TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RUTINITAS



Persidangan Warni berlanjut. Lana sudah membaik. Ayahnya datang mengambil Lana.


Pihak Komnas perlindungan anak akan mengawasi kembang tumbuh Lana di tangan ayahnya. Warni dan suaminya sudah bercerai ketika Lana berusia tiga tahun.


Satu yang Haidar tak habis pikir. Alasan Warni menyuruh putrinya menyakiti Lidya.


"Saya nggak suka ada anak pintar di kelas. Guru tetap harus lebih pintar. Jadi sebaiknya Lidya berpura-pura tidak tahu dari pada menjawab pertanyaan saya."


"Gila. Anda gila!" teriak Haidar tak percaya.


"Harap tenang Tuan! Anda berada di pengadilan, hormati persidangan ini!"


Sidang pun diputuskan jika Warni bersalah. Semua lisensi sertifikasi gurunya dicabut. Hukuman nya pun berat.


Haidar bernapas lega. Kini namanya menjadi sorotan publik. Ini adalah kasus kedua setelah perundungan guru pada murid yang menimpa putranya. Semua mata menuju pada direktorat dinas pendidikan.


Haidar pulang dengan napas lega. Tidak ada lagi oknum-oknum guru yang bisa seenaknya berkeliaran menakuti murid-muridnya.


"Assalamualaikum," ujar pria itu memberi salam ketika masuk rumah.


"Wa'alaikum salam, Tuan," balas Deno menyahut.


"Nyonya, belum pulang, Mang No?" tanya Haidar.


"Belum, Tuan. Nyonya masih di kantor," jawab Deno.


"Lidya belum pulang?" tanyanya lagi.


Baru hendak dijawab. Mobil golf masuk. Lidya pun turun dengan senyum merekah. Haidar ikut tersenyum.


"Assalamualaikum, Papa!"


"Wa'alaikum salam, sayang."


Haidar mengangkatnya lalu memberi ciuman bertubi-tubi. Lidya tergelak. Rion keluar. Ia memukuli kaki ayahnya.


"Papa!" hardik balita itu.


Haidar menoleh ke arah Rion. Lalu menurunkan tubuhnya untuk mengangkatnya.


"Masuk yuk, lihat adik-adik," ajak Haidar.


Mereka pun masuk menuju kamar. Keempat anaknya masih bergulingan di box mereka masing-masing. Haidar menurunkan Rion dan Lidya. Membantu gadis kecil itu menggantikan bajunya.


Semenjak Haidar mendapat surat cinta dari Lidya. Pria itu makin sayang pada putrinya. Bukan hanya Haidar. Bahkan pekerja seluruh rumah dan pengawal pun mencintai gadis kecil itu.


Lidya juga memberi surat cinta pada tim pengawal. Haidar mendapat laporannya tadi pagi sebelum pergi ke persidangan. Terra pun terharu. Gadis kecilnya itu sangat tahu rasa terima kasih.


"Papa, Mama pulanna sole ya?" tanya Rion.


"Iya, sayang. Sekarang kalian sama Papa ya, papa lagi nganggur nih," jawab Haidar.


"Banggul ipu apa Pa?" tanya Rion.


"Nganggur itu nggak ada kerjaan," jawab Haidar enteng.


"Oh," Rion mengangguk tanda mengerti.


"Sayang. Bagaimana kalau kita beli rumah yang lebih besar lagi?" tanya Haidar meminta pendapat.


"Iya, terselah Papa. Iya, ikut kemana Papa dan Mama berada," jawaban Lidya membuat Haidar terharu.


"Ion judha!" sahut Rion.


Haidar mencium keduanya gemas. Tiba-tiba Kanya masuk sambil mengucap salam.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam," balas Haidar dan Lidya.


"Oma!" pekik Rion kegirangan begitu juga Lidya.


Kanya merentangkan tangan. Mencium dua cucunya gemas. Bram pun masuk ke dalam.


"Pa, nggak ngantor?" tanya Haidar.


"Nggak," jawab Bram.


"Tate Banggulan judha, taya Papa?" tanya Rion dengan polosnya.


Haidar membulatkan matanya. Bram sedikit bingung dengan perkataan Rion yang memang belum jelas. Kanya juga sama. Kedua orang tua itu menatap Haidar.


"Nganggur, Pa," jawabnya lirih.


Kanya mencebik kesal. Bram akhirnya tertawa lalu mengangkat tinggi-tinggi Rion hingga terpekik kegirangan.


Lidya tiba-tiba teringat sesuatu. Ia pun berlari ke ruang belajarnya. Lalu mengambil amplop yang sudah ia persiapkan.


"Ini ada surat dari Iya untuk Oma dan Kakek," ujarnya lalu memberikan surat itu.


"Kita ke ruang tengah yuk," ajak Haidar.


Mereka ke ruang tengah. Haidar meletakan bayi-bayinya ke dalam stroller lalu mendorong benda itu ke ruang tengah.


Ketika sampai ruang tengah. Kanya sudah bercucuran air mata. Rupanya ia sudah membaca isi surat cinta dari Lidya. Kanya menciumi gadis kecil itu.


"Sayang. Oma sangat, cinta sama kamu," ungkap Kanya penuh haru.


Bram yang membaca surat itu pun menghapus genangan air di pelupuk matanya.


Haidar pun menceritakan semuanya. Bahkan isi surat cinta untuknya juga Terra.


"Jadi, dia juga kasih seluruh pegawai rumah ini. Dan surat pertama Lidya berikan untuk Darren, Kakak laki-lakinya?" Haidar mengangguk.


Bram memeluk Lidya. Rion cemberut. Ia juga ingin dipeluk.


"Tate, Ion judha mau dipeyuk!"


"Ah ... sini kakak Baby!" Bram memeluk kedua cucunya erat.


Kanya ke dapur. Romlah dan Ani membantunya. Gina tengah menggosok pakaian. Deno sedang memotong daun-daun yang dimakan ulat.


Darren pulang dengan wajah lelah. Ia tersenyum lebar ketika mendapati kakek dan Omanya ada di rumah. Setelah mencium punggung tangan semua orang dewasa. Darren mengganti bajunya.


"Ayo makan, habis makan kita shalat dhuhur jamaah," ajak Kanya.


Mereka pun makan siang. Bayi-bayi masih minum ASI. Terra sudah menyiapkannya dalam storage khusus. Romlah tinggal menghangatkannya.


Usai shalat. Mereka bercengkrama. Bayi-bayi sudah diletakkan dalam box mereka, karena sudah tidur.


"Mereka gemesin amat sih!" puji Kanya sampai geregetan melihat baby Nai, baby Sean, baby Al dan baby Daud.


Bram meletakkan Rion di ranjang. Kanya pun langsung menidurkan dirinya di sebelah balita montok itu. Menciuminya gemas. Sampai Rion merengek karena terganggu.


"Oma," panggil Lidya.


Gadis kecil itu naik ke ranjangnya sendiri. Kanya memeluk Lidya. Menepuk-nepuk bokongnya pelan. Lidya pun tertidur.


Kanya menciumi semua cucunya. Lalu beranjak dari sana menuju ruang tengah. Haidar dan Bram sedang mengobrol.


Sedangkan di kantor. Terra baru saja menyelesaikan meeting. Para pengusaha sangat puas dengan hasil kerjasama mereka. Neraca saham makin meningkat dan stabil.


"Jhenna!' panggil Terra.


"Saya, Nyonya!" sahut Jhenna sekretarisnya.


"Kamu sudah jadwal semua kerja Tuan Rommy yang kini sedang ada di luar kota?"


"Sudah, Nyonya!"


"Coba sekarang kamu minta semua berkas hasil tadi pada Wakil Direktur!" titah Terra.


"Baik Nyonya," Jhenna melaksanakan titah atasannya.


"Halo Sandra. Apa semua berkas yang ada di tangan Tuan Aden sudah diperiksa?"


"Sudah nih ambil sendiri," sahut Sandra malas.


"San ... jangan macam-macam kamu!" sentak Jhenna pelan.


"Ck ... ya ya ... kek nggak punya kaki buat ngambil!" gerutunya di telepon.


Jhenna hanya bisa mendengkus melihat teman sekerjanya. Sandra datang lalu membawa semua berkas yang tadi sudah ditandatangani oleh Aden.


"Nih!" sahutnya ketus pada Jhenna.


"Loh, kok nyerahin ke Aku. Mestinya kan kamu. Tau kinerja nggak sih?" tanya gadis itu dengan padangan aneh pada rekan sekerjanya.


"Ck ... ya, ya!"


Sandra mengetuk pintu. Ia pun masuk setelah ada suara yang mempersilahkan dia masuk.


"Ini, berkas-berkas yang anda minta ... Nyonya," ada keengganan di sana.


Terra menatap tajam gadis yang memandang malas tumpukan kertas.


"Kamu sudah bosen kerja ya?" tanyanya penuh penekanan.


Sandra bungkam, ia menatap Terra dengan pandangan sedikit berani. Terra menyipitkan matanya.


"Maksud, Nyonya?"


"Kamu sudah bosan kerja?" tanya Terra lagi dengan pandangan tajam.


Sandra menelan saliva kasar. Ia sadar tengah berhadapan dengan orang nomor satu di perusahaannya bekerja.


"Masih ... Nyonya," jawabnya lirih sedikit gugup.


"Bisa cekatan kan kalau disuruh?" tanya Terra lagi-lagi penuh penekanan.


Sandra hanya mengangguk. Terra mendengkus, ia pun duduk kembali. Membaca berkas-berkas. Lalu memberi ultimatum pada Sandra.


"Jangan lakukan lagi, jika kamu tidak ingin dipecat!"


"Ba-baik, Nyonya!"


Sandra pun berlalu dari ruangan atasannya. Ketika menutup pintu ia menghentak kaki kesal.


"Mentang-mentang Boss!" rungutnya kesal.


bersambung.


Jieee ... kok gitu.


next?