TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LEANA 3



"Leana hamil!"


Budiman shock. Ia terdiam sesaat. Namun wajahnya tetap datar ekspresi.


"Lalu hubungannya denganku, apa?" tanya Budiman bingung.


"Leana sebenarnya ingin menjebak kamu. Tapi, kau tau dari dulu kecerobohannya kan?"


"Tidak!" jawab Budiman cepat.


"Ah, ayolah Bud. Kamu dulu menatapnya penuh pemujaan. Seakan tidak ada yang lain," cela Andita sinis.


Budiman hanya mendengkus. Pria itu tahu semua tabiat wanita yang pernah singgah di hatinya itu. Ia mengenal baik dan buruk juga luar dan dalam Leana.


"Lalu, apa maksudnya ia ingin menjebakku? Agar aku menikahinya begitu?" terka Budiman.


"Iya, memang begitu. Tapi, kau tau sendiri, dia juga yang menggagalkan rencananya sendiri tadi," jawab Andita.


"Dia pikir aku sebodoh dulu?' saut Budiman.


"Jika dilihat penampilan mu sekarang. Kau tidak lagi seperti dulu. Bahkan kau terlihat lebih ... emm ... gagah dan sangat tampan," puji Felia kini.


Budiman tersenyum miring. Ia menggeleng tak percaya, penampilan bisa merubah penilaian seseorang.


"Lalu, apa ada lagi yang mesti ku tahu?" tanya Budiman lagi.


"Om Suherman, sakit parah ketika mengetahui jika Leana hamil. Sedang anak itu tidak tahu siapa pria yang menidurinya," jawab Felia lagi.


"Datanglah, Bud. Jenguk Om Suherman. Aku tahu kau orang baik," ucap Andita kini.


"Biar bagaimana pun dia salah satu jembatanmu menjadi seperti ini," lanjutnya.


"Aku bekerja untuknya, dengan bayaran minim. Itu sepertinya sudah cukup membayar semua kebaikan dia," saut Budiman sedikit ketus.


"Ck ... jangan angkuh seperti itu, Bud. Aku tahu, Samudera itu berarti luas terbentang. Tak ada mata bisa mematok betapa luasnya samudera itu. Aku yakin ...."


"Maaf, aku tak sebaik itu," tukas Budiman cepat.


Pria itu melihat lagi jam di pergelangan tangan kirinya. Ia merasa waktu sudah lewat. Ia hanya berjanji akan keluar sebentar pada sepasang suami istri, tadi sore.


"Maaf, saya tinggal. Oh ya, jangan khawatir minuman kalian sudah saya bayar. Permisi," pamit Budiman bediri tegak.


Felia dan Andita sampai terpukau melihat ketegasan pria itu. Menatap punggung lebar Budiman yang perlahan meninggalkan cafe.


"Kita sudah berusaha. Ya, sudah sebaiknya kita tak perlu lagi menolong Leana. Kau tau, Budiman tadi begitu tampan. Aku yakin dia kaya raya. Aku mau merubah sikapku. Siapa tahu ...."


"Kalau begitu kita bersaing secara bersih, Felia. Aku juga mengidamkan pria itu!" saut Andita menatap teman yang kini jadi rivalnya.


Triana mengelus kepala putrinya dengan sayang. Kini, ada sedikit kelegaan. Janin di perut putrinya baru saja keguguran.


"Mama," panggil Leana dengan suara lemah.


"Iya sayang. Mama ada di sini," saut Triana kemudian mencium kening putrinya.


"Aku ...," Leana mengelus perutnya.


"Dia keluar secara sendirinya, sayang. Dokter bilang, kandunganmu lemah. Jadi terpaksa dikeluarkan karena akan membahayakan dirimu," jelas Triana sebelum sang putri bertanya.


Leana diam. Ia mematung. Kini harga dirinya sudah tidak ada lagi. Kepongahannya pun luntur setelah dirinya merelakan kesuciannya entah pada siapa.


"Tidak apa-apa sayang. Mama akan membawamu ke Singapura. Mama sudah siapkan semuanya data palsumu. Kau akan mengoprasi kembali keperawananmu" ucap Triana menenangkan gadisnya.


"Benarkah, Ma?" tanya Leana kini penuh harap.


Triana mengangguk, ia meyakinkan putrinya. Sebagai seorang ibu. Ia akan melakukan apapun untuk buah hati tercinta. Walau jalan yang ia tempuh salah dan malah mendorong putrinya semakin jauh kejurang. Ia tak memikirkan semuanya.


"Kau akan kembali gadis, sayang. Mama jamin itu," ujar Triana menjanjikan putrinya.


"Tapi, Andita dan Felia?"


"Jangan khawatirkan dua benalu itu. Jika mereka macam-macam dan membongkar aibmu. Mama sendiri yang akan menyingkirkan mereka berdua," sumpah Triana.


Leana akhirnya bisa tersenyum. Ia lega mendengar sumpah ibunya. Ia yakin ke depannya akan baik-baik saja.


"Aku bisa melangkah dengan kepala menegak lagi, nanti. Sayang, Budiman menjadi miskin, padahal dia tampan," gumamnya bermonolog.


"Sekarang kau mau apa sayang?" tanya Triana lembut penuh kasih sayang.


"Ma ... aku ingin meneruskan karirku, boleh?" tanya Leana lagi.


"Tentu saja. Mama akan mencarikan agen yang jauh lebih besar dari itu. Jika pun Mama harus keluar banyak untuk itu, tak masalah. Karena Mama yakin, kau memang berbakat menjadi seorang model internasional nantinya," ucap Triana menyanjung sang putri.


Leana membusungkan dadanya. Ia mempercayai kata-kata sang ibu. Padahal, banyak agen besar dan terkenal menolaknya.


Wajahnya memang cantik dengan tubuh lumayan tinggi, 160cm. Tapi, tidak ada fotogeniknya. Bahkan ia berkali-kali harus jatuh ketika berjalan di atas catwalk. Bahkan seluruh busana yang ia kenakan tidak ada yang cocok. Entah kenapa.


Leana memang tidak memiliki bakat menjadi model. Hanya karena dia terlalu berambisi. Ia memaksakan diri. Ibunya mendukung apapun keinginan anak gadisnya.


bersambung.


ah ... semestinya seorang ibu mengarahkan bakat anaknya. bukan menjerumuskannya. setuju?


next?