TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CACING YANG HARUS DIBASMI 3



Virgou dan istrinya pulang sore hari. Mereka tidak datang sendiri, tapi bersama anak-anak. Besok sabtu hari libur nasional. Virgou memboyong mereka, ia sudah meminta ijin Terra dan Haidar. Mereka akan menyusul sebentar lagi.


Mereka turun. Herni yang melihat tuannya pulang membawa anak-anak kecil langsung mencibir. Gadis itu tidak menyukai ketiga anak itu terutama yang paling kecil.


Rion pernah mengerjainya. Bayi itu memakan pisang dan kulitnya sengaja di letakkan di lantai. Padahal tempat sampah berada lebih dekat dengan bayi itu ketimbang tempat Herni waktu itu berdiri.


Herni mendapati bayi itu berjalan mundur sambil menatap dirinya dengan seringai licik. Herni yang memang tidak melihat lantai. Asal berjalan dan terinjaklah kulit pisang itu, yang membuat kakinya sebelah merosot ke depan.


Ia semakin tak menyukai bayi itu, ketika mereka bukan memarahi atau setidaknya menghukum Rion malah. Menasihati.


"Anak kecil mana mempan dibilangin. Mending disabet kaki atau tangannya," gerutunya kesal walau hanya berani dalam hati.


Herni selalu beradu tatapan horor dengan bayi itu. Bukannya takut. Rion malah balik menantangnya.


"Untung Lo anak majikan yang gue sayang. Gue pastiin Lo nggak bakal ke rumah ini lagi. Karena gue bakal ngasih dia anak yang lebih cakep dari Lo," gumamnya sambil tersenyum miring.


Rion yang tengah digendong Puspita, menoleh arahnya. Herni melotot.


"Daddy, wowang ipu biat-biat Ion metotot!' adunya sambil menunjuk Herni.


'Mampus. Dia malah ngadu. Sial!!' makinya dalam hati.


Virgou menatap Herni nyalang. Pria itu memang sudah tidak menyukai pembantu itu. Herni memilih kabur dari tempatnya menuju dapur.


"Sial, sial, sial!" umpatnya pelan.


"Kenapa kamu, cari masalah lagi?!" sergah Inah ketika mendengar Herni mengumpat.


"Nggak usah ikut campur!" bentak Herni.


Inah semakin lama semakin kesal dengan tingkah teman sekerjanya ini. Ia akhirnya memutuskan untuk mengatakan semuanya pada tuannya saat ini juga, agar sang majikan bisa memberi keputusan.


Inah segera mendatangi tuannya. Mereka sedang bercengkrama dengan anak-anak di taman belakang. Belum sampai taman, pintu rumah diketuk. Inah langsung bergegas membuka pintu. Terra dan Haidar muncul langsung mengucap salam. Inah membalas salam dari adik majikannya itu.


"Apa kabar, Nyonya, Tuan," sapanya.


"Alhamdulillah, baik. Kak Inah, apa kabar juga?" balas Terra ramah.


"Alhamdulillah baik, Nyonya," jawab Inah sambil mengulas senyum.


Mereka berjalan menuju taman. Menyambangi Virgou dan Puspita juga anak-anak.


"Tuan, bisakah saya bicara sebentar," ujar Inah langsung. Ia sudah tidak dapat menahan semua kekesalannya.


"Ada apa, Nah?' tanya Virgou. Ia menatap Inah yang menahan kesal.


'Ini masalah Hernia eh Herni, Tuan..Saya sudah tidak nyaman dengan prilakunya di sini," ujar Inah langsung memberi tahu tujuannya.


Terra menjauhkan anak-anak agar tidak mendengar perkataan Inah dan Virgou. Terra mengenal Inah. Inah adalah kakak seniornya di kampus. Gadis yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu tengah menjalani perkuliahannya. Sekarang Inah sudah mencapai semester akhir.


"Kenapa dengan Herni?' tanya Virgou.


Inah langsung menceritakan semua kelakuan Herni kemarin. Bahkan semua perkataan dan khayalan teman seprofesinya itu.


"Semalam, saya mendapati ia memakai baju tidur yang seksi. Ia sepertinya ingin menggoda tuan dengan bajunya. Bahkan cara ia tidur itu membuat saya ...," Inah menghentikan ucapannya.


"Jijik," lanjutnya.


Puspita tertawa mendengar cerita Inah. Haidar hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir ada perempuan mampu merendahkan diri serendah itu.


"Kelakuan Hernia membuat saya tidak nyaman bekerja, Tuan," ujar Inah langsung mengemukakan keengganannya.


"Baiklah. Panggil ia ke sini. Aku ingin lihat tingkahnya menggodaku," ucap Virgou menyuruh Inah memanggil Herni.


"Sayang, bisa kau main sebentar dengan anak-anak. Aku dan Haidar ingin sedikit memberi pelajaran pada gadis tak tahu malu itu," pinta Virgou lembut.


Inah yang berada di ruang belakangan. Melihat Herni tengah ongkang-ongkang kaki. Ia sedang berakting jadi nyonya besar.


"Nunik, pastikan baju suami saya itu bersih, rapi dan wangi, ya," titahnya pongah.


"Hei ... kamu mabok ya. Emang siapa suamimu?!' sindir Nunik sarkas.


"Virgo Blek doger yong!'


Nunik tertawa terbahak-bahak. Ia menertawai ucapan Herni yang salah.


"Orang udik kek Lo mo jadi istri Tuan besar?" Nunik menggeleng tak percaya. "Nyebut namanya aja salah!"


"Kek Lo bisa aja! Namanya kan bule, jadi susah lah nyebutinnya!" sergah Herni membela diri.


"Nama Tuan itu. Virgou Black Dougher Young. Tau nggak Lo!'


"Ah kedengarannya juga sama aja!' ucapnya kekeh membela diri.


"Her, kamu dipanggil sama Tuan!' ucap Inah memberi tahu dengan ketus.


"Tuh, apa gue bilang. Dia udah jatuh cinta ama gue. Lo liat aja ya ... Lo sama Lo ...."


"Banyak bacot Lo. Buruan sana!' bentak Inah tak sabaran.


Herni yang memakai mini dress warna hijau tanpa lengan, dengan potongan leher berbentuk kotak. Ia menggelung rambutnya ke atas. Memberi kesan jenjang leher yang belakangnya hitam. Inah nyaris tertawa melihat leher belakang Herni. Tapi, ia membiarkannya.


"Ah, beres juga semua setrikaan. Entar tinggal bilangin, Nyonya kalo udah siap semuanya," ujar Nunik setelah meletakkan kemeja tuannya pada hanger dan menggantungnya di troli khusus.


Nunik mendorong troli berisi pakaian milik majikannya. ke sebuah ruang khusus. Inah pun ikut membantunya. Kembali merapikan sedikit pakaian-pakaian yang baru diseterika tadi.


"Eh, kita liatin Herni, diapain sama Tuan, yuk," ajak Inah penasaran.


Ia ingin sekali menertawakan rekannya itu. Nunik juga penasaran. Ia juga mulai kesal karena ulah Herni makin lama makin membuatnya stress.


"Hayuk!' ujarnya semringah.


Keduanya pun langsung menuju taman belakang. Bersembunyi di tempat yang memungkinkan. Sedang Herni yang tengah berjalan begitu anggun, menurutnya. Begitu sangat percaya diri.


Di otaknya sudah tergambar apa yang bakalan terjadi. Virgou akan menyambutnya dengan ciuman panas. Gadis berusia dua puluh tahun itu begitu antusias menyambangi tuannya.


Ketika ia hampir sampai taman, ia melihat pria lain yang sama tampannya dengan tuannya. Herni menyipitkan mata. Ia ingat siapa pria yang duduk dengan kemeja yang kancingnya sengaja dibuka tiga buah. Menggelung lengan kemejanya hingga siku. Membuat sulur ototnya terlihat. Seksi di mata Herni. Gadis itu menelan saliva. Terlebih Haidar tertawa begitu juga Virgou.


"Ah ... tawamu membuat hati dedek meleleh, bang!' racaunya.


Herni berjalan dengan dagu terangkat. Virgou menatapnya begitu juga Haidar. Gadis itu semakin terbang ditatap sedemikian rupa oleh dua pria tampan.


"Tuan," ucapnya dengan suara mendesah.


"Herni ...."


Suara Virgou mampu membuat gadis itu belingsatan. Jantungnya berdegup kencang. Terlebih area bawahnya ikut berkedut. Pesona Virgou memang luar biasa.


"Ah, jadi ini yang namanya Hernia?' tanya Haidar.


Sreet! Down.


Rasa melambung dan terbang di awan tiba-tiba harus terhempas terjun bebas ketika ada yang menyebut namanya. Hernia.


bersambung.


Othor ketawa so hard ngetik kisah ini.


next?