TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEMINAR 2



Semua terdiam. Lidya juga memaparkan kenapa anak-anak itu bisa mendapatkan kekerasan. Sebagian karena faktor lingkungan dan sebagian faktor ekonomi dan tidak sedikit karena faktor rumah tangga yang tak harmonis.


"Saya sering mendapati kasus anak-anak yang trauma karena ayah ibu mereka yang bertengkar. Mereka menjadi sasaran kekerasan, entah dari ayahnya atau ibunya sendiri," papar Lidya kemudian.


Gadis itu juga memberikan review-nya tentang kejiwaan yang dialami anak-anak pasca mendapat kekerasan.


"Saya beruntung karena diasuh oleh orang-orang hebat dan penuh kasih sayang. Orang yang harusnya saya panggil kakak. Tapi, beliau lah yang menjadi ibu bagi saya juga kakak dan adik saya," jelasnya lagi.


"Mama ... ba bowu," ungkap Lidya sambil memberi simbol love di jarinya.


"Tolong cintai mereka. Sungguh, mereka ada untuk disayangi dan diberi perlindungan utuh dari semuanya terutama keluarganya," ujar Lidya menutup narasinya. "Dan berikan hukuman setimpal untuk mereka yang telah melukai anak-anak."


Semua bertepuk tangan sambil berdiri. Para narasumber yang terwakili suaranya pun berteriak sambil tersedu.


"Thank you Lidya ... Thank you!"


Bart terharu. Rating acara menjadi tertinggi saat itu. Banyak mata menyoroti, banyak mulut mulai mengomentari. Pro dan kontra pun bermunculan. Tujuh puluh lima persen setuju dengan review yang disodorkan Lidya, sepuluh persen abstein dan sisanya tidak setuju dengan berbagai alasan.


Acara pun diakhiri dengan beberapa tanggapan dari pihak hukum dan Unicef sendiri. Mereka memang menyayangkan penindak kekerasan berawal dari keluarga terdekat anak-anak yang mestinya memberikan perlindungan.


"Nona Dougher Young!' panggil wakil dari UNICEF.


"Saya!' sahut Lidya.


"Review anda baik sekali. Bisakah anda menjadi perwakilan kami untuk anak-anak di negara anda?" pintanya.


"Oh bisa sekali. Kebetulan, saya mendirikan sebuah lembaga mandiri yang menampung anak-anak korban kekerasan. Saya memberikan treatment pengobatan dan therapist secara gratis," jelas Lidya antusias.


"Puji Tuhan. Itu bagus sekali. Boleh kami meminta proposal lembaga anda untuk dijadikan data?" pinta wakil UNICEF lagi.


"Bisa, ini saya sudah membawanya dan sebagian akan saya kirimkan melalui email, apa boleh?"


"Kirimkan saja semuanya melalui email, ini kartu nama saya. Biar kami data di komputer. Berkas ini akan saya bawa ke kantor pusat," ujarnya lagi lalu memberikan kartu nama.


Lidya menerimanya. Lalu mereka pun bersalaman dan mengucap banyak terima kasih. Acara sudah selesai, banyak orang-orang saling bersalaman.


Demian bergegas mencari sosok yang kini sudah ia kenali. Sosok masa kecil yang mengusik hidupnya selama ini. Pria itu berlarian ke sana kemari. Netranya mengedar. Ia pun melihat ayahnya. Tadi ia juga memindai sang ayah nampak mengenali Dougher Young


"Dad!" panggilnya.


Dominic menoleh. Ia pun tersenyum dengan bangga. Acara putranya sangat sukses hingga menembus empat negara di lima benua.


"Son ... congratulation!" ujarnya penuh kebanggaan.


Keduanya saling berpelukan. Matanya yang seperti mencari seseorang, membuat ayahnya ikut mencari.


"Apa yang kau cari?" tanya Dominic.


"Lidya ...."


"Siapa?"


"Dougher Young," ralat Demian.


"Ah, dia ada di ... itu dia!' Dominic meminta pengawalnya memanggil Bart.


Pengawal itu pun berlari mengejar pria yang dimaksud. Dominic dan Demian pun mendatangi Bart, Frans dan Leon.


"Tuan Dougher Young. Putraku, ingin berkenalan denganmu!" ujarnya.


"Ah .. kau ternyata tampan sekali," puji Leon.


"Terima kasih Tuan," ujar Demian tersenyum ramah.


Sosok mungil datang menghampiri mereka. Demian langsung tersenyum. Pria itu menatap gadis itu dengan tatapan penuh arti. Dominic menyenggol lengan putranya.


"Ingat, kau sudah memiliki kekasih! Jangan mempermainkan mereka," bisiknya memperingati.


Demian pun akhirnya tersadar. Pria itu menetralkan semua rasanya. Ia tak boleh jadi laki-laki serakah.


"Hai .. apa kau ingat aku?" tanya Demian pada gadis cantik yang setinggi dadanya.


"Ya, saya mengenali anda Tuan Demian August Starlight," jawab Lidya ramah.


"Artikel tentang kesuksesan anda menyebar di semua media elektronik," lanjutnya.


"Aku si badut ... apa kau ingat?"


"Saya sudah tidak takut badut lagi," selorohnya.


Damian terkekeh. Dominic pun langsung tau gadis yang dulu diceritakan Demian putranya.


"Oh, jadi ini kah gadis yang kay takuti dulu?" tanyanya tak suka.


"Tuan Demian tak sengaja, Tuan," bela Lidya.


"Jadi kau adalah dokter termuda itu?" tanya Demian lagi dengan pandangan memuja.


"Hanya kebetulan masih muda, Tuan," sahut Lidya merendah.


"Sayang!" tiba-tiba suara memanggil. Semua menoleh.


Sementara di tempat lain. Suasana mansion Bram penuh haru. Terra dan Haidar saling berpelukan. Mereka semua memuji kecerdasan gadis itu.


"Aku bangga sekali. Betapa ia bisa membungkam orang-orang dengan semua materinya," ujar Virgou.


"Ya, aku kesal sekali dengan mulut netizen yang mengomentari nyinyir dan menyangkal semua kesaksian putriku itu!' sela Herman kesal.


"Sudah-sudah .. yang penting Lidya menjadi penutup yabg spektakuler. Dia membawa acaranya sendiri. Semua juga mengisahkan pengalaman buruk mereka. Kita juga harus berempati tentang itu," jelas Bram.


Seruni yang baru bergabung di keluarga itu ikut bangga. Ia baru tahu betapa cerdas dan geniusnya gadis yang mestinya menjadi adik iparnya. Lalu.


"Huueek!" Seruni tiba-tiba mual.


Semua menoleh padanya. Dav langsung khawatir. Kanya ingat, ketika datang, Seruni tak memakan dan minum apapun.


"Seruni, makan dan minumlah sesuatu, Mama lihat kamu tak menyentuh makanan dan minuman, kau tidak berpuasa kan?'


"Tidak, Ma. Maaf, inilah keburukan Seruni yang jika sudah fokus, lupa semuanya," ujarnya dengan nada menyesal.


"Ini, minum teh jahe," Puspita memberinya cangkir berisi teh.


"Terima kasih, Kak," sahut Seruni.


"Sama-sama."


Seruni menyeruput teh itu. Rasa mual pun hilang. Anak-anak memberinya roti, biskuit, kue dan pastel.


"Mama ... matan imi," ujar Kaila memberikan kue bolu.


"Imi enat woh, Ma," ujar Benua memberi pastel pada Seruni tetapi kemudian ia makan sendiri pastel itu.


Seruni sampai tertawa. Ia begitu terharu dengan semua perhatian. Bahkan Rasya menyuapinya desert sekarang.


Di benua lain. Lidya telah merebahkan dirinya di ranjang. Ia sudah selesai membersihkan diri. Ia juga telah makan siang bersama dengan semua peserta seminar. Banyak teman yang ia dapatkan di sana. Bahkan di antaranya adalah korban kekerasan.


"Lidya, aku ingin dipeluk sekali lagi," pinta Amolia, peserta dari Afrika.


Lidya memeluknya. Seluruh tubuh Amolia memiliki bekas cakar, bakar dan pukulan yang ia dapatkan dari ayahnya sendiri. Bahkan rambutnya hanya separuh karena luka bakar.


Lidya tak menerapkan batasan laki-laki dan perempuan. Walau pun ia memilih siapa yang ia peluk jika pria yang memintanya. Kebanyakan adalah remaja seusia.Rion atau seusia Kean.


Lidya merebahkan dirinya, matanya memejam.


"Demian ...," panggilnya tiba-tiba.


Lalu ia tertawa lirih.


"Pria itu sudah punya kekasih," ujarnya bermonolog. "Sadar diri Lidya!"


Sedang di tempat lain. Dominic nampak termenung. Ia sedikit menyesal terlalu terburu-buru menjodohkan putranya. Hatinya sudah condong terhadap Lidya.


"Aku merasakan kekuatan tersembunyi di balik tubuh kecil itu," ujarnya sambil menatap telapak tangannya.


Tadi ketika Lidya mencium punggung tangan pria itu. Dominic merasakan sesuatu bergetar dalam dirinya. Hatinya yang membeku laksana es tiba-tiba mencair karena sentuhan kecil itu.


"Lidya ... semoga kau jodoh putraku."


bersambung.


aamiin ...


next?