TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PUSPITA 3



Puspita tak menggubris perkataan ibunya. Gadis itu masih menunggu hasil operasi sang ayah. Matanya masih menatap pintu yang tertutup rapat tersebut.


Shama Anidsar adalah nama ibu, Puspita. Ibu dari sepasang anak ini berisi lima puluh dua tahun. Selain Puspita ia juga memiliki seorang putra, bernama Aindra Hasan, yang berusia dua puluh dua tahun. Putranya sudah menikah dan memiliki putra juga. Mereka tinggal di luar kota. Besok mereka baru tiba.


"Berdoalah, Uni," ucap Shama lembut sambil membelai pucuk kepala putrinya.


Shama sangat mengerti, bagi anak perempuan ayah adalah segalanya, cinta pertamanya. Terlebih sang ayah Bernama Basri Hasan sangat menyayangi Puspita.


Sudah lewat maghrib. Virgou tadi pamit entah kemana. Sedangkan Basri sudah keluar dari kamar operasi setengah jam yang lalu.


Hingga sekarang, Basri belum sadar karena overdosis anastesi. Kondisi yang tiba-tiba drop dan kehilangan banyak darah. Membuat operasi berjalan cukup lama dan sedikit menguras tenaga para dokter. Bukan itu saja, nyawa pasien pun menjadi taruhannya.


Virgou membawakan satu paper bag makanan. Shama dan Puspita menoleh ketika Virgou masuk sambil mengucap salam. Pria itu terlihat segar, sepertinya habis mandi. Wajah tampannya sangat mempesona. Terlebih senyum manis ia terbitkan. Puspita jadi tertegun memandang wajah pria itu.


Shama tersenyum sendiri melihat putrinya tertarik dengan kaum adam. Pasalnya, wanita setengah abad itu sempat khawatir karena putrinya itu sangat tomboy. Tak ada satu pria yang berani mendekati Puspita semenjak gadis itu akil baliq, terlebih ketika sang putri menguasai bela diri.


"Ganteng ya, mantu Mama," puji Shama sambil menyenggol lengan putrinya.


"He'em ...," sahut Puspita sambil mengangguk.


Tiba-tiba gadis itu tersadar. Ia menoleh ke arah ibunya yang terkikik geli. Puspita jadi malu setengah mati.


"Mari, Bu. Makan dulu, saya sudah belikan makanan untuk ibu dan calon istri saya," ajaknya setelah menata makanan di meja sambil mengedipkan matanya pada gadis itu.


Puspita mengerucutkan bibirnya. Betapa Virgou menelan ludah berkali-kali. Ia langsung memejamkan mata dan menghembuskan napas perlahan.


"Wah, perhatian sekali calon mantu, Mama. Panggil Mama saja ya, jangan Ibu," ujar Shama sambil tersenyum.


"Baik, Ma," sahut Virgou.


Puspita makin merona. Gadis itu mengucap terima kasih. Ternyata harumnya makanan membuat sang ayah terbangun.


Puspita yang baru saja menyuapkan makanan pun terhenti. Ia meletakkan sendoknya kemudian menghampiri ayahnya.


"Ayah sudah sadar!"


Puspita langsung memencet bel. Para dokter berdatangan, langsung memeriksa. Lima belas menit dokter memeriksa.


"Bagaiman Dok?" tanya Puspita penuh harap.


"Alhamdulillah, tekanan darah pasien stabil begitu juga detak jantungnya," jelas dokter sambil menghela napas lega.


"Sebentar lagi, para perawat akan mengantarkan makanan juga obatnya," ucapnya kemudian pamit undur diri.


"Terima kasih Dok."


Dokter mengangguk lalu pergi dari ruangan itu. Shama mencium kening suaminya. Sang suami tersenyum, wajahnya masih pucat. Pria itu menatap adanya pria asing di sana.


"Dia calon mantu kita, Pa," lapor Shama sambil mengulas senyum.


"Benarkah?" tanya Basri.


Ada sedikit ketidak relaan pria itu ketika melihat wajah pria bule yang mengaku calon suami putrinya. Berita buruk yang ia dengar tentang pria berkebangsaan asing pun, membuatnya tidak percaya penuh, jika pria itu bisa membahagiakan putrinya. Basri hanya diam.


Dua perawat membawa baki berisi makanan. Menyetel tempat tidur agar pria itu bisa nyaman makan. Bubur halus seperti makanan bayi.


Shama menyuapi suaminya. Ia pun menyuruh putri dan Virgou makan terlebih dahulu. Usai menyuapi suaminya makan dan meminum obatnya. Ia pun memposisikan kembali tempat tidur suaminya, kemudian melanjutkan makannya.


Tak lama meminum obat, Basri kembali tertidur. Puspita membersihkan sisa makan mereka.


"Ah, ya Nak, Virgou, kapan kalian bertemu dan di mana?" tanya Shama membuka obrolan.


"Saya kenal, Ita di kantor tempatnya bekerja. Saya salah satu pelanggan yang sering menggangu, Ita bekerja, Ma," jawab Virgou enteng.


"Astaga, apa putriku menyusahkan mu, Nak. Dia itu agak ...," Shama menghentikan ucapannya.


Wanita itu menyorongkan wajahnya sedikit dekat ke Virgou, sambil mengangkat telapak tangan seperti orang berbisik.


"Galak," lanjutnya.


Virgou terkekeh geli. Bukan itu yang pertama kali dilihat oleh pria itu. Justru ia melihat sisi liar yang ditahan gadis itu ketika melihatnya pertama kali.


"Tidak, Ma. Ita nggak galak, dia sangat profesional. Makanya saya langsung menyukai dia," jawab Virgou sambil menatap lekat wajah Puspita yang bersemu merah.


Beruntung wajah Ita tak putih. Jadi gadis itu masih bisa menyembunyikan rona itu di wajahnya.


Virgou hendak membelai wajah sang gadis pujaan. Sontak secara reflek, Ita menepis kasar tangan Virgou. Sampai sang ibu menegur putrinya.


"Hei, jangan gitu. Pamali!" Ita mengerucutkan bibirnya.


"Hafalin dulu juz 'ama baru boleh pegang. Kalau bisa ngalahin aku tiga ronde di dojo besok," tantang Puspita dengan wajah angkuh.


"Nak!" Shama memperingati.


"Jangan merendahkan laki-laki dengan tantanganmu. Kau tahu, jika ia kalah, akan merendahkan martabatnya karena dikalahkan oleh wanita. Jika pun ia menang, ia akan menghancurkan sendiri dirinya. Karena tentu ia akan menang melawan seorang wanita!" tegur Shama tak menyukai prilaku putrinya.


Puspita menunduk. Gadis itu takut jika sang ibu sudah mulai tegas seperti itu. Virgou tertegun akan pembelaan dari wanita yang notabene adalah ibu kandung gadis incarannya itu.


Namun, ketika mendengar pembelaan sang calon mertua. Membuatnya sangat terharu. Terlebih semenjak kecil, ia selalu disudutkan, disalahkan juga dimarahi. Terlebih ia dulu selalu dibandingkan dengan mendiang om-nya.


"Tapi, untuk hafal juz'ama boleh juga," lanjut Shama sambil menantang pria tampan itu.


"Boleh, mau surah apa? Bagaimana jika saya baca ini Surat ke-96 Al ‘Alaq yang artinya Segumpal Darah ada sembilan belas ayat?" aju Virgou.


Puspita mengangguk antusias. Virgou berkumur terlebih dahulu dan membuang airnya di wastafel dekat kamar mandi. Pria itu memulai bacaannya.


Shama tertegun mendengar bacaan Virgou. Memang tidak berlagu. Namun ia memahami jika pria itu baru saja belajar bacaan. Tidak banyak koreksi, hanya terus sering dibaca hingga terbiasa.


Puspita terhenyak mendengar bacaan surah dari pria bule dengan karakter dingin, kaku dan tampang playboy seperti Virgou. Satu titik air bening jatuh secara spontan. Gadis itu segera menghapusnya.


"Bagaimana? Apa sudah bisa diterima?" tanya Virgou meminta pendapat.


"Bagus, Nak. Teruslah membacanya, agar lidah terbiasa," sahut Shama lembut sambil menggenggam tangan pria itu dan mengelusnya.


Virgou yang baru merasakan kelembutan seorang ibu jadi terharu.


"Abis dia kan belum ngasih liat kekuatannya bertarung," gumam Puspita.


"Loh, dia tadi nolongin kamu dari para begundal itu loh," sahut Shama yang mendengar gumaman putrinya.


Shama sudah mengetahui pasal sang putri yang dihadang oleh enam pria yang menyerangnya. Beruntung atasan juga suaminya begitu juga Virgou datang menolong.


"Iya, siapa yang nggak takut, orang dia ngeluarin senjatanya," sahut Ita menggerutu.


Dalam pikiran Shama, senjata yang di maksud Ita, sama dengan yang ia pikirkan.


"Semua pria pasti punya senjata," sahut Shama enteng.


Virgou sedikit bingung. Ia menatap calon mama mertuanya. Apakah wanita paru baya ini tahu masalah senjata yang ia bawa.


"Emang semua pria membawa senjatanya kemana-mana, Ma?" tanya Ita polos.


Virgou mulai rancu dengan percakapan ibu dan anak perempuannya ini.


"Ya, pasti. Kalau tidak bagaimana ia bisa nembak jika nggak bawa senjatanya," jawab Shama enteng.


Virgou makin penasaran, apakah keduanya sadar jika mereka membahas senjata yang berbeda.


"Bahkan dikeluarkan di depan umum?" tanya Puspita lagi-lagi dengan wajah polosnya.


Dipikiran Shama, pria yang mengeluarkan senjata di tempat umum adalah, mereka yang kebelet pipis hingga harus pergi ke balik pohon.


"Ya jika darurat, mau bagaimana lagi. Nggak masalah kok," jawab Shama enteng.


Virgou nyaris terbahak. Jelas sudah jika keduanya membahas senjata yang berbeda. Pria itu hanya bisa menggelengkan kepala.


'Asik nih Camer, ngobrol ama dia nggak bakalan boring,' gumamnya dalam hati.


"Mama pulang aja istirahat. Biar Ita yang nungguin Papa," ujarnya Puspita meminta sang ibu agar pulang beristirahat.


Shama menggeleng sambil tersenyum. "Bakti seorang istri adalah menjaga suaminya ketika sakit. Bakti seorang anak adalah mematuhi perintah orang tuanya."


"Bagaimana jika Mama dan Ita yang pulang. Biar saya yang menjaga Papa," usul Virgou.


"Jangan!" seru keduanya menolak.


"Ayolah ... ijinkan saya menjaga Papa. Biar saya menunjukkan diri sebagai calon menantu dan suami yang baik," pinta Virgou memohon.


Akhirnya Shama menghela napas kemudian mengangguk. Memang, perjuangan terberat seorang laki-laki ketika bertemu dengan keluarga perempuan adalah menaklukkan hati sang ayah. Wanita itu pun mengangguk.


"Tapi, jam segini nggak ada mobil atau angkot ke rumah," ujar Puspita.


"Aku sudah menyuruh supir Terra mengantar kalian ke rumah," sahut Virgou.


"Tapi ...."


"Sudah jangan mengelak. Terra tak mempermasalahkan semuanya," potong pria itu cepat.


Akhirnya, kedua wanita itu pun pulang, diantar oleh Budiman menggunakan mobil Jeep pria itu.


Bersambung.


Et ... dah perkara senjata bisa panjang gitu obrolannya.


next?


eh tau nggak novel Terra jatuh di posisi 40 an loh.


please share Novel ini ke sosmed kalian agar banyak yang baca trus vote and kasih hadiah.


makasih


ba bowu