkan darah saya," ujar Jac.
Aini langsung berbinar. Ia pun mengajak Jac untuk ke ruangan khusus agar diperiksa dan diambil darahnya.
"Tuan Starlight, perkenalkan ini kedua orang tua Putri, yang di dalam adalah Putri yang terluka karena menolong adik kami, Lidya," jelas Darren sekaligus memperkenalkan.
Demian mencium punggung tangan kedua orang tua itu. Lalu Haidar menepuk pundak Demian.
"Tuan Pratama," sapanya.
Pria itu menatap gadis yang dari tadi berpelukan dengan adiknya. Lidya tak peduli siapa pun saat ini kecuali perkembangan sahabatnya. Rion menenangkan kakak perempuannya. Begitu juga Terra.
"Sayang, darahnya sudah tersedia. Kita berdoa ya, agar Putri melewati masa kritisnya," ujar Terra sambil membelai sayang kepala Lidya yang terbungkus hijab.
Lidya hanya diam. Ia seperti tidak mendengar apa pun juga. Dua puluh menit, dua kantung darah sudah masuk ke ruangan, tak lama Jac keluar dengan muka pucat. 500cc darah ia donorkan untuk Putri.
"Duduklah, Nak," ujar Dipto ayah Putri.
Pria paruh baya itu pun berdiri dan membimbing Jac duduk. Walau ia tak mengerti bahasanya, Dipto ingin Jac tahu jika mereka begitu sangat berterima kasih. Seorang suster datang membawakan susu untuk Jac dan menyuruh untuk meminumnya.
Jac menenggak habis susu itu dan membuang gelas plastiknya ke tempat sampah. Nania menggenggam tangan pria itu dan tersenyum tulus. Jac mengangguk dan menepuk pelan lengan wanita paru baya itu. Sementara semua pengawal sedang berjaga di sekita rumah sakit.
Sedang di tempat lain. Virgou tengah memukuli Jordhan karena membiarkan anak buahnya bergerak sendiri.
"Aku tidak tau, aku langsung pulang waktu itu!" teriak Jordhan kesakitan.
"Kenapa kau mengusik putriku Lidya?" bentak pria beriris biru marah.
"Itu karena Deborah Vox memintanya!" teriak Jordhan pada akhirnya.
Virgou pun akhirnya melepaskan Jordhan dan delapan anak buahnya yang sudah babak belur dipukuli Gomesh
Tadinya, kedua pria itu ingin membunuh mereka. Tetapi berkat telepon dari Puspita agar menyuruhnya pulang dan mengingat anak-anak. Keduanya urung melakukan tindakan yang jauh.
"Katakan pada Terra, jika Deborah Vox yang menginginkan Lidya terluka," titahnya pada Gomesh.
"Baik Tuan!" sahut pria raksasa itu.
Kembali ke rumah sakit. Semua masih menunggu berita perkembangan Putri, baru lima menit lalu satu kantung darah masuk ke tubuh gadis yang masih setia memejamkan mata itu. Setelah pemeriksaan. Dokter keluar bersama Aini yang mencatat semua perkembangan dari Putri.
"Pasien masih dalam kondisi kritis. Kami akan terus melakukan upaya penyelamatan. Diduga jika Pasien masih shock dan darah terlalu banyak keluar dan lama mendapatkan donornya," jelas dokter yang menangani Putri.
Aini menatap Lidya yang menangis dipelukan Terra. Gadis itu langsung tak sadarkan diri.
"Sayang!" teriak Terra.
Darren sigap menggendong adiknya itu. Sedang Rion menangis mendapatkan kakaknya pingsan. Aini langsung menenangkan semuanya. Sementara Lidya juga dibawa langsung ke ruang perawatan dan ditangani oleh dokter.
Perawat memberinya infus. Terra mencium anak perempuannya penuh kasih sayang. Lidya boleh keluar setelah infusnya habis.
"Ma ...," panggil Rion pada ibunya.
Remaja itu juga sudah kacau penampilannya. Sedangkan Darren kini berada diperlukan Haidar.
"Kita keluar yuk, biarkan Mama kalian bersama Lidya," ajak Haidar.
"Sayang, kami pulang dulu, ya. Kasihan anak-anak yang lain," pamit Haidar lalu mencium istri dan putrinya.
"Iya sayang," ujar Terra.
Darren dan Rion bersamaan mencium ibu juga saudara perempuan mereka.
Tak lama kedua orang tua Putri masuk bersama putra mereka. Terra meminta mereka pulang ke rumah dan menyerahkan Putri di tangan dokter.
"Pulanglah, Bu. Biar Putri di sini ditangani oleh dokter, Te akan langsung menghubungi ibu jika ada sesuatu, berdoa lah agar semuanya sehat dan selamat," pintanya.
Nania mengangguk. Mereka pun pulang dan mempercayakan semuanya. Demian masuk dan menatap wanita yang memeluk gadisnya.
Terra melihat pancaran cinta di netra biru pria tampan itu pada putrinya. Ia sedikit tak rela tetapi, Terra memilih untuk tidak egois.
"Terima kasih atas kepedulian mu pada putriku Tuan Starlight, tunggulah jika memang jodoh. Lidya akan kuserahkan padamu dengan sepenuh hati," ujar Terra.
Demian tersenyum ia sangat mengerti. Gadisnya adalah putri kesayangan semua keluarga. Bahkan ia tahu jika Virgou sedang menyiksa orang-orang yang melukai sahabat gadisnya.
Demian keluar dan mengajak Jac untuk pulang. Ia harus mengistirahatkan pria bawahannya itu.
Tak lama ponsel Terra berdering. Budiman masuk ruangan. Pria itu seperti menunggu perintah.
Terra melihat layar, tulisan "My Old Brother" tertera di layar. Ia pun mengangkatnya.
"Wa'alaikumussalam," sahut Terra membalas salam Virgou yang ada di seberang telepon.
".......!"
"Apa Kakak yakin?" tanya Terra lalu menegakkan tubuhnya.
"......!"
"Baik lah Kak. Terima kasih, Kakak pulanglah. Kak Ita sudah cerewet di rumah," ujar Terra masih sempat berseloroh.
"......!"
"Wa'alaikumussalam!" Terra memutus sambungan teleponnya.
"Budi, tangkap wanita bernama Deborah Vox dan serahkan padaku!" titahnya.
Budiman mengangguk hormat. Pria itu sudah mendapatkan wanita yang diinginkan Terra. Berkat
BraveSmart ponsel miliknya, ia mengunci Deborah ketika tengah mengintai rumah yayasan milik nona mudanya beberapa hari lalu.
Budiman membawa dua pengawal lain. Hanya dalam waktu sepuluh menit. Budiman sudah menangkap Deborah di sebuah mall dengan membiusnya tanpa ada yang mengetahui. Sedang Celia yang tengah sibuk mencari beberapa barang untuk oleh-oleh tak menyadari jika nonanya sudah menghilang.
Beberapa saat kemudian. Deborah tersadar dari pingsannya. Ia menatap sekeliling, kepalanya masih pusing.
"Where am I?" (di mana aku?) tanya.
"Halo Nona Vox!" sapa seorang wanita yang tengah duduk dengan penuh arogansi di kursi kebesarannya.
bersambung.
walah ... mau diapain ya Deborah sama Terra?
next?