TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KESEDIHAN DARREN 2



Lidya berada dalam pelukan Haidar. Gadis kecil itu baru reda tangisnya. Terra menyuruh bik Romlah untuk pulang membawa makanan dan baju ganti. Karena tadi belum sempat karena pergi buru-buru.


Haidar menatap Terra yang tengah memberikan dot susu pada Rion. Bayi tampan itu merengek karena lapar.


Setelah Rion tidur. Terra meletakkannya di ranjang. Ruang perawatan Darren berada di kelas eksklusif. Jadi ada ranjang lain di sana selain ranjang untuk Darren. Haidar juga meletakkan Lidya di sana. Gadis kecil itu juga telah tertidur.


Haidar memeluk Terra. Gadis itu menenggelamkan tubuhnya dalam rengkuhan pria yang kini berarti dalam hidupnya.


"Menikahlah denganku, sayang. Agar aku bisa membantumu lebih dari ini," pinta Haidar lirih.


Terra menggeleng lemah.


"Kenapa kau menolak sayang? Apa aku tidak pantas berada di sisi mu?"


"Bukan itu, Mas. Tolong jangan katakan itu. Te, sangat sayang sama, Mas," jelas Terra dengan suara sangat lirih.


"Lalu, kenapa kau menolak menikah denganku jika kau sayang sama aku?'


"Karena Te, nggak akan sanggup jika kehilangan, Mas!" cicit Terra dengan suara bergetar.


"Sayang ...."


"Te rela kehilangan semuanya, bahkan nyawa Te sendiri. Tapi,Te, tak akan sanggup hidup jika harus kehilangan Mas."


"Mas ... tolong jaga mereka, jaga anak-anak. Mereka butuh seseorang jika Te, tidak ada ... Te ...."


Haidar membungkam mulut Terra dengan mulutnya. Diciumnya lembut bibir yang tadinya manis berubah dingin itu.


Haidar melepas ciumannya. Kening dan hidung mereka bersatu dengan napas menderu.


"Jangan katakan itu sayang. Kau segalanya bagiku dan anak-anak. Kita bisa berjuang bersama, sayang," jelas Haidar.


Terra menenggelamkan wajahnya di dada bidang Haidar. Memeluknya erat. Hanya gelengan sebagai jawaban dari permintaan Haidar.


"Ini terlalu berbahaya, Mas. Te nggak mau ngorbanin semua yang Te, sayangi. Te sudah merencanakan semuanya. Te, harap Mas mengerti," jelas Terra.


Tiba-tiba Kanya dan Bram datang.


"Terra, sayang!' panggil Kanya.


Haidar ternyata memberitahukan keadaan Darren kepada ibu dan ayahnya. Sehingga Kanya yang memang sangat menyayangi Terra langsung histeris mendengar hal itu.


"Mama ...."


Terra memeluk Kanya erat. Bram mengusap kepala gadis itu penuh kasih sayang.


Mereka duduk di sofa yang ada di ruang itu. Terra menyender di bahu Kanya. Mata cantik gadis itu bengkak karena kebanyakan menangis. bahkan hidungnya juga memerah.


"Tidak ... ini bukan salahmu, sayang. Darren memilih menceritakan semuanya karena ia ingin terlepas dari bayangan kelam dalam hidupnya itu," jelas Kanya menenangkan Terra.


"Sekarang apa kata Dokter?' tanya Bram.


"Darren nyaris kehilangan fungsi hati karena trauma yang ia derita, Pa," Haidar menjawab pertanyaan ayahnya.


Kanya dan Bram shock. Mereka tak menyangka, akibat kejadian itu nyaris membuat Darren menderita sejauh itu.


"Dokter bilang. Darren harus dibimbing untuk melewati traumanya. Kita harus mencurahkan kasih sayang untuknya dan menghilangkan ego kita," jelas Haidar lagi.


Kanya mengusap punggung Terra. Gadis itu kini mulai menenangkan diri. Dalam otaknya ia sudah menyusun rencana untuk kebaikan ketiga anaknya.


Dering ponsel Terra berbunyi. Rommy menelponnya.


"Halo Kak!"


"...."


"Tapi, Darren sakit Kak. Apa tidak bisa Kakak wakili dulu?"


"......!"


"Baik Kak. Nanti Te, segera ke sana. Tolong dihandle dulu, ya," ujar Terra lalu memutus percakapan.


"Ma, Pa. Mas Haidar. Boleh Te minta tolong jagain anak-anak. Terra harus ke kantor. Ada masalah sedikit," pinta Terra dengan nada tidak enak.


Sungguh gadis itu merasa dirinya kurang ajar. Memanfaatkan kebaikan kedua orang tua Haidar.


"Tenang saja, sayang. Mama akan jaga mereka," ujar Kanya menenangkan Terra.


"Oh ya. Nanti Bik Romlah datang membawa makanan dan pakaian anak-anak. Mama bisa kan tolong Bik Romlah?' lagi-lagi gadis itu memohon dengan nada sangat tidak enak kepada Kanya.


"Iya sayang. Jangan khawatir. Mama akan lakukan semuanya," jawab Kanya lagi kemudian mencium kening Terra.


Setelah menciumi Darren, Lidya dan Rion. Haidar memaksa diri untuk mengantar Terra ke kantornya.


Walau berkali-kali gadis itu menolak. Tapi, Haidar bersikeras. Pria itu ingin membuktikan diri, jika dengan dirinya. Terra tidak akan perlu mengkhawatirkannya. Justru ia akan membantu gadis yang ia cintai dengan mudah.


Dengan begitu Terra tak ragu untuk menerima lamaran dan menikah dengannya.


bersambung ...


ah ternyata ada udang dalam bakwan. Haidar ... Haidar.