TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERITA GEMBIRA



Herman mengundang Terra dalam sebuah pengajian. Pria itu mengatakan ada acara syukuran. Tak begitu jelas. Pamannya Terra hanya menyuruhnya datang bersama keluarga.


"Terra minta ijin Mas Haidar dulu, Yah," ucapnya.


"Iya, minta ijin sana. Bilang, Ayah mau adakan syukuran," sahut Herman.


Sambungan telepon pun berhenti. Terra yang sedang mengikuti ujian akhir, pun kembali fokus pada buku yang ia baca tadi.


Waktu selesai. Terra pulang dengan wajah lelah. Hari ini benar-benar menguras otaknya. Tiga mata kuliah langsung. Wanita itu sangat kelelahan. Budiman yang melihatnya jadi kasihan.


"Nona, mau es krim?" tawarnya.


"Mau!" teriak Terra semangat.


Budiman masuk ke halaman restoran cepat saji, melalui Drive thru, pria itu memesan dua es krim cone ukuran sedang. Satu topping coklat dan meses satu lagi toping bubuk kopi.


Terra memilih es krim topping coklat dan meses, sedang Budiman yang satunya lagi. Pria itu menjalankan mobilnya sambil makan es krim. Terra langsung semangat ketika makan es krim yang dibayari oleh pengawalnya itu.


"Makasih ya Kak. Sering-sering lah jajanin Te," ujar Terra mengucap terima kasih.


Sama-sama, Nona. Lain kali saya ajak anda makan es krim terenak di kota J bersama anak-anak dan Tuan," janji pria itu.


"Janji ya ...!"


"Janji, Nona."


Terra melanjutkan makan es krimnya. Haidar meminta dijemput, di lobby kantornya. Pria itu sudah menyelesaikan tugas kantornya.


Ketika masuk Terra masih makan es krim sedangkan Budiman telah menghabiskan bagiannya dari tadi.


"Weh, enak banget makan es krim sendirian?" sindir pria itu.


"Ditraktir Kak Budi," sahut Terra.


"Beli di mana?" tanya Haidar.


"Di plaza D," jawab Budiman sambil melihat kaca spion tengah.


"Astaga sejauh itu dan kau belum habis-habis juga. Sini. Aku juga mau ngerasain es krim traktiran Budiman!" Haidar langsung menyerobot es krim yang masih jauh dari kata habis separuh.


"Ih ... jarang-jarang Te ditraktir, Mas!"


Akhirnya mereka berdua menghabiskan es krim itu. Setelah habis. Terra mengatakan tentang undangan dari pamannya.


"Mas, tadi Ayah telepon, sabtu besok, kita diundang pengajian di rumahnya."


"Oh, jam berapa?" tanya Haidar sambil mengusap bekas sisa es krim di pipi istrinya dengan tisu.


"Ba'da ashar katanya. Kita datang pagi aja, ya. Biar sekalian bantu-bantu," jawab Terra sekalian memberi usul.


"Boleh," ujar Haidar mengiyakan usul Terra.


"Eh tumben, Mas lap bekas es krim pake tisu. Biasanya langsung nyosor?"


"Pengennya gitu. Cuma aku kasihan," jawab Haidar remeh.


"Kasihan sama spasa?' tanya Terra.


"Tuh, sama jomlo karatan yang lagi nyetir," ledek Haidar pada Budiman.


Terra terkikik geli. Ia pun usil menggoda pengawal tampannya itu.


"Dia jomlo karena nunggu cinta sejatinya datang, Mas," selorohnya.


"Ah, iya ya," Haidar ingat siapa yang dimaksud istrinya.


"Berapa tahun usia Gisel sekarang?" tanya Haidar.


Muka Budiman memerah. Terra terkikik geli melihat pengawal itu bisa malu seperti itu.


"Katanya seminggu lagi Gisel sweet seventeen," jawab Terra.


"Wah ulang tahunnya sehari lebih dulu dari Baby, ya?'


"Astaghfirullah, Te lupa sama ulang tahun anak sendiri, Mas!"


Haidar dan Budiman geleng-geleng. Haidar juga baru ingat tadi ketika mendengar ulang tahun Gisel sehari sebelum Rion.


"Eh, gimana kalau kita tawarin Gisel untuk ultah di negara ini bareng Baby?' usul Haidar.


Tiba-tiba wajah Budiman cerah. Terra melihat keceriaan wajah pengawal itu.


"Pengennya sih ya. Tapi, temen-temen Gisel kan di sana semua. Masa dia mau rayain sweet seventeennya dibarengi ama ultah Baby?'


Perkataan Terra yang benar itu membuat Budiman lemas. Bahunya langsung turun. Terra nyaris tertawa melihatnya. Haidar yang melihat ekspresi istrinya sedikit bingung. Haidar menyentuh tangan Terra dan mengkode kan kenapa. Terra melirikan mata ke arah Budiman. Haidar mengerti. Ia pun menahan senyumnya.


"Tapi, coba aja Te, siapa tau mau," usul Haidar.


"Iya Nona, coba dulu tawarkan ... siapa tau ... eh!'


Terra dan Haidar tertawa terbahak-bahak. Mereka langsung menggoda pria tampan itu. Budiman malu bukan main, dia begitu keceplosan tadi. Sedangkan tim yang mendengar percakapan juga tertawa. Mereka kemudian menyuruh pria itu untuk fokus.


Hari berganti. Sabtu pagi Terra bersama Haidar datang dengan Lidya dan Rion. Darren belum pulang dari sekolah. Ia akan menyusul bersama Dahlan dan dua bodyguard lainnya. Terra membawa Mercedes untuk mengantar Putranya nanti.


Herman dan Khasya menyambut mereka dengan senyum lebar. Ke dua puluh sembilan anak angkat Herman juga memenuhi mansion itu. Anak-anak langsung bermain bersama dengan mereka.


Terra membantu sebisa mereka. Tampaknya bantuan mereka tidak berarti apa-apa. Herman sudah mengerahkan semua pekerja.


"Ayah kangen kalian," ujarnya sambil memeluk Terra dan Haidar.


"Ini ada acara apa sih Yah?' tanya Terra penasaran.


"Udah, nanti kalian tahu kok. Dah, nggak usah ngapa-ngapain. Udah banyak yang bantuin!" jawab Herman sambil melarang keduanya ikut membantu.


Waktu berlalu. Adzan dhuhur berkumandang. Mereka semua pun melakukan shalat berjamaah di ruang tengah yang sudah kosong. Semua barang-barang dipindahkan ke paviliun. Usai shalat. Darren baru tiba sambil mengucap salam.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas salam semuanya.


Darren mencium punggung tangan ibunya terlebih dahulu baru ayahnya kemudian Herman dan Khasya.


Usai dhuhur acara baru di mulai. Ustadz yang diundang sudah hadir, Bram dan Kanya juga datang. Ternyata mereka berdua juga diundang oleh Herman. Makin penasaran lah Terra. Tapi, ia akan menunggu, kejutan apa yang akan dihadirkan oleh paman yang ia panggil ayah ini.


"Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh.


Innal hamdalilah wasolatu wasalamu ala rosulillah syaidina Muhammad ibni abdilah waala alihi wahbihi wamawalah (amma ba’du).


Alhamdulillah, hari ini kita berkumpul di acara syukuran empat bulanan kandungan dari Ibu Khasyana Pandewi Burhan ....."


Terra, Haidar dan lainnya terperangah. Mereka menatap Herman dengan pandangan tak percaya. Herman mengangguk membenarkan. Terra tersenyum bahagia. Ia sebentar lagi akan memiliki adik bayi.


Tiba-tiba ia meraba perutnya yang masih rata. Ia baru saja selesai masa haidnya. Kanya melihat kesedihan menantunya. Ia pun membelai kepala Terra yang berhijab. Wanita itu tampak manis dengan hijab dan gamis birunya.


"Sabar, Nak. Mungkin belum rejeki. Lagi pula Lidya dan Rion masih terlalu dini memiliki adik. Mereka masih membutuhkan banyak kasih sayang kamu," ucap sang mertua menenangkan Terra.


Terra mengangguk. Ia sangat paham. Haidar juga tidak memaksanya untuk segera memiliki anak. Pria itu mengusap punggung istrinya dan memberinya banyak dukungan.


"Lihat Baby dan Princess kita," ujar Haidar sambil menunjuk dua balita menggemaskan itu.


Terra tersenyum. Kedua bocah itu begitu serius mendengarkan ceramah dari ustadz seakan mengerti apa yang dibicarakan. Terra hanya takut. Jika Rion tiba-tiba bertanya.


Sayangnya ketakutan Terra menjadi kenyataan. Di tengah-tengah ustadz berceramah Rion tiba-tiba tunjuk tangan menginterupsi. Terra dan Haidar melotot, tahan napas.


"Om pustad ... penandun payi ipu pa'a?"


Semua hening. Ustadz bingung mencerna apa kata Rion. Ustadz menyerah. Ia tak mengerti bahasa Rion. Herman membisikkan sesuatu. Rion pun mengangguk, kemudian duduk kembali. Ustadz diberi kode untuk melanjutkan ceramahnya.


Ceramah pun berlanjut. Hingga usai. Terra bingung kenapa bayinya tak lagi bertanya apa-apa.


Bersambung.


kira-kira apa ya kata Herman


next?