
Kini mansion Virgou ramai dengan manusia. Semua menggendong putra tampan itu. Bahkan, Kanya tak berhenti menciumi bayi yang asik tertidur.
"Besok juga cicitku akan lahir," ujarnya.
"Bersiaplah kau dipanggil Nenek, Terra!" lanjutnya berseloroh.
"Nenek Teyaa ... Nenek Teyaa!" lanjutnya lagi berkelakar.
"Oh iya Uyut Kanya," ledek Terra membalas.
Semua nyaris tertawa. Kanya langsung menjewer wanita yang telah memberinya banyak cucu itu.
"Mama, sakit!" rengek Terra meringis kesakitan.
Bram dan Bart hanya menggeleng. Mereka para pria tidak keberatan dengan sebutan uyut. Toh, mereka juga sudah tau umur. Bahkan Bart dipanggil Eyang buyut oleh anak Raka nantinya.
"Ah, biar nanti semua memanggilku Grandpa saja, aku jadi merasa seumuran denganmu, Bram," sahut Bart nyinyir.
"Oh ... ayolah Dad, kau dua puluh tahun lebih tua dariku," Bram menyahut perkataan Bart sengit.
"Ck ... sudah jangan bahas umur!" sela Herman tersinggung.
"Kita sudah tua Herman!" sahut Bart mengingatkan pria tua itu.
"Aku tau! Makanya jangan bahas umur di sini, anak-anak kita masih kecil-kecil," ujar Herman lagi.
"Itu anakmu, aku sudah punya cucu!"
Perdebatan terus terjadi antara tiga pria lanjut usia itu. Herman sudah tujuh puluh tahun, sedang anak-anaknya bahkan ada yang masih mau usia enam tahun.
"Ayah, Papa dan Grandpa ada apa sih dari tadi ribut umur aja!" tegur Dav pada tiga pria tua itu.
"Mereka mungkin menginginkan usia muda lagi," celetuk Virgou.
"Ck ... mereka iri tidak bisa berproduksi!" sela Haidar menimpali.
"Sembarangan kau!" sela ketiganya kompak.
"Emang Ayah mau bereproduksi lagi Yah?" tanya Darren polos.
"Jika Bunda mu nggak disteril, kemungkinan sekarang sudah mengandung lagi. Kalian ingat, jika istriku itu tak mau kalah dengan Puspita?" jawab Herman santai.
Semua mengangguk. Semua wanita hanya melongo saja mendengar percakapan para pria yang tak jelas itu.
"Mama, Ion sudah mencatat semua nama adik-adik," ujar remaja itu lalu melihat buku catatannya.
"Ini anak Mama dan Papa ya. Kak Darren, Kak Lidya, Rion, Naisya, Sean, Ali, Daud, Rasya dan Rasyid," ujarnya.
"Nama anak-anak ayah Herman dan Bunda Khasya. Arimbi, Satrio, Dimas, Dewa dan Dewi," lanjutnya. "Anak Daddy Virgou dan Mommy Ita. Kean, Calvin, Maisya, Affhan, Kaila dan Harun."
"Anak Baba Budiman dan Bommy Gisel, Samudera, Benua dan Sky," Rion membalik kertas.
"Anak Papa Gabe dan Mami Widya, Ella, Sebastian, Bill dan Samantha," lanjutnya.
"Terus, Anak Mommy Karina dan Daddy Zhein, Kakak Raka, Raffhan dan Zhieka," Rion menatap semuanya.
"Masih ada yang belum?" tanyanya lagi.
"Anak saya nggak masuk hitungan Tuan muda?" tanya Gomesh sedikit cemberut.
"Hentikan wajah kesalmu itu!" tegur Virgou kesal.
Gomesh mengabaikan atasannya. Pria itu masih menunggu.
"Ah, Om Gomesh dan Tante Maria. Bomesh dan Domesh junior," sahut Rion lagi.
"Bersiaplah, menambah nama itu Tuan. Istriku kini hamil lagi," sahut Gomesh dengan nada jumawa.
Semua mengucap selamat pada pria itu. Rion menggaruk kepalanya.
"Ini baru segini. Gimana nanti, kalo Kak Darren dan Kak Lidya menikah ya?" celetuknya bertanya.
"Siapa yang mau menikah? Darren?!" tanya Haidar gusar.
"Dia masih terlalu kecil untuk menikah!" lanjutnya dengan nada sama.
Darren menelan saliva kasar. Ayahnya masih mengira ia masih anak kecil. Darren pun berdiri, tingginya sama dengan ayahnya.
"Pa, Darren sudah sama tinggi dengan Papa," ujarnya.
"Lalu?" tanya Haidar menaikan sebelah alisnya.
"Kau sudah punya kekasih?" tanya Herman kini.
"Siapa dia, anaknya siapa?" kini Virgou juga ikut bertanya.
Baik Bart dan Bram memutar mata malas. Begitu juga pada wanita di sana. Hanya Budiman saja yang sedang sibuk dengan BraveSmart ponsel, ia tengah mengawasi keadaan.
"Papa, Daddy, Ayah!" tegur Khasya.
Ketiga pria itu melipat bibirnya ke dalam. Mereka hanya menghela napas panjang. Memang tak bisa dipungkiri, Darren sudah dewasa.
"Papa hanya ingin kamu tak salah memilih, Nak. Dan jangan bikin anak orang baper sama kamu!" ujarnya menasehati.
"Iya, Pa," ujar Darren menurut.
Ia yakin, karena begitu sayangnya para orang tua. Mereka selalu menganggap semua anak adalah putra dan putri kecil mereka.
"Ata'Ion ... pita ote-ote don!" pinta Domesh dengan mimik muka memelas.
Kanya gemas bukan main. Ia mencium pipi gembul anak laki-laki tampan itu. Gisel juga membiarkan Sky tengah berjalan merambat, bayi berusia sebelas bulan itu, juga sudah mahir berbicara.
"Anyi ... anyi!" serunya sambil bergoyang-goyang.
Budiman hanya pasrah saja. Ia membiarkan semua anaknya berada di bawah pengasuhan tuan mudanya, Rion.
"Baby Sky mau nyanyi?" tawar Rion.
"Au!" jawab bayi itu sambil mengangguk antusias.
"Sini!"
Sky berjalan tertatih, hingga ke pelukan kakaknya itu. Bayi itu hampir saja memakan mik yang dipegang oleh Rion. Beruntung remaja tampan itu menjauhkan benda itu.
"Say, assalamualaikum!" titah Ion, lalu mendekatkan mik ke mulut Sky.
Jika Rion di situ, tak ada rebutan mik atau perkelahian antar anak-anak. Mereka semua menurut dan menunggu giliran.
Sky bosan, ia berjalan merambat pada Lidya. Gadis itu langsung memeluk dan menciuminya, hingga bayi itu protes dan marah-marah.
"Balo ... bemamat bian pemuana ....!" sambut Domesh dengan miknya.
"Selamat siang!" sahut semuanya.
Seruni sudah membayangkan anaknya akan seperti apa. Ia bahkan sangat antusias jika bayinya bisa bicara cepat.
"Nyanyi apa, Baby?" tanya Rion.
"Belani-belani!"
"Oteh!"
Rion pun memainkan musiknya. Lagu pelangi-pelangi menjadi pilihan bayi montok itu. Domesh sudah menggoyangkan badannya.
"Belani-belani ... balantah bindahmu ... pelah, bunin, bijo bi lamit ban libu ... lelutismu jadun ... spasa belenan ... belani-belani ... bicaan Tuhan!"
Semua bertepuk tangan. Kini giliran Benua yang bernyanyi. Ia memilih lagu yang cukup berat untuk anak-anak. Rion membantunya.
Lagu "Desaku" karya L. Manik menjadi pilihan bayi itu. Fery dan Mia tersenyum. Mereka suka menyanyikan lagu tersebut pada Samudera. Ternyata adiknya jauh cepat menangkap.
"Besatu yan tusyinta ... bujaan batitu ... pempat Bayah ban punda ban bandai bolantu ... Tat budah tulupatan ... tat pudah belbelai ... selalu tu lindu tan ... besa tu yan belmai ...."
Semua bertepuk tangan. Mereka ikut bernyanyi lagu tersebut. Nai juga sangat suka lagu tersebut.
" ... tak mudah kulupakan ... tak mudah bercerai ... selalu kurindukan ... desaku yang permai ...."
Lagu selesai. Anak-anak makin ramai. Mereka menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka. Bahkan, Nai meminta lagu All of you, milik Jhon legend.
"Lagu ini untuk semua Mama di sini," ujarnya mempersembahkan.
"What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind?
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
My head's underwater
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all...
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning"
Lidya pun tak mau kalah dengan adiknya. Ia juga ingin mempersembahkan lagu, Sebuah lagu milik Labirinth "Jealous".
"I'm jealous of the rain
That falls upon your skin
It's closer than my hands have been
I'm jealous of the rain
I'm jealous of the wind
That ripples through your clothes
It's closer than your shadow
Oh, I'm jealous of the wind, cause
I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me."
Semua para ayah cemburu. Entah kenapa, lirik lagu itu tidak berpusat untuk mereka. Baik, Haidar, Virgou dan Herman terlebih Bram dan Bart merasa jika Lidya bernyanyi bukan untuk mereka.
bersambung.
waaah ... Lidya cari perkara ...🤦
next?