
"Jangan ada yang bergerak!' titah AKP Agus.
Semuanya diam dalam posisi siaga. Helikopter terus berputar di atas mengatasi situasi. AKP Agus membuka BraveSmart ponsel miliknya. Melacak lokasi.
Sebuah gambar denah bangunan langsung terpampang dalam black screen. Memindai beberapa jebakan dan pergerakan manusia di dalamnya.
"Kita sudah kunci semua jebakan. Apa kita ledakan saja ya?' tanya AKP Agus meminta pendapat.
"Jika terlalu berbahaya bagi tim. Sebaiknya kita hancurkan saja!" sebuah titah dari atasan.
Menteri pertahanan sedang dalam perjalanan langsung memberi perintah pada AKP Agus membumi hanguskan sarang musuh.
"Semuanya menjauh!' titahnya lagi.
Semua masuk dalam mobil dan menjauh dari lokasi. Sejuta jarak lima meter. AKP Agus langsung menekan tombol pada ponsel.
Terdengar suara-suara ledakan dalam rumah. Beberapa orang berhambur keluar.
"Semuanya letakkan senjata kalian. Kalian sudah dikepung!'
Para bandit pun melempar senjata mereka. Bertiarap di tanah.
Bantuan datang. Satu pleton anti huru-hara sudah tiba dengan helikopter besar. Mereka semua turun dari atas.
AKP Agus telah mematikan semua jebakan. Para bandit yang keluar pun langsung diseret oleh kepolisian.
"Amankan lokasi!" titah AKP Agus lagi.
Tak lama menteri pertahanan datang. Membawa pasukan militer lengkap.
Semua musuh tertangkap. Terjadi perlawanan di dalam gedung. Namun bisa dibekuk dengan cepat.
Para komplotan digiring keluar. Tiga pria tinggi berwarga negara Rusia digelandang. Virgou mengenali mereka.
Pria itu mendatangi ketiganya dan bertanya kenapa mereka mengincar Terra.
Mereka berkata jika mencurigai akun BlackLion adalah milik Terra yang membongkar sektor D. Ternyata tim IT mereka berhasil melacak pergerakan akun BlackLion, milik gadis itu.
Setelah berhasil mendapat informasi. Kepolisian langsung menggiring ketiganya masuk dalam mobil lapis baja anti peluru.
Mereka digiring dengan tangan dan kaki terikat tali plastik. Begitu juga semua anak buahnya.
"Selamat siang. Apa benar saudari yang bernama Terra?" tanya menteri pertahanan.
"Selamat siang, benar saya Pak!" jawab Terra.
"Kau tahu tadi siapa yang kita tangkap?" Terra menggeleng.
"Mereka adalah Sergev bersaudara. Pemimpin mafia klan bunglon. Memang sudah lama kami mencium pergerakan mereka di negara kita. Tapi, karena kurangnya fasilitas dan tekhnologi yang ada. Membuat kami kesulitan melacak keberadaannya," jelasnya panjang lebar.
"Mungkin dengan tangkapan besar ini, kamu akan jadi sorotan. Saya rasa. Kamu adalah bagian kekayaan negara jadi harus disembunyikan," ucapnya lagi.
"Saya minta semua pergerakan kalian dihapus dari laporan data, apa bisa?" tanya menteri pertahanan.
"Itu sudah diatur, Pak. Karena semuanya sudah teroganir dalam data kami. Dari awal pengumpanan hingga penangkapan!" saut AKP Agus.
"Baik jika semua sudah diatur demikian. Oh ya, nanti secara tersembunyi. Presiden akan menemui anda," ujarnya lagi.
Setelah AKP Agus memberi hormat. Menteri pertahanan kembali ke mobil bersama ajudannya. Mereka pun meninggalkan lokasi.
"Saudari Terra, terima kasih kerja samanya selama ini. Saya harap, tidak ada lagi kasus seperti ini," ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Terra sangat tahu arti dari senyuman itu. AKP Agus meminta Terra terus melakukan pengembangan teknologi yang akan membantu pihak kepolisian demi pertahan negara.
"Siap, Pak!" ucap Terra tegas.
"Oh ya, obati pelipis Tuan Virgou. Tadi terserempet peluru. Apa perlu ambulance?"
Virgou langsung mengusap pelipis yang tadi terasa perih.
"Ah ... tidak perlu hanya goresan kecil," jawab Virgou.
"Sudah ayo kita pulang. Bangunan ini akan langsung dihancurkan oleh pihak yang berwenang," ajak AKP Agus.
Mereka pun menaiki mobil masing-masing. Terra berada bersama Virgou dan Haidar.
Butuh waktu satu jam saja, mereka sampai rumah. Terra langsung disambut dengan pelukan dari Darren.
Pria kecil itu menangis. Ia begitu ketakutan setengah mati ketika melihat ibunya diculik.
"Mama ... huuuu ... uuuu ... Mama!" pekiknya penuh ketakutan.
Lidya hanya mengusap jejak air matanya. Ia tersenyum doanya dikabulkan. Sepanjang hari tak lepas bibirnya berdoa untuk keselamatan ibunya.
"Mama ... hiks!" panggil Rion.
Terra mengambil bayi gembul dan menggendongnya. Membawa mereka masuk.
Para asisten rumah tangga mengucap hamdalah, majikan mereka pulang dengan selamat.
"Kak, ambilin kotak P3K dong, tolong," pinta Terra.
Darren langsung mengambil kotak yang dipinta oleh ibunya dari dalam lemari tengah dekat dapur, kemudian memberikan kotak itu.
"Ini Ma."
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama."
Terra berbalik pada Virgou dan hendak mengusap luka pada pelipis pria itu. Melihat ada yang terluka, Lidya sedih.
"Itu syatit Daddy?" tanya Lidya dengan sendu.
Rion yang melihat ada luka pada pria yang dimusuhinya langsung mendekat.
"Daddy bitat pa'a-pa'a?' tanyanya dengan nada khawatir.
"I'm okay dear," jawab Virgou.
Terra menempel plester bergambar pada luka Virgou. Pria itu mengucap terima kasih. Sebuah kecupan Lidya berikan pada kening terplester tersebut.
Virgou pun menghadiahi juga ciuman pada Lidya. Memeluk gadis kecil itu membuat hatinya begitu tenang.
"Papa juga minta cium sama peluk dong," pinta Haidar.
Lidya pun memeluk Papa juga Mamanya. Tiba-tiba matanya mencari sosok yang selalu ada di samping Terra.
"Om Budi mana?" tanyanya.
"Saya di sini Nona kecil," jawab Budi. Pria itu baru datang.
Lidya bernapas lega, melihat pria kesayangannya baik-baik saja. Ia pun memberi Budiman senyuman paling manis.
Kini semuanya sudah selesai. Musuh-musuh sudah tertangkap. Terra dapat bernapas lega.
"Mama meminta kita besok mem-fitting baju pengantin," ucap Haidar.
Terra mengangguk pasrah. Niatan mengadakan perhelatan sederhana, hilang. Kanya, calon ibu mertuanya ingin mengadakan pesta besar-besaran.
"Mama ingin pamer dengan semua teman sosialita. Siapa menantu, Mama!" ucapnya waktu itu dengan antusias.
Terra pun menuruti keinginan mertuanya tersebut.
bersambung
Alhamdulillah ... akhirnya ... beres semua.
Yey ... nikah!
next?