TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG



Hari ini, Lidya pulang. Ia sudah membawa banyak oleh-oleh untuk semua orang yang ia sayang. Sebelum berangkat ia mengetik pesan pesan singkat pada seseorang.


(Bolehkah kita bertemu?)


Demian mengetik ....


(Benarkah? Kapan? Di mana? Sekarang?)


Lidya terkekeh membaca rentetan pertanyaan. Ia ingat bagaimana ia tahu nomor ponsel pria itu. Semenjak kasus Solomon, Demian selalu berhubungan dengannya.


(Di bandara ketika saya mau berangkat, bisa?) ketik Lidya.


Tulisan gadis itu cepat sekali dibaca oleh Demian dan langsung centang dua biru.


Demian mengetik ...


(Bisa. Jam berapa kau ada di sana?)


Lidya pun menulis pesan.


(Pukul 10.45.)


Centang biru tercetak.


Demian mengetik ...


(Baik aku ada di sana sebelum kau datang.)


Lidya tak menjawab pesan itu. Gadis itu meletakkan ponselnya di dalam tas. Ella, Sebastian, dan Bill kembali merengek memintanya untuk tetap tinggal.


"Babies ... kakak kan kerja di sana," ujar Widya.


Kini Bart akan bersamanya. Bram sudah pulang dua minggu lalu.


Widya kali ini ikut mengantar Bart dan Lidya. Gabriel akan mengajak mereka jalan-jalan setelah mengantar. Frans dan Leon ada perjalanan ke luar kota, jadi mereka tak ikut..


"Grandpa, aku nanti tak mengantarmu hingga ke dalam," ujar Gabe memberitahu.


"Ya, aku paham," ujar Bart memaklumi.


Butuh waktu satu jam setengah untuk sampai ke bandara. Gabe menurunkan keduanya dan membantu menurunkan koper-koper Lidya dan Bart. Bart tak membawa banyak baju, karena di Indonesia dia sudah mencukupi kebutuhannya. Begitu juga Lidya. Di Eropa Frans dan Leon sudah memenuhi lemari gadis itu dengan semua kebutuhannya.


Bart cukup terkejut ketika sampai di ruang tunggu sudah ada Demian di sana. Ia tak bersama asistennya.


"Loh, Tuan Jacob mana?" tanya Lidya.


"Kau ini ingin bertemu denganku atau Jacob?" tanya Demian gusar.


Bart menatap gusar pria yang tengah berbicara dengan cucunya itu. Demian menggaruk belakang kepalanya. Lidya tersenyum dan mengelus lengan kakeknya lembut.


"Boleh kan Grandpa?" pinta Lidya setengah memohon.


Bart mendengkus kesal, walau pada akhirnya ia berjarak sedikit jauh dari kedua insan itu.


"Saya hanya ingin memberikan ini pada, Tuan," ujar Lidya lalu memberikan satu kotak beludru warna hitam dengan cap branded ternama Vacheron Constantin. Demian membelalak sempurna. Jam yang sangat ia inginkan kini berada di tangannya. Bukan ia tak mampu membelinya, tetapi waktu dan kesibukan yang membuatnya tak sempat untuk membelinya.


"Ini ... ini untukku?" tanyanya dengan tatapan berbinar.


"Ya, itu hadiah untukmu, Tuan," jawab Lidya dengan senyum yang indah.


Demian langsung membuka jam tangan rolex-nya. Walau harga benda penunjuk waktu itu jauh lebih mahal dari hadiah sang gadis. Tetapi, benda indah itu sudah melingkar di tangan kiri pria itu.


"Terima kasih ... ini indah sekali," ujarnya penuh haru.


Tiba-tiba, Demian sedikit malu. Ia tak memberikan apa pun untuk gadisnya.


"Tapi, aku tak memberikan apa pun untukmu," ujarnya penuh penyesalan.


"Saya, tidak menginginkan apa-apa. Tindakan Tuan kemarin sudah lebih dari cukup," ujar Lidya tersipu.


Demian tersenyum. Pria itu ingin sekali menyentuh tangan gadis itu dan menggenggamnya. Tetapi, ia sangat tahu batasannya.


"Semoga kita ditakdirkan untuk bersama," ujar Demian.


"Aamiin," Lidya mengamini perkataan pria tampan itu dengan wajah tertunduk malu.


"Oh ya, berikan ini untuk Tuan Jacob," pinta Lidya memberi satu dasi dalam kotak berwarna navi dengan pola abstrak.


Demian cemburu, ia juga mau dasi dari gadisnya itu. Padahal jam tangan indah sudah melingkar di lengannya.


Tiba-tiba Lidya melepas dasi dari kerah Demian.


"Menunduk lah," pinta gadis itu.


Demian menunduk. Matanya menatap lekat iris coklat milik Lidya. Bart sudah menghela napasnya kesal. Lidya terkekeh sambil memasang kan dasi warna coklat bergaris untuk Demian.


"Terima kasih," ujar pria itu.


"Lidya, ayo!'


Bart sudah mulai kesal bukan main. Ia masih tak rela jika cucu kebanggaannya itu terlalu cepat memiliki pasangan.


"Baiklah ... selamat jalan, assalamualaikum," pamit gadis itu.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas Demian dengan senyum lebar.


Lidya pun berjalan. Bart mendatangi Demian lalu berbisik.


"Kau harus berhadapan denganku dulu jika ingin memiliki kesayanganku dan seribu singa lain yang melindungi gadis itu!"


Bart pun pergi menyusul cucu perempuannya. Demian menelan saliva kasar. Tiba-tiba dasi yang ada di tangannya diambil oleh seseorang.


"Hei!" sentaknya.


"Ini milikku, Tuan," ujar Jacob lalu membuka dasinya dan memakai dasi pemberian Lidya.


Demian mencibir bawahannya itu. Ia pun meninggalkan Jacob yang sibuk mengikat dasinya.


"Tuan tunggu!" teriaknya lalu berlari menyusul atasannya.


Pesawat jet milik Bart pun lepas landas. Selama delapan jam ke depan. Lidya dan Bart akan sampai ke negara asal gadis itu.


Sementara di rumah, Virgou yang akan menjemput keduanya. Haidar ada di luar kota bersama Rion, Herman juga sedang berada di luar kota.


"Te, aku lapar!" teriaknya.


Ia memang belum makan siang. Pekerjaannya sedikit menuntutnya tadi. Ia meninggalkan kantor dan menyerahkan semuanya pada Dav.


Terra menyiapkan makanan untuk kakaknya itu. Anak-anak semuanya tidur siang. Sore nanti, Satrio, Arimbi, Dimas, Dewa dan Dewi akan dijemput oleh pengawal mereka. Sedang, Kean, Cal, Maisya, Affhan dan Kaila akan pulang bersama Daddynya setelah mengantar kakak mereka. Darren sedang sibuk dengan beberapa proyeknya. Samudera akan pulang bersama ayahnya nanti.


"Jam berapa Lidya sampai nanti?" tanya pria beriris biru itu.


"Pulang malam nanti, sekitar jam 20.12.," jawab Terra.


Virgou mengangguk. Sekarang baru pukul 15.45. Masih lama. Pria itu memutuskan membangunkan anak-anak. Lalu membantu memandikan mereka semuanya. Pria itu sangat telaten mengurus anak-anak. Ia seperti Rion versi tuanya.


"Kakak mirip Rion deh. Anak-anak maunya mandi sama Kakak atau Rion. Jarang mau Te mandiin!" keluh wanita itu.


"Ya kan memang kalau turunan kan begitu," sahut Virgou sombong.


Terra mengerucutkan bibirnya padahal ia ingin sekali sering memandikan anak-anak. Tetapi, jawaban mereka kompak.


"Kita sudah besal, Mama!" ujar Kaila.


Semua mengangguk setuju. Terra sampai harus berdrama agar semuanya mau dimandikan olehnya.


Waktu berlalu. Anak-anak dari Herman sudah dijemput pengawal mereka, Darren pulang dengan lelah bersama dengan Budiman.


"Assalamualaikum!" ujarnya memberi salam.


"Wa'alaikumussalam," sahut Virgou dan Terra membalas.


Adik-adiknya melompat-lompat kegirangan. Darren langsung memberi ciuman hingga semuanya tergelak.


Samudera pun pulang bersama Budiman. Rumah sedikit sepi. Virgou sudah berangkat menjemput Lidya. Darren tak bisa ikut karena terlalu lelah. Terra memberinya kecupan hangat pada pemuda itu.


"Mama, Darren lelah mau minta suap," pintanya manja.


Dengan senang hati, Terra menyuapi pemuda tampan itu yang berimbas semua adik-adiknya ikut minta suap.


Malam pun beranjak anak-anak sudah tidur begitu juga Darren.


Virgou sudah datang setelah mengantar Bart. Dav sudah berada di rumah kakeknya itu. Setelah mengantar pria tua itu. Barulah Virgou mengantar Lidya.


Ternyata, Lidya juga sudah tertidur di mobil. Virgou menggendong anak gadis itu.


Terra langsung membukakan kamar Lidya. Darren membangunkan Kean, Cal, Maisya, Affhan dan Kaila.


Setelah membaringkan Lidya di kamarnya. Virgou masih harus mengangkat tubuh anak-anak nya dibantu oleh Darren. Setelah semuanya berada di mobil. Barulah Darren memeluk Virgou dan mengucap banyak terima kasih.


"Daddy makasih ... ba bowu!"


"Ba bowu pu!"


Mobil itu pun meluncur meninggalkan halaman rumah Terra.


bersambung.


kebayang cape nya Virgou.


next?