TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERDEBATAN



Ujian semester berakhir. Terra dan Darren bernafas lega. Dua orang beda usia yang sedang menempuh pendidikan itu, mengurai senyum. Akhirnya libur panjang di mulai.


Bram dan Kanya mengajak Terra dan anak-anak berlibur ke puncak bersama-sama. Terra yang tidak begitu suka dengan berpergian menolak. Gadis itu suka menghabiskan hari liburnya di rumah. Belum lagi, perusahaan juga sedang butuh kehadirannya. Liburan kali ini ia manfaatkan untuk fokus pada perusahaan.


Bram dan Kanya tak bisa memaksa. Apa lagi Bram sangat tahu Terra sebagai CEO yang masih berstatus mahasiswi ini tentu perlu belajar banyak untuk terjun di dunia bisnis.


Hari ini hari sabtu, Terra sibuk di dapur, ia akan membuat camilan untuk anak-anak juga para tim bodyguard.


Lidya sedang asik dengan boneka-bonekanya. Sedang Rion fokus menganggu kakak perempuannya itu.


"Atak Iya. Bini manana spasa?" tanya Ion dengan wajah serius.


"Ini namana Lulu, ini Lili, ini Lala," jawab Lidya.


"Bulu, Bili, Bala?' ulang Rion.


"Lulu, Lili, Lala, Baby Ion!' saut Lidya.


"Oh ... Pulu, Pili, Pala," saut Rion lagi sambil manggut-manggut.


"Butan Baby!" pekik Lidya tak terima. "Dulu, Bili, Bala ... eh ... Lulu, Lili, Lala!"


"Emba bita, emba bita," ujar Rion sambil menggeleng.


"Ipu Lubu, Bili, Laba," ralatnya.


"Butan!!" pekik Lidya lagi.


Gadis kecil itu mulai menangis. Rion tertawa senang karena berhasil mengganggu kakak perempuannya.


"Hahahahaha ... ayo woh anis ... Om Pudi!" teriak Rion memanggil.


Budiman berlari dari teras ke dalam ruang bermain.


"Ada apa Tuan Baby?"


"Ipu, bala-bala Om Pudi, Atak Iya anis!" adunya.


Budiman mengernyit ia tidak mengerti apa kata Rion. Pria itu berusaha mencerna.


"Butan ... hiks ... hiks ... butan talna Om Budi, Tata Iya nayis hiks!" baru ini lah Budi mengerti maksud Rion.


"Ih ... belnel ... Mama, Atak Iya Bi ngis ma Om Pudi!" adunya.


Mendengar anak-anaknya ribut membuat Terra datang. Gadis itu menggeleng kepala melihat tingkah dua anaknya. Sedang Darren sudah cuek, ia menyerah jika Lidya dan Rion adu mulut.


"Kenapa Iya nangis, Baby?" tanya Terra ingin tahu.


"Bala-bala, Om Pudi!"


Terra menahan senyum. Pura-pura marah sama Budiman. Pria itu garuk kepala karena difitnah sama bayi berusia empat belas bulan ini.


"Om Budi, apa benar begitu?" tanya Terra pura-pura galak.


"Ih ... butan talna Om Pudi eh Om Budi. Baby Lion dangguin Tata Iya," ujar Lidya membela Budi.


"Baby, kenapa bohong?" tanya Terra menatap netra polos bayi itu.


"Embak ... Ion mbak bolon!" ucapnya membela diri.


"Bohon Baby! Butan bolon!" ralat Lidya.


Terra dan Budi hanya menatap dua balita yang sedang berdebat. Mereka sudah melupakan persoalan antara Lulu, Lili dan Lala. Juga fitnah Rion terhadap Budiman.


"Sudah main lagi, sana. Nanti, kita makan kue yaa," lerai Terra.


"Holee tue!" pekik Lidya senang.


"Bolee pue!" Rion ikut-ikutan.


"Tue Baby!"


"Pue!"


"Tue!"


"Bue!"


"Tu- e ... tue!"


"Tu- e ... Pue!"


"Baby!"


"Iya, Atak!"


"Tue ya, butan Pue," jelas Lidya bijak.


"Oteh ... Tue," angguk Rion.


Lidya bertepuk tangan karena perkataan Rion benar.


"Nah, itu belnal. Tue," ucapnya lagi.


"Ehem ... belnel Pue!"


Ah, tak akan habis jika mendengar perdebatan balita lucu itu. Budiman memilih kembali ke teras, karena kepalanya mulai pusing mengartikan bahasa keduanya. Sedang Terra memilih melanjutkan masakannya.


Karina datang bersama putranya Raka. Disusul Haidar yang membawa mobil Terra. Mereka berencana berenang bersama. Raka ingin berenang sama Lidya katanya.


Budiman berdiri menyambut mereka. Karina tersenyum menatap pria yang menyambutnya. Netra keduanya saling menatap.


Entah perasaan dari mana, tiba-tiba mereka berdua gugup, ketika kedatangan Haidar.


"Kalian kenapa?" tanya Haidar heran.


Mereka bertiga masuk ke dalam. Raka sudah bermain bersama Lidya dan Rion sedang Darren hanya mengawasi adik-adiknya saja.


"Tata Lata, ini tenalin anat-anat Iya," ujar Lidya mengenalkan boneka-bonekanya.


"Biya, manana Bulu, Bala, Bili," potong Rion.


"Butan!"


Maka terjadilah perdebatan kembali. Terra datang menghentikan perdebatan dengan membawa kue kukis buatannya. Semua pun tertawa riang.


Bik Ani memberikan satu bungkus besar pada Deno untuk mengirim pada tim bodyguard Terra yang berada di luar pagar. Mereka ada dalam sebua mini Van warna hitam. Mendapat perhatian begitu besar dari kliennya. Membuat mereka tambah betah bekerja pada Terra.


bersambung...


oke othor juga pusing baca perdebatan dua balita itu ... see you next.