
Kehamilan Widya memang sangat mengejutkan. Bagaimana tidak. Wanita itu tak merasakan morning sickness sama sekali. Bahkan ia lupa dengan siklus yang tak mendatanginya sudah empat bulan ini.
Widya sudah tak bekerja lagi. Gabe sudah melarangnya bekerja, ia jadi pecemburu setelah menjadi suami wanita itu.
Bart ternyata tak bisa satu tahun berada di Indonesia. Pria itu harus kembali mengurus perusahaannya, Leon sudah mulai kualahan mengurus semuanya.
"Sebentar lagi, Darren sudah siap untuk mengelola perusahaan ibunya. Lalu Lidya kemudian Rion," ujar Bart pada Leon dalam sambungan telepon.
"Lagi pula kenapa juga David malah menjadi tentara. Apa pangkatnya ketika selesai pendidikan nanti?" tanya Bart.
"Mayor," jawab Leon di seberang sana.
Bart akhirnya pulang setelah satu bulan pernikahan Gabe dan Widya. Para cucu sedih ketika buyut mereka pulang.
"Benpa ... manti pesimi ladhi ya," pinta Arimbi sendu.
Bart sedih meninggalkan kesenangannya di sini. Ia sudah menyiapkan hari tuanya di sini. Ia tak mau tinggal di Eropa. Ia ingin dekat dengan cucu dan cicitnya. Padahal ia juga ingin ikut serta mendaftarkan cucu dan cicitnya sekolah pertama kalinya.
"Jadi selama empat bulan ini kau tidak merasakan kehamilanmu?" tanya Gabe ketika melihat perut Widya sudah sedikit membuncit.
"Tidak," jawab singkat Widya membuat Gabe sedikit kesal.
"Apa karena Ibu selalu mengurusi kebutuhanmu, maka kau sedikit abai dengan dirimu sendiri?" tanya Gabe menyindir istrinya.
Widya menunduk terbiasa, semua keperluan dirinya diurus ibunya. Wanita itu sampai tak memiliki keinginan sendiri. Bahkan selama ia menikah Gabe yang selalu mengatur semuanya. Gabe menarik tubuh istrinya. Pria itu memeluk sang istri yang terus tertunduk karena merasa bersalah.
"Sayang, belajarlah. Aku tak bisa terus-terusan mengatur semuanya," ujar Gabe meminta pengertian istrinya.
"Maafkan aku. Aku ... mmmmpphh ...," Gabe memutuskan perkataan sang istri dengan mencium bibirnya.
Ciuman itu terlepas setelah keduanya kehabisan oksigen. Wajah Widya yang merona selalu disukai suaminya.
"Kamu mau kan belajar?" Widya mengangguk.
"Sayang, nanti sore kita ke Dokter lagi untuk memeriksa semuanya, ya," lagi-lagi Widya mengangguk.
Gabe gemas dengan istri kakunya ini. Pria itu kembali mencium bibir sang istri dan menggendongnya ke kamar mereka. Hari ini Gabe meminta ijin untuk tidak bekerja.
Sore hari, sepasang suami-istri itu ke dokter kandungan di rumah sakit besar milik keluarga Pratama. Dokter cukup terkejut ketika mendapati seorang ibu hamil yang memeriksa kehamilannya ketika kandungannya sudah berusia enam belas minggu.
"Kandungannya bagus, tidak ada masalah sama sekali. Putri Tuan sangat sehat dan detak jantungnya juga bagus sekali," ujar dokter kandungan bernama dr. Anita spOG k.
Gabe semringah mendengar penjelasan dokter itu. Terlebih jika dirinya akan memiliki seorang putri.
"Apa benar itu jenis kelaminnya perempuan Dok?" tanya Widya sedikit sedih.
"Tentu saja. Ia begitu jelas memperlihatkan jenis kelaminnya," jelas dokter Anita.
"Apa itu tak bisa berubah, siapa tahu itu bukan perempuan," sela Widya lirih.
Dokter Anita hanya menggeleng kepala. Gabe jadi bingung dengan apa yang ada di pikiran istrinya itu. Sepanjang perjalanan Widya dalam diam. Pikirannya tengah berkecamuk di kepala wanita itu.
"Sayang," panggil Gabe lembut.
"Hmmm," sahut Widya malas.
"Ada apa, kenapa kau tak bahagia akan kehamilanmu, terlebih setelah mengetahui anak kita adalah perempuan?" tanya Gabe sedikit kesal.
Widya menghela napas.
"Bukan itu masalahnya. Aku takut, menjadikan putriku seperti aku. Membungkusnya dengan kain sutra, lalu membebaninya dengan semua perhiasan ditubuhnya?' jelas Widya berkias.
Gabriel akhirnya memahami kegundahan istrinya. Ia menggenggam tangan Widya dengan lembut.
"Kita bisa mengurusnya sayang. Kau akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak," ujar Gabe menenangkan istrinya.
Widya tersenyum perlahan ia mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Wanita itu mulai meyakinkan dirinya. Ia tak mau seperti ibunya, Mengatur semua apa yang harus dilakukan putrinya nanti. Ia akan memberi kebebasan dengan tanggung jawab penuh.
Waktu berlalu begitu cepat, kehamilan Widya membuat Frans langsung terbang dari Eropa. Bahkan Meita juga ikut bersama suami dan dua anaknya yang berusia empat dan lima tahun.
Betapa bahagianya Gabe melihat kedatangan kedua orang tuanya. Walau mereka telah berpisah, bahkan ibunya telah bahagia dengan menikah lagi dan memiliki dua anak yakni laki-laki dan perempuan.
"Jadi ini istrimu?" tanya Meita dengan senyum lebar.
Wanita itu sudah lama menghilangkan sifat culasnya. Suaminya Bob Ferguson, juga seorang duda tanpa anak. Menikahi Meita setelah sebulan resmi bercerai dengan Frans ayah Gabe.
"Kita tak bisa memaksa cinta. Perjodohan bisnis ini yang memisahkan mereka. Sebenarnya, Daddy lah yang merebut ibumu dari kekasihnya," jelas Frans.
"Lalu apa aku ...."
"Kau putraku, jika berpikir lain, Nak. Aku sudah memastikannya bahkan jika kau mau, kita bisa test DNA!" ujar Frans waktu itu meyakinkan.
Kini Frans malah begitu akrab dengan Bob. Meita membantu Widya menyiapkan makanan. Widya banyak belajar memasak dari mertuanya itu.
"Jadi selama ini kalian makan di mana, jika istrimu tak memasak?" tanya Meita menggeleng kepala ketika mengetahui jika Widya tak bisa memasak.
"Minta sama Terra!" jawab keduanya santai.
Meita sedikit terdiam ketika mendengar nama Terra.
"Kenapa, apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Frans sarkas.
"Yah .. aku bersalah pada putrinya. Aku ingin meminta maaf, jika bisa," ujar Meita lalu tersenyum kecut.
"Terra akan memaafkan mu. Dia adalah seorang Dougher Young sejati," sahut Frans bangga pada kemenakannya itu.
"Ah, kalian juga harus bertemu dengan Rion," seru Gabe memberitahu dua adiknya.
Lagi-lagi, Meita kaku mendengar nama itu. Terlintas diingatannya sosok bayi gembul yang melempar gelas koktail di kepalanya setelah ia mendorong Lidya hingga terjatuh. Kemudian ia dan Patricia terusir dari pesta itu.
"Kau mengingat sesuatu lagi?" lagi-lagi Frans bertanya menyindir.
Meita hanya mengangguk lemah. Banyak sekali kesalahannya. Namun, berkat itu kini ia menemukan kebahagiaannya. Menikahi pria yang ia cintai.
"Sudah lah. Jangan mengingat masa lalu. Kalian akan disambut di keluarga besar kami," sela Gabe menyudahi perang dingin Frans.
Bob tak bisa melakukan apa-apa. Pria itu juga adalah biang salah kekasaran Frans pada istrinya.
"Oh, ya berapa usia kehamilanmu?" tanya Meita memecah keheningan sesaat.
"Tujuh bulan," jawab Widya.
"Lalu, apa kau tahu jenis kelamin anakmu?" Widya mengangguk.
"Perempuan," jawabnya kemudian.
Meita mengelus perut buncit menantunya. Malam ini, Gabe mengadakan sedikit pesta kecil menyambut kedatangan sang bayi. Semua akan berkumpul. Bart menelepon Frans dan memarahi putranya itu habis-habisan.
"Oh, ayolah Dad. Kemarin kau juga main pergi begitu saja. Aku juga ingin lama tinggal di sini hingga cucuku kuliah," goda Frans dalam sambungan telepon.
"Apa kau ingin cari mati!" pekik Bart murka.
Frans lalu menutup sambungan teleponnya. Ia tak sekejam itu. Benar saja. Tak lama semua keluarga datang. Virgou, istri dan lima anaknya datang terlebih dahulu. Meita sampai terkaget-kaget melihat perubahan drastis pria yang paling dia takuti itu. Lalu datang Herman dengan istri dan lima anaknya. Rumah Gabe menjadi penuh oleh lautan anak-anak. Mereka semua bermain walau dengan bahasa yang berbeda.
Matthew Ferguson dan Cecilia Ferguson menggunakan bahasa Inggris sedang Kean, Cal, Satrio, Arimbi, Dimas, Maisya dan Affhan menggunakan bahasa Indonesia.
"Kau benar-benar beranak banyak ya?" sahut Meita pada Virgou tak percaya.
"Ya, aku menolak program KB. Aku ingin anak banyak," sahut Virgou sedikit malas meladeni Meita.
Tak lama tiba lah Terra bersama suami dan kesembilan anaknya. Makin penuh lah rumah Gabe.
Rion menjadi pusat perhatian semua balita bahkan Matt dan Cecilia. Mereka mengikuti kemana pun Rion berada. Meita memandang Lidya yang tersenyum manis padanya.
Senyum yang dulu begitu ia benci. Senyum yang ia pikir palsu. Tetapi, senyum itu masih sama sekarang. Wanita itu mendatangi Lidya.
"I'm so sorry," pinta Meita tulus.
Lidya mengangguk.
"I also apologize to you that time," ujar Lidya tak kalah tulus.
Keduanya pun berpelukan. Terra tersenyum lega. Sudah tidak ada lagi permusuhan. Semua keluarga saling sayang menyayangi sekarang. Terra juga memeluk Meita.
bersambung.
ah ... begitulah seharusnya.
next?