TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BABAK BARU DAV



Hari berlalu. Sudah dua minggu, Romlah meninggal dunia. Terra masih merasakan wanita itu ada di sisinya, hingga beberapa kali, ia memanggil nama wanita yang telah menemaninya selama ini. Seperti hari ini.


“Bik Rom, coba periksa isi kulkas kita, apa kita perlu belanja lagi?” tanya Terra, Ani yang berada di sana lanngsung sedih.


“Nyah, Bik Rom udah nggak ada,” ingatnya pada Terra dengan suara lirih.


“Astagfirullah!” Terra langsung beristighfar.


“Maaf, Bik,” cicitnya lirih.


“Tidak apa-apa, Nyah. Saya juga masih mengingat Mba Rom,’ ujar Ani mengaku.


“Sudah, jangan sedih terus. Coba Bik Ani sekarang yang lihat isi kulkas, apa saja yang sudah habis,” ujar Terra menyudahi kenangan bersama Romlah.


Ani pun segera melakukan apa yang dipinta oleh atasannya. Sedang di tempat lain, Dav tampak tengah mengecek semua pergerakan pasar. Industry internet kini makin merambah kemana-mana. Bahkan pemerintah gencar melakukan perbaikan jaringan, agar akses internet tercapai di semua Kawasan. Terlebih, gagasan “Flying Internet” dan juga “Ocean Daring” juga begitu diminati para pebisnis.


Dav juga membantu Virgou menjalankan usahanya. Semenjak ia kena tembak waktu itu. Puspita makin protektif terhadap suaminya. Wanita itu selalu melarang pria itu pergi sendirian, Gomesh sudah dilarang olehnya untuk Kembali berlatih di perusahan SaveLifed. Kini perusahaan pencetak pengamanan itu sudah menjadi milik Virgou. Ia membelinya dipelelangan. Ternyata perusahaan itu memiliki utang triliyunan rupiah pada Bank. Sebagian uang perusahaan dibawa kabur oleh penanggung jawab.


Makanya kemarin adalah pelatihan terakhir yang dilakukan oleh Gomesh. Hari ini, Dav pergi ke perusahaan kakak sepupunya itu. Pria itu akan melakukan meeting dengan para divisi. Ketika dalam perjalanan, mobil yang ditumpanginya nyaris diserempet kendaraan lain. Tentu saja yang ia gunakan bukan mobilnya, ia belum boleh memiliki mobil pribadi, bahkan pengajuan Surat Ijin Mengemudi-nya juga belum di acc oleh pihak satlantas. Jadi ia memakai mobil sport milik Terra yang ada hanya dua ratus unit di dunia.


Mobil itu menepi begitu juga mobil yang nyaris menyerempetnya. Seorang gadis memakai dress selutut dengan motif bunga warna-warni dengan dasar warna hitam, nampak merasa bersalah pada Dav.


“I’m sorry Mister, I was a little cool because the bike suddenly overtook me, earlier.”(Maaf Tuan, , saya sedikit terkejut karena motor yang mendadak menyalip saya, tadi) Jelasnya dengan rasa bersalah.


“Oh, begitu. Tak masalah Nona.” Sahut Dav sambil terus memandang wajah panik wanita di depannya.


Gadis itu terkejut ketika pria di hadapannya menggunakan bahasa Indonesia. Ia pun menjadi sangat malu. Akhirnya ia pun memberi solusi.


“Atau begini saja, ini kartu nama saya, jika ada kerusakan. Bisa hubungi saya di nomer yang paling bawah,” jelasnya lagi sambil mengeluarkan kartu dan menyerahkan pada Dav.


Terlihat wajah panik Ketika melihat mobil yang nyaris saja ditabraknya.


‘Duh, habis gaji gue bulan ini!’ runtuknya kesal dalam hati.


Dav menyembunyikan senyumnya melihat wajah penuh kecemasan di hadapannya. Pria itu masih setia dengan wajah cantik yang melirik mobil mewah di sampingnya. Ternyata Juno yang menemani adik atasannya sangat memahami, apa yang dipikirkan oleh Dav, ia pun berpikir cepat.


“Wah … ini lecet Nona, bagaimana ini!”


“Apa?!” pekiknya tak percaya.


Benar saja, Juno memperlihatkan goresan sedikit yang mengenai bemper depan mobil atasannya. Gadis itu pun langsung lemas.


“Tuan begini saja. Jujur saya belum ada uang jika harus menggantinya sekarang. Anda perbaiki dulu, jika sudah selesai, baru kirim tagihannya ke saya, bagaimana?” tawar gadis itu penuh permohonan..


Dav hanya diam, seperti berpikir. Makin piaslah wajah gadis itu, lalu ia pun menatap gelang di tangannya, gelang pemberian almarhumah ibunya. Dengan perasaan berat, ia membukanya.


“Kenapa bukan mobil anda saja Nona?” tanya Juno menyela.


“Maaf, ini bukan mobil saya, mobil ini milik kakak ipar saya, sekarang saya akan menjemputnya di bandara, jadi maaf. Ah, saya akan terlambat!” ujarnya lalu buru-buru memasuki mobilnya.


Dav membaca kartu nama di tangannya.


“Dokter Jevana Aryani Kesuma,” ia pun menatap gadis itu yang langsung menaiki mobil dan berlalu dari sana.


Sempat ada kemacetan Panjang akibat kecelakaan kecil itu, bukan hanya gadis tadi yang nyaris menabrak. Tetapi ada beberapa kendaraan yang juga nyaris menabrak, akibat motor yang dikendarai anak-anak tadi. Sekarang motor itu sudah ditangani oleh polisi lalulintas dan anak yang mengendarainya menangis histeris. Dav hanya menggelengkan kepala. Antara kesal dan rasa terima kasih yang cukup besar karena dipertemukan oleh sosok yang menggetarkan hatinya.


“Apa dia jodohku?” gumamnya bertanya. Lalu melihat benda yang tadi dijaminkan oleh gadis tadi.


Juno yang mendengar gumaman pria itu langsung berdoa.


“Semoga Nona tadi adalah jodoh anda Tuan. Aamiin!”


Dav terkekeh geli, bagaimana bisa Juno berdoa seperti itu.


Namun ia aminkan juga doa baik tersebut. Mereka Kembali menaiki mobil dan melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Dav menghela napas berat.


“Ada apa Tuan. Sepertinya anda sedikit menyesal?” tanya Juno sambal melirik pria tampan yang duduk di sebelahnya.


“Bagaimana jika wanita tadi sudah bersuami, Jun. Apa iya, aku harus merebutnya dari pria yang mungkin sangat mencintai dia?”


Juno terdiam mendengar pertanyaan atasannya itu. Ia juga mulai menyesali doanya tadi. Pria itu tidak kepikiran sampai sejauh itu.


“Ah, sudah lah. Jangan dipikirkan, Kita akan mengetahuinya nanti,” ujar Dav kemudian.


“Maksudnya Tuan?” tanya Juno tak mengerti.


“Aku akan beralasan jika pembayarannya kurang, padahal aku bermaksud mengembalikan gelangnya,” jelas Dav sambal mengangguk dan memuji idenya sendiri.


Juno pun mengangguk. Jika memang wanita tadi bersuami, tentu tidak akan menyerahkan kartu nama pribadinya, bahkan menyerahkan barang yang paling berharga. Segala kemungkinan bisa terjadi.


Sedang di bandara Jevana tampak melihat papan boarding kedatangan pesawat, ia sedikit lega karena pesawat yang membawa istri kakaknya ini baru saja tiba lima menit lalu. Ia masih harus menunggu sekitar sepuluh atau dua puluh menit lagi.


bersambung.


ah ... penampakan jodoh Dav sudah terlihat.


next?