TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AQIQAH BESAR



Sembilan ekor kambing disembelih oleh Virgou dan Bram. Kedua pria itu tentu tahu apa doanya. Mereka telah melakukannya sejak anak pertama keduanya lahir.


"Daddy, ajarin Darren buat potong kambing aqiqah!" pinta pria tampan itu.


Di sana ada saksi ahli dan menyatakan jika pemotongan itu sah adanya dan sesuai dengan syariat islam. Demian juga ikut menyaksikan pemotongan itu dengan dua putranya.


Darren turun. Bram memberinya pisau besar untuk menyembelih. Mereka sudah menghadap kiblat. Mata kambing ditutup agar tidak stress ketika melihat pisau. Bahkan tempat penyembelihan sedikit jauh dan tak dilihat oleh hewan lainnya.


"Bismillahirrahmanirrahim," sahut Bram, Darren mengikuti ucapan kakeknya.


"Bismillahi wallahu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni."


Artinya, “Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu. Dan dengan ini aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya hai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah taqarrubku."


Darren menyembelih hewan itu langsung urat besarnya, hingga hewan tidak tersiksa ketika disembelih.


Usai menyembelih. Darren pun kepikiran.


"Apakah aku dan dua adikku sudah di-aqiqah ya?" gumamnya bertanya.


"Tidak masalah, bapak boleh aqiqah diri sendiri jika memang tak yakin," sela salah seorang petugas pemotong khusus aqiqah dan kurban.


"Apa benar begitu?" tanya Demian.


"Saya mualaf, tentu dulunya saya tidak di aqiqah oleh orang tua saya," lanjutnya.


"Aqiqah merupakan perayaan kelahiran bayi atau walimah al maulid sebagai tanda syukur kepada Allah. Hukum aqiqah menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat diutamakan (semi wajib). Hal ini sesuai hadits Nabi SAW." ujar petugas itu.


"Menurut mazhab Syafi'i berpendapat bahwa bahwa akikah masih jadi tanggung jawab orang tua khususnya sang ayah hingga si anak telah baligh. Apabila sudah dewasa, akikah menjadi gugur tetapi si anak boleh untuk mengakikahi diri sendiri," lanjutnya.


Demian dan Darren mengangguk tanda mengerti. Demian membeli lagi enam ekor kambing lagi, untuknya, ayahnya dan Jac. Ia berencana meng-aqiqahkan dirinya bersama ayah dan orang kepercayaannya.


Dominic datang tepat ketika putranya membeli hewan-hewan itu lagi.


"Kenapa kau membeli lagi kambing?"


Demian menjelaskan seperti apa yang tadi dijelaskan oleh petugas tadi. Dominic tersenyum. Jac yang ada di sana sangat terharu akan kesigapan atasannya itu.


Virgou yang mendengar penjelasan pria petugas tadi, mengikuti jejak Demian. Ia membeli lima ekor kambing untuk Darren, Lidya dan Rion.


"Thanks dad, ba bowu," ujarnya.


"Ba bowu pu, sayang," balas Virgou mengecup pipi Darren sayang.


"Untuk aku dan lainnya, biar nanti saja," gumamnya dalam hati.


Bram terharu akan kesigapan monster yang berubah menjadi malaikat pelindung itu.


"Iya, kau merubah sosok iblis menjadi malaikat pelindung untuk semua orang," gumam pria itu dalam hati.


Aqiqah ini benar-benar besar. Dua puluh ekor kambing disembelih. Semua dimasak gulai sesuai permintaan Lidya dan dibagikan bagi pada kaum duafa dan anak yatim. Sebagian dibagikan pada petugas aqiqah sebagian lagi dibawa pulang untuk makan bersama anak-anak yatim.


Seribu anak yatim didatangkan dari berbagai panti asuhan termasuk panti milik Herman. Sebuah tenda didirikan untuk menampung anak-anak yatim di depan mansion Bram. Banyaknya anggota keluarga yang hadir tak memungkinkan Bram memasukkan semua orang ke dalam mansionnya. Maka ia mendirikan tenda biasa dengan berbagai kudapan lainnya. Bram mengundang ustad yang biasa mengisi tausiyah di masjid dekat tempat tinggalnya.


Semua khusyuk mendengarkan ceramah tentang kelahiran Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.


Semua anak-anak dan remaja ikut duduk di sana. Mereka berbaur bersama anak-anak yatim. Gunting rambut keenam bayi di jadikan satu dengan aqiqah mereka.


"Mashaallah, banyak anak banyak rejeki," ujar ustad ketika melihat jumlah anak yang hendak dicukur rambutnya.


Salawat dan marhaban dilantunkan dari mulut anak-anak yatim. Mereka bersuka ria menyambut kehadiran pada bayi. Doa terbaik disematkan pada enam bayi lucu yang masih terlelap dan tak terusik sama sekali.


Bart bahagia ketika mencukur rambut cicit nya. Ia berdoa agar bisa mencukur keturunan selanjutnya, walau tak mungkin.


"Aku akan meninggal dalam keadaan sangat bahagia ... Ya Allah, aku ikhlas jika Kau panggil diriku sekarang juga," ujarnya lirih penuh haru.


"Dad," panggil Herman dengan suara tercekat.


Kedua pria lanjut usia itu saling berpelukan. Keduanya menangis tertahan. Bram mengelus punggung keduanya.


Bram juga sadar, jika usianya sudah sangat tua. Ia yakin dirinya akan dijemput sebentar lagi oleh malaikat maut. Tapi, panjang umurnya manusia ada di tangan sang maha hidup Allah.


Sedang diluar mansion. Tampak para remaja merencanakan sesuatu. Mereka sangat menginginkan bingkisan indah yang telah disiapkan oleh orang tua mereka.


"Jadi kita berpencar saja antrinya, biar nggak ketahuan!' ide Kean.


"Oke, kita berpencar. Kecuali sembilan perusuh itu!" sahut Sean setuju.


"Emang kamu yakin jika hadiahnya itu bagus-bagus, Rasya?" tanya Daud pada adiknya.


"Iya, waktu itu aku nggak sengaja lihat mama bungkusin mainan seperti robot dan boneka, juga mobil-mobilan yang bisa jadi robot itu!" seru Rasya menjawab.


"Wah ... kita harus dapat juga hadiah itu!" tekad Dimas.


Mereka pun berpencar. Hanya Nai, Arimbi, Kaila, Dewi dan Maisya yang mengapit sembilan perusuh.


"Eh ... pita napain antli taya dini?" tanya Sky bingung.


"Tayana pita batal diusin ladhi deh," sahut Bomesh yakin.


"Wah ... palisanna banjan seutali!' seru Arion takjub.


Ketika Kean sampai pada pembagian bingkisan. Sedemikian rupa ia menurunkan kupluk hitamnya agar ayahnya tak mengenali dirinya.


"Ayah, jangan kasih itu putra kita!" teriak Khasya.


Herman menatap remaja yang cemberut di depannya. Ia berkacak pinggang.


"Maaf ustadz," ujar Herman.


Pria itu lalu mengambil mik.


"Kalian yang mengaku anak ayah dan cucu kakek, keluar dari barisan sekarang!"


Semua yang merasa berteriak kecewa.


"Kakek!" rengek Rasya.


"Kita mau bambel bee!" sahutnya menyebut salah satu tokoh mobil yang dapat menjadi robot.


Herman meminta semua keturunannya keluar barisan. Pria itu sedikit bingung dengan ulah para remaja semenjak kecil. Mereka akan tetap mengantri untuk mendapatkan bingkisan. Padahal, jika mereka ingin, mereka bisa memintanya pada orang tua masing-masing.


"Uang jajan kalian bisa dikumpulkan untuk beli mainan itu!" ujar Virgou kesal.


"Beda daddy! Pemberian itu beda dengan beli sendiri!" sela Rasyid.


"Setiap kalian ulang tahun hadiahnya juga tak kalah dengan bingkisan!" seru Haidar juga kesal.


"Beda juga papa!" kini Kaila yang menyela.


"Hadiah itu memang harus ketika ulang tahun, sebagai tanda sayang. Bingkisan kan merupakan pemberian atas dasar syukur!" lanjutnya.


Semua menghela napas panjang. Kecerdasan putra putri mereka memang di atas rata-rata.


"Ya sudah, lain kali kita beri mereka bingkisan khusus tapi bersamaan dengan anak yatim piatu," ujar Darren memberi saran.


"Ah, jika begitu. Aku mau meng-aqiqahkan diriku. Nah, di sana baru kita buat bingkisan itu untuk mereka, bagaimana?" putus Virgou sambil menunjuk semua perusuh itu.


"Setuju!" seru semuanya.


bersambung.


atur aja deh ... orang kaya mah bebas!


next?