
"Kakak tidak akan melupakan kalian seumur hidup, kakak!"
Rion dan Lidya menoleh arah suara. Keduanya menangis. Darren lalu memeluk dua adiknya itu. Mengusap wajah basah keduanya. Menciumi mereka satu persatu.
"Tolong jangan, buat kakak berat melangkah. Kakak mencintai Aini, tapi jika harus memilih. Kakak akan memilih kalian," ujar pria itu dengan suara tercekat.
Rion dan Lidya menggeleng.
"Jangan Kak. Jika begitu kakak mestinya tak jatuh cinta begitu cepat dengan Kak Aini!" protes Rion.
"Kami ingin kakak bahagia dengan Mba Aini. Maafkan keegoisan kami, Kak!" lanjutnya dengan suara parau.
"Dengarkan kakak!" ujar Darren kemudian.
"Hati ini memang ada Aini. Tapi, kalian lah yang paling utama di hati ini dan tak ada yang bisa menggeser kedudukan kalian semua. Terutama kalian berdua!" tekan Darren lagi.
Rion dan Lidya mengangguk. Keduanya memeluk sang kakak dengan tangisan haru.
Darren berada di antara dua adiknya. Keduanya menyender manja. Terra mendatangi mereka. Air matanya bercucuran. Flashback belasan tahun lalu. Darren kecil duduk di mana Lidya tertidur di sisi kirinya dan Rion yang tertidur dipangkuan Darren. Tubuh ketiganya bergetar menahan dingin dan lapar. Bibir mereka pecah-pecah, bertanda mereka mengalami dehidrasi. Tatapan polos ketiganya seakan meminta perlindungan.
"Mama!' panggil Darren kecil.
Sedang dalam pandangan Darren. Terra kini berdiri seperti belasan tahun lalu, saat pertama kali ia bertemu dan melihat sosok yang sering mendiang ayahnya perlihatkan fotonya. Impiannya terwujud, sang malaikat pelindung datang. Ia sangat yakin jika akan bahagia nantinya, dan itu terbukti sekarang.
Lalu bayangan lain muncul, Haidar, Bram, Virgou, Bart, David, Budiman, Herman, datang. d
Disusul Kanya, Puspita, Gisel, Khasya dan Seruni. Darren tersenyum lebar.
Lalu muncul juga Gomesh dan istrinya, kemudian seluruh pengawal yang selalu ada dalam suka dan duka.
"Mama," panggilnya lirih.
"Terima kasih ... terima kasih ... huuuu ... uuuuu!' ia pun menangis.
Terra langsung berhambur memeluk ketiganya. Ia juga menangis. Semua mengusap air mata mereka. Belasan tahun ikut dengan keluarga yang penuh kehangatan dan begitu peduli. Hal itu sangat berkesan bagi Gomesh dan lainnya. Sang istri juga merasakan hal sama, ia juga. baru melahirkan bayi perempuannya di hari yang sama dengan Terra.
Budiman, yang paling beruntung, ia mendapatkan keturunan Dougher Young. Ia juga sangat bahagia telah menjadi bagian keluarga ini.
Maria menyelinap keluar, diikuti semua pengawal. Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Mereka bergegas menyiapkan sesuatu untuk tuan Baby mereka.
Terra mengusap wajah basah ketiga adik yang menjadi anaknya itu. Ia tak lagi menganggap ketiganya adik, tetapi seperti ke delapan anaknya sendiri.
"Kalian adalah belahan jiwa Mama. Mama sangat bahagia mendapatkan kalian dalam hidup Mama," ujarnya lalu menciumi wajah ketiganya.
Haidar dan lainnya mendekat. Semua mencium Darren, Lidya dan Rion. Mereka sangat tahu masa kelam ketiganya terlebih Haidar, Bram dan Kanya. Merekalah yang melihat bagaimana trauma yang mengusung Darren terutama Lidya. Bahkan gadis itu masih dibayang-bayangi trauma itu. Entah kapan hilang, padahal semua menyayanginya secara penuh.
"Sayang," panggil Kanya.
"Jangan takut akan kasih sayang kakakmu yang berkurang. Oma pastikan kasih sayang kami tidak akan pernah berkurang pada kalian. Hingga sampai waktu kami tiba," ujarnya sendu.
Rion memeluk wanita paru baya itu. Mengucap banyak terima kasih. Lidya pun melakukan hal yang sama.
"Selamat ulang tahun ... semoga panjang umur ... selamat ulang tahun ... Tuan baby Rion!'
Maria dan Gomesh menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Rion makin kencang nangisnya. Ia memeluk Terra.
"Mama ... Ion udah gede Mama. Ion akan jaga Mama dan semuanya. Ion janji jadi lelaki kuat dan hebat seperti Daddy!"
Terra menangis haru. Virgou pun merasakan sesak di dadanya, ketika dirinya lah yang menjadi acuan Rion menjadi kuat.
"Mama percaya, Baby ... Mama, percaya," ujar Terra lirih.
Darren dan Lidya memberi kecupan untuk adiknya. Tak ada tiup lilin. Rion mencabut lilin itu.
"Kok dicabut, Nak?" tanya Bart.
"Takut babinya ilang Grandpa," seloroh Rion.
"Astaghfirullah!" sahut Bart kaget mendengar jawaban Rion.
Semua tertawa. Terra mencium remaja tampan nan rupawan itu. Rion sudah melebihi tinggi ayahnya. Haidar juga menghadiahi kecupan.
"Hadeh ... lama-lama pipi Ion lecet diciumin mulu!" selorohnya lagi.
"Liburan panjang nanti, kita ke Eropa!" ajak Bram.
"Buyut kalian mau menengok cicit mereka," lanjutnya memberitahu.
"Ah, Ibumu tinggal di Swiss kan, Bram?" tanya Bart.
"Iya, Dad," jawab Bram.
"Lalu, Ibu dari Kanya?" Herman kini yang bertanya.
"Di Prancis, Mas," jawab Bram lagi.
"Oke, siapkan cuti. Setelah Darren menikah kita ke sana sekalian pasangan pengantin ini berbulan madu!" usul Herman.
Semua bertepuk tangan setuju, Darren tersenyum malu mendengar rencana indah itu.
Pagi hari. Rion, Darren, Haidar, Virgou, Budiman dan David tengah beradu pandang dengan para pengawalnya. Ternyata remaja itu mewujudkan tantangannya pada pengawal yang menginginkan dua adiknya menjadi istri. Haidar dan Virgou sangat kesal ketika mengetahui itu. Bukan apa-apa. Arimbi, Nai, Maisya dan Kaila masih lah kecil.
Herman, Bram dan Bart akan menjadi juri. Semua anak-anak berteriak menjagokan jagoannya masing-masing.
Juan, Rio, Robert, Gio, Hendra, dan Felix menjadi penantang mereka. Keenam pria itu menelan saliva kasar. Yang mereka hadapi adalah tuan mereka. Tetapi, sebagai pria, mereka tak boleh mundur. Para pengawal terbelah menjadi dua kubu. Mereka juga menjagokan dan memberi semangat rekan seprofesinya.
"Ayoo ... jangan kendor!" teriak Juno semangat.
"Ayo Papa, Daddy, Baba, Papi, Ata' Dallen! Talahtan pala plia gidut ipu!" seru Sky semangat.
"Ayo Papa!"
"Ayo Daddy!"
"Kita ambil siapa dulu yang jaga!" seru Herman.
"Biar kami dulu yang jaga!" sahut Haidar.
"Oke, apa kalian setuju?" tanya Herman pada tim bodyguard.
Juan sebagai ketua tim mengangguk. Ditya dan Radit hadir bersama kakaknya. Mereka membawa kado untuk Rion. Remaja itu senang sekali karena semua keluarganya tak ada yang memberinya kado.
"Ayo Mas Lion!" pekik Radit.
Bayi berusia tiga tahun itu menjadi salah satu pasukan bayi besar itu. Ia begitu mengagumi sosok tampan yang menjaga gawang berdiri di garis belakang.
"Semuanya bersiap!" pekik Herman sedikit keseleo suaranya.
semuanya terbahak mendengarnya.
"Mulai!" teriak Herman.
Permainan gobaksodor pun dimulai. Para pria sudah kembali ke masa kecil mereka. Saling berteriak memberi peringatan dan ancaman. Ketika tertangkap mereka tertawa keras.
Angka mulai berjalan. Tim pengawal pertama kali mengalahkan tim Rion. Semua bersorak-sorai. Para anak-anak mulai menangis karena kakak kesayangannya kalah.
"Tidak apa-apa, Baby. Yang tadi baru permulaan. Sekarang pertandingan sesungguhnya akan dimulai!" sahut Rion menenangkan para bayi.
"Mas Rion, semangat!" teriak Ditya yang juga sedih melihat Mas kesayangannya kalah.
Rion mengubah strategi. Remaja itu bukan remaja biasanya, ia mampu membaca semua gerak lawan. Taktik pun dilancarkan. Virgou, Budiman dan David membaca arahan Rion. Haidar berdiri menjadi penjaga gawang. Pria itu memiliki tugas paling akhir.
"Kunci dan bakar!" teriak Rion.
Felix, Juan terkunci. Rio terkena. Tim Bodyguard kalah. Angka mulai sama. Hingga tiga babak kemudian tim bodyguard kalah telak, mereka kebobolan dan salah perhitungan. Mengira Haidar yang menjadi juru kunci ternyata David masuk dan membuka pintu. Bahkan pernah menangkap Rion karena mengira ketua tim, ternyata, Haidar masuk dan membobolkan gawang.
"Jangan sedih ya, kalian pasti mendapat gadis yang lebih baik dari putriku," ujar Haidar dengan napas terengah.
Felix menunduk. Padahal kemarin ia hanya asal menjawab. Walau pun jika benar terjadi, ia akan sujud syukur dan bekerja banting tulang untuk membahagiakan Nai, atau Arimbi yang ia sukai.
Bersambung.
weeeh ... ngarep kamu Felix! Barakallah fii umrik Rion.
Next?