TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERTEMU KELUARGA BESAR



Kedekatan Darren dan Aini sudah sampai di telinga Bart, Virgou, Leon, juga Herman. Bram pun iku terkejut jika cucunya itu sudah dewasa. Hal itu membuatnya kesal.


"Kenapa mereka cepat sekali dewasa?" keluhnya.


Kanya memutar mata malas. Sedang di mansion Virgou. Pria itu juga gusar. Ia merasa Darren masih terlalu muda. Hal itu membuat Puspita marah besar.


"Kau ingin dia menikah seusiamu?" sindir wanita yang masih menyusui itu.


Harun baru empat bulan. Bayi itu sudah berguling dan tengkurap. Juga suka sekali menarik ****** susu ibunya hingga, Puspita menjerit.


"Baby!"


"Kenapa dia?" kekeh Virgou.


"Dia menarikku," keluhnya lalu mencium gemas putra bungsunya.


"Tapi, jeritamu beda ketika aku menariknya," goda pria itu.


Puspita berdecih sebal. Virgou pun bergayut manja pada istrinya.


"Sayang," rengeknya parau.


"Ish, aku lagi menyusui!" elak wanita itu.


"Hmmm," Virgou pun hanya bisa pasrah.


Sebenarnya, Puspita juga merindukan sentuhan suaminya, tetapi hari masih siang. Kakek mertuanya sedang ada di ruang depan bersama ayah mertuanya. Ia hanya takut, ketika tengah menikmati biduk cinta, kedua orang itu kecarian Virgou.


"Sana, temani Daddy dan Grandpa," usirnya.


"Ah, aku lupa!' sahut Virgou sambil menepuk keningnya.


Puspita melongo, ia nyaris saja mengikuti napsu suaminya. Ternyata, sang suami lupa jika ada ayah dan kakeknya di mansion.


"Ck ... dasar, sudah pikun masih pengen muda," sungutnya kesal.


Virgou pun kembali bersama kakek dan pamannya.


"Grandpa," panggilnya.


"Kau lama sekali, hanya untuk buang air kecil saja," protes pria tua itu.


"Ck ... masalah kecil saja, kau marah-marah. Ini, bagaimana, kelanjutannya?" tanya Virgou.


"Soal Darren?" pria itu mengangguk.


"Ya, dia sudah dewasa, mau apa lagi. Terlebih nasibnya sekarang sama dengan Terra. Bedanya, Terra masih memiliki keluarga besar," sahut Bart.


Virgou pun terdiam. Perlahan ia mengangguk. Memang, Darren sudah pria dewasa, terlebih Terra dan Haidar sudah mengetahui kedekatan putranya itu dengan salah seorang gadis.


"Aku akan tanya ayah, dulu," sahut Virgou lalu melakukan panggilan telepon.


"Assalamualaikum, Yah!" ujarnya ketika sambungan telepon diangkat.


Virgou mengaktifkan pengeras suara.


"Wa'alaikumussalam," balas Herman di ujung telepon.


"Yah, ini soal Darren. Apa ayah sudah tau?" tanya Virgou langsung.


Terdengar helaan napas di sana. Pria itu juga berat melepas keponakannya untuk melangkah lebih jauh. Ia merasa Darren masih terlalu muda.


"Bundamu sangat mendukung Darren untuk menikah muda. Ia menentang ayah jika melarang putra kita untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi," jelas pria itu pasrah.


"Jadi, Yah?"


"Kita suruh Darren membawa kekasihnya. Gadis itu harus menerima kita menjadi bagian hidupnya ketika menikah nanti!" tekan Herman.


"Aku setuju itu," sahut Leon.


Bart pun mengangguk setuju. Akhirnya Virgou menelepon Haidar dan mengatakan usul dari Herman. Pria itu pun setuju.


Akhirnya, Terra memanggil adik sekaligus putranya itu. Darren datang dengan ketegasan penuh. Ia sudah dewasa. Terra sudah harus melepasnya.


"Nak, semua keluarga ingin bertemu dengan kekasihmu," ujar Terra.


Budiman yang ada di sana hanya bisa menghela napas, ia memang harus melepas tuan mudanya. Toh, ia masih bekerja menjadi pengawal pemuda yang hendak melangkahkan kaki ke jenjang yang lebih serius.


"Mama yakin?" tanya Darren.


"Ya, Mama yakin. Kau sudah memberitahu siapa kamu pada Aini?" tanya Terra.


Darren terdiam. Inilah yang belum ia ceritakan pada gadisnya.


"Dia pasti bertanya-tanya, kenapa kau bukan Pratama melainkan Dougher Young," jelas Terra.


Darren memeluk kakak yang menjadi ibunya itu. Sifat manja masih ia tunjukkan sebagai anak. Terra mengelus sayang kepala adiknya itu.


Terra mengecup kening pemuda itu. Mengusap rahang tegas pria yang mirip sekali dengan Ben, ayahnya.


"Ceritakan tentang kebaikan saja, sayang. Karena keburukan itu aib kita," ujar wanita itu menasehati.


Darren mengerti. Ia sudah menyiapkan semuanya. Ia yakin, Aini bukan tipe gadis yang akan mencari tahu kebenarannya.


Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu pun kembali ke perusahaan, bersama Budiman.


Sepanjang perjalanan, pria itu diam tanpa kata. Darren menjadi sangat bersalah.


"Baba," panggilnya.


"Ya," sahut pria itu.


"Baba, marah?"


"Tidak, sayang," jawab pria itu.


Akhirnya Budiman membuang semua egonya. Ia memang harus melepaskan pemuda yang ada di belakangnya itu.


"Terima kasih, Baba," ujar Darren memeluk pria itu dari belakang.


Pria itu tersenyum. Ia hanya belum siap saja, itu saja masalahnya. Hanya butuh tiga puluh menit, mereka sampai di perusahaan. Darren langsung menyambangi Aini. Gadis itu membawa dua adiknya bersama.


"Dik," panggilnya.


Semua mata memandang gadis itu sinis. Para kaum hawa begitu membenci dan iri dengan gadis yang baru saja masuk di perusahaan. Budiman memandang tajam semua wanita yang ada di sana.


"Ada apa dengan kalian?" tanyanya dengan suara datar. "Apa kalian. bosan bekerja di sini?"


Semua pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ancaman itu benar-benar mampu membuat orang bungkam seketika.


Darren masuk. Aini menghentikan pekerjaannya. Ia sebenarnya kurang suka ketidak profesionalan, atasannya itu.


"Pak, tahu kah ini sudah masuk jam kerja?" tanyanya menyindir.


"Aku tahu," jawab Darren tersenyum simpul.


"Saya sedang bekerja," sahut Aini.


"Ya, dan kedatangan ku adalah bagian pekerjaan," sahut Darren lagi.


Aini pun diam. Sebenarnya, ia hanya beralasan agar pria itu pergi, jantungnya berdetak kencang jika berdekatan dengan Darren. Ia tampak gugup sekali.


"Dik," panggil pria itu lagi.


"Iya, Pak," sahutnya dengan kepala tertunduk.


Tangannya yang salin bertaut karena gugup di pegang oleh Darren. Pria itu menggenggamnya. Aini langsung mengangkat wajahnya. Ia melepas genggaman atasannya. Darren tersenyum lalu meminta maaf.


"Ada satu hal yang ingin aku ceritakan dan ini tentang aku," jelas Darren.


Aini pun terdiam Ia mengangkat wajahnya. Netra coklat terang itu membesar. Menangkap raut cantik gadis berhijab hijau dengan tatapan masih berduka.


"Kau tau, ibuku itu adalah kakakku satu ayah," jelas Darren.


Aini terdiam. Pemuda itu pun menceritakan siapa dirinya dan Terra. Juga Lidya dan Rion.


"Kami bertiga adalah adik dari ayah yang sama dengan Mama. Beliau mengambilku sebagai anak ketika usiaku delapan tahun, Lidya lima tahun dan Rion delapan bulan. Ayah dan ibu Mama bercerai dan ayahku bersama ibu kandungku. Hingga sebuah peristiwa membuat kedua orang tuaku meninggal dunia. Jadi, aku diasuh oleh kakakku yang kini kupanggil Mama," jelasnya.


Aini menatap kedua adiknya. Darren pun sama.


"Ya, aku, Ditya dan Radit memiliki kisah sama dengan versi yang berbeda," jelasnya lagi.


"Dik," panggil Darren lagi.


"Ya ... Mas," sahut gadis itu dengan semburat merah di pipi.


"Semua keluarga ingin bertemu denganmu," ujar Darren lagi.


Aini pun terdiam. Pemuda itu mengangguk membenarkan.


"Aku akan memperkenalkanmu juga kedua adikmu dengan seluruh keluarga besarku," jelasnya.


"Ka-kapan?" cicit sang gadis bertanya lirih.


"Besok!" tekan Darren.


"Apa?" Aini pun terkejut mendengarnya.


bersambung.


Readers mohon maaf, di sini mati lampu, efek gempa kemarin membuat listrik gangguan signalpun byar pet. besok lagi ya


next?