TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SURAT CINTA DARI LIDYA



Lidya menatap kertas harum yang baru ia dapatkan dari pria kesayangannya. Gadis kecil itu menatap dengan mata berbinar. Berkali-kali ia mencium wangi kertas itu.


"Mama ... keltasnya bagus, ya. Ini boleh disimpen?" tanya Lidya ketika menunjukan kertas itu pada ibunya.


"Kalau disimpen nanti wanginya hilang sayang," jawab Terra kemudian.


"Telus, mesyti apa?" tanya Lidya bingung.


"Harus nulis. Lidya bisa nulis surat cinta buat semua orang yang Lidya, sayang," ujar Terra menerangkan.


"Oh, oke Ma," sahut Lidya.


Tampak ia berpikir lama. Lalu ia pun duduk di meja belajarnya. Ia kini memiliki meja belajar di ruang bermainnya. Terra hendak mengintip. Lidya langsung menyembunyikan kertasnya.


"Eunda boleh lihat, Mama!" rengeknya.


"Iya, sayang, hehehe!"


Terra pun menjauh. Lidya sekarang bisa menulis dan membaca. Ia pun seperti serius dengan apa yang ia lakukan.


Haidar datang bersama Rion. Darren ada di kamarnya tengah menyelesaikan tugasnya. Haidar melihat putrinya tengah serius menulis di kertas yang tadi diberi oleh Budiman.


"Lidya sedang apa, sayang?" tanya Haidar. Ia menengok kertas yang ditulis putrinya itu.


"Nulis surat Papa," jawab Lidya lalu menutup kertasnya.


Haidar cemberut. Ia sangat penasaran. Tapi, pria itu menghargai usaha putrinya. Maka sebisa mungkin ia menahan segala keingin tahuannya. Terra sedang menyiapkan kudapan. Ani membawa termos air panas ke depan. Para pengawal kehabisan air untuk membuat kopi katanya.


"Buat apa sayang?' tanya Haidar sambil memeluk pinggang ramping istrinya.


Terra kembali langsing. Wanita itu hanya gemuk selama dua bulan saja. Lalu kembali langsing.


"Bikin pancake, sayang," jawab Terra.


"Mama, Ion mawu pantu Mama!"


Haidar mendatangi Rion dan menaikan di atas meja. Lalu tepung dituang ke dalam baskom besar. Rion mengambil tepung lalu menorehkannya pada wajah ayahnya. Balita itu tergelak. Haidar pun menyurukkan wajahnya ke wajah Rion. Maka olesan tepung juga mengenai wajah balita itu.


Keduanya tertawa. Terra hanya bisa menghela napas panjang. Tetapi membiarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan.


Lidya berhasil menulis satu surat. Kemudian ia lipat dan dimasukkan ke dalam amplop, memberinya nama untuk siapa surat itu. Kemudian ia pun menulis surat lagi.


Adonan pancake sudah siap. Sedangkan baik Haidar dan Rion dipenuhi tepung. Terra menyuruh mereka mandi.


"Mandi sana. Habis mandi baru makan pancake!"


"Oteh Boss!" saut keduanya.


Haidar menggendong Rion lalu menciuminya. Balita itu tergelak. Terra hanya bisa mengelus dadanya. Ia menatap Lidya yang masih setia menulis surat. Wanita itu mengecup kepala putri kecilnya. Sekaligus melirik tulisan Lidya. Sayang, Terra tetap tidak bisa mencuri lihat apa yang ditulis putrinya itu. Ia akhirnya masuk kamar melihat empat anak kembarnya. Ternyata, baby Nai, baby Sean, baby Al dan baby Daud sudah bangun dan memainkan kaki mereka. Saling menyemburkan ludah.


"Assalamualaikum, selamat sore baby," sapa Terra menciumi keempat anaknya.


Haidar dan Rion sudah siap mandi. Mereka sama-sama mengenakan handuk yang dililit di pinggul mereka.


Terra lagi-lagi hanya menggeleng kepala. Menyiapkan semua pakaian suami dan anaknya. Lalu ia ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk mandi keempat bayinya.


Semua sudah siap mandi. Terra membawa satu persatu anaknya ke ruang bermain. Ternyata Lidya sudah selesai dengan kegiatannya. Ia menulis banyak surat. Terra yakin semua surat itu untuk keseluruhannya. Hanya saja wanita itu tak tahu siapa orang pertama diberi surat cinta dari Lidya.


"Sayang, ayo mandi," ajak Terra.


Darren keluar kamar, ia sudah rapi. Pria kecil itu langsung bergabung dengan adik-adik dan papanya. Lidya dimandikan oleh Terra.


Selesai mandi dan memakai baju. Mereka pun bercengkrama. Saling bercanda. Rion adalah pemusat segalanya. Adik-adiknya hanya mengikuti apa kata Rion, kakak mereka.


Waktu berlalu. Makan malam baru saja selesai. Lidya mengambil surat yang baru saja ia tulis.


Jantung Terra berdegup kencang. Ia sangat ingin tahu siapa orang pertama yang mendapat surat dari putri kecilnya itu.


Lidya ternyata mendatangi Darren, kakaknya.


"Kakak, ini buat Kakak," ujarnya sambil memberikan surat itu.


Darren menerimanya. Ia tersenyum lalu mengucap terima kasih. Pria kecil itu memasukkan surat ke dalam kantung celananya.


Baik Terra maupun Haidar sangat penasaran dengan isi surat Lidya. Gadis kecil itu berlari ke teras di mana Budiman berada. Ternyata surat kedua untuk pria itu. Haidar sangat cemburu.


Satu persatu orang di rumah mendapat surat cinta dari Lidya. Haidar pun mendapat surat itu, lalu terakhir kepada Terra.


"Sudah semua. Iya, bisya bobo tenang," ujarnya lalu tersenyum.


Di teras. Budiman membuka surat cinta dari nona kecilnya. Perlahan dengan degup jantung berdebar.


"*Assalamualaikum, Om Budi.


Terima kasih sudah memberi kertas ini buat Iya.


Om, makasih ya, sudah jagain Mama, Papa dan kami semua.


Selamat berjuang Om. Semangat!


i love you.


Lidya*.


Budiman menangis haru. Ia tak keberatan jika nona kecilnya itu meminta kertas surat itu lagi dan lagi. Pria itu mencium surat itu lalu dilipat kembali dan disimpan dalam dompetnya.


Sedangkan di kamar, Darren membuka surat cintanya.


*assalamualaikum kakak Darren sayang.


kakak adalah malaikat pelindungnya Iya dan baby. Iya tidak tau apa jadinya kami berdua jika Kakak tidak ada.


Makasih untuk selalu melindungi kami, hingga kita mendapat malaikat lainya yang selama ini kita rindukan, yakni Mama.


Kakak ... Iya sayang sama Kakak. Kakak adalah segalanya bagi Iya.


I love you kakak


Lidya*.


Darren terharu. Ia mencium kertas itu dan melipatnya, lalu ia simpan dalam meja belajarnya.


Sedangkan di kamar. Terra tak sabar ia langsung membuka surat cinta yang Lidya tulis untuknya.


*assalamualaikum, Ma.


Tidak ada kata yang bisa Iya ungkapkan selain.


I love you Mama.


Terima kasih sudah hadir menjadi malaikat pelindung, Iya, Kakak Darren dan baby Rion.


Terima kasih telah mendahulukan kami diatas segalanya. Terima kasih telah menjadikan Iya, Kakak Darren dan baby Rion anak Mama.


Mama lah malaikat yang selalu kakak Darren sebut. Setiap Iya menangis. Mama lah yang selalu Kakak Darren janjikan akan datang mencintai Iya dan baby Rion.


"Sabar ya dik. Mama yang sayang kita sebentar lagi datang."


Kata-kata itu lah yang membuat Iya dan baby Rion semangat dan tidak menangis kalau Mama Icha jahat lagi.


Mama ...


i love you ... i love you so much.


Lidya*


Terra menangis haru. Ia menciumi gadis kecilnya yang sudah terlelap dari tadi. Haidar belum membuka suratnya. Pria itu sedikit takut.


"Mas, baca suratnya!" pinta Terra merengek.


Haidar menghela napas panjang. Ia pun sama penasarannya dengan sang isteri. Pria itu mulai membaca isinya.


assalamualaikum Papa.


papa adalah pria pertama yang sayang sama Iya, kakak Darren dan baby Rion.


papa adalah pria pertama yang mau memeluk Iya pas nangis. Papa adalah pria pertama yang bilang Iya adalah anak papa.


makasih ya Pa.


papa adalah pria hebat yang pernah Iya temui. Makasih sudah datang Pa.


I love you.


Lidya.


Haidar menahan tangisnya. Air matanya keluar begitu saja. Terra menutup mulut. Kini ia sangat tahu. Betapa buruk kelakuan mendiang ayahnya dulu pada ketiga anaknya. Tak ada pelukan bahkan kecupan sayang.


Perhatian pun ala kadarnya saja. Hati Terra begitu teriris sembilu. Haidar memeluk istrinya menenangkannya.


"Apa yang kau lakukan sudah benar, sayang," ujarnya hangat.


Terra membenamkan dirinya pada pelukan hangat sang suami. Wanita itu sangat beruntung mendapatkan Haidar. Begitu juga sebaliknya.


bersambung.


i love you readers. othor nangis pas nulis ini.


next?