
Berkat kepekaan Budiman, perusahaan Virgou selamat dari tangan penyabotase. Bahkan, ia pun dapat mengenali siapa pelaku itu.
"Tuan, apakah kita bergerak sekarang?" tanya Pablo.
Pria keturunan Italia-Indonesia itu sudah bekerja semenjak Virgou itu masih brengsek dulu. Bahkan ia sangat tahu bagaimana atasannya itu menghabisi lawannya tanpa ampun.
"Kita santai dulu, Pab. Anggap saja kemarin itu sedang arus lemah saja," jawan Virgou dengan tatapan dingin.
"Kak!" Virgou menoleh.
Ia cukup terkejut, David, Gisel, Terra dan Bart datang secara bersamaan. Wajah pria itu jadi serius.
"Kalian kemari, anak-anak mana?" tanya nya gusar.
"Sama Mommy dan Bunda mereka," sahut Gisel enteng.
Terra manggut-manggut. Bart hanya mengangkat tangan tanda tak ikut campur. Virgou langsung menelepon para suami adik-adiknya itu.
"Bud, ... kenapa kamu ijinkan istri dan atasanmu keluyuran hingga kantorku!"
".......!"
"Apa? Kau diancam nggak dikasih jatah?" tanyanya sambil melotot pada Gisel.
Wanita yang dituduhkan hanya acuh. Bahkan kini ia duduk di kursi kebesaran kakaknya itu. Fabio dan Pablo hanya diam. Bart memilih duduk di sofa sambil mengambil berkas yang ada di meja cucunya. Sedangkan Terra melihat pemandangan di bawah gedung melalui kaca besar anti peluru itu.
"Jadi, kau sudah mengijinkan istrimu dan bergantian menjaga anak-anak, lalu Darren siapa yang menjaga?"
".......!"
"Baik lah, aku tutup. Assalamualaikum!"
Virgou menutup sambungan telepon.setelah mendengar jawaban salam dari suami adik sepupunya itu.
"Kak, dari mana kau pesan kaca anti peluru ini?" tanya Terra memecah keheningan sambil mengusap kaca besar di depannya.
"Di tempa sama Xx," jawab Virgou sambil menyebut sebuah nama perusahaan yang dirahasiakan.
Terra pun mengangguk. Wanita itu pun akan berencana melapisi kaca kantor dengan anti peluru. Walau ia sangat yakin dengan keamanan putranya.
Virgou menyuruh Gisel menyingkir dari tempat duduknya. Wanita itu berdiri dan pergi duduk bersama Bart.
"Apa sudah ada rencana dengan pria pengkhianat itu?" tanya Bart kini langsung pada inti.
Fabio dan Pablo akhirnya keluar ruangan dan membiarkan atasannya bersama keluarga. Mereka pun mengamati situasi kantor dengan BraveSmart ponsel. Sebenarnya mereka juga mengetahui pergerakan aneh pengkhianat itu kemarin.
Makanya ketika power listrik off, Fabio yang menyalakan listrik cadangan. Sedang, Pablo mengamankan aset lain agar tak rusak karena mati listrik walau hanya sepersekian detik.
"Aku hanya menunggu dia berbuat itu sekali lagi. Aku yakin tidak butuh waktu lama, orang itu akan melakukannya lagi," jawab Virgou yakin.
Terra mengangguk, membenarkan insting kakak sepupunya itu. Tiba-tiba ada keributan di luar.
David yang dari tadi diam langsung membuka pintu. Sosok wanita dilempar oleh Pablo dengan pandangan dingin.
"Kau sudah dipecat Zelia. Bahkan kami telah membayar gajimu full!" bentak pria tampan itu.
"Oh, jadi ini wanita yang menggoda kakakku kemarin?" tanya Dav langsung.
Melihat pria bule yang tampan selain mantan atasannya kemarin. Zelia menganga. Bahkan air liurnya nyaris menetes. Dav sampai bergidik melihatnya.
"Wah, ini kah sosoknya?" tanya Gisel tak percaya.
Terra menggaruk kepalanya. Ia sedikit bingung dengan para wanita jaman sekarang. Ia sudah bekerja dengan enak di kantor. Tapi, masih ingin mencari jalan pintas dengan menggoda atasan mereka.
"Apa mereka ingin cepat' kaya dan jadi Nyonya lalu menggoda atasan mereka, menghancurkan sebuah keluarga harmonis?" tanya Terra heran.
"Karena memang pelakor nggak punya keahlian apa pun kecuali merebut kebahagian orang lain," jawab Gisel.
"Yang salah sih dua-duanya. Yang cowo udah ada yang halal di rumah masih cari yang haram di luar," sahut Dav menimpali.
Zelia hanya menunduk.
"Aku ... aku ingin Tuan Dougher Young bertanggung jawab," cicitnya.
"Tanggung jawab apa? Kau pikir ingin merusak hubungan kami dengan fitnah jika dia pernah menidurimu!' bentak Gisel murka.
"Aku ... aku ...!"
"Apa,. dia mau apa?" tanya Virgou tiba-tiba.
"Dia mau kau bertanggung jawab," sahut Terra.
"Oh, kita visum saja dia, kalau memang aku menyentuhnya tentu spermaku masih ada kan?" usul Virgou gamblang.
Zelia mengira jika ia hendak mengaku apa yang dituduhkan Gisel tadi benar, maka dua wanita cantik ini akan membelanya. Sayang, justru sangat berbeda.
"Mungkin dia pikir kita ini bodoh, langsung main percaya apa yang dia katakan tanpa mau mencari tahu," sahut Terra sinis.
"Bahkan ketika aku masih brengsek dulu, aku memilih wanita yang ingin kutiduri Zelia!" sahut Virgou tenang.
"Dan kau itu jauh dari kriteria, walau libidoku tinggi sekali pun, kau tidak akan kulirik sama sekali," lanjutnya.
"Pablo!" panggilnya.
"Saya Tuan," sahut pria yang disebut namanya.
"Bawa dia ke klinik untuk membuktikan ucapannya, jika ia mengira kita bisa memanipulasi, kita serahkan pada yang berwajib," titahnya.
"Tidak perlu!" sentak Zelia kesal.
Wanita itu masih memiliki otak waras untuk tidak mencari masalah dengan atasannya itu. Ia pun bergegas, meninggalkan gedung yang selama tiga tahun ini menghidupinya.
Terra dan Gisel geleng-geleng. Dav kembali masuk dengan Virgou. Pablo dan Fabio kembali bekerja. Terra dan Gisel memutuskan untuk jalan-jalan keliling divisi.
Virgou yang tak mendapati kedua adiknya masuk ke ruangannya pun bertanya.
"Mana dua wanita Dougher Young itu?"
Bart dan Dav pun mengendikkan bahu, tanda tak tahu. Virgou kesal setengah mati. Ia yakin dua adiknya itu akan bersenang-senang. Maka ia pun mengajak kakek dan Dav ikut menyusul Terra dan Gisel.
Bersambung
duh cari perkara aja yaa
next?