
Hari berganti. Kini semuanya kembali pada aktivitas mereka. Rion kembali menemani Haidar bekerja.
Arimbi,Nai dan Daud , memilih kuliah di kedokteran Sedangkan, Keanu, Calvin, Sean dan Al, di jurusan bisnis. Satu tahun lagi selesai kuliah. Kegeniusan mereka memang tak bisa ditakar. Hanya Arimbi Nai dan Daud yang masih menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk selesai dan lulus menjadi dokter.
Maisya, Affhan, kelas enam. sedang, Dimas, kelas lima, Kaila, Rasya dan Rasyid, baru kelas empat. sekolah dasar. Samudera baru masuk taman kanak-kanak. Sedang Benua, Sky, belum sekolah, terlebih Harun dan Azha, mereka masih bayi.
Rumah sedikit sepi karena nyaris seluruh pengawal menjaga pada nona dan tuan muda mereka. Terra ditemani oleh Benua dan Sky, juga Domesh dan Bomesh. keempat batita itu tentu saja sibuk sendiri.
"Mama, Ata' Penua matal!" adu Sky.
"Baby, nanti Mama bilangin kakak Ion, ya!" ancam Terra.
"Biya ... manti Spy pilanin Ata' Ion!" ancam Sky lagi.
"Ih ... mamapin Ata' ya ... ya .. ya," rajuk Benua meminta maaf.
"Imi satit, Mama ... hiks ... hiks!"
Mendengar kata sakit. Terra langsung mendatangi bayi itu. Ia melihat lengan Sky memerah tanda habis kena pukul.
"Babies?" tanyanya sambil memandang mata bulat tanpa dosa.
"Ata' Penua eundat senaja, Ma," sahut Benua.
"Baby Bomesh?"
"Bomesh pidat pahu, Mama. bita-bita Spy beunanis," jawab Bomesh juga tanpa dosa.
Terra gemas sekali dengan bayi itu. Maria yang tengah membantu Terra hanya diam mengamati, ia akan menegur bayinya jika sudah mulai berulah.
"Baby Domesh?"
"Domesh judha bidat pahu, Mama. Pati, pihat Ata' Penua mutul tanan Sty," jawab bayi itu polos.
"Ah!" Benua menepuk keningnya.
"Baby?" tanya Terra lagi pada Benua, sambil mengusap dan meniup lengan Sky.
"Mamap, Mama," ujarnya menunduk.
"Bukan, sama Mama, Baby. Tapi, sama baby Sky," sahut Terra memberitahu.
"Mamap ya, Papy Spy," ujarnya.
Sky mengangguk. Terra mengusap air mata dan ingus bayi itu dengan bajunya.
"Dah, main lagi sana. Jangan berantem, ya!"
"Iya, Mama!" sahut keempatnya kompak.
Terra mencium gemas bayi-bayi itu dan membiarkan mereka bermain kembali.
Sedang di tempat lain. Darren ke ruang praktek Aini. Membawa banyak oleh-oleh untuk kedua adiknya. Ditya dan Radit sangat senang dengan oleh-oleh yang dibawa pria itu.
"Makasih ya, Mas," ujar keduanya.
"Sama-sama," sahut Darren.
Pemuda itu menatap Aini. Ingatannya kembali pada perkataan Rion, walau semua sudah menyatakan jika Rion tetap akan tinggal bersama Terra, kakak yang menjadi ibunya.
"Aini, ada satu hal yang aku tegaskan padamu, jika kau nanti menjadi istriku, inshaallah," ujarnya.
Budiman di luar, kejadian kemarin juga membuat hatinya sakit, mendengar ketakutan tuan babynya. Ia juga nyaris akan membawa Rion ke rumahnya, secara Gisel adalah kakak sepupu tuan babynya. Tetapi, Terra mengatakan jika Rion tak akan ke mana pun.
"Apa, Mas?" tanya Aini.
"Aku memang mendahulukan dirimu sebagai istriku, tetapi jika menyangkut keluarga ku. Aku tak akan bertanya meminta pendapat darimu!" tekan Darren langsung.
Aini mencerna perkataan pria di depannya. Ia pun menangkap, jika keperluan keluarga di atas segalanya. Tentu, ia sangat mengerti. Sebagai seorang istri nantinya, tentu ia harus mendukung sang suami untuk berbakti sebagai seorang anak dan keluarga. Gadis itu tersenyum.
"Mengerti, Mas. Aini juga tak bisa melepaskan keluarga," sahutnya.
Darren tersenyum lega. Pemuda itu memantapkan langkahnya. Usai memakan bekal mereka. Darren pun pergi karena, Rommy sudah meneleponnya.
Aini kembali bekerja dan mendata kesehatan para pegawai. Ditya dan Radit asik bermain setelah makan, lalu keduanya tertidur. Aini yang melihatnya pun mengangkat adiknya satu persatu dan memindahkannya di ranjang kecil.
Sedang di tempat lain. Lidya menatap kotak kecil di tangannya. Ia ingin memberikan benda itu pada pria yang memang sudah mengusik hatinya. Otaknya kacau dengan perkataan Rion kemarin.
Adiknya itu sudah tahu jika dirinya sudah tertarik dengan lawan jenis. Putri, menatap sahabatnya yang berkali-kali menghela napas panjang.
"Nggak tau ... gue bingung," ujar Lidya pasrah.
Putri menatap kotak di atas meja. Ia langsung tahu untuk siapa kotak itu. Ia pun mulai berpikir.
"Ah ... pengawalmu itu pintar sekali, nggak bisa dikecoh!' sungutnya kesal.
Lidya hanya bisa diam. Sedangkan sosok yang sedang dibicarakan tengah mengecek kesehatannya di rumah sakit itu.
Jacob mendonorkan darahnya kembali begitu juga atasannya. Usai mendonor. Keduanya pun hendak mengunjungi Lidya.
"Lidya itu dokter ahli jiwa, bukan?" tanya Demian.
"Benar Tuan," sahut Jac.
"Daftarkan diri kita sebagai pasien yang butuh konsultasi," ujar Demian.
Jac tersenyum lebar. Memang otak Demian itu sangat cepat berpikirnya. Ia pun langsung mendaftarkan diri untuk menjadi pasien Lidya.
Gio, Hendra dan Felix mengerutkan kening ketika dua pria itu duduk di ruang tunggu di mana tempat praktek nona mereka. Putri memanggil salah, Demian terlebih dahulu.
Ketika di dalam, Lidya sangat kaget karena pria itu menjadi pasiennya hari ini.
"Tolong, panggilkan Jac Katakan aku butuh dia sebagai penanganan lanjutan," pinta pria itu sambil menatap gadisnya.
Lidya tersenyum tertahan. Ia memuji kecerdasan pria tampan di depannya. Putri pun melaksanakan apa yang diminta oleh Demian.
"Tuan Jac, harap masuk, karena Tuan Starlight butuh Tuan untuk penanganan selanjutnya," pinta Putri.
Jacob pun masuk. Pintu tertutup. Tentu saja, sebagai psikiatris, Lidya harus menjaga kerahasiaan pasiennya.
Gio bukan pria bodoh, sayang. Ia memang tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah. Ia pun hanya menunggu. Ia yakin, nonanya bisa menjaga diri.
"Bisa saya bantu, Tuan?" tanya Lidya ramah.
"Aku merindukanmu," jawab Demian langsung.
Blush! Rona merah pun menjalar di pipi gadis itu. Putri hanya senyam-senyum saja mendengar gombalan pria itu.
"Kau pergi selama satu minggu. Tapi, video klipmu menjadi pengobat hatiku, walau hanya dua puluh menit, lalu kau take down!" ujarnya sedikit kesal.
Lidya hanya tersenyum kecut. Ia sangat ingat ketika Daddynya yang men-take down video itu dari halaman sosial medianya.
"Daddy," rengeknya waktu itu.
Virgou hanya menatap datar putrinya. Hingga Lidya tak bisa berkata apa-apa, bahkan tak ada satu pun yang menolongnya. Terlebih setelah mendengar gundahan hati Rion.
"Ya, aku menghapusnya secara permanen. Nggak bagus," ujarnya beralasan.
"Postingan yang tembus sepuluh ribu like dalam dua detik upload, kamu bilang nggak bagus?" tanya Demian tak percaya.
Lidya hanya tersenyum masam. Ia tak menjawab lebih lanjut. Demian pun tak lagi mempermasalahkan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Demian.
Lidya pun teringat akan hadiahnya.
"Ini, untukmu, Tuan," ujarnya lalu memberi kotak itu.
Demian mengambilnya. Pria itu tersenyum dan langsung membukanya. Sebuah gelang sederhana, bertuliskan nama pria itu. Demian memakainya. Lidya pun terhenyak.
"Ini kado terindah setelah dasi," ujarnya.
Gadis itu merona. Pria itu berdiri setelah melihat jam di lengan kirinya.
"Terima kasih atas konsultasinya," ujarnya lalu mengatup tangannya di dada.
Lidya membalas, begitu juga Putri dan Jacob. Dua pria itu pun keluar, sesuai panjang konsultasi. Gio menatap gusar keduanya.
Demian memandang Gio datar. Ia lebih tinggi dari pengawal gadisnya. Tidak ada yang gentar saat adu tatap itu. Tetapi, Demian memilih mengalah. Ketika langkahnya sedikit menjauh dari para pengawal. Pria itu mengangkat lengannya dan menatap gelang pemberian Lidya. Ia pun membalik gelang itu. Nama sang gadis tertera di balik namanya.
'Suatu hari. Akulah yang pantas menjaga Nonamu, pengawal,' tekannya berjanji dalam hati.
bersambung.
mantap Demian.
next?