TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENGEJAR HATI TERRA



Jam kelas baru saja usai. Terra baru saja menyelesaikan kuisnya. Kepalanya sangat pusing setelah semalam hanya tidur-tidur ayam.


Kantung matanya hitam. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas meja. Memejamkan matanya sejenak. Ia masih ada kelas setengah jam berikutnya.


Salah seorang pria yang menyukai Terra sejak pertama kali, gadis itu datang ke kampus, menghampiri. Menarik kursi dan duduk dekat Terra.


"Te," panggilnya dengan suara pelan.


"Hmmm," saut Terra.


Pria bernama Aidil ini, menyentuh rambut Terra dan merapikannya. Gadis itu langsung terbangun ketika merasa ada orang yang menyentuhnya.


"Dil ... ada apa?" tanya Terra dengan mata menyipit.


"Kamu terlihat lelah. Kenapa, habis begadang gara-gara kuis, ya?" tanya Aidil sambil tersenyum.


Terra sebenarnya risih jika terlalu akrab dengan orang. Sifat pendiam dan introvert membuat ia tidak pandai bergaul.


Gadis itu hanya menanggapi senyum tipis, pendapat Aidil. Pria hitam manis itu kini menarik kursi lebih dekat dengan gadis itu. Mencoba mengakrabkan diri.


"Te ... boleh tanya sesuatu nggak?"


"Tanya apa?"


Ekspresi datar dan dingin yang diperlihatkan oleh Terra tak membuat Aidil mundur. Pria hitam manis dengan lesung pipit itu, terus berusaha merobohkan dinding yang memerisai gadis itu.


"Aku lihat kamu, tidak begitu banyak teman. Kenapa?" tanya Aidil.


"Harus aku jawab?' Terra kembali bertanya.


"Ya, terserah sih. Karena Sisil yang juga pendiam itu masih memiliki sahabat yaitu Husni," jawab Aidil dengan alis bertaut.


"Husni bukan sahabat Sisil. Jika memang, Sisil tidak selalu menangis akibat perbuatan pria tengil itu," jawaban gamblang Terra membuat Aidil menganga.


Pria itu tak menyangka, sifat diam yang dimiliki gadis yang ada di dekatnya ini, Ternyata untuk mengamati kelakuan orang disekitarnya.


"Wah, kamu pengamat juga ya?" terka Aidil.


"Maaf, bisakah duduknya agak jauhan. Saya sedikit kurang nyaman," ujar Terra sopan.


Aidil menggeser kursinya sedikit menjauh. Hanya sedikit. Terra menghela napas panjang.


"Kamu cantik," puji Aidil.


Siapa pun gadis yang di cantik pasti akan merona malu, begitu juga Terra. Wajah gadis itu seketika memerah. Aidil yang melihat rona wajah Terra begitu terpesona.


"Kamu jadi semakin cantik, jika malu seperti ini, Te," ujar Aidil kembali memuji gadis yang sudah hadir di setiap mimpinya itu.


"Te ... boleh nggak aku jadi salah satu teman dekat kamu. Aku rasa, sudah cukup kamu menutupi hati kamu. Ijinkan aku ikut andil di setiap langkah kamu."


"Te ... aku suka sama kamu."


"Tapi aku sudah punya pacar."


Deg!


Hati Aidil langsung berdarah mendengar ucapan Terra. Bagaimana gadis pendiam itu sudah punya pacar. Tidak ada yang tahu siapa pria yang berhasil mendapatkan hati gadis itu. Aidil tak pernah melihat Terra berjalan dengan pria mana pun.


"Kamu sudah punya pacar?' Terra mengangguk membenarkan.


"Siapa? Kamu nggak bohong kan?" tanya Aidil tak percaya.


"Apa untungnya aku berbohong?" tanya Terra merasa aneh.


"Ya, kamu bilang sudah punya pacar agar tidak ada lelaki mana pun mendekati kamu, padahal kamu masih sendiri!" ujar Aidil sedikit emosi.


Terra menaikan alisnya sebelah. Gadis itu merasa ia tak perlu menjelaskan apa pun perihal pribadinya kepada siapa saja.


"Maaf Dil. Tapi aku sudah punya pacar. Siapa dia, kamu nggak perlu tau!" ujar Terra langsung bangkit dari duduknya.


Gadis itu mulai kesal. Keinginannya untuk sekedar memejamkan mata sejenak agar pusingnya sedikit reda. Kini makin bertambah akibat kelakuan Aidil.


"Te, tunggu!"


"Cukup, Dil!' sentak Terra.


"Jika kamu masih ingin menjadi temanku. Cukup kan keingintahuan mu tentang aku!" Terra memberi peringatan pada Aidil.


"Kita tak perlu akrab. Karena aku bukan seorang yang baik untuk sekedar dijadikan teman."


Aidil terdiam. Pria itu kecewa akan sikap yang ditunjukan gadis idamannya. Tapi, segera ia singkirkan rasa kecewa itu.


Terra meninggalkan Aidil. Gadis itu menuju kantin untuk mengisi perut yang sedari tadi minta di isi. Hari ini Haidar tidak ada kelas. Jadi pria itu tidak akan datang ke kampus.


"Aku akan mendapatkan hatimu Te!' ujar Aidil pelan sangat pelan. "Aku pastikan itu."


Aidil beranjak dari kelas. Keinginannya untuk mendapatkan Terra makin kuat. Ia yakin jika gadis itu belum punya pacar.


Aidil keluar kelas dengan langkah tegap. Menyampirkan ransel di punggungnya. Pria itu menyusul Terra ke kantin.


"Jangankan kamu, Dil yang ingin mendapatkan hati Terra. Gadis CEO, siapa yang tidak mau berdiri di sampingnya," gumam seorang pemuda seusia Terra.


Berita Terra menjadi seorang CEO tentu sudah merebak di kampus. Semua pria yang ada di kampus itu mulai berusaha mencuri perhatian gadis itu. Tidak hanya pria. Tapi, banyak juga gadis-gadis yang berebutan ingin menjadi teman bahkan sahabat Terra.


bersambung.