
Aini sibuk, tiba-tiba rombongan korban kecelakaan datang. Ada sekitar lima puluh penumpang terluka berat, sebagian meninggal dunia ada beberapa jasad sudah hangus terbakar.
Aini pun sibuk mengurusi korban-korban yang terluka ringan. Sedang korban dengan luka berat ditangani dokter yang lain.
"Korban adalah penumpang bus malam menuju kota X. Bus hilang kendali ketika ditikungan dan tiba-tiba terguling, lalu sebagian terbakar. Makanya ada korban yang hangus terbakar," jelas salah satu perwira polisi.
"Innalilahi wa innailaihi radjiun. Semoga mereka husnul khatimah," doa Aini.
Beberapa pasien perlu penanganan medis yang intensif. Luka bakar serius. Tiba-tiba banyak keluarga dari pihak korban berdatangan. Para kepolisian menahan mereka semua agar tertib dan menunggu. Sebagian menangis histeris karena hanya mendapati jasadnya saja. Tim identifikasi korban dari kepolisian pun datang. Mereka mulai mengidentifikasi korban meninggal.
Semua korban luka-luka ringan pun bisa pulang bersama keluarga mereka. Sedang bagi korban luka berat harus menunggu hingga kondisi semuanya pulih.
"Ada tiga jasad yang tak bisa dikenali karena luka bakar 100%, kami mengira identitasnya juga ikut terbakar bersama jasadnya," jelas kepolisian lagi.
Aini hanya bisa menghela napas panjang. Ia sedih dengan nasib jasad-jasad yang tak dikenali. Ia berpikir dengan keluarga yang menunggu mereka.
"Kasihan, keluarganya menunggu, ternyata anak atau kerabat mereka tak pernah kembali," sahutnya dengan mimik sedih.
Hatinya yang cemas dari tadi, membuat ia sedikit tak fokus. Beberapa kali, ia sering diingatkan suster jika ia nyaris salah mengambil obat.
"Dok, mending Dokter pulang aja deh. Mukanya pucat loh," ujar suster menyarankan.
Aini melihat benda melingkar di dinding. Sudah masuk dini hari. Pukul. 03.15.. Matanya sudah lelah dan ia memang sudah sangat lelah, terlebih ada banyak korban datang butuh pertolongan.
"Sepertinya, aku tidur sebentar deh, biar nggak ngantuk di jalan," ujarnya.
Aini pun pergi ke ruang prakteknya. Menguncinya dan tidur di brankar. Tempat biasanya ia memeriksa pasiennya.
Tak lama ia pun terlelap. Hingga tiba-tiba ia bermimpi dua orang yang ia kenali tampak memandanginya. Mata keduanya keluar darah. Aini berteriak, tetapi tak ada satu pun keluar suara.
Kedua orang itu masih menatapnya, perlahan tubuh mereka menghilang. Aini kembali berteriak memanggil, lagi-lagi suaranya tak keluar sama sekali.
Keduanya melambaikan tangan mereka. Hingga, Aini mengejar, sayang. Keduanya menghilang begitu saja.
"Paman ... Bibi!" pekiknya dengan napas terengah-engah.
Keringat dingin mengucur di pelipis gadis itu. Ia menenangkan diri. Beristighfar.
"Astaghfirullah hal adziim!"
Berulang-ulang ia beristighfar agar hatinya tenang. Matanya mulai nyalang dan ia tak dapat tidur. Hingga ketika menjelang subuh. Ia pun langsung ke kamar kecil yang ada di ruangan prakteknya. Gadis itu pun berwudhu.
Subuh berlalu, gadis itu mempercepat langkahnya ke halaman parkir.
Ia mengenal helm dan langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sewa.
Terlihat lampu gelap. Ia tak yakin jika paman dan bibinya sudah bangun. Melihat pintu pagar yang tidak digembok, membuatnya langsung takut. Gadis itu segera membukanya dan memasukkan motornya.
Lalu segera ia turun dari motor dan membuka pintu. Seperti ada yang menahan pintu itu. Aini pun mengetuknya.
"Paman ... Bibi!" panggil gadis itu.
Tok ... tok ... tok!
Ditya perlahan bangun, ia mendengar suara kakaknya. Ia pun membangunkan adiknya.
"Dik, bangun. Mba sudah pulang!"
Radit pun terbangun, keduanya menjauhi pintu hingga Aini bisa membukanya.
"Ditya, Adit?" panggilnya dengan nada heran.
"Mba ... hiks ... hiks!"
"Hei, kenapa kalian menangis? Mana Bapak dan Emak?" tanyanya.
Aini menutup mulutnya. Ia melihat pintu kamarnya terbuka. Ia segera masuk dan mendapati kamarnya berantakan. Pakaian berserakan kemana-mana. Ia pun langsung tahu jika uang yang disimpan dalam laci pasti hilang dan pelakunya adalah pamannya.
"Mba ... hiks ... hiks ... Bapak dan Emak pergi, Mba," sahut Ditya lagi.
Aini hanya diam. Melihat wajah pucat kedua adiknya, ia pun iba. Lalu memeluk mereka.
"Kalian ditinggal dari jam berapa?" tanya Aini dengan pandangan menerawang.
"Nggak tau, tapi belum sore. Bapak dan Emak pergi. Tadinya Bapak duluan yang pergi, lalu disusul oleh Emak," jawab Ditya masih terisak.
"Trus, tadi malam kalian tidur di mana?" Ditya menunjuk lantai depan pintu.
Aini tertegun. Selama itu dua bocah belum lima tahun usianya tidur tanpa alas menghalangi pintu agar tak ada yang bisa masuk. Rumah juga dalam keadaan gelap. Ia yakin kedua adiknya itu pasti ketakutan.
"Kalian sudah makan?" keduanya menggeleng sambil terisak.
"Ya, sudah, kita makan bubur ayam ya," ajak Aini.
Tak lama, tukang bubur lewat. Gadis itu mengambil tiga mangkuk dan menyerahkan pada tukang bubur. Setelah membayar, mereka pun makan. Tampak dua anak itu makan dengan lahap mereka sangat kelaparan. Aini begitu menyesal tak begitu peka pada dua anak itu. Rasa cemas yang berlebihan ternyata Ditya dan Radit ditinggal kedua orang tuanya begitu saja.
Makanan habis. Aini menyuruh keduanya untuk tidur kembali di kamar mereka. Ia melihat kamar itu juga berantakan. Ternyata, hanya pakaian Ditya dan Radit yang tinggal, itu pun hanya beberapa lembar. Ia pun baru menyadari, jika dari kemarin dua bocah itu tak ganti baju.
Ditya dan Radit kini sudah terlelap di atas kasur yang lumayan tebal itu. Aini memberinya selimut, meraba tubuh keduanya yang hangat. Aini yang seorang dokter sangat tahu gejala yang diderita dua adiknya itu.
"Ya Allah, ya Rabb. Mereka terkena gizi buruk?" ujarnya tak percaya.
Melihat perawakan paman dan bibinya yang gendut. Ia cukup terkejut melihat dua anaknya yang kurus. Mengira jika anak-anak memang susah makan. Ia pun. tak memperhatikan keadaan keduanya.
"Kasihan sekali. Aku yakin banyak kisah yang tidak aku ketahui tentang kalian," ujarnya.
"Tenang, Dik. Mba akan merawat kalian," ujarnya yakin.
Tak lama, ia pun membereskan semua pakaian yang berhamburan di lantai. Menyusunnya dalam tas yang tergeletak. Di kamar itu tidak ada lemari. Ia akan membelikan lemari plastik untuk menyimpan semua pakaian Ditya dan Radit nanti. Setelah membereskan pakaian. Ia pun ke kamar untuk membereskan semuanya. Setelahnya ia pun keluar dan menggembok pintu pagar dan memasukkan motor lalu mengunci pintu rumah.
Tak lama ia pun kembali ke kamar dan beristirahat untuk menenangkan semua pikiran yang kusut.
Waktu pun berlalu. Gadis itu terbangun ketika nyaris duhur. Sedang Ditya dan Radit sudah bangun dari tadi. Mereka duduk manis di kursi. Keduanya pun. sudah mandi.
"Maaf, ya. Mba ketiduran," ujar Aini sedikit menyesal.
"Iya, Mba. Nggak apa-apa," sahut Ditya.
Ia sedikit heran dengan ruang yang bersih. Rupanya Ditya dan Radit tadi berbagi tugas membersihkan rumah. Mengelap meja dan menyapu lantai. Usai mandi. Aini memesan makanan via online.
"Kita makannya nunggu ya," ujar Aini.
Gadis itu membersihkan meja makan sisa sarapan tadi. Tentu saja keduanya belum bisa membersihkan meja. Tubuh keduanya jauh lebih kecil di banding usia mereka.
Tak lama pesanan datang. Aini pun. mengambil dan membayarnya. Lalu meminta kedua adiknya untuk makan siang.
"Sekarang, ceritain sama Mba, tentang kalian selama ini?" pinta Aini.
Ditya pun mengatakan apa yang ia alami.
Beberapa jam sebelumnya. Dono dan Marni meninggalkan dua putranya begitu saja di rumah kemenakannya. Mereka berdua melarikan diri. Menaiki angkutan umum menuju stasiun bus. Menaiki salah satu bus. Hari sudah mulai malam. Bahkan menjelang dini hari.
Bus belum berangkat jika kursi tak terisi penuh. Setelah penuh, akhirnya benda besar itu pun bergerak meninggalkan stasiun. Marni sedikit sedih, Dono juga demikian, tetapi demi menyelamatkan diri keduanya pun. rela menjadi orang jahat sedunia. Perjalanan mulus hingga pertengahan kota. tiba-tiba supir bus turun dan diganti oleh yang lainnya. Mulai dari sana, bus langsung ugal-ugalan. Hingga pada tikungan tajam bus hilang kendali lalu terguling. Semua berteriak kencang termasuk Marni dan Dono. Tubuh keduanya terlempar, bus mulai terbakar. Dono Marni tak bisa menyelamatkan diri dan keduanya ikut terbakar bersama bus yang mereka tumpangi.
bersambung.
nah ... kontan!
next?