
"Mba Leana ...."
"Siapa? Leana?" lagi-lagi Budiman terkejut mendengar nama yang baru saja disebutkan Didi.
Pria itu langsung mengepal kan tangannya kuat, hingga memutih. Rahangnya pun mengeras, matanya menukik tajam. Sedangkan di telinganya langsung tersentak ketika Budiman menyebutkan nama itu.
"Bud ... dia kan ...."
Budiman hanya bergumam menjawab pernyataan teman satu timnya. Pria itu kembali mengorek informasi.
"Kamu kenal perempuan itu dari mana?" tanya Budiman lagi.
"Waktu, itu saya sedang lewat rumah itu tengah mengais botol bekas. Saya dipanggil sama ibu-ibu dari rumah itu, lalu memberikan saya bingkisan makanan. Banyak banget," ujar Didi bercerita.
"Pas ibu itu udah pergi, saya dipanggil Mba Leana di dekat tiang gardu listrik."
"Dia bilang, kalau suaminya selingkuh sama yang punya rumah itu, nama suaminya Budiman," lanjutnya.
Budiman mengepalkan tangannya. Jelas perempuan itu berbohong. Ia belum menikah dengan siapa pun.
"Terus, kenapa kamu mau nolong, kan kamu nggak tau dia cerita benar apa bohong?" ungkao Budiman penasaran.
"Mba Leana cerita sambil nangis. Didi ingat, dulu Bapak ninggalin Ibu juga demi wanita lain. Jadi, Didi percaya begitu saja," akunya jujur.
"Bagaimana, jika ternyata perempuan itu membohongi kamu. Kamu kan nggak tahu, Budiman itu yang mana?" tanya Budiman lagi masih mengorek keterangan bocah polos itu.
"Iya, sih. Modal Didi cuma percaya aja. Trus dia tahu keadaan Emak Didi yang sakit. Mba Leana janji ngasih uang setiap Didi mau disuruh letakin kertas teror ini," ujarnya lagi sambil menunjukan amplop coklat itu.
"Kenapa nggak kamu buang aja, kan dia nggak tahu!" saut Budiman.
"Dia nggak tahu. Tapi, Allah kan tahu," ucapnya polos.
Budiman tersenyum miris. Keluguan dan kenaifan bocah ini disalah gunakan oleh orang tak bertanggung jawab. Pria itu yakin jika anak laki-laki ini adalah anak cerdas. Terlihat dari kesigapannya dan kelugasannya dalam berbicara. Hanya saja, pria kecil ini masih terlalu lugu dan gampang dibodohi.
"Kamu anak baik, Nak," puji Budiman pada Didi.
Didi kembali menunduk. Ia sedikit sedih karena telah melanggar sumpahnya. Walau sumpah itu untuk keburukan, tapi, baginya jika sudah bersumpah pantang untuknya mengingkari.
"Sudah jangan bingung. Apa yang kau lakukan sekarang adalah benar. Besok-besok, jika ada yang ingin mengajakmu ke jalan yang salah. Langsung kau tolak ya, walau nyawa ibumu taruhannya," ujar Budiman lagi.
"Tapi, Didi hanya punya ibu satu-satunya di dunia ini. Jika ibu tidak ada .... Didi sama siapa?" tanyanya dengan suara tercekat.
Didi mendongak menatap netra pekat di hadapannya. Ia lupa satu hal. Jika Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
"Terus sekarang, Didi harus apa, Pak?" tanyanya.
"Antarkan Bapak bertemu dengan Leana," pinta Budiman.
"Didi janjian sama Mba Lea nanti sore, Pak. Habis mulung dan ngilo di Mang Basri," jawab Didi dengan wajah polos.
"Ya, sudah. Sekarang kita ke rumah mu, bawa ibumu ke rumah sakit," ajak Budiman.
Didi lagi-lagi menggeleng. Budiman heran.
"Kenapa?"
"Sakitnya Emak, akan memakan biaya mahal, Pak," jawab Didi dengan suara lirih.
Budiman yang tadi berdiri kembali duduk di sebelah pria kecil itu.
"Emak sakit kanker payudara stadium tiga," ujar Didi sambil menunduk dan meneteskan air matanya.
Budiman terdiam. Tim terhenyak mendengar jawaban Didi. Budiman yang melihat uang di tangan pria kecil itu mengeratkan kembali kepalan tangannya. Ia sangat tahu kekayaan Leana.
Wanita itu bisa membayar lebih dari sekedar empat puluh ribu rupiah. Budiman putar otak. Satu-satunya harapan adalah meminta bantuan dari Terra. Kliennya bisa membantu merekomendasikan rumah sakit terbaik untuk ibundanya Didi.
Soal biaya, berapa pun besarnya. Budiman bisa membayarnya hanya dengan menutup mata. Pria itu mengamit tangan Didi.
"Yuk, kita ke rumah yang kamu bilang itu. Kita minta bantuannya untuk menolong ibumu. Yang punya rumah orangnya, dermawan banget loh," ajaknya.
"Tapi, Pak!" Didi enggan untuk ke rumah itu. Dia takut.
"Sudah jangan khawatir. Percaya sama Bapak. Beliau orang baik," ujar Budiman menenangkan pria kecil ini.
Mereka pun melangkah menuju rumah Terra. Budiman sangat yakin akan kebaikan kliennya. Terra pasti membantu anak malang ini beserta ibunya.
Walau ia tak bisa menjamin kesembuhan untuk wanita yang melahirkan Didi. setidaknya mereka sudah berikhtiar untuk kesembuhannya kan?
bersambung