
Darren memperlihatkan kecanggihan ponselnya. Ternyata banyak fitur yang belum sempat digunakan.
"Ini cara mengunci target selama satu minggu. Kita tinggal klik ini sama ini, Ma," jelasnya sambil memperlihatkan apa saja yang harus ditekan.
"Lalu, ini cara membedakan jika tiba-tiba target berubah warna karena baju yang dikenakannya," Darren kembali menekan salah satu applikasi ponsel.
"Kita bisa pindah data ini ke situs kepolisian, Ma. Apa data orang ini masuk dalam jajaran DPO atau tidak," ujar Darren kembali menjelaskan.
Terra baru tercerahkan. Virgou ternganga dengan ponsel ciptaan Darren. Bart tidak mengerti meminta dijelaskan dalam bahasa Inggris.
Virgou menjelaskan semua apa yang tadi Darren katakan. Bart dan Frans takjub akan kecerdasan pria kecil itu.
"Mama tidak usah capek-capek nyari siapa penjahatnya. Darren klik ini saja ...."
Klik.
Satu klik di huruf "c''. Foto yang blur tiba-tiba terang. Tiga orang yang menebar teror kemarin sesuai dengan gambar DPO yang ada di situs kepolisian.
"Tinggal kita kirim target data pada kepolisian terdekat, lalu ...."
Darren memotong pembicaraannya. Satu pergerakan terjadi. Tiga orang yang dicurigai tertangkap polisi.
"Jadi cara kerjanya hanya seperti itu?" tanya Terra setengah tak percaya.
"Iya, Ma. Hanya seperti itu," jawab Darren santai.
"Nyalakan televisi. Kita cocokan gambar pelempar kemarin dengan pelaku yang ditangkap," pinta Darren.
Telivisi dinyalakan.
"Selamat siang pemirsa. Gembong perampokan toko emas yang disertai kekerasan tiga bulan lalu tertangkap polisi di tempat persembunyiannya. Polisi mengatakan jika keberadaannya sudah lama tercium petugas ... bla ... bla ...!"
Seperti biasa pihak otoriter pasti mengklaim jika semua telah dilakukan penyelidikan. Terra memperhatikan gembong yang tertangkap. Benar saja. Pria itu yang kemarin melempar batu di belakang rumahnya.
"Te, kerja kita sedikit ringan jika begitu. Tak perlu baku hantam atau mengeluarkan senjata," saut Virgou kemudian.
"Mudah-mudahan seperti itu, Kak," ucap Terra.
"Mama, Ion papal," rengek bayi montok itu.
"Ah, iya waktunya makan siang," ujar Terra lalu menggendong Rion.
Mereka semua makan bersama. Bart masih merasa tidak enak. Sebentar lagi visa tinggalnya habis. Ia harus pulang untuk mengurus visa kerja, agar bisa lebih lama tinggal bersama cucunya.
"Grandpa takut meninggalkan kalian, sayang. Lusa Grandpa sudah harus pulang bersama dua pamanmu," saut Bart sedih.
"Ada aku di sini Pa, jangan takut," ujar Virgou kemudian menenangkan Bart.
"Bagaimana jika tiga anak ini ikut, Grandpa, keselamatannya terjamin di sana," Bart memberi usul.
"Nggak mau," tolak Darren.
"Iya dudha eundak mau!"
"Ion bubha!" tolaknya keras.
"Mati hidup kami, sama Mama. Jangan pisahkan kami, Grandpa," ujar Darren dengan nada memaksa.
Bart yang kini mulai paham bahasa Indonesia, sedih ketika Darren menolak ajakannya.
"Masa depan kami sama Mama. Tidak sejengkal pun kami mau berpisah dengan Mama. Kami tidak bisa hidup tanpa Mama!' lagi-lagi Darren bersikeras.
"Jika Darren dan adik-adik tiba-tiba diculik dan dibawa pergi dari Mama, Mama tau kan apa yang bisa Darren lakukan?" ancaman pria kecil itu tak main-main.
Kegeniusan Darren tak bisa diragukan lagi. Terra bisa membayangkannya. Ia pun menolak usulan kakeknya.
"Mereka tetap di sini."
Jawaban Terra tak bisa dibantah. Sifat keras kepalanya mirip sekali dengan Ben.
"Baiklah, sekarang bagaimana selanjutnya," tanya Bart.
"Terra akan menumpas habis hingga ke akarnya," ucap Terra dingin.
"Ponsel Darren mempermudah tugas Te. Besok, Te akan memberikan laporan ini secara rahasia dengan pihak kepolisian. Terra tak bisa melakukan sendiri tanpa payung hukum," jelas Terra.
"Bagaimana jika kamu menikah secepatnya dengan Haidar. Grandpa masih merasa cemas," lagi-lagi Bart memberi usul.
"Kau tau jika Grandpa tak bisa bergerak di sini. Ini bukan Eropa," Terra menggeleng.
"Mas Haidar masih punya kedua orang tua yang harus dia patuhi, Grandpa. Terra nggak mungkin menyeret anak orang dalam bahaya," jelas Terra.
"Grandpa pulang saja dulu dengan tenang. Penangkapan ini pasti membuat shock yang lainnya," ujar Virgou lagi.
"Terra heran. Dari mana Sugeng bisa punya uang dan membentuk komplotan?' tanya Terra heran.
Sedang di sel, sosok pria tengah berbaring sambil mengangkat kaki. Kepala sel memanggilnya.
"Sugeng, kamu ada yang menjenguk!"
Pria itu berdiri dan keluar menuju ruang pertemuan. Di sana duduk seorang pria yang ia kenali.
"Tuan Lim Hyung!" sapanya.
Lim menatapnya. Pria itu tersenyum ramah. Memberikan satu kotak makanan cepat saji untuknya.
"Terima kasih Tuan," ujar Sugeng hormat.
Pria itu tak bicara apa-apa. Ia pun meninggalkan Sugeng yang lahap dengan makanannya.
Tiga hari setelah pertemuan dengan Lim Hyung. Kehidupan Sugeng masih seperti biasa.
Mendapat pelatihan agar ketika keluar, ia bisa berguna bagi masyarakat. Saking lelahnya bekerja tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri.
Kepala sipir membawanya ke ruang perawatan. Sayang. Sampai di sana Sugeng sudah tidak bernyawa, tanpa tahu penyebabnya.
Sedang di tempat lain. Seseorang tengah menyeringai setelah mendapat laporan dari seseorang kepercayaannya.
Memegang sebuah bubuk yang terbungkus plastik.
"Racun ini akan mampu membunuh seekor gajah, tanpa tahu penyebab kematiannya apa," gumamnya.
Bersambung.
wah ... berbahaya.
next?