
"Jaga diri kamu, jangan macam-macam. Papa akan selalu mengawasimu!' sahut Haidar ketika Lidya tengah merapikan beberapa bajunya di koper.
"Iya, Pa," sahut Lidya sambil tersenyum.
"Papi Gabe akan mengawasi mu di sana," ujar Haidar memberitahu.
"Iya, Pa," sahut Lidya lagi.
Besok hari, Lidya akan pergi ke Eropa, Haidar, Virgou dan Herman akan mengantar dirinya ke bandara. Menaiki jet pribadi Virgou nantinya. Terra, sudah menyiapkan semuanya. Ia sedih, untuk pertama kalinya sang putri jauh dari dirinya.
"Ata'Iya ... bawu temana?" tanya Rasya dan Rasyid. Sedang Kaila sudah menangis dan kini ada digendongan ibunya.
Sedang Kean, Cal, Nai, Sean, Al, Daud, Satrio, Arimbi, Dimas, Maisya, dan Affhan, Dewa dan Dewi juga sedih.
"Kakak hanya satu minggu saja di sana, Babies," sahut Lidya jadi sedih.
Gadis itu juga tidak pernah berpisah jauh dari semua keluarganya. Terutama ibunya.
"Mama ... jangan sedih, Iya kan nggak lama," rengeknya.
"Iya, sayang ... Mama hanya akan merindukanmu," sahut Terra lalu merubah ekspresi nya.
"Iya, hanya satu minggu di sana, Ma. Jika bisa, begitu selesai seminar, langsung pulang. Tapi, Papi Gabe minta Iya lebih lama di sana," sahut Lidya memberitahu.
"Iya, sayang. Daddy Frans dan Daddy Leon juga sudah bilang sama Mama," ujar Terra juga mengiyakan kata-kata putrinya
Memang Frans dan Leon ingin Lidya tinggal lebih lama di sana. Mereka akan memperkenalkan gadis itu kepada para kolega mereka. Ingin membanggakan jika keturunan mereka ada yang menjadi dokter di usianya belum genap delapan belas tahun.
Bahkan Bart juga akan ikut bersama Lidya kali ini. Ia sudah bersiap, mereka akan berangkat besok. Lidya seminar dua hari lagi. Haidar, Virgou dan Herman akan mengantar mereka besok.
Lidya selesai menyusun pakaiannya di koper. Hanya sedikit, karena Gabe akan membelikan semuanya di sana. Kini semuanya turun.
"Bener, Kakak hanya satu minggu aja di sana?" tanya Rion.
Darren juga besok akan mengantarkan adiknya. Rion harus ke kampusnya besok. Jadi ia ingin bermanja dengan kakaknya hari ini. Begitu juga anak-anak.
Kaila minta Lidya menggendongnya. Dengan senang.hati gadis itu menggendongnya. Balita itu pun. Gisel datang bersama ketiga putranya. Begitu juga Gomesh dan Maria bersama dua putranya.
"Nona, perlukah pengawal di sana?" tanya Gomesh.
"Tidak perlu, aku yang akan menjadi pengawalnya," sahut Bart. Ia membawa koper besarnya yang di bawa oleh salah satu pengawal Terra, Carlo.
"Letakkan saja di situ, terima kasih," sahut Bart.
"Sama-sama Tuan. Permisi," sahut Carlo lalu pergi ke paviliun.
Semuanya menginap. Anak-anak ingin tidur bersama kakak mereka. Lidya dengan senang hati menemani adik-adiknya.
Pagi menjelang. Semua sibuk mempersiapkan diri mereka. Akhirnya, semua ikut mengantarkan kakaknya ke bandara. Terra berkali-kali mencium putrinya. Sampai sana, Kanya dan Bram sudah ada di sana. Keduanya juga sangat terharu.
Seminar yang melibatkan dunia tentang kekerasan terhadap anak, dan Lidya adalah salah satu narasumber yang akan berdaulat menyuarakan kegelisahannya. Betapa bangga sepasang suami istri itu. Seminar ini akan disiarkan di televisi negara Eropa.
Bram sudah membeli Chanel penayangannya. Maka seluruh keluarga akan menonton seminar itu di mansionnya tiga atau empat hari lagi.
"Sayang, jaga dirimu, ya. Jangan lupa shalat," nasehat Kanya dan Bram..
"Iya Oma, Kek," sahut Lidya.
Kanya memeluk gadis itu erat. Begitu juga Bram, Lidya membalas pelukan keduanya. Adik-adiknya mulai menangis. Darren juga memeluk adiknya erat begitu pun Rion. Untuk pertama kalinya mereka berpisah.
"Jaga kesehatan ya, Dik. Langsung hubungi Kakak jika sudah sampai!" titah Darren.
"Iya, Kak."
Rion tak berkata apapun. Ia hanya memeluk dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Lidya. Gadis itu mencium semuanya. Bart juga melakukan hal yang sama.
"Ata'Iya ... pulan sepat ya, Janan lama-lama ... hiks!' ujar Kaila.
"Ata'Iya ... hiks ... hiks ...!'
"Kakak pergi dulu, Ya. Ma .. Pa, Daddy, Mommy, Ayah .. Bunda, Bommy, Baba, Om, Tante!" pamit gadis itu juga dengan mata berkaca-kaca.
Bart memutar mata malas. Padahal hanya seminggu saja. Mereka seperti akan berpisah selamanya.
"Keluarga drama!" dumalnya pelan.
"Assalamualaikum!" sahut Lidya mengucap salam..
"Wa'alaikumussalam ... hati-hati Nak. Sudah sampai langsung telepon ya!' sahut Terra dan Haidar.
"Da ... da ... Ata'Iya!' sahut para balita sambil melambaikan tangan dengan air mata berderai.
Semua melambaikan tangan. Bahkan ketika pesawat sudah lepas landas. Barulah semuanya menangis berpelukan. Terra paling sedih di antara semuanya.
"Sudah-sudah! Kan Iya hanya seminggu saja," ujar Darren dengan suara tercekat.
Semua pun mengangguk dan menghapus air mata mereka. Bram mengajak semuanya makan siang di restoran miliknya.
Sedang dalam pesawat Lidya juga tak berhenti menghapus air matanya. Bart sampai menenangkan cucunya itu.
"Sayang ...," panggilnya.
"Maaf Grandpa, Iya belum terbiasa berpisah dengan Mama. Entah, Iya bisa tidur atau tidak," jelas gadis itu lalu menghapus air matanya.
"Kamu harus terbiasa, Nak. Beruntung Kakek kamu memiliki kuasa atas penempatan mu sebagai dokter baru. Kau akan melakukan tugas dinas di klinik di kota," ujar Bart lagi.
Lidya mengangguk. Penerbangan ditempuh selama delapan jam. Di sana kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Frans, Leon juga Gabe. Dari bandara ke kastil Bart butuh waktu tiga jam. Terlebih di sana dini hari. Jadi jalanan masih sepi.
Sampai kastil. Lidya pun melakukan panggilan video call.
"Assalamualaikum, Ma ... Iya sudah sampai kastil Grandpa Bart!' ujarnya memberitahu.
"Alhamdulillah, baik sayang, kau istirahat saja. perjalanan cukup panjang tadi kan. Jangan lupa shalat!"
"Iya, Ma!"
"Sayang ... Daddy sudah merindukanmu!" teriak Virgou.
"Papa juga!"
"Ayah juga!"
"Di sini semua sudah merindukanmu, sayang," ujar Terra menatap wajah putrinya di layar dengan binaran kerinduan.
"Mama, doa kan Iya dua atau tiga hari lancar semuanya ya," pinta gadis itu.
"Kami semua mendoakan mu, Sayang. Jaga-jaga kesehatan, di sana sudah mulai musim dingin!" peringat Khasya.
"Sayang, pokoknya kami harus tidur cukup ya. kami di sini akan menunggu kepulanganmu segera!" sahut Puspita.
Lidya tersenyum. Gadis itu mengakhiri sambungan teleponnya. Menatap layar ponsel di mana satu persatu wajah semua keluarganya muncul.
"Iya akan membuat semuanya bangga. Terutama Mama dan Papa," ujarnya menyemangati diri.
Bart mencium pucuk kepala cucu perempuannya itu. Frans dan Leon mengantar Lidya ke kamar. Sedang Widya masih tertidur dengan anak-anaknya. Ia akan terkejut ketika bangun Lidya sudah ada di sana.
"Istirahat lah, sayang," ujar Gabe.
Semuanya sudah meninggalkan Lidya sendirian di kamar kopernya sudah ada di sana dan para maid sudah menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
"Mama ... Iya kangen."
bersambung.
Ah ... sedih juga nih.
Hai Readers ... othor perkenalan satu-satunya pemain nyata dalam novel ini.
perkenalkan ini dia Abah Ali dan Kiyai Nurdin. Jadi beliau bernama K.H. Tb. M. Ali Nurdin Qrsy. Guru Besar Silat IPSI PANCA TUNGGAL PANCA. BUANA TENGAH BAMBU KUNING SERBA GUNA. Juga Guru ngaji dan Ulama besar Banten.
Maaf ya kalo hari ini update nya cuma satu ... Karena othornya lelah.
next?