
Pesta makin seru. Anak-anak berjoged saling menggoda satu dengan lainnya. Bart ikut bergoyang dengan Harun anak Virgou paling bungsu.
Lagu dangdut usai semua bertepuk tangan. Akhirnya semua pun masuk ke ruang makan, mereka tampak kelaparan. Safitri mengurus semuanya. Anak-anak begitu penurut pada gadis itu. Bahkan empat perusuh hanya mau disuapi oleh Safitri.
"Mama Paf, Papa Dallen ... Spy ba bowu," ungkap Sky sambil mengunyah makanannya.
"Kalau makan jangan bersuara!" pinta Saf lembut.
"Kau juga makan, sayang," titah Herman.
"Iya, Ayah," sahut Saf.
"Oh ya, nanti setelah ini kita sambangi makam dua orang tuamu, ya," ujar pria itu.
Saf mengangguk setuju. Herman kembali mendatangi para tamu dan mempersilahkan untuk langsung mengambil makanan, mereka harus mengantri panjang hanya untuk bersalaman dengan pengantin.
Saf mengambil satu piring dengan isi lauk pauk. Ia menggunakan nampan dan ia berikan pada Terra dan Haidar.
"Mama, mau Saf suapin?" tanya gadis itu.
"Oh sayang, mau," pinta Terra. Wanita itu sangat lapar.
Saf menyuapi keduanya. Sedang Putri nampak menyuapi Dominic. Gadis itu mengikuti jejak Saf tadi. Haidar juga ikut disuapi oleh menantunya itu.
Usai makan dan memberi mertuanya minum. Saf kembali pada yang lain. Ia juga ikut makan bersama suaminya.
"Sayang," panggil Darren.
"Ya," sahut gadis itu.
Cup! Satu kecupan mendarat di pipi sang gadis hingga membuat ia merona karena malu.
"Ish ... malu ah," cicitnya lirih.
"Hei nggak nyanyi lagi?" tanya Saf pada Bomesh.
Bayi itu menggeleng, ia tampak menguap berkali-kali. Begitu juga Sky dan Benua juga Domesh. Mereka bangun terlalu pagi dan tidak tidur, bahkan masih mempersembahkan satu buah lagu untuk pengantin.
Pengantin datang dan duduk bersama. Ternyata mereka juga kelaparan. Terra dan Haidar ikut turun begitu juga Dominic.
"Cape juga duduk di sana," ujar Haidar menepuk pinggangnya.
"Papa sudah tua ternyata," celetuk Rion.
"Hei kau mengatai papa mu sendiri!" seru Haidar kesal.
"Sudah lah Mas. Kan emang sudah tua," ledek Terra.
"Ck ... tua begini kau juga kualahan jika ajak bercinta," sahut pria itu sengit.
"Peulcinta pa'a Pa?" tanya Bomesh ingin tahu.
"Astaga ... Gomesh anakmu!" keluh Haidar.
Gomesh hanya angkat bahu tanda tak tahu. Serdang Terra malas memberi jawaban. Ia sudah terlalu lelah.
"Papa ... peulcinta ipu pa'a?" tanya Bomesh benar-benar ingin tahu.
"Nanti, kalau sudah besar baru boleh tau," celetuk Rion menjawab.
"Oh ... ipu memanna puntut wowan pewasa?" tanya Sky lagi dengan mata bulat dan jernihnya.
Pesta hanya berlangsung selama dua jam saja. Kini para tamu sudah pulang. Acara di lanjutkan di sebuah hotel internasional milik Bram.
"Kita pindah lokasi!" seru Kean girang.
Empat perusuh sudah tidur. Mereka digendong oleh kakak mereka. Masuk mobil yang sudah dihias sedemikian rupa.
"Saf!" panggil Virgou.
"Sudah ada di sini Daddy!" sahut gadis itu dalam mobil bersama Darren.
Virgou pun lega. Anak bongsor itu tak lagi ketinggalan ketika Aini dan Gio menikah waktu itu. Kini mereka semua ke hotel. Tiga blok khusus sudah dibooking selama dua puluh empat jam penuh. Semua mendapat kamar masing-masing. Anak-anak yang tidur dijaga oleh kakak mereka yang juga lelah dan ingin berbaring sejenak.
Lidya dan Demian sudah satu kamar mereka mengganti baju pernikahan mereka. Ada MUA di sana yang membantu. Dari baju putih. Kini mereka mengenakan warna maroon. Demian begitu gagah mengenakan taxedo ternama. Lidya juga begitu cantik dengan gamis berbahan sutra asli.
Keluarga Pratama dan Triatmojo berkumpul. Mereka berfoto bersama. Bahkan Para pengawal juga mengabadikan mereka. Robert, Felix, Juan, Juno dan lain-lain tak mau ketinggalan. Dahlan anak buah Budiman juga tampak hadir. Pria itu memilih menjadi instruktur bela diri di pusat pelatihan SavedLive milik Virgou.
"Anda sudah besar dan malah sudah menjadi istri, Nona. Dulu anda kecil sekali," ujar Dahlan pada Lidya.
Lidya tersenyum lebar. Tentu ia sangat ingat ketika awal-awal mereka bertemu. Para pengawal yang sangat tampan. Lidya merasa dirinya aman.
"Jadi Nona tidak takut badut lagi. karena Nona menikahinya sekarang," sahut Felix terharu.
"Makasih sudah jagain Iya dan keluarga ya Om," ujar gadis itu tulus.
"Sama-sama, Nona. Ini sudah tugas kami!" sahut semua pengawal mereka membentuk barisan khusus dan membungkuk hormat pada Lidya.
"Terima kasih Nona ... atas kebaikan hati anda pada kami!"
"Sama-sama Om ... hiks ... sama-sama!" ujar Lidya terharu.
Terra terharu melihat betapa para pengawal sangat menyayangi Lidya. Gadis pengobat hati mereka. Rata-rata semua memiliki latar belakang yang sama, masa kecil penuh kekerasan. Lidya yang menyembuhkan luka mereka semua.
"Jadi, apa saya menganggur dan tidak menjadi pengawal Nona lagi?" tanya Gio polos.
"Astaga Gio. Apa kau lupa berapa banyak anakku?" tanya Haidar kesal.
Gio terkekeh. Ia hanya bertanya saja kan?
"Emang Om Gio nggak mau jagain Iya lagi?" tanya Lidya sedih.
"Nona, sekarang anda sudah bersuami. Pekerjaan saya sudah selesai kecuali jika Tuan Demian memperpanjang kontrak saya," jawab Gio formal.
"Jangan khawatir, Gio. Kau masih aku butuhkan. Besok kau menjaga Arimbi. Dia kini koas dekat pelabuhan kan?" Gio mengangguk dan membungkuk hormat.
Lidya jadi sedih, ia terbiasa dengan pria-pria pengawalnya itu. tentu saja mereka hadir ketika Lidya baru saja masuk sekolah taman kanak-kanak.
"Kami akan tetap menjaga, Nona. Hanya saja intensitas kami jadi lebih berkurang, itu saja," sahut Juno menjelaskan.
"Sudah, kalian makanlah. Jangan buat Lidya tambah sedih!" titah Herman pada para pengawal.
Para pengawal pun mengantri untuk mengambil makanan. Pesta masih meriah dengan hadirnya para bintang tamu.
Makin lama, hari makin larut. Pesta pun usai. Semua orang sudah masuk kamarnya masing-masing. Kini sepasang pengantin tengah berjamaah bersama. Demian menjadi imam untuk pertama kalinya.
"Sayang," panggil pria itu mesra.
Jantung Lidya berdetak cepat. Demian memandangi wajahnya yang masih terbungkus mukena.
"Aku ingin lihat dirimu," pinta pria itu lembut.
Lidya membuka mukenanya. Rambut kemerahan ikal panjang sepunggung terlihat. Wajah bulat bersih dan cantik. Demian mengenali wajah itu waktu kecil dulu.
"Wajahmu tak berubah sayang," ujar pria itu lalu mengusap wajah istrinya.
Demian mengecup kening sang istri. Lidya memejamkan mata. Lalu dua bibir saling bersinggungan. Jangan tanyakan kemahiran Demian ketika berciuman. Pria itu ahlinya.
"Apa kah aku boleh meminta hak ku?" Lidya mengangguk pelan.
Demian langsung memeluknya erat. Ia membenamkan lagi bibirnya pada Lidya. Keduanya pun berciuman panas. Malam ini, Demian mengajari cara bercinta yang baik dan benar pada istrinya.
Lain di tempat Lidya lain juga di tempat Darren. Sepasang suami istri itu tengah tertawa karena lucu.
"Jadi waktu malam pertama Mama dan Papa kalian ganggu gara-gara Lidya kebangun mimpi buruk?" Darren mengangguk membenarkan.
"Besoknya Papa Mama datang terlambat dengan leher merah semua. Baby sampai marah minta Mama buang Papa jauh-jauh," kekeh Darren.
Saf tertawa terbahak-bahak. Darren lalu mencium bibir itu cepat. Lalu, ia tak peduli, malam ini misinya harus berhasil.
"Sayang ... boleh kan?"
"Saf milik Mas Darren ... pakailah Mas, Saf milikmu," ujar gadis itu pasrah.
bersambung.
haaaa ... othor polos ... mereka mau ngapain terserah ...
next?